OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Za.12:10-11; 13:1; Mzm.63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal.3:26-29; Luk.9:18-24.
Injil hari ini sangat terkenal. Ia membentangkan di hadapan kita tiga pokok penting. Pertama, mengenai pengakuan Petrus. Pengakuan ini diawali dengan dialog antara Yesus dan para muridNya. Ia menanyai mereka tentang pendapat orang mengenai Dia. Ternyata ada beragam jawaban dan pandangan mengenai Kristus. Itu yang disebut keragaman kristologis dalam Perjanjian Baru. Tetapi di tengah keragaman itu para murid dituntut untuk memegang satu pengakuan pokok bagi mereka. Petrus melakukan hal itu dengan pengakuan: Engkaulah, “Mesias dari Allah.” Kedua, mengenai pemberitahuan pertama tentang sengsara Yesus: Ia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, tetapi kemudian dibangkitkan. Ketiga, mengenai syarat mengikuti Yesus. Menarik bahwa poin ketiga ini dikaitkan penginjil dengan poin kedua. Nubuat mengenai sengsara dikaitkan langsung dengan tuntutan menjadi murid. Syarat satu-satunya ialah kerelasediaan dan kemampuan untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Tuhan. Ini sangat penting karena ini yang menjadi penjamin shalom bagi kita. Dengan caranya sendiri Paulus melukiskan kenyataan ini dalam Bc.II: kita semua yang sudah dibaptis, pasti telah mengenakan Kristus. Maka melalui iman di dalam Yesus Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah. Melalui Yesus kita mendapat rahmat penebusan. Hal itu sudah dinubuatkan juga dalam Perjanjian Lama: Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran (Bc.I).
SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG
Jumat, 14 Mei 2010
Rabu, 12 Mei 2010
MINGGU, 25 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.13:14,43-52; Mzm.100:2,3,5; Why.7:9,14b-17; Yoh.10:27-30.
Hari ini hari Minggu Panggilan. Gereja mengajak kita agar turut menyuburkan panggilan hidup kaum beriman; itu berarti juga menyuburkan panggilan hidup kita masing-masing. Tentu gereja berharap agar di tengah kesadaran akan panggilan umum umat beriman itu, juga ditumbuh-kembangkan kesadaran dan penghargaan akan panggilan khusus, menjadi imam, biarawan-wati. Sebab itu adalah kesaksian hidup gereja yang dilandaskan pada nasihat Injil. Saya rasa, mungkin itu sebabnya Injil hari ini mengajak kita mendengar tentang relasi intim dan unik antara gembala dan kawanan. Dikatakan bahwa ada relasi saling mengenal antara gembala dan kawanan. Walau dulu gembala itu satu-satunya Yesus Kristus (sekarang masih demikian), toh imam berdasarkan martabat imamatnya berpartisipasi dalam tugas kegembalaan Kristus. Relasi saling mengenal itu tidak hanya berlaku antara kita dan Kristus gembala utama, melainkan antara umat dan pimpinan gereja setempat (uskup dan imam). Harus ada relasi saling mengenal. Kata mengenal ini dalam Kitab Suci mempunyai arti yang sangat mendalam: ia mencakup hal mencintai, mencakup kerela-sediaan berkorban, kerelasediaan mengikuti Yesus dengan setia, dst. Memang seharusnya demikianlah relasi gembala dan domba. Bc.I mengisahkan penolakan terhadap ajaran Paulus dan Barnabas, yang mengajarkan tentang Yesus. Hal seperti ini juga bisa terjadi dewasa ini: orang tidak mau menerima kita karena nama Yesus. Itu adalah risiko yang tidak terhindarkan. Tetapi itu bukan alasan untuk takut atau mundur. Itulah peluang bersaksi. Jika kita bertahan dalam cobaan ini, kita akan menjadi jemaat baru yang mengalami shalom baru karena dituntun Anak Domba (Bc.II, ay.16-17). Semoga kita pantas menjadi jemaat baru itu.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.13:14,43-52; Mzm.100:2,3,5; Why.7:9,14b-17; Yoh.10:27-30.
Hari ini hari Minggu Panggilan. Gereja mengajak kita agar turut menyuburkan panggilan hidup kaum beriman; itu berarti juga menyuburkan panggilan hidup kita masing-masing. Tentu gereja berharap agar di tengah kesadaran akan panggilan umum umat beriman itu, juga ditumbuh-kembangkan kesadaran dan penghargaan akan panggilan khusus, menjadi imam, biarawan-wati. Sebab itu adalah kesaksian hidup gereja yang dilandaskan pada nasihat Injil. Saya rasa, mungkin itu sebabnya Injil hari ini mengajak kita mendengar tentang relasi intim dan unik antara gembala dan kawanan. Dikatakan bahwa ada relasi saling mengenal antara gembala dan kawanan. Walau dulu gembala itu satu-satunya Yesus Kristus (sekarang masih demikian), toh imam berdasarkan martabat imamatnya berpartisipasi dalam tugas kegembalaan Kristus. Relasi saling mengenal itu tidak hanya berlaku antara kita dan Kristus gembala utama, melainkan antara umat dan pimpinan gereja setempat (uskup dan imam). Harus ada relasi saling mengenal. Kata mengenal ini dalam Kitab Suci mempunyai arti yang sangat mendalam: ia mencakup hal mencintai, mencakup kerela-sediaan berkorban, kerelasediaan mengikuti Yesus dengan setia, dst. Memang seharusnya demikianlah relasi gembala dan domba. Bc.I mengisahkan penolakan terhadap ajaran Paulus dan Barnabas, yang mengajarkan tentang Yesus. Hal seperti ini juga bisa terjadi dewasa ini: orang tidak mau menerima kita karena nama Yesus. Itu adalah risiko yang tidak terhindarkan. Tetapi itu bukan alasan untuk takut atau mundur. Itulah peluang bersaksi. Jika kita bertahan dalam cobaan ini, kita akan menjadi jemaat baru yang mengalami shalom baru karena dituntun Anak Domba (Bc.II, ay.16-17). Semoga kita pantas menjadi jemaat baru itu.
SABTU, 24 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:31-42; Mzm.116:12-13,14-15,16-17; Yoh.6:60-69.
Injil hari ini melanjutkan injil kemarin. Perkataan Yesus yang kemarin kita dengar memang cukup keras dan susah dipahami. Muncul reaksi baru di kalangan pendengar. Itu yang kita baca hari ini. Ada dua reaksi yang muncul. Pertama, ada yang mulai ragu. Mula-mula mereka merasa bahwa perkataan itu keras dan tidak masuk akal. Yesus masih sempat menantang mereka dan mencoba mengatasi situasi dengan mengulas wacana itu lebih jauh. Tetapi Yesus sadar bahwa memang tidak mudah untuk percaya. Di antara mereka memang ada yang tidak percaya. Hal itu wajar, sebab hal datang dan percaya kepada Yesus bukan sekadar peristiwa manusiawi. Hal datang dan percaya kepada Yesus adalah anugerah Allah: “Tidak seorang pun yang dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Jadi, itu adalah rahmat dari Bapa di surga. Rupanya tidak semua orang siap dan dapat menerima rahmat itu. Maka mereka mundur dan pergi. Kedua, Yesus menantang kelompok yang lebih kecil, kelompok Duabelas. Setelah melihat orang banyak pergi, Yesus tidak main-main dengan ajaranNya. Sekarang Ia menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini sebuah pertanyaan yang tidak main-main, pertanyaan yang mengandung tantangan, yang akan mempengaruhi totalitas hidup di masa yang akan datang. Itu sebabnya para murid diam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya tampillah Petrus menjadi juru bicara. Itulah yang ingin saya angkat sebagai pesan istimewa hari ini: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.”
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:31-42; Mzm.116:12-13,14-15,16-17; Yoh.6:60-69.
Injil hari ini melanjutkan injil kemarin. Perkataan Yesus yang kemarin kita dengar memang cukup keras dan susah dipahami. Muncul reaksi baru di kalangan pendengar. Itu yang kita baca hari ini. Ada dua reaksi yang muncul. Pertama, ada yang mulai ragu. Mula-mula mereka merasa bahwa perkataan itu keras dan tidak masuk akal. Yesus masih sempat menantang mereka dan mencoba mengatasi situasi dengan mengulas wacana itu lebih jauh. Tetapi Yesus sadar bahwa memang tidak mudah untuk percaya. Di antara mereka memang ada yang tidak percaya. Hal itu wajar, sebab hal datang dan percaya kepada Yesus bukan sekadar peristiwa manusiawi. Hal datang dan percaya kepada Yesus adalah anugerah Allah: “Tidak seorang pun yang dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Jadi, itu adalah rahmat dari Bapa di surga. Rupanya tidak semua orang siap dan dapat menerima rahmat itu. Maka mereka mundur dan pergi. Kedua, Yesus menantang kelompok yang lebih kecil, kelompok Duabelas. Setelah melihat orang banyak pergi, Yesus tidak main-main dengan ajaranNya. Sekarang Ia menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini sebuah pertanyaan yang tidak main-main, pertanyaan yang mengandung tantangan, yang akan mempengaruhi totalitas hidup di masa yang akan datang. Itu sebabnya para murid diam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya tampillah Petrus menjadi juru bicara. Itulah yang ingin saya angkat sebagai pesan istimewa hari ini: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.”
JUM'AT, 23 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:1-20; Mzm.117:1,2; Yoh.6:52-59.
Injil kita hari ini merupakan kelanjutan dari injil kemarin. Kemarin Yesus berkata bahwa Ia memberi dagingNya untuk hidup dunia. Perkataan itu menimbulkan perbantahan di antara orang-orang Yahudi. Muncul salah paham. Dikira ini sebuah ritual kanibalisme. Untuk mencegah salah paham itu terus berkembang tidak karu-karuan, Yesus melanjutkan wacanaNya. Wacana ini dapat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, mula-mula Yesus mengatakan bahwa syarat agar kita dapat memiliki hidup dalam diri kita sendiri ialah jika kita makan daging Anak Manusia dan minum darahNya. Hal makan daging Yesus dan minum darahNya, itulah yang menjadi prasyarat bagi hidup kekal dan bagi kebangkitan pada akhir jaman. Kedua, lalu Yesus memberikan alasan mengapa hal itu sangat penting. Itu tidak lain karena dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Ketiga, hal makan daging dan minum darah Tuhan, itulah yang menjadi prasyarat mutlak berdiamnya kita di dalam dan bersama dengan Tuhan. Bahkan itulah juga yang menjadi prasyarat hidup: “...demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Makanan istimewa inilah yang disebut roti yang turun dari surga, roti para malaekat, panis angelicus (panis angelorum). Roti ini istimewa karena tidak sama dengan roti di padang gurun dulu. Roti ini memberi kehidupan kekal bagi yang memakannya. Jelas sudah bahwa ini adalah tantangan rohani yang sangat besar yang dibentangkan di hadapan kita. Tinggal kita mau percaya atau tidak. Mari kita santap roti surgawi ini setiap hari agar kita hidup di dalam dan bersama Yesus, dan di dalam Yesus kita mencapai hidup yang kekal dan kelak pada akhir zaman dibangkitkan olehNya.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:1-20; Mzm.117:1,2; Yoh.6:52-59.
Injil kita hari ini merupakan kelanjutan dari injil kemarin. Kemarin Yesus berkata bahwa Ia memberi dagingNya untuk hidup dunia. Perkataan itu menimbulkan perbantahan di antara orang-orang Yahudi. Muncul salah paham. Dikira ini sebuah ritual kanibalisme. Untuk mencegah salah paham itu terus berkembang tidak karu-karuan, Yesus melanjutkan wacanaNya. Wacana ini dapat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, mula-mula Yesus mengatakan bahwa syarat agar kita dapat memiliki hidup dalam diri kita sendiri ialah jika kita makan daging Anak Manusia dan minum darahNya. Hal makan daging Yesus dan minum darahNya, itulah yang menjadi prasyarat bagi hidup kekal dan bagi kebangkitan pada akhir jaman. Kedua, lalu Yesus memberikan alasan mengapa hal itu sangat penting. Itu tidak lain karena dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Ketiga, hal makan daging dan minum darah Tuhan, itulah yang menjadi prasyarat mutlak berdiamnya kita di dalam dan bersama dengan Tuhan. Bahkan itulah juga yang menjadi prasyarat hidup: “...demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Makanan istimewa inilah yang disebut roti yang turun dari surga, roti para malaekat, panis angelicus (panis angelorum). Roti ini istimewa karena tidak sama dengan roti di padang gurun dulu. Roti ini memberi kehidupan kekal bagi yang memakannya. Jelas sudah bahwa ini adalah tantangan rohani yang sangat besar yang dibentangkan di hadapan kita. Tinggal kita mau percaya atau tidak. Mari kita santap roti surgawi ini setiap hari agar kita hidup di dalam dan bersama Yesus, dan di dalam Yesus kita mencapai hidup yang kekal dan kelak pada akhir zaman dibangkitkan olehNya.
KAMIS, 22 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9,16-17,20; Yoh.6:44-51.
Injil hari ini masih melanjutkan tentang wahyu diri Yesus sebagai roti kehidupan. Tetapi sebelum sampai ke sana ada beberapa misteri iman yang dikemukakan. Pertama, rasa tertarik orang untuk datang kepada Yesus, ternyata bukan sekadar rasa tertarik yang alami, melainkan digerakkan oleh Bapa. Hanya Bapa yang memungkinkan orang tertarik dan datang kepada Yesus. Kedua, Yesus menegaskan bahwa siapa saja yang percaya akan hal ini, orang itu akan memperoleh hidup yang kekal. Itu terjadi setelah ia dibangkitkan pada akhir zaman. Ketiga, sekali lagi Yesus mewahyukan diri sebagai Roti Kehidupan: Akulah Roti kehidupan. Ego sum panis vitae. Atau ego eimi ho artos tes zoees. Lalu muncul perbandingan antara manna dan roti baru ini. Roti padang gurun itu memang telah mengenyangkan tetapi tetap berujung pada maut. Sedangkan roti baru ini, ialah roti yang turun dari surga. Siapa yang makan roti ini, tidak akan mati. Yesus sekali lagi menyatakan diri sebagai Roti kehidupan yang telah turun dari surga itu. Inilah misteri hubungan abadi antara Yesus dan orang yang percaya kepadaNya. Roti yang diberikan Yesus itu ialah tubuhNya sendiri. Yesus memberikan dagingNya untuk hidup dunia. Harus diakui bahwa sungguh tidak mudah mencari pesan praktis dari untaian wacana mistik dan spiritual ini. Namun demikian, saya dapat mengatakan sebagai berikut: Hanya Bapa yang bisa menggerakkan kita untuk datang dan percaya kepada Yesus. Begitu kita sudah percaya kepada Yesus, maka kita sudah masuk ke dalam hidup yang kekal karena namaNya. Tetapi ini bukan otomatisme shalom. Tetap dituntut agar kita benar-benar mau membangun mutu dan kematangan serta kedalaman relasi itu.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9,16-17,20; Yoh.6:44-51.
Injil hari ini masih melanjutkan tentang wahyu diri Yesus sebagai roti kehidupan. Tetapi sebelum sampai ke sana ada beberapa misteri iman yang dikemukakan. Pertama, rasa tertarik orang untuk datang kepada Yesus, ternyata bukan sekadar rasa tertarik yang alami, melainkan digerakkan oleh Bapa. Hanya Bapa yang memungkinkan orang tertarik dan datang kepada Yesus. Kedua, Yesus menegaskan bahwa siapa saja yang percaya akan hal ini, orang itu akan memperoleh hidup yang kekal. Itu terjadi setelah ia dibangkitkan pada akhir zaman. Ketiga, sekali lagi Yesus mewahyukan diri sebagai Roti Kehidupan: Akulah Roti kehidupan. Ego sum panis vitae. Atau ego eimi ho artos tes zoees. Lalu muncul perbandingan antara manna dan roti baru ini. Roti padang gurun itu memang telah mengenyangkan tetapi tetap berujung pada maut. Sedangkan roti baru ini, ialah roti yang turun dari surga. Siapa yang makan roti ini, tidak akan mati. Yesus sekali lagi menyatakan diri sebagai Roti kehidupan yang telah turun dari surga itu. Inilah misteri hubungan abadi antara Yesus dan orang yang percaya kepadaNya. Roti yang diberikan Yesus itu ialah tubuhNya sendiri. Yesus memberikan dagingNya untuk hidup dunia. Harus diakui bahwa sungguh tidak mudah mencari pesan praktis dari untaian wacana mistik dan spiritual ini. Namun demikian, saya dapat mengatakan sebagai berikut: Hanya Bapa yang bisa menggerakkan kita untuk datang dan percaya kepada Yesus. Begitu kita sudah percaya kepada Yesus, maka kita sudah masuk ke dalam hidup yang kekal karena namaNya. Tetapi ini bukan otomatisme shalom. Tetap dituntut agar kita benar-benar mau membangun mutu dan kematangan serta kedalaman relasi itu.
RABU, 21 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:1b-8; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh.6:35-40.
Injil hari ini dimulai dengan bagian akhir dari injil kemarin, yaitu wahyu Yesus sebagai roti kehidupan. Yesus sudah bisa melihat dan menilai motif kedatangan orang banyak itu kepadaNya. Rupanya mereka datang bukan untuk menjadi percaya, melainkan hanya datang untuk sekadar menjadi penonton yang pasif saja. Itu sebabnya Yesus berkata: “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” Tidak ada metanoia di sana. Tidak ada perubahan hidup. Tidak ada pembalikan nilai-nilai. Boleh jadi memang ada juga model orang seperti ini, yang datang hanya sebagai penggembira saja dalam hidup beriman, dan menjemaat. Tidak lebih dari itu. Tetapi sekaligus juga Tuhan menyiratkan bahwa ada yang memang sungguh datang untuk percaya kepadaNya. Tentang mereka ini Yesus menegaskan mengenai nasib mereka: mereka tidak akan disia-siakan. Injil sendiri mengatakan demikian: “Semua yang diberikan Bapa kepadaku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Di sini kita temukan satu kebenaran iman dan teologis: bahwa keinginan untuk datang kepada Yesus itu adalah sebuah anugerah. Itu sebabnya Yesus tidak akan menyia-nyiakan mereka karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Kehendak Bapa yang mengutus itu sangat jelas ditegaskan di sini: yaitu siapa saja yang diberikan Bapa kepada Dia, tidak akan ada yang hilang. Sebaliknya mereka akan dibangkitkan Tuhan pada akhir jaman. Mereka akan mendapat hidup yang kekal. Dan hidup yang kekal itu dimulai dengan peristiwa pembangkitan itu pada akhir jaman. Ya, hari ini mari kita sekali lagi membawa seluruh diri dan hidup kita kepada Yesus, mempersembahkan dan mempercayakannya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Dia saja.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:1b-8; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh.6:35-40.
Injil hari ini dimulai dengan bagian akhir dari injil kemarin, yaitu wahyu Yesus sebagai roti kehidupan. Yesus sudah bisa melihat dan menilai motif kedatangan orang banyak itu kepadaNya. Rupanya mereka datang bukan untuk menjadi percaya, melainkan hanya datang untuk sekadar menjadi penonton yang pasif saja. Itu sebabnya Yesus berkata: “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” Tidak ada metanoia di sana. Tidak ada perubahan hidup. Tidak ada pembalikan nilai-nilai. Boleh jadi memang ada juga model orang seperti ini, yang datang hanya sebagai penggembira saja dalam hidup beriman, dan menjemaat. Tidak lebih dari itu. Tetapi sekaligus juga Tuhan menyiratkan bahwa ada yang memang sungguh datang untuk percaya kepadaNya. Tentang mereka ini Yesus menegaskan mengenai nasib mereka: mereka tidak akan disia-siakan. Injil sendiri mengatakan demikian: “Semua yang diberikan Bapa kepadaku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Di sini kita temukan satu kebenaran iman dan teologis: bahwa keinginan untuk datang kepada Yesus itu adalah sebuah anugerah. Itu sebabnya Yesus tidak akan menyia-nyiakan mereka karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Kehendak Bapa yang mengutus itu sangat jelas ditegaskan di sini: yaitu siapa saja yang diberikan Bapa kepada Dia, tidak akan ada yang hilang. Sebaliknya mereka akan dibangkitkan Tuhan pada akhir jaman. Mereka akan mendapat hidup yang kekal. Dan hidup yang kekal itu dimulai dengan peristiwa pembangkitan itu pada akhir jaman. Ya, hari ini mari kita sekali lagi membawa seluruh diri dan hidup kita kepada Yesus, mempersembahkan dan mempercayakannya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Dia saja.
SELASA, 20 APRIL 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.7: 51-8:1a; Mzm.31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh.6:30-35.
Injil hari ini melanjutkan injil yang kita dengar dan kita baca kemarin. Dilukiskan di sini bahwa orang-orang itu, agar bisa percaya, membutuhkan dan menuntut tanda. Itu sebabnya hari ini mereka meminta tanda ajaib. Rupanya mukjizat yang dikerjakan Yesus belum cukup bagi mereka sebagai tanda. Mereka meminta lebih. Dikasih betis, minta paha. Itu sebabnya mereka “memancing” Yesus dengan mengisahkan Manna yang diperoleh leluhur mereka di padang gurun sebagai karya mukjizat tanda penyertaan Yahweh. Terhadap hal itulah Yesus memberi jawaban. Di dalam jawaban itu Yesus mempertentangkan antara “roti dari surga” dan “roti yang benar dari surga.” Dikatakan bahwa bukan Musa yang memberi roti itu, melainkan Bapa yang memberikan roti yang benar dari surga. Roti yang benar dari surga ini mempunyai tiga sifat: pertama, karena diberikan Bapa, maka roti ini berasal dari Allah. Kedua, roti itu turun dari surga (tempat kediaman Allah Bapa). Ketiga, roti itu memberi hidup kepada dunia. Kemarin saya sudah menyinggung bahwa orang banyak datang mencari Yesus karena dihantui oleh hantu ketagihan dan penasaran. Sekarang kedua hantu itu datang lagi setelah mereka mendengar perkataan Yesus. Mendengar betapa istimewanya roti yang diberikan Bapa itu, maka mereka pun tidak segan-segan memintanya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Di hadapan permintaan ini Yesus akhirnya menyampaikan salah satu perwahyuan diriNya yang unik: “Akulah roti kehidupan...” Di hadapan Yesus sebagai roti hidup ada dua pilihan: Pertama, datang kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan lapar lagi. Kedua, percaya kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan haus lagi.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.7: 51-8:1a; Mzm.31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh.6:30-35.
Injil hari ini melanjutkan injil yang kita dengar dan kita baca kemarin. Dilukiskan di sini bahwa orang-orang itu, agar bisa percaya, membutuhkan dan menuntut tanda. Itu sebabnya hari ini mereka meminta tanda ajaib. Rupanya mukjizat yang dikerjakan Yesus belum cukup bagi mereka sebagai tanda. Mereka meminta lebih. Dikasih betis, minta paha. Itu sebabnya mereka “memancing” Yesus dengan mengisahkan Manna yang diperoleh leluhur mereka di padang gurun sebagai karya mukjizat tanda penyertaan Yahweh. Terhadap hal itulah Yesus memberi jawaban. Di dalam jawaban itu Yesus mempertentangkan antara “roti dari surga” dan “roti yang benar dari surga.” Dikatakan bahwa bukan Musa yang memberi roti itu, melainkan Bapa yang memberikan roti yang benar dari surga. Roti yang benar dari surga ini mempunyai tiga sifat: pertama, karena diberikan Bapa, maka roti ini berasal dari Allah. Kedua, roti itu turun dari surga (tempat kediaman Allah Bapa). Ketiga, roti itu memberi hidup kepada dunia. Kemarin saya sudah menyinggung bahwa orang banyak datang mencari Yesus karena dihantui oleh hantu ketagihan dan penasaran. Sekarang kedua hantu itu datang lagi setelah mereka mendengar perkataan Yesus. Mendengar betapa istimewanya roti yang diberikan Bapa itu, maka mereka pun tidak segan-segan memintanya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Di hadapan permintaan ini Yesus akhirnya menyampaikan salah satu perwahyuan diriNya yang unik: “Akulah roti kehidupan...” Di hadapan Yesus sebagai roti hidup ada dua pilihan: Pertama, datang kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan lapar lagi. Kedua, percaya kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan haus lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
