Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. Kej.9:8-15; 1Ptr.3:18-22; Mrk.1:12-15.
Injil menjadi dasar praksis puasa-pantang kita selama 40 hari. Itu adalah masa retret, persiapan layanan umum bagi Yesus. Itulah masa penggemblengan, penempaan. Yesus melewati juga hal seperti itu. Sesudah melewati semuanya itu barulah Ia melakukan layanan publik. Inti wartaNya di depan umum ialah Kerajaan Allah sudah dekat. Kita hanya layak menerima Kerajaan itu kalau kita bertobat dan percaya kepada Injil. Maka kita tidak dapat tawar menawar dengan tuntutan itu. Menarik bahwa dalam Bac.I kita membaca tentang perjanjian Allah dengan Nuh pasca bencana Banjir Bandang itu. Ini adalah janji Allah mengenai adanya hidup baru dan tidak akan kekerasan dan penghancuran lagi. Seluruh masa Prapaskah kita adalah masa untuk membuat relasi baru dalam hidup ini. Itu hanya mungkin melalui tobat saja, melalui metanoia. Bac.II memberi kita tafsir perlambang (alegoris) atas Bac.I. Seluruh drama tragedi Nuh dilihat sebagai prototipe (arketipe) baptis. Sebagaimana dulu Nuh diselamatkan lewat dan sesudah air Bah, demikian juga kini, kita diselamatkan dalam dan melalui Baptis. Tetapi Baptis dimaksudkan untuk mendidik suara hati, mendidik hati nurani, proses penjernihan nur-aini, cahaya mata hati. Itulah isi metanoia yang dituntut Yesus dalam Injil sebagai prasyarat menerima Kerajaan.
BcE. Kej.9:8-15; 1Ptr.3:18-22; Mrk.1:12-15.
Injil menjadi dasar praksis puasa-pantang kita selama 40 hari. Itu adalah masa retret, persiapan layanan umum bagi Yesus. Itulah masa penggemblengan, penempaan. Yesus melewati juga hal seperti itu. Sesudah melewati semuanya itu barulah Ia melakukan layanan publik. Inti wartaNya di depan umum ialah Kerajaan Allah sudah dekat. Kita hanya layak menerima Kerajaan itu kalau kita bertobat dan percaya kepada Injil. Maka kita tidak dapat tawar menawar dengan tuntutan itu. Menarik bahwa dalam Bac.I kita membaca tentang perjanjian Allah dengan Nuh pasca bencana Banjir Bandang itu. Ini adalah janji Allah mengenai adanya hidup baru dan tidak akan kekerasan dan penghancuran lagi. Seluruh masa Prapaskah kita adalah masa untuk membuat relasi baru dalam hidup ini. Itu hanya mungkin melalui tobat saja, melalui metanoia. Bac.II memberi kita tafsir perlambang (alegoris) atas Bac.I. Seluruh drama tragedi Nuh dilihat sebagai prototipe (arketipe) baptis. Sebagaimana dulu Nuh diselamatkan lewat dan sesudah air Bah, demikian juga kini, kita diselamatkan dalam dan melalui Baptis. Tetapi Baptis dimaksudkan untuk mendidik suara hati, mendidik hati nurani, proses penjernihan nur-aini, cahaya mata hati. Itulah isi metanoia yang dituntut Yesus dalam Injil sebagai prasyarat menerima Kerajaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar