Minggu, 15 Februari 2009

MINGGU, 29 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yer.31:31-34; Mzm.51:3.4.12-13.14-15; Ibr.5:7-9; Yoh.12:20-33.


Hari ini Minggu Paskah V. Injil yang kita dengar berbicara tentang cara Yesus wafat. Inilah gaya Yohanes menubuatkan wafat Yesus. Mula-mula Ia mengambil ibarat biji. Biji itu mutlak harus jatuh ke tanah, lalu mati, dan dari sana ia bisa hidup lagi. Itulah cara Yesus mengibaratkan hidupNya. Biji yang tumbuh dari tanah itu bisa menghasilkan buah berlimpah. Ia tidak bisa tumbuh kalau ia tidak jatuh ke tanah dan mati. Jadi, mati adalah prasyarat hidup dan prasyarat menghasilkan buah. Ini susah diterima, tetapi gejala alam membenarkan hal itu. Di ayat 32 Yesus secara lebih khusus lagi melukiskan bagaimana Ia akan mati, yaitu dengan ditinggikan di salib. Peninggian itulah yang menyelamatkan, sebab Ia akan menarik semua orang kepadaNya. Itulah shalom kita. Kita diselamatkan dalam Yesus Kristus. Itulah keyakinan iman kita. Itulah yang dilukiskan dalam Bac.II: “...dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Dengan itu Yesus mengadakan perjanjian baru, sesuatu yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama oleh Yeremia yang kita dengar dalam Bac.I. Revolusi Yeremia akan agama batiniah menjadi nyata dalam Yesus. Agama bukan lagi perkara formal hukum legalistik, melainkan perkara hati, harus keluar dari hati. Hanya agama seperti itulah yang dianggap sebagai agama otentik, yang melampaui ketatapan dan tuntutan hukum.


Tidak ada komentar: