Rabu, 04 Februari 2009

RABU, 04 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)


BcE: Ibr.12:4-7,11-15; Mzm.103:1-2.13-14.17-18a; Mrk.6:1-6.


Injil hari ini berbicara kepada kita tentang kunjungan Yesus ke Nazaret, kota asalNya, kota tempat para sanak saudaraNya hidup dan tinggal. Ketika Ia berada di sana, sebagaimana biasanya Ia pada hari Sabat berkotbah di sinagoga. Dan seperti biasanya juga, Ia tampil mengagumkan. Ia membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Tetapi ternyata orang-orang di sana tidak mau mendengarkan Dia karena merasa bahwa Ia tidak istimewa. Ia hanya salah satu dari antara kita saja. Tidak ada yang istimewa dengan Dia. Mengapa dan untuk apa Ia harus didengarkan. Padahal di tempat-tempat lain, Yesus disambut dan didengarkan. Ia dikagumi dan dicari banyak orang. Sedangkan di Nazaret, Ia diremehkan, dilecehkan. Tetapi ada akibat fatal yang terjadi di Nazaret. Yaitu Yesus tidak mengerjakan mukjizat di sana. Ya, mukjizat hanya dapat terjadi kalau orang mempunyai hati yang terbuka untuk melihat dan menerima kehadiran Allah dalam dirinya. Kalau orang tertutup dari Allah maka tidak akan pernah bisa terjadi mukjizat juga dalam hidup orang seperti itu. Jalan yang ditempuh Tuhan untuk mendidik umatNya tidak selalu mudah. Tidak jarang jalan itu keras dan menyakitkan. Tetapi itu adalah pendidikan menuju kepada kebaikan. Bc.I menasihatkan kita agar kita mencoba bertekun dalam pendidikan menuju kebaikan seperti itu, walau pun mungkin terasa keras. Sebab “...kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaranyang memberikan damai kepad amereka yang dilatih olehnya.”


Tidak ada komentar: