Rabu, 11 Maret 2009

SABTU, 07 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

Bc.E.Ul.26:16-19; Mzm.119:1-2.4-5.7-8; Mat.5:43-48.


Lagi-lagi dalam injil hari ini kita dengar pengajaran Yesus yang intinya ialah radikalisasi pelbagai tuntutan dan perintah Taurat. Soal perintah mengasihi sesama dan membenci musuh. Hal itu diperintahkan dengan jelas dalam Imamat. Yesus mengubah hal ini secara radikal: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka. Ini loncatan amat besar. Tentu tidak mudah. Dasar perintah ini ialah bahwa dengan berbuat demikian kita menyatakan diri sebagai anak Bapa di surga. Bagaimana perilaku Bapa itu? Ia tidak membeda-bedakan: ia membagikan rahmat hujan dan matahari untuk semua, tidak peduli apa yang mereka lakukan. Ia panjang sabar dan besar kasih setia. Saya menyebut ini sebagai pendasaran teologis-vertikal. Kita dipanggil untuk meniru perbuatan Bapa di surga. Pendasaran lain ialah pendasaran humanis-horizontal. Kalau kita hanya mengasihi sesama, itu adalah perbuatan standar, tidak ada lebihnya, tidak ada istimewanya. Semua orang juga bisa dan biasa berbuat begitu. Maka sebagai pengikut Yesus kita harus berani berbuat lebih. Kita harus berbuat lebih terus menerus. Semoga dengan itu kita menjadi sempurna. Itu sebabnya perikopa ini ditutup dengan seruan terkenal ini: Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna. Sulit? Tentu. Tetapi kita mencobanya sedikit demi sedikit. Sebab kata orang Latin: Gutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo. Titik air bisa melobangi batu karang bukan karena kekuatan melainkan karena ia terus menerus jatuh menetes ke atasnya. Mari kita belajar dari pelajaran alam ini.


Tidak ada komentar: