Kamis, 23 April 2009

RABU, 15 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35.


Hari ini Rabu Oktaf Paskah. Injil hari ini terkenal: Dalam kebingungan pasca penyaliban, kedua murid ini ke Emaus. Mereka mencoba membawa kebingungan dan gundah gulana hati mereka keluar dari pusat konflik. Mungkin sekadar bisa berjarak dari arus konflik berdarah itu. Kondisi berjarak itu membawa hasil, walau lewat proses yang tidak mudah. Sementara mereka berjalan memikul gundah gulana, tiba-tiba ada yang mendekati mereka dan “nimbrung” percakapan. Mereka mengungkapkan kebingungannya: Mereka percaya Yesus tetapi kini Ia mati mengenaskan. Bahkan mayatNya raib, seperti diberitakan beberapa perempuan, dan diperteguh oleh beberapa murid. Mendengar itu, orang asing tadi, mencela karena mereka belum juga mengerti akan kitab suci. Ketika sudah tiba di Emaus, hari sudah malam. Keduanya mengajak tamu bermalam. Kalimat ajakan itu terkenal karena dipakai sebagai refrein doa atau lagu doa malam: Mane nobis cum Domine. Permohonan dikabulkan. Dalam perjamuan malam, mereka mengenal Dia. Pesannya jelas, Yesus ingin dikenal dalam perjamuan kasih, dalam perjamuan ucapan syukur, Ekaristi. Itu sebabnya kita harus merayakan ekaristi, sebab Yesus ingin dikenang dan dikenal dalam perayaan itu. Dengan sukacita kedua murid itu kembali ke Yerusalem dan mengisahkan pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan yang bangkit. Dari perspektif malam perjamuan itu mereka bisa melihat kembali apa yang mereka alami dalam perjalanan: Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia menerangkan Kitab Suci? Ya, memang berkobar-kobar tetapi belum sampai kepada pengenalan. Pengenalan baru final dalam ekaristi. Mungkin itu sebabnya liturgi ekaristi Katolik tidak berhenti pada ibadat sabda melainkan diteruskan dalam ekaristi. Yang satu hanya menghantar kita sampai pada tingkat berkobar-kobar, yang lain menghantar kita kepada tingkat pengenalan dan pemahaman.


Tidak ada komentar: