Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Kis.20:17-27; Mzm.68:10-11.20-21; Yoh.17:1-11a.
Hari ini adalah novena kelima. Hari ini juga adalah hari Pesta St.Filipus Neri. Ada beberapa hal penting yang dibentangkan injil hari ini. Ini adalah penggal pertama dari sebuah sebuah doa yang sangat panjang. Ini adalah Doa imam agung bagi umatNya. Begitu ilmu tafsir menyebut teks ini. Dalam doa itu Ia berjanji memberi hidup kekal kepada mereka. Inti hidup kekal itu ialah pengenalan akan Allah. Saya selalu sangat terkesan dengan Injil ini, karena di sini Tuhan Yesus sendiri berdoa bagi para muridNya, bagi para pengikutNya. Bagi saya tidak ada hiburan dan dorongan lain yang jauh lebih kuat lagi dari pada kenyataan bahwa Tuhan Yesus sendiri berdoa bagi kita semua kepada Bapa. Injil ini memberi saya sebuah keyakinan yang kuat bahwa perpisahan tidak selalu merupakan kata akhir dari segala sesuatu. Bisa juga terjadi perpisahan itu adalah awal dari sebuah perjumpaan baru, sebuah perjumpaan yang lebih baik. Dalam hal ini, Yesus akan “berpisah” dari para muridNya, untuk pergi kepada Bapa. Kepergian kepada Bapa itu menjadi syarat munculnya kehidupan baru bagi para murid. Mereka kini menjadi hidup di dalam Bapa melalui Anak, yaitu Yesus. Maka perpisahan tidak usah harus selalu menyedihkan. Itulah pesan Injil hari ini sejauh saya bisa membaca dan merenungkannya dengan baik.
Hari ini adalah novena kelima. Hari ini juga adalah hari Pesta St.Filipus Neri. Ada beberapa hal penting yang dibentangkan injil hari ini. Ini adalah penggal pertama dari sebuah sebuah doa yang sangat panjang. Ini adalah Doa imam agung bagi umatNya. Begitu ilmu tafsir menyebut teks ini. Dalam doa itu Ia berjanji memberi hidup kekal kepada mereka. Inti hidup kekal itu ialah pengenalan akan Allah. Saya selalu sangat terkesan dengan Injil ini, karena di sini Tuhan Yesus sendiri berdoa bagi para muridNya, bagi para pengikutNya. Bagi saya tidak ada hiburan dan dorongan lain yang jauh lebih kuat lagi dari pada kenyataan bahwa Tuhan Yesus sendiri berdoa bagi kita semua kepada Bapa. Injil ini memberi saya sebuah keyakinan yang kuat bahwa perpisahan tidak selalu merupakan kata akhir dari segala sesuatu. Bisa juga terjadi perpisahan itu adalah awal dari sebuah perjumpaan baru, sebuah perjumpaan yang lebih baik. Dalam hal ini, Yesus akan “berpisah” dari para muridNya, untuk pergi kepada Bapa. Kepergian kepada Bapa itu menjadi syarat munculnya kehidupan baru bagi para murid. Mereka kini menjadi hidup di dalam Bapa melalui Anak, yaitu Yesus. Maka perpisahan tidak usah harus selalu menyedihkan. Itulah pesan Injil hari ini sejauh saya bisa membaca dan merenungkannya dengan baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar