Rabu, 05 Agustus 2009

KAMIS, 06 AGUSTUS 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE: Dan.7:9-10.13-14; atau 2Ptr.1:16-19; Mzm.97:1-2.5-6.9; Mrk.9:2-10.



Hari ini hari Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya. Mari kita meresapkan peristiwa ini dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini, amat terkenal, yaitu tentang Yesus berubah rupa di atas gunung. Istilah kerennya, peristiwa transfigurasi Yesus. Sebagaimana biasa Yesus naik ke atas gunung untuk berdoa, dan kali ini Ia ditemani Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Berdoa, selalu berarti masuk ke dalam relasi unik dan intensif dengan Allah Bapa di surga. Dalam konteks doa seperti itulah Yesus mengalami suatu pemuliaan yang luar biasa. Di tengah pancaran kemuliaan itu, ketiga murid tadi melihat dua sosok lain di samping Yesus. Elia dan Musa. Para murid dilanda oleh sebuah pancaran daya pesona mistik yang indah tiada terkira, sehingga Petrus pun terdorong untuk melanggengkan keadaan itu dengan mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah. Tepat pada saat itulah, muncul awan yang menaungi mereka. Awan itu selalu berarti tanda kehadiran Tuhan. Dari dalam awan itu keluarlah suara: Inilah AnakKu yang terkasih, dengarkanlah Dia. Seketika itu juga, Yesus kembali ke dalam keadaan semula. Nah, itulah pra-kecap dari kemuliaan cahaya kebangkitan, yang perlu dialami para murid agar bisa menanggung peristiwa-peristiwa selanjutnya dalam hidup Yesus. Ketika Yesus masuk ke dalam sengsaraNya, para murid sudah bisa memandang dan memahami derita itu dari perspektif cahaya dan kemuliaan kebangkitan. Itulah yang disarankan oleh pemaknaan liturgis kita.

Tidak ada komentar: