Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. Keb.7:7-11; Mzm.90:12-13.14-15.16-17; Ibr.4:12-13; Mrk.10:17-30.
Injil hari ini mengisahkan dua hal. Pertama, mengenai orang kaya yang sukar masuk Kerajaan Allah. Kedua, mengenai upah mengikut Yesus. Pertama, kekayaan tidak bersifat negatif dalam teologi Kristiani. Itu rahmat Allah. Dengan kekayaan orang bisa berbuat banyak. Yang jadi soal ialah, kekayaan itu memisahkan orang dari sesama dan Tuhan. Kekayaan tidak dapat menggantikan relasi langsung dengan sesama dan Tuhan. Tidak jarang terjadi bahwa karena kekayaan, orang menjauhi Tuhan. Orang yang hari ini datang kepada Yesus, bukan orang jahat. Ia baik, taat melaksanakan Taurat. Tetapi menurut Yesus masih ada yang harus dilakukan, yaitu menjual harta dan memberikannya kepada orang miskin. Ini sulit diterima oleh orang tadi. Kekayaan adalah anugerah Tuhan. Kalau dibuang, itu berarti tidak menghargai karunia Allah. Maka ia pun pergi. Kedua, mengenai upah mengikut Yesus. Ini ditanyakan para murid: apa upah kami setelah mengikut Engkau? Jawaban Yesus menarik: upahnya ialah bahwa kita akan mendapat seratus kali lipat dari yang kita korbankan. Agak sulit memberi ilustrasi untuk hal ini. Tetapi kiranya demikian: jika kita rela mengorbankan diri demi Yesus, kita akan mendapat fedback yang tidak terduga. Mungkin dalam bentuk banyak teman, ketika kita sakit banyak yang mengunjungi dan mendoakan kita, kita tidak kesepian. Bayangkan kalau kita hidup tertutup, maka hanya kita yang mengasihani diri kita. Kita hidup dalam sepi yang tidak tertanggungkan. Seperti katak di bawah tempurung. Hidup dalam Firman Tuhan membuka semua dinding yang membatasi relasi, karena firman itu kuat dan penuh kuasa (Bac.II). Bac.I mengilustrasikan orang hikmat yang tidak mengutamakan kekayaan dan intan, melainkan hikmat Allah, yang membahagiakan. Mana prioritas kita? Anda yang tahu.
Rabu, 12 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar