Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Rm.3:21-30; Mzm.130:1-2.3-4b.4c-6; Luk.11:47-54.
Hari ini ada Peringatan fakultatif St.Teresia dari Yesus. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita masing-masing. Injil hari ini berbicara tentang sabda celaka yang diucapkan Yesus melawan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ada dua sabda celaka dalam teks ini. Celaka yang pertama terkait dengan sikap orang-orang tadi terhadap para nabi. Mereka membangun makam para nabi (semacam monumen atau tugu peringatan), padahal para nabi itu dulu dibantai leluhur mereka. Kenyataan bahwa mereka membangun tugu peringatan bagi korban pembantaian, bagi Lukas adalah pengakuan implisit atas kekejaman leluhur mereka di masa silam. Tetapi nabi yang menjadi korban pembantaian itu tidak hanya berasal dari masa silam. Kekejaman itu masih tetap terjadi sampai jaman mendekati Perjanjian Baru. Secara khusus Lukas menyebut nabi Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Sabda celaka yang kedua terkait dengan sikap para ahli Taurat yang dikatakan “telah mengambil kunci hikmat pengetahuan,” tetapi mereka tidak masuk ke dalam istana “hikmat” itu, malahan merintangi orang yang mau masuk ke dalamnya. Jadi, mereka hanya ada pada permukaan saja, pada apa yang tertulis, terjebak dalam legalisme dangkal. Tentu ini adalah kecaman dan kata-kata yang pedas. Itu sebabnya kedua kelompok tadi berusaha keras menangkap Yesus. Tetapi mereka ingin agar bisa mendapat alasan yang terlontar dari perkataan Yesus sendiri. Itu sebabnya mereka selalu membuntuti Yesus dengan intel, bukan untuk menjadi murid, atau belajar sesuatu dariNya, melainkan untuk menjebak Dia dengan kata-kataNya sendiri. Jelas ini perbuatan yang tidak terpuji. Betapa sering kita berbuat seperti itu dalam hidup kita: menangkap dan mempersalahkan orang berdasarkan kata-kata yang diucapkannya padahal kita tidak selalu bisa mengontrol kata-kata kita sendiri.
Senin, 19 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar