Minggu, 18 Oktober 2009

SELASA, 15 SEPTEMBER 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Ibr.5:7-9; Mzm.31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20; Yoh.19:25-27 atau Luk.2:33-35.


Hari ini ada peringatan wajib Maria Berdukacita. Ini juga peringatan yang besar pengaruhnya dalam sejarah gereja. Itu sebabnya peringatan ini diperingati oleh banyak lembaga hidup bakti. Itulah juga sebabnya untain peristiwa sedih dalam doa Rosario dilaksanakan hari Selasa. Injil hari ini disediakan dua. Tetapi saya memilih teks kedua untuk menjaga kesinambungan injil beberapa hari ini. Juga karena injil Lukas berbicara tentang Maria berdukacita. Dari mana datangnya dukacita itu? Injil membicarakan nubuat Simeon tentang nasib Maria kelak. Yesus juga dinubuatkan Simeon akan menjadi tanda perbantahan, sign of contradiction. Tanda ini akan menjadi penyingkap hati dan pikiran (budi) banyak orang. Ajaran dan pikiran Yesus menantang banyak orang. Hal ini mempunyai banyak akibat yang berat, baik bagi Yesus sendiri, maupun bagi Bunda Maria. Bagi Yesus, tanda perbantahan itu bermuara pada salib. Sedangkan bagi Maria, hal itu akan bermuara pada sebilah pedang, yang menurut nubuat Simeon akan menembus jiwanya. Kita baru bisa memahami arti nubuat ini ketika kelak Yesus wafat di kayu salib dan ibundanya menyaksikan itu dari bawah salib (menurut Yohanes). Bahkan tradisi gereja selanjutnya berbicara tentang bunda yang berdukacita dan meratap sedih di kaki salib puteranya (mater dolorosa, stabat mater). Adalah biasa kalau seorang anak meratapi ibunya yang meninggal. Tetapi alangkah menyedihkan hati seorang ibu, kalau ia meratapi kematian anak kandungnya. Itulah yang dialami Maria. Itulah yang kita peringati hari ini. Semoga peringatan ini berdampak secara hidup rohani dalam hidup kita masing-masing.

Tidak ada komentar: