Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
Bc.E.Ezr.6:7-8.12b.14-20; Mzm.122:1-2.3-4a.4b-5; Luk.8:19-21.
Pada hari ini ada peringatan wajib Ignatius dari Santhi. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita pada hari ini. Injil hari ini, berbicara tentang satu pemahaman lain tentang relasi kekeluargaan. Barangkali hal itu amat mengejutkan banyak orang, tetapi hal itu sudah ada dalam injil itu sendiri. Kita tidak dapat membuang atau mengubahnya begitu saja. Pasti ada maknanya. Apa makna itu? Dikatakan bahwa dalam relasi kekeluargaan, hal yang menjadi tolok ukur bukan lagi prioritas hubungan darah, melainkan hubungan ketaatan akan sabda Allah. Lex sanguinis, kini diganti dengan lex verbi. Prioritas firman di atas prioritas relasi kekeluargaan. Dalam konteks ini tidak ada kolusi dan nepotisme. Mungkin itu sebabnya setiap kali setelah selesai pembacaan Injil, imam selalu berkata (dalam versi lama): berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya. Lalu kita sebagai umat menjawab: Tanamkanlah sabdaMu ya Tuhan, dalam hati kami (versi lama. Versi baru: SabdaMu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami). Tetapi prioritas relasi firman itu tidak berarti hubungan darah (lex atau relatio sanguinis) diabaikan begitu saja. Tidak. Relasi itu tetap ada di sana dan tetap diakui keberadaan dan keabsahannya. Tetapi dalam konteks dan relasi dengan sabda, ia menjadi relatif. Ia tidak lagi menjadi satu-satunya kriteria penentu. Kini yang menjadi prioritas ialah firman.
Minggu, 18 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar