Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Rm.8:18-25; Mzm.126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; Luk.13:18-21.
Injil hari ini, berbicara tentang biji sesawi dan ragi. Tuhan Yesus memakai kedua hal ini (biji sesawi dan ragi) sebagai perumpamaan mengenai Kerajaan Allah. Sebuah biji kecil kalau ditabur ke tanah akan bertumbuh menjadi sebuah pohon besar, pohon raksasa, dengan dedauan lebat dan rindang. Di sanalah bersarang segala macam jenis burung. Pohon itu mempunyai sifat melindungi, menaungi, mengayomi, dan dengan itu memberi kesegaran dan hidup kepada makhluk lain di sekitarnya. Itulah Kerajaan Allah; di sana semua orang mendapat tempat naungan, tempat perlindungan, suaka yang aman, hidup dan segar, nyaman. Tuhan Yesus juga memakai ragi sebagai perumpamaan mengenai kerajaan Allah. Ragi jika dicampur dengan tepung atau adonan kue, akan meragi seluruh racikan bahan kue itu. Ragi itu “serba hadir” (omnipresence) mengkamirkan seluruh adonan. Kehadiran Ragi itu seperti kehadiran Kerajaan Allah yang tidak selalu kentara tetapi amat efektif mendatangkan efek perubahan. Saya teringat akan ucapan seorang peserta Muspas Keuskupan Bandung awal bulan kemarin, yang mengutip seorang yang bernama Joko Lelono: konon menurut dia ilmu garam dan terang itu tidak begitu relevan lagi. Oleh karena itu, Joko Lelono mengajak orang untuk membuka mata terhadap analisis dia: tentang ilmu garam, ilmu terang, dan ilmu ragi. Garam dan terang itu relatif lebih gampang. Maka ia mengunggulkan ilmu ragi: tidak kelihatan wujudnya tetapi terasa pengaruhnya. Seharusnya begitulah daya pengaruh kehadiran gereja. Oleh karena itu, mari kita belajar di sekolah ragi.
Senin, 26 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar