Kamis, 07 Januari 2010

KAMIS, 07 JANUARI 2010

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.4:19-5:4; Mzm.72:2,14,15bc,17; Luk.4:14-22a.



Hari ini ada Peringatan St.Raimundus dr Penyafort, Beata Lindalva. Mari kita mengenang mereka dalam doa kita. Injil hari ini, berkisah tentang kembalinya Yesus ke Galilea, lalu ke Nazaret juga, tempat Ia tumbuh menjadi dewasa. Sebagaimana kebiasaanNya saat itu, Ia selalu menyempatkan diri ke rumah ibadat dan berdoa. Ia ke rumah ibadat Nazaret. Entah mengapa, semua orang seakan amat berharap agar Dia menyampaikan sesuatu. Sebagaimana biasa juga, akhirnya Ia berdiri. Ia menerima Kitab Suci, mencari bacaan, lalu dibacakan. Yesus, dengan otoritas sendiri, mencari bacaan yang akan dibacakan. Kebetulan teks yang Ia baca hari itu ialah kutipan nabi Yesaya. Sampai di sini belum apa-apa. Itu hal yang biasa di kalangan orang Israel. Ketika selesai dibaca, tiba gilirannya untuk tafsir atau komentar. Ternyata semua orang berharap agar Ia memberikan tafsir itu. Tafsir Dia pendek: Nubuat itu sudah tergenapi hari ini, ketika teks itu terdengar. Rupanya komentar singkat itu, amat berkesan di hati pendengar, sehingga Lukas mencatat bahwa mereka membenarkan Dia. Artinya, mereka menerima pernyataan itu benar. Mereka kagum akan kata-kata indah yang Ia ucapkan. Sekarang kita tidak punya lagi untaian kata-kata indah itu. Yang kita punya sekarang hanya penutup dari untaian kata-kata indah itu. Tetapi yang jelas, pendengar terkesan dengan kata-kata indah yang terucap mulut Yesus. Sekaligus terasa paradoks: kata-kata yang keluar dari mulutNya indah, tetapi sesungguhnya Ia hanya anak seseorang yang bernama Yusuf. Latar belakang asal-usul seseorang ikut menjadi faktor penilaian. Tetapi hendaknya tidak selalu demikian. Sebab ada yang bisa melampaui batas-batas latar belakang itu. Dan itulah yang terjadi dengan dan pada Yesus.

SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

Tidak ada komentar: