Oleh: Fransiskus Borgias M.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Kis.10:34a,37-43; Mzm.118:1-2,16ab-17,22-23; Kol.3:1-4; Yoh.20:1-9.
Injil yang kita baca dalam tadi malam diambil dari Lukas. Para saksi kebangkitan adalah kaum perempuan yang mewartakan temuan mereka kepada para rasul. Tetapi para Rasul itu tidak percaya. Bahkan Petrus yang datang ke makam untuk memeriksa apa yang dikatakan perempuan itu, hanya bisa pergi dan dirundung pertanyaan yang tidak terjawab. Injil yang kita baca pagi hari ini diambil dari Yohanes. Di sini ada juga seorang perempuan yang menjadi saksi kebangkitan (Maria Magdalena). Ia juga memberitahukan hal itu kepada Petrus. Petrus dengan disertai si murid yang lain berlari ke makam untuk memeriksa apa yang terjadi. Tetapi si murid yang lain itu tiba duluan di makam. Petrus menyusul. Murid yang lain itu hanya menengok dari luar. Ia menunggu Petrus. Setelah Petrus tiba, ia masuk ke dalam makam. Petrus hanya sampai melukiskan apa yang secara objektif dilihatnya di sana: kain kafan sudah terpisah dari kain peluh. Berarti tubuh Tuhan Yesus sudah tidak ada di sana lagi. Lagi-lagi Petrus hanya sampai di situ saja. Lalu masuklah murid yang lain itu. Ia melihat fakta objektif yang sama. Tetapi murid yang lain itu melangkah lebih lanjut, bahkan meloncat secara dramatis dalam iman: Ia melihatnya dan percaya. Begitu injil Yohanes melukiskan perubahan yang terjadi pada si murid yang lain itu. Murid yang lain ini menjadi model dan teladan iman bagi kita: ya kita juga harus melakukan loncatan iman dramatis di hadapan misteri kebangkitan paskah itu.
BANDUNG, 17 FEBRUARI 2010
SIS B (CCRS FF-UNPAR BANDUNG)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar