OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Sam.12:7-10,13; Mzm.32:1-2,5,7,11; Gal.2:16,19-21; Luk.7:36-8:3.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang perempuan di sekitar Yesus. Pertama, perempuan pendosa. Saya harus menyatakan rasa hormat saya akan perempuan ini karena ia pemberani: berani menerobos tabu sosial untuk datang kepada Tuhan. Luar biasa. Tuhan menghargai dia. Tuhan membiarkan kakiNya diurapi minyak wangi perempuan itu. Yesus tidak melarang perempuan itu. Ia tidak mau membatasi cakrawala kasih dan perhatianNya. Justru itulah yang mengganggu Simon si orang Farisi. Maka keluarlah perumpamaan yang terkenal mengenai orang yang berutang tetapi dihapuskan utangnya oleh si peminjam uang. Ketika Simon ditanya siapakah yang paling mengasihi tuan itu, dengan tepat Simon menjawab bahwa yang paling mengasihi ialah orang yang utangnya paling besar dihapus. Setelah Yesus merasa bahwa Simon sampai pada pemahaman yang benar, barulah Ia meneruskan apa yang mau dikatakanNya kepada perempuan itu: Dosamu telah diampuni, pulanglah dalam damai. Itulah warta pokok Bc.I. Setelah itu Yesus berkeliling ke kota-kota lain ditemani perempuan. Tampak bahwa perempuan-perempuan itu aktif di ruang publik bersama Yesus, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam konteks agama Yahudi ketika itu. Yesus membebaskan perempuan dari belenggu sosial mereka. Mungkin bagi mereka, hidup adalah “…hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”, sehingga mereka merasa “…bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Bc.II).
BANDUNG, 18 APRIL 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
Sabtu, 17 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar