Senin, 10 Mei 2010

SENIN, 22 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Dan.13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mzm.23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh.8:12-20.




Injil hari ini ada dalam konteks luas ayat 12-59. Ayat-ayat ini melukiskan perjumpaan Yesus dan “orang Yahudi” yang ditandai nada polemik. Ada beberapa di antara orang Yahudi itu yang mulai terbuka terhadap Yesus. Ada yang tidak. Dalam rentang ayat-ayat ini, Yesus menggemakan kembali “Ego eimi” dari Keluaran 3:14 sebanyak empat kali. Tiga yang pertama, menimbulkan kontroversi. Sedangkan yang keempat menyebabkan orang mau merajam Yesus karena dituduh menghujat. Ayat 12 dimulai dengan pernyataan Yesus mengenai diriNya: “Akulah cahaya dunia.” Pernyataan ini dinyatakan Yesus dalam konteks pesta Api di Yerusalem (Sukkoth). Dalam Perjanjian Lama, cahaya biasanya dikaitkan dengan Allah (Mzm.27:1). Dalam Pesta Api itu lilin dinyalakan di balairung Perempuan Bait Allah sehingga terang benderang bahkan bisa menerangi seluruh Yerusalem. Taurat oleh bangsa Yahudi dipandang sebagai cahaya dunia, lumen gentium (Keb.18:4; Amsal 6:23; Mzm.119:105; Bar.4:1). Yesus dilukiskan Yohanes sebagai orang yang menggenapi semua teks Perjanjian Lama tadi. Yesus memang adalah cahaya yang datang ke dunia. Tetapi orang-orang Yahudi tidak mau menerima dan mengakui Yesus sebagai cahaya dunia. Sikap itu menjadi penghakiman atas diri mereka sendiri. Mereka bersikap demikian karena mereka tidak mengenal Bapa dan Putera. Bagaimana dengan kita? Semoga kita mau menerima Kristus sebagai Cahaya Dunia, Lux Mundi, Cahaya para Bangsa, Lumen Gentium, yang oleh Vatikan II dikaitkan dengan Gereja. Kita adalah Gereja itu, dan Gereja adalah orang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Yesus. Mari kita membawa cahaya Yesus ke dalam dunia di sekitar kita, dengan menjadi “media” pancaran cahaya sejati Yesus Kristus.

Tidak ada komentar: