ALMA REDEMPTORIS MATER
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Entah mengapa, hari ini (21 Mei 2011) saya tiba-tiba teringat dan sangat rindu akan sebuah kidung Maria yang saya dengar pada akhir doa malam pertama kami di Seminari Pius XII Kisol. Itulah ibadat Completorium pertama dalam hidup saya. Dan itu terjadi di Kapel asrama seminari itu pulalah. Benar-benar sangat istimewa rasanya. Hari itu sudah pukul 21.00; ya sudah malam. Kami semua pergi ke kapel seminari untuk berdoa malam di Kapel itu. Di akhir doa itulah terdengar merdu bunyi harmonium pengiring dari loteng kapel itu, memberi nada-nada baru bagi saya, tetapi saya tahu itu sangat indah dan mempesona. Setelah sang organis memberi preludium singkat, para senior pun mulai bernyanyi dalam bahasa Latin. Sangat agung dan megah, indah dan mendalam, merasuk dalam kalbu, entah mengapa, entah bagaimana. Kami para Yunior, kalau tidak mendapat buku lagu, hanya bisa bengong saja mendengar untaian nada-nada dan kata-kata indah dan ajaib itu. Tetapi karena nada-nada itu indah, syairnya juga indah, maka malam itu juga saya coba menghafalnya luar kepala. Dan Berhasil. Tidak pernah terlupakan sampai sekarang, sampai detik ini.
Beginilah lagunya:
Alma Redemptoris mater,
quae per via caeli porta manes,
et stela maris,
sucure cadenti,
surgere qui curat populo,
tu que genuisti,
natura mirante,
tuum sanctum genitorem,
virgo prius ac posterius,
gabrielis ab ore,
sumens illud ave,
peccatorum miserere.
Salah satu versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia (kalau tidak salah merupakan hasil kerja dari teks buku Nyanyian Sukur Kepada Bapa dari Nusa Indah) ialah sbb:
Bunda penebus yang murah,
gapura surgawi yang terbuka,
bintang samudera tolonglah umatmu,
yang dilanda duka derita,
berkat doamu di hadapan Yesus,
puteraMu yang tercinta,
kenya murni senantiasa,
yang disapa Jibrail
dengan salam indah,
sudi kasihani kami.
Versi terjemahan yang lain ialah sbb:
Bunda yang berbelas kasih,
engkau melahirkan penyelamat,
pelindung kami,
kami mohon restu,
agar slamat senantiasa,
berkat doamu di hadapan Yesus,
Puteramu yang tercinta,
kuatkanlah kami yang lemah,
dengan iman harapan,
dan kasih sejati,
ya Maria Bunda kami.
Entah mengapa, saya tetap merasa teks asli dalam bahasa Latin tetap masih jauh lebih indah dan lebih mendalam. Memang kalau dianalisis secara teologis liturgis, ada perbedaan yang sangat besar antara teks Latin dan kedua versi terjemahan yang tersedia di atas tadi. Perbedaan paling mencolok dalam analisis saya ialah bahwa dalam teks Latin sebagian besar teks lagu itu adalah pujian kepada sang Bunda Penebus. Baru pada akhir lagu-lah, muncul hanya satu penggal doa permohonan. Itu sebuah perimbangan doa teologis yang sangat berbeda yang tidak tampak dalam terjemahan bahasa Indonesia. Sebab baik versi terjemahan Indonesia pertama dan kedua, jika kita telaah, maka yang dominan ialah permohonan dan unsur pujian lalu menjadi tidak kentara untuk tidak sampai dikatakan hilang sama sekali.
Entah mengapa pula, pada malam ini tiba-tiba saya tergerak untuk membuat terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Mungkin karena saking rindunya terterpa badai nostalgia. Sejauh saya tahu memang belum ada terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Inilah hasil terjemahan saya. Semoga ada gunanya.
Ende ata Sambe,
Ende momang mese,
Ite ata lami para surga,
Ntala gerak,
dadang ami anakd,
one mose lino susa taung,
le tegi dite,
one rangaD Yesus,
Anak dite Anak momangd,
Pande mberes,
ami anak de,
le imbi agu bengkes,
agu momang mese,
io Maria Ende cembes.
Yogya, 21 Mei 2011 (Diketik dan diperluas, 06 September 2011).
Senin, 05 September 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar