JUDUL BUKU : YERUSALEM 33, IMPERIUM ROMANUM, KOTA PARA NABI, DAN TRAGEDI TANAH
SUCI.
PENGARANG : TRIAS KUNCAHYONO
PENERBIT : BUKU KOMPAS, APRIL 2011
HALAMAN : XXXVLL+ 330.
PENINJAU : FRANSISKUS BORGIAS M.
Berbicara tentang Yerusalem, tidak akan habis. Ada banyak buku yang ditulis tentang kota itu. Ada Karen Armstrong, Amy Dockserr Marcus, dan Trias Kuncahono yang menulis dua buku. Inilah bukunya yang kedua setelah yang pertama menjadi best-seller, Jerusalem. Berbicara tentang Yerusalem, saya teringat akan P.C.Groenen OFM, pakar Kitab Suci. Suatu saat dalam kuliah Kitab Suci Perjanjian Lama di Biara St.Bonaventura Papringan, ia mengatakan, “dunia tidak akan damai selama Jerusalem tidak damai,” selama Yerusalem tercabik-cabik. Groenen mendasarkan pernyataannya pada sejarah, di mana Yerusalem selalu menjadi sign of contradiction, dari dulu hingga kini, dan nanti. Kota itu dipenggal dalam beberapa bagian dengan penguasa yang berasal dari tradisi agama. Islam punya bagiannya, Yahudi punya bagiannya, Kristiani juga punya bagiannya. Penggal Kristiani juga terbagi dalam beberapa bagian.
Buku ini berbicara secara historis tentang Yerusalem. Buku ini terdiri atas 8 Bab, dilengkapi dua prolog dan satu epilog. Buku ini membahas substansi eksistensi Jerusalem dari jaman ke jaman. Yang paling besar pengaruhnya ialah fakta bahwa Jerusalem ialah tanah para nabi (bab 1); ada banyak nabi menyinggung, atau menziarahinya. Setelah cukup panjang membeberkan biologi dan geografi Palestina, penulis membahas secara khusus paradoks para nabi (h.50): Mereka hadir di Yerusalem, tetapi kota itu menjadi kota penuh konflik. Kota itu terletak di Timur Tengah, menjadi bagian utuh dari Kanaan dan Palestina (Bab 2), sebuah urutan yang tepat. Negeri itu dilanda peperangan dari dulu hingga kini. Selalu ada kelompok yang memperebutkannya dari waktu ke waktu. Yang menarik ialah bahwa secara tradisional nama negeri itu, Kanaan. Ada penelusuran etimologis kata Kanaan dan sejarah nama itu (h.80). Ketika Roma berkuasa ada kebijakan membuat “politik pengubahan nama” dari Kanaan menjadi Palestina (hal.92). Roma bermaksud menghapus kenangan akan Israel dari sejarah, sesuatu yang kini bergema kembali dalam diri presiden Iran yang mau melenyapkan Israel dari Peta bumi.
Salah satu episode sejarah yang penting bagi Yerusalem ialah ia pernah dikuasai Roma (bab 3). Tentu ini tidak lengkap jika tidak menyebut Helenisme, Persia, Babel, dan Asyur. Alur sejarah itu dimulai dengan pelukisan sejarah kerajaan di Israel (Hakim-hakim tidak dibahas, h.109). Setelah masa jaya yang hanya sebentar, Israel dikuasai Asyur dan Babel (h.112.113). Kemudian terjadi Helenisasi (h.113-17), dan dikuasai Roma (h.117-144). Hal yang membedakan Roma dari penguasa lain ialah Roma memberi perlakuan khusus terhadap Yahudi sebagai umat berkitab (p.127). Alur perjalanan peziarah Eropa Abad Pertengahan ialah dari Kaisarea ke Yerusalem (Bab 4). Judul itu menyiratkan ada pergeseran dari kota Helenis Kaisaria ke kota Zionis, Yerusalem. Secara cukup panjang pengarang membahas sejarah Kaisarea. Lalu dibahas sejarah Yerusalem, walau yang lebih mencolok ialah pelukisan mengenai beberapa kelompok aliran politik dan teologi jaman itu. Seluruh hidup dan pergolakan bangsa Yahudi terfokus di Jerusalem.
Jerusalem tidak selalu cemerlang sepanjang jaman. Pernah ia ditinggalkan, dan menjadi sarang penyamun (Bab 5). Itu sebabnya kota itu penuh paradoks (h.182). Ada yang memujinya sebagai metropolis, tetapi ada juga yang mencemoohnya hanya sebagai lobang di pojokan (h.183). Hal itu benar sehubungan dengan masa kegelapan pasca penghancuran oleh Babel dan penghancuran oleh Roma tahun 70-an. Itulah zaman gelap Jerusalem (bab 6). Setelah secara singkat menyinggung penghancuran Yerusalem oleh Roma di awal bab, seluruh sisa bab membahas hukuman salib sebagai hukuman keji, tidak manusiawi. Disinggung juga mengenai bentuk salib (h.220-21). Ini jaman kekelaman bagi kemanusiaan; salah satu korbannya ialah Yesus Kristus yang mati di salib.
Fokus Bab 7 ialah peristiwa dramatis, sengsara dan wafat Tuhan. Beberapa pertanyaan besar coba dijawab: Mengapa Yesus dihukum mati, kapan itu terjadi, siapa yang memutuskan hukuman itu? Seluruh uraian difokuskan pada satu tesis bahwa Yesus dibunuh atas dasar konspirasi politis-keagamaan, antara penguasa negara, penguasa agama, dan rakyat kebanyakan. Ada triumvirat jahat yang menyebabkan Yesus dihukum mati, yaitu wali negeri, raja, dan Imam Agung (h.261). Tadinya saya mengira buku ini adalah buku sejarah. Tetapi setelah membacanya sampai bab 8 saya sadar bahwa penulis menulis buku ini sebagai orang Kristiani, yang memuncaki bukunya dengan pelukisan mengenai hari dramatis yang ditandai bulan memerah ketika Yesus wafat (h.310). Ini sebuah apologia iman. Hal itu tampak di bagian akhir bab 8 ini: Yerusalem adalah tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, menyusuri Jalan Salib,Via Dolorosa, di Yerusalem adalah menyusuri jalan iman. Salib mengubah kebinasaanmenjadi keselamatan (h.312).
Ya, berbicara tentang Yerusalem tidak akan selesai. Kita bisa belajar banyak dari Yerusalem seperti dikatakan Zuhairi Misrawi dalam epilog. Ada anakronisme di sana. Dikatakan bahwa pada jaman Muhammad, umat berkiblat ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem (h.314). Saat itu, mesjid itu belum ada; baru ada setelah Yerusalem dikuasai Islam. Qiblat pertama ialah situs bait Allah di Yerusalem. Qiblat itu diubah setelah terjadi konflik tajam antara Islam dan orang Yahudi.
Bahasa buku ini lancar dan ringan. Tetapi secara pribadi saya terganggu dengan ungkapan yang tidak lazim yang dipakai Trias: Kakek moyang (mis:h.9,29, 67, 96, dll). Beberapa pihak mengatakan itu aneh. Yang biasa ialah ungkapan nenek-moyang. Entah apa pertimbangan Trias menggantinya. Ada bagian yang seperti copy-paste. Misalnya info mengenai beberapa nabi dan aktifitas mereka yang diulang di beberapa tempat. Juga informasi mengenai nama beberapa faksi politik dan agama dalam masyarakat Yahudi yang diulang hampir sama di beberapa tempat. Contoh: uraian tentang Farisi yang ada di pendahuluan (h.13-14) sama dengan yang ada pada Bab 4 (h.161). Hal itu bisa diatasi dengan parafrase, tetapi itu tidak dilakukan.
Secara keseluruhan penulis ini lancar memberi banyak informasi populer, penting dan menarik tentang sejarah perjanjian lama dan baru, gereja awal, kekaisaran roma, kekuatan besar dunia yang mengobok-obok Timur Tengah kuno, termasuk Kanaan. Buku ini mengandung “campuran” antara informasi serius yang digali dari resources dan pengalaman pribadi akan Jerusalem dan sekitarnya. Buku ini berguna bagi pemula yang mendalami sejarah timur tengah kuno, sejarah Kaisarea (h.151-162), Yerusalem, Kekaisaran Romawi. Misalnya informasi tentang teori migrasi Abraham (h.70), atau sejarah kemunculan Sabat (h.161-163). Tetapi bagi orang yang sudah mendalami dunia perjanjian lama dan baru, dan sejarah gereja awal, informasi yang ada di sini sama sekali tidak baru; paling-paling ini hanya berfungsi sebagai penyegaran.
Jumat, 09 Desember 2011
KETIKA AKU.... (bdk.Mat.25:31-46)
By: Fransiskus Borgias M.
....LAPAR
Nakam ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi aku makan
....HAUS
Munim ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku minum
....SEORANG ASING
Nangapmut ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku tumpangan
....TELANJANG
Naiakap ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku pakaian
....SAKIT
ukA kugnejnem KADIT umak --- Kamu menjenguk Aku
....DI DALAM PENJARA
ukA ignujnugnem KADIT umak --- Kamu mengunjungi Aku
Belajarlah dari sisi
yang mudah dibaca
Walau idealisme itu tidak mudah.
Hidup
adalah perjuangan.
Yogya, 22 Mei 2011
....LAPAR
Nakam ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi aku makan
....HAUS
Munim ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku minum
....SEORANG ASING
Nangapmut ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku tumpangan
....TELANJANG
Naiakap ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku pakaian
....SAKIT
ukA kugnejnem KADIT umak --- Kamu menjenguk Aku
....DI DALAM PENJARA
ukA ignujnugnem KADIT umak --- Kamu mengunjungi Aku
Belajarlah dari sisi
yang mudah dibaca
Walau idealisme itu tidak mudah.
Hidup
adalah perjuangan.
Yogya, 22 Mei 2011
BOSKE TA ARNIA/TA PROBATA MOU
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pagi ini (25 Mei 2008), saya membaca Mazmur 23 yang berjudul Tuhanlah gembalaku. Sebuah mazmur yang sangat terkenal dan sangat akrab di telinga kita karena menjadi sumber ilham bagi karya seni Kristiani, baik itu berupa lagu, maupun berupa seni lukis dan seni ukir. Mazmur itu, walau pun pendek, tetapi isinya padat dan indah. Mungkin karena ia mengalir keluar dari pengalaman hidup sang penulis mazmur itu sendiri. Tetapi di sini saya tidak bermaksud untuk mengulas tentang mazmur 23 tersebut. Saya mau menulis tentang sesuatu yang lain. Apa itu?
Tatkala pagi ini saya sedang membaca mazmur ini saya tiba-tiba teringat akan percakapan pemulihan Petrus oleh Yesus dalam adegan di tepi pantai pada saat peristiwa kebangkitan itu. Percakapan itu dapat kita baca dalam Yoh.21:15-19. Sebuah percakapan yang indah dan benar-benar sangat mengharukan dan sangat menyentuh perasaan. Perasaan kita serasa diaduk-aduk dan menjadi haru-biru karenanya. Di tempat dan kesempatan lain sesungguhnya saya pernah memberi uraian rinci tentang hal ini. Ada segi-segi lain yang sudah saya uraikan dalam tempat dan kesempatan itu. Tetapi pada hari ini saya tiba-tiba sadar dan menemukan sesuatu yang baru dan lain tatkala saya mencoba membaca teks ini dalam teks aslinya yaitu bahasa Yunani dan dibandingkan dengan teks Vulgata (Latin).
Hasil dari pembacaan dan pembandingan ini ialah beberapa pengamatan penting dan sederhana berikut ini. Pertama, ternyata pertanyaan Yesus kepada Simon ada gradasinya, sesuatu yang kurang begitu terasa lagi dalam teks terjemahan kita (bahasa Indonesia). Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang kasih dalam perbandingan dengan yang lain-lain (para murid): “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Tentu saja teks ini bisa dibaca dengan dua cara: apakah kasih Simon kepada Yesus itu lebih daripada kasih-kasih para murid yang lain juga terhadap Yesus? Atau bisa juga dibaca: apakah Simon mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi para murid yang lain itu mengasihi Yesus? Sebab ini adalah perkara komunitas walau dalam communitas itu ada primus interpares juga). Jadi, yang ditanyakan ialah mengenai mutu kasih Petrus dalam perbandingan dengan mutu kasih para murid yang lain, tentu saja dalam konteks relasi yang hidup dengan Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah pertanyaan personal yang langsung hanya menyangkut diri Yesus sendiri saja: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dalam pertanyaan kedua dan ketiga ini tidak ada lagi perbandingan dengan para murid yang lain. Ini hanya benar-benar menyangkut relasi kasih antara Yesus dan Petrus saja. Jadi, ini perkara relasi personal dengan Yesus. Menarik juga fakta bahwa Yesus tidak menyapa Simon dengan gelarnya, yaitu Petrus, melainkan dengan nama aslinya sebagai seorang pribadi. (Pada tempat dan kesempatan lain itulah saya sudah menguraikan persoalan ini dengan rinci).
Kedua, ternyata terjemahan kita (Terjemahan Baru 1, disingkat TB1; dari tahun 70-an) hanya memakai satu frase yang sama saja untuk perintah Yesus kepada Simon setelah pertanyaan Yesus dijawab Petrus dengan jawaban positif, dan penuh percaya diri (tentu saja, kecuali yang ketiga). Bunyinya ialah sbb: Gembalakanlah domba-dombaku (Yoh.21:15,16,17). Dalam pengamatan saya, terjemahan ini ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh Vulgata yang juga hanya memakai satu ungkapan saja: Pasce oves meas. Ketika saya membaca terjemahan yang ada dalam The New Jerusalem Bible, terjemahan itu menurut saya lebih dekat dengan teks Yunani. Sadar akan “kekurangan” ini maka revisi terjemahan kita (yang sekarang disebut TB2, walau belum dipromulgasikan secara resmi; TB2: Terjemahan Baru 2 dari tahun 1997) mencoba memperbaikinya. Jika kita membaca TB2 maka di sana sudah ada distingsi yang sangat jelas antara ketiga perintah itu. Pembedaan itu diperjelas dengan pemakaian ungkapan berikut ini. Teks Yunani Boske ta arnia mou diterjemahkan menjadi “Peliharalah Domba-dombaKu.” Sedangkan yang di tengah, poimaine ta probata mou, diterjemahkan dengan “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Lalu yang di akhir (ketiga), “Boske ta probata mou,” lagi-lagi diterjemahkan dengan “Peliharalah domba-dombaKu.” Jadi, menurut hemat saya, terjemahan ini lebih dekat dengan teks Yunani. Memelihara tentu saja dengan memberi makan. Tetapi, memberi makan saja tidak cukup. Harus diberi perhatian yang lebih khusus, yang lebih spesifik, mencakup kenyamanan dan keamanan jasmani kawanan domba. Perhatian khusus dan spesifik itulah yang terkandung dalam kata poimaine, kata memelihara (pelihara).
Ketiga, setelah membaca teks Yunani, saya tiba-tiba sadar bahwa ada struktur inklusi (pembingkai) dalam pemilihan dan pemakaian ungkapan. Dalam ayat 15 kata yang dipakai ialah Boske, yang artinya ialah memberi makan. Kata ini kemudian muncul lagi dalam ayat 17: Boske, to feed. Di tengahnya, dipakai kata Poimaine, yang artinya, menjaga, memelihara, to look after. Jadi, boleh dikatakan bahwa kata Boske membingkai atau mengapiti kata poimaine. Bagi saya hal itu mengandung makna yang sangat penting dan mendalam. Seakan-akan dengan struktur bingkai seperti itu, mau dikatakan bahwa setelah domba-domba itu diberi makan (poimaine), domba-domba itu jangan lalu ditelantarkan begitu saja, dibiarkan mengikuti kemauan dan perilaku mereka sendiri, melainkan domba-domba itu tetap harus dijaga baik-baik, dan akhirnya lalu dikasih makan lagi. Urutan itu terus berulang-ulang menjadi sebuah rutinitas kewajiban moral-pastoral. Tentu saja domba-domba itu dipelihara dengan cara dikasih makan.
Keempat, tugas penggembalaan adalah tugas sang gembala agung, sang gembala utama, yaitu Yesus Kristus sendiri, sang pastor bonus (Yoh.10:10). Tetapi sekarang ini, semua tugas itu dipercayakan kepada Petrus. Jelas ini adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang mulia dan tidak mudah. Ini tugas yang sangat berat. Kalau dalam Matius 16:18-19 ada penyerahan kunci kerajaan surga kepada Petrus, maka di sini, tugas dan tanggung-jawab itu diberi dalam wujud sebuah metafor yang lain: Petrus diangkat atau ditunjuk menjadi seorang gembala. Tetapi substansinya satu dan sama saja yaitu menjadi landasan dan pemimpin jemaat. Kalau dalam Matius 16:18-19 itu Petrus diangkat menjadi Batu Karang yang diyakini (mudah-mudahan) kokoh, maka dalam Injil Lukas kita menemukan sesuatu yang lain yang juga sangat indah dan menarik. Mari kita lihat Lukas 22:32. Di sana dilukiskan bahwa Yesus berdoa untuk Simon Petrus: “...tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Luar biasa. Doa ini sangat menyentuh perasaan. Yesus berdoa bagi keteguhan iman Petrus. Bagi saya doa Yesus ini bagi Petrus sangat penting. Yesus berdoa agar iman Petrus tetap kokoh walaupun mungkin ada banyak cobaan dan godaan (yang juga sudah diramalkan oleh Yesus sendiri, Luk.22:34). Ini sangat penting, sebab Petrus diharapkan akan menjadi tokoh yang bisa menguatkan iman saudara-saudara yang lain. Jelas ini adalah peran seorang pemimpin juga. Peran untuk menjadi teladan, menjadi model dalam hal kekuatan dan kekokohan iman.
Bandung, 23 Mei 2008 (Diketik dan diperluas lagi, 4 November 2011).
Fransiskus Borgias M.
Pagi ini (25 Mei 2008), saya membaca Mazmur 23 yang berjudul Tuhanlah gembalaku. Sebuah mazmur yang sangat terkenal dan sangat akrab di telinga kita karena menjadi sumber ilham bagi karya seni Kristiani, baik itu berupa lagu, maupun berupa seni lukis dan seni ukir. Mazmur itu, walau pun pendek, tetapi isinya padat dan indah. Mungkin karena ia mengalir keluar dari pengalaman hidup sang penulis mazmur itu sendiri. Tetapi di sini saya tidak bermaksud untuk mengulas tentang mazmur 23 tersebut. Saya mau menulis tentang sesuatu yang lain. Apa itu?
Tatkala pagi ini saya sedang membaca mazmur ini saya tiba-tiba teringat akan percakapan pemulihan Petrus oleh Yesus dalam adegan di tepi pantai pada saat peristiwa kebangkitan itu. Percakapan itu dapat kita baca dalam Yoh.21:15-19. Sebuah percakapan yang indah dan benar-benar sangat mengharukan dan sangat menyentuh perasaan. Perasaan kita serasa diaduk-aduk dan menjadi haru-biru karenanya. Di tempat dan kesempatan lain sesungguhnya saya pernah memberi uraian rinci tentang hal ini. Ada segi-segi lain yang sudah saya uraikan dalam tempat dan kesempatan itu. Tetapi pada hari ini saya tiba-tiba sadar dan menemukan sesuatu yang baru dan lain tatkala saya mencoba membaca teks ini dalam teks aslinya yaitu bahasa Yunani dan dibandingkan dengan teks Vulgata (Latin).
Hasil dari pembacaan dan pembandingan ini ialah beberapa pengamatan penting dan sederhana berikut ini. Pertama, ternyata pertanyaan Yesus kepada Simon ada gradasinya, sesuatu yang kurang begitu terasa lagi dalam teks terjemahan kita (bahasa Indonesia). Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang kasih dalam perbandingan dengan yang lain-lain (para murid): “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Tentu saja teks ini bisa dibaca dengan dua cara: apakah kasih Simon kepada Yesus itu lebih daripada kasih-kasih para murid yang lain juga terhadap Yesus? Atau bisa juga dibaca: apakah Simon mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi para murid yang lain itu mengasihi Yesus? Sebab ini adalah perkara komunitas walau dalam communitas itu ada primus interpares juga). Jadi, yang ditanyakan ialah mengenai mutu kasih Petrus dalam perbandingan dengan mutu kasih para murid yang lain, tentu saja dalam konteks relasi yang hidup dengan Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah pertanyaan personal yang langsung hanya menyangkut diri Yesus sendiri saja: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dalam pertanyaan kedua dan ketiga ini tidak ada lagi perbandingan dengan para murid yang lain. Ini hanya benar-benar menyangkut relasi kasih antara Yesus dan Petrus saja. Jadi, ini perkara relasi personal dengan Yesus. Menarik juga fakta bahwa Yesus tidak menyapa Simon dengan gelarnya, yaitu Petrus, melainkan dengan nama aslinya sebagai seorang pribadi. (Pada tempat dan kesempatan lain itulah saya sudah menguraikan persoalan ini dengan rinci).
Kedua, ternyata terjemahan kita (Terjemahan Baru 1, disingkat TB1; dari tahun 70-an) hanya memakai satu frase yang sama saja untuk perintah Yesus kepada Simon setelah pertanyaan Yesus dijawab Petrus dengan jawaban positif, dan penuh percaya diri (tentu saja, kecuali yang ketiga). Bunyinya ialah sbb: Gembalakanlah domba-dombaku (Yoh.21:15,16,17). Dalam pengamatan saya, terjemahan ini ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh Vulgata yang juga hanya memakai satu ungkapan saja: Pasce oves meas. Ketika saya membaca terjemahan yang ada dalam The New Jerusalem Bible, terjemahan itu menurut saya lebih dekat dengan teks Yunani. Sadar akan “kekurangan” ini maka revisi terjemahan kita (yang sekarang disebut TB2, walau belum dipromulgasikan secara resmi; TB2: Terjemahan Baru 2 dari tahun 1997) mencoba memperbaikinya. Jika kita membaca TB2 maka di sana sudah ada distingsi yang sangat jelas antara ketiga perintah itu. Pembedaan itu diperjelas dengan pemakaian ungkapan berikut ini. Teks Yunani Boske ta arnia mou diterjemahkan menjadi “Peliharalah Domba-dombaKu.” Sedangkan yang di tengah, poimaine ta probata mou, diterjemahkan dengan “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Lalu yang di akhir (ketiga), “Boske ta probata mou,” lagi-lagi diterjemahkan dengan “Peliharalah domba-dombaKu.” Jadi, menurut hemat saya, terjemahan ini lebih dekat dengan teks Yunani. Memelihara tentu saja dengan memberi makan. Tetapi, memberi makan saja tidak cukup. Harus diberi perhatian yang lebih khusus, yang lebih spesifik, mencakup kenyamanan dan keamanan jasmani kawanan domba. Perhatian khusus dan spesifik itulah yang terkandung dalam kata poimaine, kata memelihara (pelihara).
Ketiga, setelah membaca teks Yunani, saya tiba-tiba sadar bahwa ada struktur inklusi (pembingkai) dalam pemilihan dan pemakaian ungkapan. Dalam ayat 15 kata yang dipakai ialah Boske, yang artinya ialah memberi makan. Kata ini kemudian muncul lagi dalam ayat 17: Boske, to feed. Di tengahnya, dipakai kata Poimaine, yang artinya, menjaga, memelihara, to look after. Jadi, boleh dikatakan bahwa kata Boske membingkai atau mengapiti kata poimaine. Bagi saya hal itu mengandung makna yang sangat penting dan mendalam. Seakan-akan dengan struktur bingkai seperti itu, mau dikatakan bahwa setelah domba-domba itu diberi makan (poimaine), domba-domba itu jangan lalu ditelantarkan begitu saja, dibiarkan mengikuti kemauan dan perilaku mereka sendiri, melainkan domba-domba itu tetap harus dijaga baik-baik, dan akhirnya lalu dikasih makan lagi. Urutan itu terus berulang-ulang menjadi sebuah rutinitas kewajiban moral-pastoral. Tentu saja domba-domba itu dipelihara dengan cara dikasih makan.
Keempat, tugas penggembalaan adalah tugas sang gembala agung, sang gembala utama, yaitu Yesus Kristus sendiri, sang pastor bonus (Yoh.10:10). Tetapi sekarang ini, semua tugas itu dipercayakan kepada Petrus. Jelas ini adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang mulia dan tidak mudah. Ini tugas yang sangat berat. Kalau dalam Matius 16:18-19 ada penyerahan kunci kerajaan surga kepada Petrus, maka di sini, tugas dan tanggung-jawab itu diberi dalam wujud sebuah metafor yang lain: Petrus diangkat atau ditunjuk menjadi seorang gembala. Tetapi substansinya satu dan sama saja yaitu menjadi landasan dan pemimpin jemaat. Kalau dalam Matius 16:18-19 itu Petrus diangkat menjadi Batu Karang yang diyakini (mudah-mudahan) kokoh, maka dalam Injil Lukas kita menemukan sesuatu yang lain yang juga sangat indah dan menarik. Mari kita lihat Lukas 22:32. Di sana dilukiskan bahwa Yesus berdoa untuk Simon Petrus: “...tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Luar biasa. Doa ini sangat menyentuh perasaan. Yesus berdoa bagi keteguhan iman Petrus. Bagi saya doa Yesus ini bagi Petrus sangat penting. Yesus berdoa agar iman Petrus tetap kokoh walaupun mungkin ada banyak cobaan dan godaan (yang juga sudah diramalkan oleh Yesus sendiri, Luk.22:34). Ini sangat penting, sebab Petrus diharapkan akan menjadi tokoh yang bisa menguatkan iman saudara-saudara yang lain. Jelas ini adalah peran seorang pemimpin juga. Peran untuk menjadi teladan, menjadi model dalam hal kekuatan dan kekokohan iman.
Bandung, 23 Mei 2008 (Diketik dan diperluas lagi, 4 November 2011).
Fransiskus Borgias M.
Langganan:
Komentar (Atom)
