Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pagi ini (25 Mei 2008), saya membaca Mazmur 23 yang berjudul Tuhanlah gembalaku. Sebuah mazmur yang sangat terkenal dan sangat akrab di telinga kita karena menjadi sumber ilham bagi karya seni Kristiani, baik itu berupa lagu, maupun berupa seni lukis dan seni ukir. Mazmur itu, walau pun pendek, tetapi isinya padat dan indah. Mungkin karena ia mengalir keluar dari pengalaman hidup sang penulis mazmur itu sendiri. Tetapi di sini saya tidak bermaksud untuk mengulas tentang mazmur 23 tersebut. Saya mau menulis tentang sesuatu yang lain. Apa itu?
Tatkala pagi ini saya sedang membaca mazmur ini saya tiba-tiba teringat akan percakapan pemulihan Petrus oleh Yesus dalam adegan di tepi pantai pada saat peristiwa kebangkitan itu. Percakapan itu dapat kita baca dalam Yoh.21:15-19. Sebuah percakapan yang indah dan benar-benar sangat mengharukan dan sangat menyentuh perasaan. Perasaan kita serasa diaduk-aduk dan menjadi haru-biru karenanya. Di tempat dan kesempatan lain sesungguhnya saya pernah memberi uraian rinci tentang hal ini. Ada segi-segi lain yang sudah saya uraikan dalam tempat dan kesempatan itu. Tetapi pada hari ini saya tiba-tiba sadar dan menemukan sesuatu yang baru dan lain tatkala saya mencoba membaca teks ini dalam teks aslinya yaitu bahasa Yunani dan dibandingkan dengan teks Vulgata (Latin).
Hasil dari pembacaan dan pembandingan ini ialah beberapa pengamatan penting dan sederhana berikut ini. Pertama, ternyata pertanyaan Yesus kepada Simon ada gradasinya, sesuatu yang kurang begitu terasa lagi dalam teks terjemahan kita (bahasa Indonesia). Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang kasih dalam perbandingan dengan yang lain-lain (para murid): “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Tentu saja teks ini bisa dibaca dengan dua cara: apakah kasih Simon kepada Yesus itu lebih daripada kasih-kasih para murid yang lain juga terhadap Yesus? Atau bisa juga dibaca: apakah Simon mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi para murid yang lain itu mengasihi Yesus? Sebab ini adalah perkara komunitas walau dalam communitas itu ada primus interpares juga). Jadi, yang ditanyakan ialah mengenai mutu kasih Petrus dalam perbandingan dengan mutu kasih para murid yang lain, tentu saja dalam konteks relasi yang hidup dengan Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah pertanyaan personal yang langsung hanya menyangkut diri Yesus sendiri saja: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dalam pertanyaan kedua dan ketiga ini tidak ada lagi perbandingan dengan para murid yang lain. Ini hanya benar-benar menyangkut relasi kasih antara Yesus dan Petrus saja. Jadi, ini perkara relasi personal dengan Yesus. Menarik juga fakta bahwa Yesus tidak menyapa Simon dengan gelarnya, yaitu Petrus, melainkan dengan nama aslinya sebagai seorang pribadi. (Pada tempat dan kesempatan lain itulah saya sudah menguraikan persoalan ini dengan rinci).
Kedua, ternyata terjemahan kita (Terjemahan Baru 1, disingkat TB1; dari tahun 70-an) hanya memakai satu frase yang sama saja untuk perintah Yesus kepada Simon setelah pertanyaan Yesus dijawab Petrus dengan jawaban positif, dan penuh percaya diri (tentu saja, kecuali yang ketiga). Bunyinya ialah sbb: Gembalakanlah domba-dombaku (Yoh.21:15,16,17). Dalam pengamatan saya, terjemahan ini ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh Vulgata yang juga hanya memakai satu ungkapan saja: Pasce oves meas. Ketika saya membaca terjemahan yang ada dalam The New Jerusalem Bible, terjemahan itu menurut saya lebih dekat dengan teks Yunani. Sadar akan “kekurangan” ini maka revisi terjemahan kita (yang sekarang disebut TB2, walau belum dipromulgasikan secara resmi; TB2: Terjemahan Baru 2 dari tahun 1997) mencoba memperbaikinya. Jika kita membaca TB2 maka di sana sudah ada distingsi yang sangat jelas antara ketiga perintah itu. Pembedaan itu diperjelas dengan pemakaian ungkapan berikut ini. Teks Yunani Boske ta arnia mou diterjemahkan menjadi “Peliharalah Domba-dombaKu.” Sedangkan yang di tengah, poimaine ta probata mou, diterjemahkan dengan “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Lalu yang di akhir (ketiga), “Boske ta probata mou,” lagi-lagi diterjemahkan dengan “Peliharalah domba-dombaKu.” Jadi, menurut hemat saya, terjemahan ini lebih dekat dengan teks Yunani. Memelihara tentu saja dengan memberi makan. Tetapi, memberi makan saja tidak cukup. Harus diberi perhatian yang lebih khusus, yang lebih spesifik, mencakup kenyamanan dan keamanan jasmani kawanan domba. Perhatian khusus dan spesifik itulah yang terkandung dalam kata poimaine, kata memelihara (pelihara).
Ketiga, setelah membaca teks Yunani, saya tiba-tiba sadar bahwa ada struktur inklusi (pembingkai) dalam pemilihan dan pemakaian ungkapan. Dalam ayat 15 kata yang dipakai ialah Boske, yang artinya ialah memberi makan. Kata ini kemudian muncul lagi dalam ayat 17: Boske, to feed. Di tengahnya, dipakai kata Poimaine, yang artinya, menjaga, memelihara, to look after. Jadi, boleh dikatakan bahwa kata Boske membingkai atau mengapiti kata poimaine. Bagi saya hal itu mengandung makna yang sangat penting dan mendalam. Seakan-akan dengan struktur bingkai seperti itu, mau dikatakan bahwa setelah domba-domba itu diberi makan (poimaine), domba-domba itu jangan lalu ditelantarkan begitu saja, dibiarkan mengikuti kemauan dan perilaku mereka sendiri, melainkan domba-domba itu tetap harus dijaga baik-baik, dan akhirnya lalu dikasih makan lagi. Urutan itu terus berulang-ulang menjadi sebuah rutinitas kewajiban moral-pastoral. Tentu saja domba-domba itu dipelihara dengan cara dikasih makan.
Keempat, tugas penggembalaan adalah tugas sang gembala agung, sang gembala utama, yaitu Yesus Kristus sendiri, sang pastor bonus (Yoh.10:10). Tetapi sekarang ini, semua tugas itu dipercayakan kepada Petrus. Jelas ini adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang mulia dan tidak mudah. Ini tugas yang sangat berat. Kalau dalam Matius 16:18-19 ada penyerahan kunci kerajaan surga kepada Petrus, maka di sini, tugas dan tanggung-jawab itu diberi dalam wujud sebuah metafor yang lain: Petrus diangkat atau ditunjuk menjadi seorang gembala. Tetapi substansinya satu dan sama saja yaitu menjadi landasan dan pemimpin jemaat. Kalau dalam Matius 16:18-19 itu Petrus diangkat menjadi Batu Karang yang diyakini (mudah-mudahan) kokoh, maka dalam Injil Lukas kita menemukan sesuatu yang lain yang juga sangat indah dan menarik. Mari kita lihat Lukas 22:32. Di sana dilukiskan bahwa Yesus berdoa untuk Simon Petrus: “...tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Luar biasa. Doa ini sangat menyentuh perasaan. Yesus berdoa bagi keteguhan iman Petrus. Bagi saya doa Yesus ini bagi Petrus sangat penting. Yesus berdoa agar iman Petrus tetap kokoh walaupun mungkin ada banyak cobaan dan godaan (yang juga sudah diramalkan oleh Yesus sendiri, Luk.22:34). Ini sangat penting, sebab Petrus diharapkan akan menjadi tokoh yang bisa menguatkan iman saudara-saudara yang lain. Jelas ini adalah peran seorang pemimpin juga. Peran untuk menjadi teladan, menjadi model dalam hal kekuatan dan kekokohan iman.
Bandung, 23 Mei 2008 (Diketik dan diperluas lagi, 4 November 2011).
Fransiskus Borgias M.
Jumat, 09 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar