Senin, 10 Mei 2010

MINGGU, 17 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.62:1-5; Mzm.96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ab; 1Kor.12:4-11; Yoh.2:1-11.



Injil berkisah mengenai mukjizat pertama Yesus dalam perkawinan di Kana. Itulah yang pertama dari tujuh tanda yang memperlihatkan keilahian Yesus. Ini khas Yohanes. Sebagai orang Katolik kita menekankan peranan Maria (nama itu tidak disebut, seperti nama murid yang dikasihi. Mungkin untuk menekankan bahwa yang terpenting ialah status dan martabat kemuridan, bukan nama pribadi). Maria menjadi “pengantara” untuk melihat kekurangan yang dialami tuan pesta dan menyampaikan hal itu kepada Yesus. Per Mariam ad Yesum. Tetapi yang penting ialah transformasi kultural yang dilakukan Yesus. Air tempayan yang biasanya dipakai sebagai pembasuhan, sekarang diubah dan mendapat martabat dan fungsi baru, menjadi minuman. Transformasi itu membuat orang heran. Ada berbagai perbuatan ajaib Allah. Salah satunya ialah Yesus mengubah air menjadi anggur. Pasti Allah bekerja. Kalau injil berkisah mengenai perkawinan di Kana, hal itu dipakai sebagai ibarat perjumpaan Allah dan umat yang mendatangkan sukacita besar. Sukacita dan optimisme itulah yang dibangun Yesus dalam perkawinan di Kana. Anggur mendatangkan sukacita, mengubah pesta yang muram durja menjadi ceria, bukan karena anggur, melainkan karena kehadiran Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, jaman mesianis ditandai kemakmuran dan anggur manis (Am.9:11; Yl.3:18; Yes.25:6). Air jadi anggur melambangkan perubahan karena datangnya dunia baru, kedatangan Mesias. Melalui tanda ini Yesus memperlihatkan kemuliaan atau daya ilahi-Nya. Para murid percaya kepadaNya. Mukjizat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang agar percaya. Semoga kita tidak hanya mencari mukjizat Yesus demi mukjizat itu saja, melainkan harus sampai berlabuh dalam iman akan dia.

SABTU, 16 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mrk.2:13-17.




Hari ini ada Peringatan St.Berardus, dkk. Mari kita kenang mereka dalam doa. Injil mengisahkan panggilan Lewi. Dalam Markus ada tiga kisah panggilan. Pertama, 1:16-20. Ini yang kedua. Ketiga, 3:13-19. Ini triade panggilan dalam Markus. Dalam yang pertama, Markus menekankan reaksi murid yang spontan menanggapi panggilan Yesus. Dalam yang ketiga, Yesus menugaskan murid melakukan pewartaan dan pengusiran setan. Dalam yang kedua, Markus menekankan bahwa Yesus tidak memanggil orang saleh, melainkan pendosa. Itulah Lewi dalam kedudukan dan pekerjaan sebagai pemungut cukai. Apa salahnya? Cukai dipungut untuk diberikan kepada Roma. Jabatan itu simbol kekuasaan dan penindasan Roma atas Israel. Pemungut cukai dibenci bukan hanya karena mereka mengumpulkan uang (paksa dan mark-up), melainkan karena mereka mengambil uang rakyat demi Roma. Lewi, berarti keturunan imam. Seharusnya ia melakukan tugas dan jabatan sebagai imam. Tetapi sekarang ia duduk di kantor pajak penjajah. Ini pelecehan yang mencemari martabat imamat Yahudi. Alih-alih menjadi pemimpin agama sebagaimana seharusnya (tugas kaum Lewi), ternyata Lewi yang ini menjual martabatnya kepada musuh dan mengumpul pajak bagi mereka. Yesus memanggil orang itu, yang dianggap pendosa dan dibenci. Yesus makan bersama dia. Tindakan ini untuk memperlihatkan Yesus sebagai guru Hikmat, yang datang bukan untuk orang saleh, melainkan pendosa. Menurut Markus, Yesus adalah Hikmat Allah yang mencari pendosa untuk diampuni. Di hadapan pendosa, kita cepat marah dan mengadili, padahal kita pendosa. Mari kita belajar dari Yesus, Hikmat Allah, yang datang memanggil pendosa dan mengampuninya, dan dengan itu memberinya tugas dan martabat baru. Ini pemberdayaan versi biblis.

JUM'AT, 15 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17,18-19; Mrk.2:1-12.



Hari ini ada Pesta St.Arnoldus Jansen, St.Maurus dan Plasidus. Kita kenang mereka. Injil berkisah tentang beberapa hal. 1). Upaya pengusung si lumpuh agar sampai ke Yesus. Di akhir Bab 1 Yesus menyembuhkan di tempat sunyi. Di sini Yesus melakukannya di rumah. Rumah itu penuh. Orang harus buka atap. Kehadiran Yesus mendorong orang melakukan terobosan kreatif. Yesus melakukan terobosan dalam pemahaman dosa dan pengampunan. 2). Yesus mengampuni. Kata yang dipakai bukan pengampunan tetapi pelepasan: dosamu dilepaskan. Menurut Markus dosa dan setan membelenggu manusia. Allah dalam Yesus membebaskan. Kata yang sama dipakai dalam 1:4, 1:18, 1:31: semuanya melukiskan pelepasan dari belenggu dosa dan setan karena Allah. 3). Orang persoalkan kuasa Yesus mengampuni dosa. Hal ini bisa ditafsirkan dengan beberapa cara. Pertama, bisa dilihat sebagai salah paham ahli Taurat mengenai daya ilahi Yesus. Kedua, itu adalah jebakan. Ketiga, itu mau menandaskan ajaran Yesus perihal pengampunan. Beberapa kali, Yesus mengajak manusia mengampuni sesama meniru Allah. Kalau hanya Allah yang bisa mengampuni, maka tidak ada lagi kewajiban dasar bagi manusia untuk saling mengampuni. Betapa itu ngeri. Yesus memadukan pengampunan dengan penyembuhan untuk memperlihatkan bahwa Allah suka mengampuni dari pada menghukum, menyembuhkan dari pada melukai. Keempat, Si lumpuh disembuhkan. Dengan daya ilahi Yesus sembuhkan si lumpuh. Ia berdiri tegak, siap menyongsong kedatangan Tuhan. Kelima, orang heran, kagum, takwa, ekstase. Ini model reaksi seperti dalam Mrk.5:42 ketika Yesus membangkitkan gadis kecil, dan Markus 16:8, ketika para wanita menyaksikan makam kosong. Kita harus saling mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita. Tuhan memberi teladan. Tinggal kita melakukannya. Pengampunan menghidupkan dan menumbuhkan kasih.

KAMIS, 14 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.4:1-11; Mzm.44:10-11,14-15,24-25; Mrk.1:40-45.



Injil hari ini bercerita tentang penyembuhan orang kusta. Ini penyembuhan kedua. Dalam yang pertama, Yesus menyembuhkan orang dalam rumah ibadat Kapernaum. Di sini Yesus menyembuhkan orang yang disingkirkan dari Sinagoga karena sakitnya. Kusta dianggap kutuk, sehingga dikucilkan, dianggap sampah. Mereka harus hidup di luar masyarakat, di gua, di semak. Di sini Markus bermain dengan ide ketahiran dan rumah ibadat. Markus melukiskan hubungan Yesus dengan sinagoga yang cukup rumit. Di satu pihak, dengan menyentuh orang kusta Ia melanggar larangan agama agar tidak menyentuh orang najis. Di pihak lain, Ia mengutus kembali orang yang tahir itu kepada para imam (di rumah ibadat) untuk menjalani ritual pemulihan. Saat itu, imam yang berkuasa memutuskan apakah seseorang bebas kusta atau tidak. Tugas itu melekat dalam jabatan mereka sebagai imam, entah berkompeten atau tidak. Yesus melarang orang itu agar tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Tetapi teks menyarankan bahwa tubuh yang tahir itu menjadi bukti dan saksi, baik secara sosial-komunal maupun teologis-ritual. Orang itu menjadi saksi yang menyampaikan kabar tentang perbuatan ajaib Yesus. Yesus tidak hanya memulihkan orang itu secara jasmani. Yesus juga memulihkan orang itu ke dalam komunitasnya dan ia menjadi saksi dan pewarta. Ini yang penting. Markus memperlihatkan bahwa orang ini berubah: dari orang yang sendirian dan terasing, menjadi orang yang diterima dalam komunitas. Di sana ia menjadi pewarta daya penyembuhan Allah. Kita mudah mengucilkan orang dari komunitas. Yesus mengajar kita keberanian moral untuk memulihkan martabat orang. Yesus memberi teladan. Tinggal kita mau melaksanakannya atau tidak.

RABU, 13 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Sam.3:1-10,19-20; Mzm.40:2,5,7-8a, 8b-9,10; Mrk.1:29-39.



Hari ini Peringatan St.Hilarius (Uskup). Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini menyampaikan kepada kita dua peristiwa. Pertama, penyembuhan ibu mertua Petrus dan orang lainnya. Inilah mukjizat kedua dari tiga rangkaian mukjizat penyembuhan dalam bab 1. Jadi, inilah yang di tengah; ia menempati posisi kunci. Teks Yunani sebenarnya melukiskan keadaan perempuan itu seperti sudah mati, sehingga tindakan Yesus pun seperti melakukan mukjizat pembangkitan. Jadi ada transformasi radikal, dari keadaan seperti mati, lalu menjadi hidup. Yang lebih penting lagi, ialah ia melayani mereka. Jadi, tindakan Yesus menyembuhkan (membangkitkan) perempuan itu dengan menyentuhnya, tidak hanya memulihkan kesehatan jasmani perempuan itu, melainkan juga membawa perempuan itu ke status atau martabat rohani baru. Itu amat penting. Berulang-kali dalam injil Markus, Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Nah perempuan yang sudah disembuhkan ini adalah orang pertama dalam injil Markus yang menjalankan moto idealisme pelayanan Yesus itu. Luar biasa! Kedua, Yesus pergi mengajar dan menyembuhkan di tempat lain. Setelah menjadi terkenal dan beken, Yesus dicari, dikejar, dan bahkan diincar banyak orang. Ada bahaya terikat, diikat di suatu tempat. Bahaya kemapanan. Mabuk ketenaran, mabuk oleh nama harum. Maka Yesus dengan sengaja menghindari dan mencegah hal itu. Ia segera pergi, agar tidak mapan di suatu tempat. Yesus mampu melakukan hal itu karena Ia rajin dan tekun berdoa. Memang layanan kasih harus dilandasi doa dan disebarkan di mana-mana. Tidak hanya di satu tempat saja. Tidak hanya pada kalangan tertentu, melainkan di mana-mana dan ke pelbagai kelompok manusia.

SELASA, 12 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:9-20; MT 1Sam.2:1,4-5,6-7, 8abcd; Mrk.1:21b-28.



Hari ini ada peringatan St.Aelredus dan St.Bernardinus dr Corleone. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan penampilan perdana Yesus, mengajar di rumah ibadat di Kapernaum. Ia mengajar dengan penuh kewibawaan. Orang takjub mendengarnya. Pengajaran itu dilanjutkan/dikukuhkan dengan mukjizat. Ini adalah mukjizat pertama dari tiga rangkaian mukjizat dalam Bab 1. Di rumah ibadat itu ada orang kerasukan roh jahat. Yesus yang dipenuhi Roh Kudus dalam pembaptisan, kini berkonfrontasi dengan roh jahat. Dengan penuh kewibawaan, Ia menyuruh roh jahat itu pergi. Beberapa kali dalam injil Markus nanti Yesus mengkonfrontasikan dua keadaan itu: dipenuhi Roh Allah dan dipenuhi roh jahat. Sebagaimana reaksi terhadap pengajaran, reaksi terhadap mukjizat pun sama: orang takjub. Yesus memang luar biasa, karena penuh dengan Roh Allah. Tetapi ada bentuk reaksi lain selain reaksi takjub tadi. Reaksi itu ialah secara diam-diam menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran baru. Ia memberi perintah kepada roh jahat, dan roh jahat itu taat kepada-Nya. Saya rasa ada sindiran di sini seperti sindiran di tempat lain yang mengatakan Yesus mengusir setan dengan kuasa Beezebul, kepala Setan-setan. Namun, perbuatan baik tetap perbuatan baik. Perkataan yang penuh daya kuasa, tetap perkataan yang penuh daya kuasa. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita mendengar bahwa kabar tentang Yesus tersiar dengan sendirinya ke daerah sekitar. Perkataan dan perbuatan yang baik yang dikerjakan Yesus, mewartakan dan menyiarkan si pengucap kata itu dan pelaku perbuatan baik itu. Pelita yang bernyala mau tak mau pasti kelihatan.

SENIN, 11 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:1-18; Mzm.116:12-13,14,17,18-19; Mrk.1:14-20.



Injil hari ini menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, warta Yesus tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat. Ada dua tuntutan untuk menyongsong datangnya kerajaan itu: kita harus bertobat dan juga percaya. Kedua, pemanggilan murid-murid yang pertama. Perhatikan baik-baik, Yesus memanggil para muridNya dari tengah kesibukan mereka. Mereka dipanggil dari dalam konteks kesibukan pekerjaan mereka. Jadi, panggilan itu bukan sekadar sebuah peristiwa rohani, semacam wahyu dalam mimpi, atau seperti pulung, melainkan terjadi dalam rutinitas keseharian. Ketiga, menarik juga kalau kita mengamati struktur kata-kata yang dipakai dalam pemanggilan itu. Mula-mula mereka dipanggil: “Mari!”. Tetapi mereka dipanggil untuk menjalankan tugas tertentu. Tugas paling pertama ialah tugas mengikuti Yesus (sebagai murid: Ikutlah Aku). Ini paling mendasar: kita dipanggil menjadi murid dan selamanya akan menjadi murid (tidak pernah tamat). Tugas kedua, dijadikan penjala manusia. Tugas ang kedua, kiranya mengalir dari atau berakar pada yang pertama. Keempat, menarik juga kalau kita mengamati reaksi atau tanggapan mereka yang dipanggil menjadi murid. Perhatikanlah: Tanpa bersoal-jawab, mereka spontan meninggalkan perlengkapan kerja mereka, lalu mengikuti Tuhan. Itu dalam konteks pemanggilan pertama. Dalam konteks pemanggilan kedua, lebih menarik lagi. Ketika mereka dipanggil Tuhan, secara spontan mereka meninggalkan keluarga mereka (terwakili ayah). Memang tanggapan terhadap panggilan Tuhan harus spontan. Refleksi dan permenungan memang perlu, tetapi bisa juga menjadi rintangan. Orang bisa lupa dan asyik dalam kesibukannya. Jadi, Tuhan datang mewartakan Kerajaan Allah; kita dituntut untuk bertobat dan percaya. Semoga kita siap menjadi pewarta Injil jika Tuhan memanggil kita melakukan tugas itu.