OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Ptr.5:1-4; Mzm.23:1-3a.3b-4,5.6; Mat.16:13-19.
Hari ini Pesta Tahta St.Petrus. Injil terdiri atas dua bagian. Bagian pertama, dialog Yesus dengan para murid-Nya di mana Yesus menanyakan identitas diri-Nya menurut kata orang (ada empat jawaban; ini gambaran betapa visi Kristologi itu serba plural dalam Perjanjian Baru) dan akhirnya menurut kata para murid itu sendiri (diwakili Petrus). Ini sebuah pengakuan iman yang mencerminkan visi kristologi tertentu. Bagian kedua, kita sebut “berkat” bagi Petrus. Di sini, menurut Yesus, Bapa-lah yang berperan besar mengantar Petrus untuk sampai kepada pengakuan iman akan Yesus Kristus. Menarik juga bahwa Yesus menyapa Petrus dengan nama pribadinya yaitu Simon anak Yunus. Jadi, pengakuan iman itu adalah sebuah pengakuan iman personal (memantulkan iman komunal juga), bukan sebuah pengakuan karena mengemban jabatan tertentu. Adegan ini terjadi di Kaisarea Filipi. Di sana ada pusat peribadatan kafir dengan simbol patung terukir di batu karang. Simon diberi gelar Petros, Kefas, batu karang. Gelar itu dimaksudkan untuk menantang sentrum ibadat kafir itu. Berkat yang diucapkan Yesus dalam bagian kedua, memuji batu karang iman yang sedang muncul yang terwakili dalam diri Petrus dan murid lainnya. Batu karang ini adalah batu karang kokoh, menjadi landasan kokoh (lih.7:24-27) bagi orang yang teguh berpegang pada “batu yang dibuang oleh tukang bangunan” (21:24; Mzm.119:22). Dengan ini Yesus mau menjamin dan memastikan bagi komunitas jemaat beriman bahwa Allah akan menopang dan mendukung keputusan-keputusan iman mereka dalam hidup ini, yakni keputusan menjadi anggota jemaat, keputusan menyangkut peraturan hidup bersama dalam komunitas, dan keputusan menyangkut perihal pengampunan.
Senin, 10 Mei 2010
MINGGU, 17 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.62:1-5; Mzm.96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ab; 1Kor.12:4-11; Yoh.2:1-11.
Injil berkisah mengenai mukjizat pertama Yesus dalam perkawinan di Kana. Itulah yang pertama dari tujuh tanda yang memperlihatkan keilahian Yesus. Ini khas Yohanes. Sebagai orang Katolik kita menekankan peranan Maria (nama itu tidak disebut, seperti nama murid yang dikasihi. Mungkin untuk menekankan bahwa yang terpenting ialah status dan martabat kemuridan, bukan nama pribadi). Maria menjadi “pengantara” untuk melihat kekurangan yang dialami tuan pesta dan menyampaikan hal itu kepada Yesus. Per Mariam ad Yesum. Tetapi yang penting ialah transformasi kultural yang dilakukan Yesus. Air tempayan yang biasanya dipakai sebagai pembasuhan, sekarang diubah dan mendapat martabat dan fungsi baru, menjadi minuman. Transformasi itu membuat orang heran. Ada berbagai perbuatan ajaib Allah. Salah satunya ialah Yesus mengubah air menjadi anggur. Pasti Allah bekerja. Kalau injil berkisah mengenai perkawinan di Kana, hal itu dipakai sebagai ibarat perjumpaan Allah dan umat yang mendatangkan sukacita besar. Sukacita dan optimisme itulah yang dibangun Yesus dalam perkawinan di Kana. Anggur mendatangkan sukacita, mengubah pesta yang muram durja menjadi ceria, bukan karena anggur, melainkan karena kehadiran Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, jaman mesianis ditandai kemakmuran dan anggur manis (Am.9:11; Yl.3:18; Yes.25:6). Air jadi anggur melambangkan perubahan karena datangnya dunia baru, kedatangan Mesias. Melalui tanda ini Yesus memperlihatkan kemuliaan atau daya ilahi-Nya. Para murid percaya kepadaNya. Mukjizat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang agar percaya. Semoga kita tidak hanya mencari mukjizat Yesus demi mukjizat itu saja, melainkan harus sampai berlabuh dalam iman akan dia.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.62:1-5; Mzm.96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ab; 1Kor.12:4-11; Yoh.2:1-11.
Injil berkisah mengenai mukjizat pertama Yesus dalam perkawinan di Kana. Itulah yang pertama dari tujuh tanda yang memperlihatkan keilahian Yesus. Ini khas Yohanes. Sebagai orang Katolik kita menekankan peranan Maria (nama itu tidak disebut, seperti nama murid yang dikasihi. Mungkin untuk menekankan bahwa yang terpenting ialah status dan martabat kemuridan, bukan nama pribadi). Maria menjadi “pengantara” untuk melihat kekurangan yang dialami tuan pesta dan menyampaikan hal itu kepada Yesus. Per Mariam ad Yesum. Tetapi yang penting ialah transformasi kultural yang dilakukan Yesus. Air tempayan yang biasanya dipakai sebagai pembasuhan, sekarang diubah dan mendapat martabat dan fungsi baru, menjadi minuman. Transformasi itu membuat orang heran. Ada berbagai perbuatan ajaib Allah. Salah satunya ialah Yesus mengubah air menjadi anggur. Pasti Allah bekerja. Kalau injil berkisah mengenai perkawinan di Kana, hal itu dipakai sebagai ibarat perjumpaan Allah dan umat yang mendatangkan sukacita besar. Sukacita dan optimisme itulah yang dibangun Yesus dalam perkawinan di Kana. Anggur mendatangkan sukacita, mengubah pesta yang muram durja menjadi ceria, bukan karena anggur, melainkan karena kehadiran Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, jaman mesianis ditandai kemakmuran dan anggur manis (Am.9:11; Yl.3:18; Yes.25:6). Air jadi anggur melambangkan perubahan karena datangnya dunia baru, kedatangan Mesias. Melalui tanda ini Yesus memperlihatkan kemuliaan atau daya ilahi-Nya. Para murid percaya kepadaNya. Mukjizat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang agar percaya. Semoga kita tidak hanya mencari mukjizat Yesus demi mukjizat itu saja, melainkan harus sampai berlabuh dalam iman akan dia.
SABTU, 16 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mrk.2:13-17.
Hari ini ada Peringatan St.Berardus, dkk. Mari kita kenang mereka dalam doa. Injil mengisahkan panggilan Lewi. Dalam Markus ada tiga kisah panggilan. Pertama, 1:16-20. Ini yang kedua. Ketiga, 3:13-19. Ini triade panggilan dalam Markus. Dalam yang pertama, Markus menekankan reaksi murid yang spontan menanggapi panggilan Yesus. Dalam yang ketiga, Yesus menugaskan murid melakukan pewartaan dan pengusiran setan. Dalam yang kedua, Markus menekankan bahwa Yesus tidak memanggil orang saleh, melainkan pendosa. Itulah Lewi dalam kedudukan dan pekerjaan sebagai pemungut cukai. Apa salahnya? Cukai dipungut untuk diberikan kepada Roma. Jabatan itu simbol kekuasaan dan penindasan Roma atas Israel. Pemungut cukai dibenci bukan hanya karena mereka mengumpulkan uang (paksa dan mark-up), melainkan karena mereka mengambil uang rakyat demi Roma. Lewi, berarti keturunan imam. Seharusnya ia melakukan tugas dan jabatan sebagai imam. Tetapi sekarang ia duduk di kantor pajak penjajah. Ini pelecehan yang mencemari martabat imamat Yahudi. Alih-alih menjadi pemimpin agama sebagaimana seharusnya (tugas kaum Lewi), ternyata Lewi yang ini menjual martabatnya kepada musuh dan mengumpul pajak bagi mereka. Yesus memanggil orang itu, yang dianggap pendosa dan dibenci. Yesus makan bersama dia. Tindakan ini untuk memperlihatkan Yesus sebagai guru Hikmat, yang datang bukan untuk orang saleh, melainkan pendosa. Menurut Markus, Yesus adalah Hikmat Allah yang mencari pendosa untuk diampuni. Di hadapan pendosa, kita cepat marah dan mengadili, padahal kita pendosa. Mari kita belajar dari Yesus, Hikmat Allah, yang datang memanggil pendosa dan mengampuninya, dan dengan itu memberinya tugas dan martabat baru. Ini pemberdayaan versi biblis.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mrk.2:13-17.
Hari ini ada Peringatan St.Berardus, dkk. Mari kita kenang mereka dalam doa. Injil mengisahkan panggilan Lewi. Dalam Markus ada tiga kisah panggilan. Pertama, 1:16-20. Ini yang kedua. Ketiga, 3:13-19. Ini triade panggilan dalam Markus. Dalam yang pertama, Markus menekankan reaksi murid yang spontan menanggapi panggilan Yesus. Dalam yang ketiga, Yesus menugaskan murid melakukan pewartaan dan pengusiran setan. Dalam yang kedua, Markus menekankan bahwa Yesus tidak memanggil orang saleh, melainkan pendosa. Itulah Lewi dalam kedudukan dan pekerjaan sebagai pemungut cukai. Apa salahnya? Cukai dipungut untuk diberikan kepada Roma. Jabatan itu simbol kekuasaan dan penindasan Roma atas Israel. Pemungut cukai dibenci bukan hanya karena mereka mengumpulkan uang (paksa dan mark-up), melainkan karena mereka mengambil uang rakyat demi Roma. Lewi, berarti keturunan imam. Seharusnya ia melakukan tugas dan jabatan sebagai imam. Tetapi sekarang ia duduk di kantor pajak penjajah. Ini pelecehan yang mencemari martabat imamat Yahudi. Alih-alih menjadi pemimpin agama sebagaimana seharusnya (tugas kaum Lewi), ternyata Lewi yang ini menjual martabatnya kepada musuh dan mengumpul pajak bagi mereka. Yesus memanggil orang itu, yang dianggap pendosa dan dibenci. Yesus makan bersama dia. Tindakan ini untuk memperlihatkan Yesus sebagai guru Hikmat, yang datang bukan untuk orang saleh, melainkan pendosa. Menurut Markus, Yesus adalah Hikmat Allah yang mencari pendosa untuk diampuni. Di hadapan pendosa, kita cepat marah dan mengadili, padahal kita pendosa. Mari kita belajar dari Yesus, Hikmat Allah, yang datang memanggil pendosa dan mengampuninya, dan dengan itu memberinya tugas dan martabat baru. Ini pemberdayaan versi biblis.
JUM'AT, 15 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17,18-19; Mrk.2:1-12.
Hari ini ada Pesta St.Arnoldus Jansen, St.Maurus dan Plasidus. Kita kenang mereka. Injil berkisah tentang beberapa hal. 1). Upaya pengusung si lumpuh agar sampai ke Yesus. Di akhir Bab 1 Yesus menyembuhkan di tempat sunyi. Di sini Yesus melakukannya di rumah. Rumah itu penuh. Orang harus buka atap. Kehadiran Yesus mendorong orang melakukan terobosan kreatif. Yesus melakukan terobosan dalam pemahaman dosa dan pengampunan. 2). Yesus mengampuni. Kata yang dipakai bukan pengampunan tetapi pelepasan: dosamu dilepaskan. Menurut Markus dosa dan setan membelenggu manusia. Allah dalam Yesus membebaskan. Kata yang sama dipakai dalam 1:4, 1:18, 1:31: semuanya melukiskan pelepasan dari belenggu dosa dan setan karena Allah. 3). Orang persoalkan kuasa Yesus mengampuni dosa. Hal ini bisa ditafsirkan dengan beberapa cara. Pertama, bisa dilihat sebagai salah paham ahli Taurat mengenai daya ilahi Yesus. Kedua, itu adalah jebakan. Ketiga, itu mau menandaskan ajaran Yesus perihal pengampunan. Beberapa kali, Yesus mengajak manusia mengampuni sesama meniru Allah. Kalau hanya Allah yang bisa mengampuni, maka tidak ada lagi kewajiban dasar bagi manusia untuk saling mengampuni. Betapa itu ngeri. Yesus memadukan pengampunan dengan penyembuhan untuk memperlihatkan bahwa Allah suka mengampuni dari pada menghukum, menyembuhkan dari pada melukai. Keempat, Si lumpuh disembuhkan. Dengan daya ilahi Yesus sembuhkan si lumpuh. Ia berdiri tegak, siap menyongsong kedatangan Tuhan. Kelima, orang heran, kagum, takwa, ekstase. Ini model reaksi seperti dalam Mrk.5:42 ketika Yesus membangkitkan gadis kecil, dan Markus 16:8, ketika para wanita menyaksikan makam kosong. Kita harus saling mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita. Tuhan memberi teladan. Tinggal kita melakukannya. Pengampunan menghidupkan dan menumbuhkan kasih.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17,18-19; Mrk.2:1-12.
Hari ini ada Pesta St.Arnoldus Jansen, St.Maurus dan Plasidus. Kita kenang mereka. Injil berkisah tentang beberapa hal. 1). Upaya pengusung si lumpuh agar sampai ke Yesus. Di akhir Bab 1 Yesus menyembuhkan di tempat sunyi. Di sini Yesus melakukannya di rumah. Rumah itu penuh. Orang harus buka atap. Kehadiran Yesus mendorong orang melakukan terobosan kreatif. Yesus melakukan terobosan dalam pemahaman dosa dan pengampunan. 2). Yesus mengampuni. Kata yang dipakai bukan pengampunan tetapi pelepasan: dosamu dilepaskan. Menurut Markus dosa dan setan membelenggu manusia. Allah dalam Yesus membebaskan. Kata yang sama dipakai dalam 1:4, 1:18, 1:31: semuanya melukiskan pelepasan dari belenggu dosa dan setan karena Allah. 3). Orang persoalkan kuasa Yesus mengampuni dosa. Hal ini bisa ditafsirkan dengan beberapa cara. Pertama, bisa dilihat sebagai salah paham ahli Taurat mengenai daya ilahi Yesus. Kedua, itu adalah jebakan. Ketiga, itu mau menandaskan ajaran Yesus perihal pengampunan. Beberapa kali, Yesus mengajak manusia mengampuni sesama meniru Allah. Kalau hanya Allah yang bisa mengampuni, maka tidak ada lagi kewajiban dasar bagi manusia untuk saling mengampuni. Betapa itu ngeri. Yesus memadukan pengampunan dengan penyembuhan untuk memperlihatkan bahwa Allah suka mengampuni dari pada menghukum, menyembuhkan dari pada melukai. Keempat, Si lumpuh disembuhkan. Dengan daya ilahi Yesus sembuhkan si lumpuh. Ia berdiri tegak, siap menyongsong kedatangan Tuhan. Kelima, orang heran, kagum, takwa, ekstase. Ini model reaksi seperti dalam Mrk.5:42 ketika Yesus membangkitkan gadis kecil, dan Markus 16:8, ketika para wanita menyaksikan makam kosong. Kita harus saling mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita. Tuhan memberi teladan. Tinggal kita melakukannya. Pengampunan menghidupkan dan menumbuhkan kasih.
KAMIS, 14 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.4:1-11; Mzm.44:10-11,14-15,24-25; Mrk.1:40-45.
Injil hari ini bercerita tentang penyembuhan orang kusta. Ini penyembuhan kedua. Dalam yang pertama, Yesus menyembuhkan orang dalam rumah ibadat Kapernaum. Di sini Yesus menyembuhkan orang yang disingkirkan dari Sinagoga karena sakitnya. Kusta dianggap kutuk, sehingga dikucilkan, dianggap sampah. Mereka harus hidup di luar masyarakat, di gua, di semak. Di sini Markus bermain dengan ide ketahiran dan rumah ibadat. Markus melukiskan hubungan Yesus dengan sinagoga yang cukup rumit. Di satu pihak, dengan menyentuh orang kusta Ia melanggar larangan agama agar tidak menyentuh orang najis. Di pihak lain, Ia mengutus kembali orang yang tahir itu kepada para imam (di rumah ibadat) untuk menjalani ritual pemulihan. Saat itu, imam yang berkuasa memutuskan apakah seseorang bebas kusta atau tidak. Tugas itu melekat dalam jabatan mereka sebagai imam, entah berkompeten atau tidak. Yesus melarang orang itu agar tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Tetapi teks menyarankan bahwa tubuh yang tahir itu menjadi bukti dan saksi, baik secara sosial-komunal maupun teologis-ritual. Orang itu menjadi saksi yang menyampaikan kabar tentang perbuatan ajaib Yesus. Yesus tidak hanya memulihkan orang itu secara jasmani. Yesus juga memulihkan orang itu ke dalam komunitasnya dan ia menjadi saksi dan pewarta. Ini yang penting. Markus memperlihatkan bahwa orang ini berubah: dari orang yang sendirian dan terasing, menjadi orang yang diterima dalam komunitas. Di sana ia menjadi pewarta daya penyembuhan Allah. Kita mudah mengucilkan orang dari komunitas. Yesus mengajar kita keberanian moral untuk memulihkan martabat orang. Yesus memberi teladan. Tinggal kita mau melaksanakannya atau tidak.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.4:1-11; Mzm.44:10-11,14-15,24-25; Mrk.1:40-45.
Injil hari ini bercerita tentang penyembuhan orang kusta. Ini penyembuhan kedua. Dalam yang pertama, Yesus menyembuhkan orang dalam rumah ibadat Kapernaum. Di sini Yesus menyembuhkan orang yang disingkirkan dari Sinagoga karena sakitnya. Kusta dianggap kutuk, sehingga dikucilkan, dianggap sampah. Mereka harus hidup di luar masyarakat, di gua, di semak. Di sini Markus bermain dengan ide ketahiran dan rumah ibadat. Markus melukiskan hubungan Yesus dengan sinagoga yang cukup rumit. Di satu pihak, dengan menyentuh orang kusta Ia melanggar larangan agama agar tidak menyentuh orang najis. Di pihak lain, Ia mengutus kembali orang yang tahir itu kepada para imam (di rumah ibadat) untuk menjalani ritual pemulihan. Saat itu, imam yang berkuasa memutuskan apakah seseorang bebas kusta atau tidak. Tugas itu melekat dalam jabatan mereka sebagai imam, entah berkompeten atau tidak. Yesus melarang orang itu agar tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Tetapi teks menyarankan bahwa tubuh yang tahir itu menjadi bukti dan saksi, baik secara sosial-komunal maupun teologis-ritual. Orang itu menjadi saksi yang menyampaikan kabar tentang perbuatan ajaib Yesus. Yesus tidak hanya memulihkan orang itu secara jasmani. Yesus juga memulihkan orang itu ke dalam komunitasnya dan ia menjadi saksi dan pewarta. Ini yang penting. Markus memperlihatkan bahwa orang ini berubah: dari orang yang sendirian dan terasing, menjadi orang yang diterima dalam komunitas. Di sana ia menjadi pewarta daya penyembuhan Allah. Kita mudah mengucilkan orang dari komunitas. Yesus mengajar kita keberanian moral untuk memulihkan martabat orang. Yesus memberi teladan. Tinggal kita mau melaksanakannya atau tidak.
RABU, 13 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Sam.3:1-10,19-20; Mzm.40:2,5,7-8a, 8b-9,10; Mrk.1:29-39.
Hari ini Peringatan St.Hilarius (Uskup). Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini menyampaikan kepada kita dua peristiwa. Pertama, penyembuhan ibu mertua Petrus dan orang lainnya. Inilah mukjizat kedua dari tiga rangkaian mukjizat penyembuhan dalam bab 1. Jadi, inilah yang di tengah; ia menempati posisi kunci. Teks Yunani sebenarnya melukiskan keadaan perempuan itu seperti sudah mati, sehingga tindakan Yesus pun seperti melakukan mukjizat pembangkitan. Jadi ada transformasi radikal, dari keadaan seperti mati, lalu menjadi hidup. Yang lebih penting lagi, ialah ia melayani mereka. Jadi, tindakan Yesus menyembuhkan (membangkitkan) perempuan itu dengan menyentuhnya, tidak hanya memulihkan kesehatan jasmani perempuan itu, melainkan juga membawa perempuan itu ke status atau martabat rohani baru. Itu amat penting. Berulang-kali dalam injil Markus, Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Nah perempuan yang sudah disembuhkan ini adalah orang pertama dalam injil Markus yang menjalankan moto idealisme pelayanan Yesus itu. Luar biasa! Kedua, Yesus pergi mengajar dan menyembuhkan di tempat lain. Setelah menjadi terkenal dan beken, Yesus dicari, dikejar, dan bahkan diincar banyak orang. Ada bahaya terikat, diikat di suatu tempat. Bahaya kemapanan. Mabuk ketenaran, mabuk oleh nama harum. Maka Yesus dengan sengaja menghindari dan mencegah hal itu. Ia segera pergi, agar tidak mapan di suatu tempat. Yesus mampu melakukan hal itu karena Ia rajin dan tekun berdoa. Memang layanan kasih harus dilandasi doa dan disebarkan di mana-mana. Tidak hanya di satu tempat saja. Tidak hanya pada kalangan tertentu, melainkan di mana-mana dan ke pelbagai kelompok manusia.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Sam.3:1-10,19-20; Mzm.40:2,5,7-8a, 8b-9,10; Mrk.1:29-39.
Hari ini Peringatan St.Hilarius (Uskup). Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini menyampaikan kepada kita dua peristiwa. Pertama, penyembuhan ibu mertua Petrus dan orang lainnya. Inilah mukjizat kedua dari tiga rangkaian mukjizat penyembuhan dalam bab 1. Jadi, inilah yang di tengah; ia menempati posisi kunci. Teks Yunani sebenarnya melukiskan keadaan perempuan itu seperti sudah mati, sehingga tindakan Yesus pun seperti melakukan mukjizat pembangkitan. Jadi ada transformasi radikal, dari keadaan seperti mati, lalu menjadi hidup. Yang lebih penting lagi, ialah ia melayani mereka. Jadi, tindakan Yesus menyembuhkan (membangkitkan) perempuan itu dengan menyentuhnya, tidak hanya memulihkan kesehatan jasmani perempuan itu, melainkan juga membawa perempuan itu ke status atau martabat rohani baru. Itu amat penting. Berulang-kali dalam injil Markus, Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Nah perempuan yang sudah disembuhkan ini adalah orang pertama dalam injil Markus yang menjalankan moto idealisme pelayanan Yesus itu. Luar biasa! Kedua, Yesus pergi mengajar dan menyembuhkan di tempat lain. Setelah menjadi terkenal dan beken, Yesus dicari, dikejar, dan bahkan diincar banyak orang. Ada bahaya terikat, diikat di suatu tempat. Bahaya kemapanan. Mabuk ketenaran, mabuk oleh nama harum. Maka Yesus dengan sengaja menghindari dan mencegah hal itu. Ia segera pergi, agar tidak mapan di suatu tempat. Yesus mampu melakukan hal itu karena Ia rajin dan tekun berdoa. Memang layanan kasih harus dilandasi doa dan disebarkan di mana-mana. Tidak hanya di satu tempat saja. Tidak hanya pada kalangan tertentu, melainkan di mana-mana dan ke pelbagai kelompok manusia.
SELASA, 12 JANUARI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:9-20; MT 1Sam.2:1,4-5,6-7, 8abcd; Mrk.1:21b-28.
Hari ini ada peringatan St.Aelredus dan St.Bernardinus dr Corleone. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan penampilan perdana Yesus, mengajar di rumah ibadat di Kapernaum. Ia mengajar dengan penuh kewibawaan. Orang takjub mendengarnya. Pengajaran itu dilanjutkan/dikukuhkan dengan mukjizat. Ini adalah mukjizat pertama dari tiga rangkaian mukjizat dalam Bab 1. Di rumah ibadat itu ada orang kerasukan roh jahat. Yesus yang dipenuhi Roh Kudus dalam pembaptisan, kini berkonfrontasi dengan roh jahat. Dengan penuh kewibawaan, Ia menyuruh roh jahat itu pergi. Beberapa kali dalam injil Markus nanti Yesus mengkonfrontasikan dua keadaan itu: dipenuhi Roh Allah dan dipenuhi roh jahat. Sebagaimana reaksi terhadap pengajaran, reaksi terhadap mukjizat pun sama: orang takjub. Yesus memang luar biasa, karena penuh dengan Roh Allah. Tetapi ada bentuk reaksi lain selain reaksi takjub tadi. Reaksi itu ialah secara diam-diam menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran baru. Ia memberi perintah kepada roh jahat, dan roh jahat itu taat kepada-Nya. Saya rasa ada sindiran di sini seperti sindiran di tempat lain yang mengatakan Yesus mengusir setan dengan kuasa Beezebul, kepala Setan-setan. Namun, perbuatan baik tetap perbuatan baik. Perkataan yang penuh daya kuasa, tetap perkataan yang penuh daya kuasa. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita mendengar bahwa kabar tentang Yesus tersiar dengan sendirinya ke daerah sekitar. Perkataan dan perbuatan yang baik yang dikerjakan Yesus, mewartakan dan menyiarkan si pengucap kata itu dan pelaku perbuatan baik itu. Pelita yang bernyala mau tak mau pasti kelihatan.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:9-20; MT 1Sam.2:1,4-5,6-7, 8abcd; Mrk.1:21b-28.
Hari ini ada peringatan St.Aelredus dan St.Bernardinus dr Corleone. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan penampilan perdana Yesus, mengajar di rumah ibadat di Kapernaum. Ia mengajar dengan penuh kewibawaan. Orang takjub mendengarnya. Pengajaran itu dilanjutkan/dikukuhkan dengan mukjizat. Ini adalah mukjizat pertama dari tiga rangkaian mukjizat dalam Bab 1. Di rumah ibadat itu ada orang kerasukan roh jahat. Yesus yang dipenuhi Roh Kudus dalam pembaptisan, kini berkonfrontasi dengan roh jahat. Dengan penuh kewibawaan, Ia menyuruh roh jahat itu pergi. Beberapa kali dalam injil Markus nanti Yesus mengkonfrontasikan dua keadaan itu: dipenuhi Roh Allah dan dipenuhi roh jahat. Sebagaimana reaksi terhadap pengajaran, reaksi terhadap mukjizat pun sama: orang takjub. Yesus memang luar biasa, karena penuh dengan Roh Allah. Tetapi ada bentuk reaksi lain selain reaksi takjub tadi. Reaksi itu ialah secara diam-diam menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran baru. Ia memberi perintah kepada roh jahat, dan roh jahat itu taat kepada-Nya. Saya rasa ada sindiran di sini seperti sindiran di tempat lain yang mengatakan Yesus mengusir setan dengan kuasa Beezebul, kepala Setan-setan. Namun, perbuatan baik tetap perbuatan baik. Perkataan yang penuh daya kuasa, tetap perkataan yang penuh daya kuasa. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita mendengar bahwa kabar tentang Yesus tersiar dengan sendirinya ke daerah sekitar. Perkataan dan perbuatan yang baik yang dikerjakan Yesus, mewartakan dan menyiarkan si pengucap kata itu dan pelaku perbuatan baik itu. Pelita yang bernyala mau tak mau pasti kelihatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
