OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.6:8-15; Mzm.119:23-24.26-27,29-30. Yoh.6:22-29.
Injil mengisahkan dua hal besar. Pertama, mengenai orang banyak yang mencari Yesus. Kedua, mengenai sabda Yesus tentang Roti Kehidupan. Rupanya demam ketagihan bukan hanya gejala manusia modern. Demam itu menjangkiti pendengar Yesus. Mereka menyaksikan mukjizat roti. Ketika menyadari bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat itu mereka buru-buru mencarinya. Ketika mereka menemukan Dia, semula mereka menanyai Dia tentang kapan Ia tiba di situ. Jawaban Yesus mengejutkan, karena Ia sesungguhnya tidak menjawab pertanyaan. Ia berbicara tentang sesuatu yang lain. Ia membuat pembedaan antara “hal melihat tanda-tanda” dan “hal makan sampai kenyang.” Menurut Yesus, motivasi yang menggerakkan orang-orang itu mencari dia, bukan yang pertama, melainkan kedua: “...karena makan sampai kenyang.” Itu tadi: hantu ketagihan dan penasaran. Suatu yang dangkal. Hanya di permukaan. Di hadapan hantu ketagihan dan penasaran itu Yesus memberi nasihat ini: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapta binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;...” Kalau hanya karena motif ketagihan dan penasaran mereka hanya sampai pada “makan kenyang saja.” Dan tidak melangkah lebih jauh. Ucapan Yesus itu menimbulkan rasa penasaran di antara mereka sehingga mereka bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerajaan yang dikehendaki Allah?” Jawaban Yesus sederhana: Percayalah kepada Dia yang telah diutus Allah. Dia itu ialah Yesus. Jadi, percaya kepada Yesus adalah jalannya. Demam ketagihan dan penasaran tidak cukup sebagai alasan untuk mencari Yesus. Mesti ada alasan lain yang lebih mendalam, yaitu percaya kepadaNya sebagai sumber hidup dan kebahagiaan.
Rabu, 12 Mei 2010
Senin, 10 Mei 2010
RABU, 31 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat.26:14-25.
Injil hari ini mengisahkan rencana persiapan makan Paskah Yesus bersama murid-Nya. Setelah persiapan dilakukan, dan ketika malam tiba mereka mengadakan perjamuan paskah. Dalam konteks perjamuan kasih dan persaudaraan dan pengenangan itulah muncul drama tragis: salah seorang murid-Nya menjadi pengkhianat. Ini tragis: seorang murid, yang seharusnya menjadi pengikut setia dan taat, ternyata menjadi pengkhianat. Selama ini Yesus mengajari mereka banyak hal. Mereka sudah hidup dan berjalan bersama mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Ini laksana musuh dalam selimut: ada tetapi tidak ketahuan. Teman berubah menjadi pengkhianat. Betapa itu menyakitkan. Seperti kata pemazmur: orang yang makan sehidangan dengan aku, berbalik melawan aku. Menarik bahwa yang mereka makan dalam perjamuan itu ialah roti. Roti dalam bahasa Latin ialah Panis. Menarik juga bahwa sahabat dalam bahasa Inggris ialah companion. Itu berasal dari kata cum-panis, yaitu orang yang makan satu jamuan, satu roti. Ya, Yudas menjadi sosok pengkhianat Yesus. Dalam injil ini juga diberitahukan nasib orang yang mengkhianat Yesus. Nasib orang itu dinyatakan dengan jelas: ia akan celaka. Lebih baik bagi orang seperti itu seandainya ia tidak pernah lahir, sebab ia dilahirkan hanya untuk celaka. Semoga kita sebagai pengikut Yesus, tidak berkembang menjadi pengkhianat Yesus baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan apalagi dengan kelalaian kita.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat.26:14-25.
Injil hari ini mengisahkan rencana persiapan makan Paskah Yesus bersama murid-Nya. Setelah persiapan dilakukan, dan ketika malam tiba mereka mengadakan perjamuan paskah. Dalam konteks perjamuan kasih dan persaudaraan dan pengenangan itulah muncul drama tragis: salah seorang murid-Nya menjadi pengkhianat. Ini tragis: seorang murid, yang seharusnya menjadi pengikut setia dan taat, ternyata menjadi pengkhianat. Selama ini Yesus mengajari mereka banyak hal. Mereka sudah hidup dan berjalan bersama mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Ini laksana musuh dalam selimut: ada tetapi tidak ketahuan. Teman berubah menjadi pengkhianat. Betapa itu menyakitkan. Seperti kata pemazmur: orang yang makan sehidangan dengan aku, berbalik melawan aku. Menarik bahwa yang mereka makan dalam perjamuan itu ialah roti. Roti dalam bahasa Latin ialah Panis. Menarik juga bahwa sahabat dalam bahasa Inggris ialah companion. Itu berasal dari kata cum-panis, yaitu orang yang makan satu jamuan, satu roti. Ya, Yudas menjadi sosok pengkhianat Yesus. Dalam injil ini juga diberitahukan nasib orang yang mengkhianat Yesus. Nasib orang itu dinyatakan dengan jelas: ia akan celaka. Lebih baik bagi orang seperti itu seandainya ia tidak pernah lahir, sebab ia dilahirkan hanya untuk celaka. Semoga kita sebagai pengikut Yesus, tidak berkembang menjadi pengkhianat Yesus baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan apalagi dengan kelalaian kita.
SELASA, 30 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.49:1-6; Mzm.71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh.13:21-33,36-38.
Injil hari ini mengisahkan tiga adegan yang amat menarik. Pertama, perkataan Yesus bahwa salah seorang dari murid-Nya menjadi pengkhianat. Karena itu, Yesus sangat terharu dan sedih. Atas desakan para murid, akhirnya murid yang dikasihi itu bertanya tentang siapa yang dimaksud. Yesus memberi kunci jawaban: yaitu orang yang akan Ia beri Roti yang sudah dicelupkan. Ternyata itu diberikan kepada Yudas. Setelah memakan Roti itu Yudas kerasukan Iblis. Menarik bahwa Yohanes memberi keterangan waktu untuk adegan pertama ini: Pada waktu itu hari sudah malam. Malam berarti gelap. Yudas memang anak kegelapan dan melakukan perbuatannya dalam kegelapan. Kedua, sebelum memberi perintah baru (novum mandatum) Yesus berbicara tentang kepergian-Nya yang tidak dapat diikuti para murid: ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang. Tentu ini membingungkan. Setelah bersama-sama, tiba-tiba Yesus mengucapkan kalimat yang membingungkan itu. Itu sebabnya, ini adegan ketiga, Petrus meng-interupsi: Tuhan, kemanakah Engkau pergi? Lagi-lagi Yesus menyatakan bahwa kepergian-Nya kali ini adalah kepergian sendiri. Spontan Petrus menjawab bahwa dirinya rela mengorbankan nyawa agar dapat mengikuti Dia. Itulah spontanitas Petrus yang meletup-letup sikapnya. Saat itu Yesus menubuatkan drama tragis hidup Petrus, yaitu ia menyangkal Yesus malam itu. Benar-benar drama tragis: murid yang satu mengkhianati Yesus. Itu Yudas. Murid yang lain menyangkal Yesus. Itu Petrus. Bagaimana dengan kita? Semoga kita bukan pengkhianat Tuhan. Injil ini dibacakan agar kita tidak menjadi murid yang berkhianat. Semoga kita diberi kekuatan menjadi murid yang baik.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.49:1-6; Mzm.71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh.13:21-33,36-38.
Injil hari ini mengisahkan tiga adegan yang amat menarik. Pertama, perkataan Yesus bahwa salah seorang dari murid-Nya menjadi pengkhianat. Karena itu, Yesus sangat terharu dan sedih. Atas desakan para murid, akhirnya murid yang dikasihi itu bertanya tentang siapa yang dimaksud. Yesus memberi kunci jawaban: yaitu orang yang akan Ia beri Roti yang sudah dicelupkan. Ternyata itu diberikan kepada Yudas. Setelah memakan Roti itu Yudas kerasukan Iblis. Menarik bahwa Yohanes memberi keterangan waktu untuk adegan pertama ini: Pada waktu itu hari sudah malam. Malam berarti gelap. Yudas memang anak kegelapan dan melakukan perbuatannya dalam kegelapan. Kedua, sebelum memberi perintah baru (novum mandatum) Yesus berbicara tentang kepergian-Nya yang tidak dapat diikuti para murid: ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang. Tentu ini membingungkan. Setelah bersama-sama, tiba-tiba Yesus mengucapkan kalimat yang membingungkan itu. Itu sebabnya, ini adegan ketiga, Petrus meng-interupsi: Tuhan, kemanakah Engkau pergi? Lagi-lagi Yesus menyatakan bahwa kepergian-Nya kali ini adalah kepergian sendiri. Spontan Petrus menjawab bahwa dirinya rela mengorbankan nyawa agar dapat mengikuti Dia. Itulah spontanitas Petrus yang meletup-letup sikapnya. Saat itu Yesus menubuatkan drama tragis hidup Petrus, yaitu ia menyangkal Yesus malam itu. Benar-benar drama tragis: murid yang satu mengkhianati Yesus. Itu Yudas. Murid yang lain menyangkal Yesus. Itu Petrus. Bagaimana dengan kita? Semoga kita bukan pengkhianat Tuhan. Injil ini dibacakan agar kita tidak menjadi murid yang berkhianat. Semoga kita diberi kekuatan menjadi murid yang baik.
SENIN, 29 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.42:1-7; Mzm.27:1,2,3,13-14; Yoh.12:1-11.
Injil mengisahkan tentang pengurapan Yesus oleh Maria di Betania dengan minyak wangi mahal. Maria melakukan hal itu dengan sadar dan sukarela. Tetapi ada reaksi lain dari Yudas Iskariot. Ia keberatan dengan pengurapan mewah dan mahal itu. Ia menganggapnya pemborosan berlebihan. Menurut dia, jauh lebih baik jika minyak itu dipersembahkan bagi orang miskin. Sebuah motivasi religius mulia. Lalu ada penilaian penginjil terhadap sikap Yudas. Perkataan Yudas itu bukan ungkapan kesalehan dari nurani terdalam, yang hendak melakukan salah satu tiang kesalehan agama yaitu sedekah (selain doa dan puasa). Perkataan Yudas hanya mau menyembunyikan agendanya yang terselubung. Jika duit penjualan minyak wangi itu masuk kas bersama yang ia pegang, ia berkesempatan mencurinya, sebagaimana dilakukannya selama ini. Jangan menyembunyikan niat jahat dengan berpura-pura berniat baik padahal itu adalah niat buruk yang terselubung seperti dilakukan Yudas. Yesus angkat bicara: ini bukan pengurapan biasa, dalam rangka pemborosan, pamer dan berfoya-foya. Ini pengurapan antisipasi penguburan-Nya yang menurut Yohanes baru dilakukan sesudah Sabat. Tetapi ketika Maria datang ke makam, Yesus tidak ada di sana, makam kosong. Untunglah pengurapan itu sudah “dilakukan” sebelumnya. Begitulah jalan pikiran Yohanes. Lalu ada rencana membunuh Lazarus. Karena tidak bisa menangkap Yesus, setidaknya petinggi Yahudi bisa menebas korban paling mudah dan dekat yaitu Lazarus. Itu perilaku sosial yang terjadi di mana-mana. Kalau sasaran kelas kakap tidak bisa disentuh, cukup sasaran kelas teri yang disentuh. Ini viktimisasi brutal. Pengikut Yesus tidak boleh berperilaku seperti itu.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.42:1-7; Mzm.27:1,2,3,13-14; Yoh.12:1-11.
Injil mengisahkan tentang pengurapan Yesus oleh Maria di Betania dengan minyak wangi mahal. Maria melakukan hal itu dengan sadar dan sukarela. Tetapi ada reaksi lain dari Yudas Iskariot. Ia keberatan dengan pengurapan mewah dan mahal itu. Ia menganggapnya pemborosan berlebihan. Menurut dia, jauh lebih baik jika minyak itu dipersembahkan bagi orang miskin. Sebuah motivasi religius mulia. Lalu ada penilaian penginjil terhadap sikap Yudas. Perkataan Yudas itu bukan ungkapan kesalehan dari nurani terdalam, yang hendak melakukan salah satu tiang kesalehan agama yaitu sedekah (selain doa dan puasa). Perkataan Yudas hanya mau menyembunyikan agendanya yang terselubung. Jika duit penjualan minyak wangi itu masuk kas bersama yang ia pegang, ia berkesempatan mencurinya, sebagaimana dilakukannya selama ini. Jangan menyembunyikan niat jahat dengan berpura-pura berniat baik padahal itu adalah niat buruk yang terselubung seperti dilakukan Yudas. Yesus angkat bicara: ini bukan pengurapan biasa, dalam rangka pemborosan, pamer dan berfoya-foya. Ini pengurapan antisipasi penguburan-Nya yang menurut Yohanes baru dilakukan sesudah Sabat. Tetapi ketika Maria datang ke makam, Yesus tidak ada di sana, makam kosong. Untunglah pengurapan itu sudah “dilakukan” sebelumnya. Begitulah jalan pikiran Yohanes. Lalu ada rencana membunuh Lazarus. Karena tidak bisa menangkap Yesus, setidaknya petinggi Yahudi bisa menebas korban paling mudah dan dekat yaitu Lazarus. Itu perilaku sosial yang terjadi di mana-mana. Kalau sasaran kelas kakap tidak bisa disentuh, cukup sasaran kelas teri yang disentuh. Ini viktimisasi brutal. Pengikut Yesus tidak boleh berperilaku seperti itu.
MINGGU, 28 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-7; Mzm.22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp.2:6-11; Luk.22:14-23:56.
Hari ini Minggu Palma. Kita mengenang peristiwa masuknya Tuhan dengan mulia ke Yerusalem. Dalam injil kita dengar (baca/diyanyikan) Kisah Sengsara (Passio) versi Lukas. Hal itu dimaksudkan untuk mengajak kita mengenangkan sengsara Tuhan Yesus. Mari kita dengar Passio ini dinyanyikan/dibacakan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena Kisah Sengsara adalah inti pewartaan (kerygma) gereja purba. Kisah sengsara merupakan bentuk paling tua tradisi Injil. Keempat Injil mewartakan kisah sengsara ini. Dalam hal itu mereka mirip satu sama lain karena mewartakan satu warta yang sama. Tetapi dalam detail kisah, penginjil punya agenda masing-masing. Mereka menyusun bahan kisah sengsara agar cocok dengan bangunan arsitektur teologis masing-masing. Dalam injil Lukas kita lihat alur arsitektur teologis sbb: semuanya bermuara pada klimax di Yerusalem. Mula-mula ada niat persekongkolan jahat melawan Yesus yang disponsori salah seorang muridNya. Tidak lama setelah perjamuan paskah, terjadi drama sakratmaut di Getsemani tempat Yesus ditangkap. Akhirnya semuanya bermuara pada kemenangan atas kuasa setan. Dengan itu Yesus memenangi kosmos dari kuasa setan. Dengan kebangkitanNya Yesus membawa janji kemuliaan masa depan bagi semua. Bac.I hari ini mementaskan ketaatan Yesus sebagai Hamba Tuhan. Apa yang dibentangkan Yesaya terjadi dalam Injil hari ini. Semuanya mementaskan penghambaan dan penghampaan Yesus (kenosis) demi peninggianNya dan keselamatan kita. Injil hari ini mementaskan salah satu dimensi iman kita. Itulah misteri iman yang kita kenangkan dan rayakan hari ini. Semoga kita bisa memahami misteri itu. Tidak hanya memahami, melainkan juga menghayatinya dalam hidup, melaksanakannya dalam perbuatan yang nyata. Sebab iman tanpa perbuatan adalah hampa dan mati.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-7; Mzm.22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp.2:6-11; Luk.22:14-23:56.
Hari ini Minggu Palma. Kita mengenang peristiwa masuknya Tuhan dengan mulia ke Yerusalem. Dalam injil kita dengar (baca/diyanyikan) Kisah Sengsara (Passio) versi Lukas. Hal itu dimaksudkan untuk mengajak kita mengenangkan sengsara Tuhan Yesus. Mari kita dengar Passio ini dinyanyikan/dibacakan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena Kisah Sengsara adalah inti pewartaan (kerygma) gereja purba. Kisah sengsara merupakan bentuk paling tua tradisi Injil. Keempat Injil mewartakan kisah sengsara ini. Dalam hal itu mereka mirip satu sama lain karena mewartakan satu warta yang sama. Tetapi dalam detail kisah, penginjil punya agenda masing-masing. Mereka menyusun bahan kisah sengsara agar cocok dengan bangunan arsitektur teologis masing-masing. Dalam injil Lukas kita lihat alur arsitektur teologis sbb: semuanya bermuara pada klimax di Yerusalem. Mula-mula ada niat persekongkolan jahat melawan Yesus yang disponsori salah seorang muridNya. Tidak lama setelah perjamuan paskah, terjadi drama sakratmaut di Getsemani tempat Yesus ditangkap. Akhirnya semuanya bermuara pada kemenangan atas kuasa setan. Dengan itu Yesus memenangi kosmos dari kuasa setan. Dengan kebangkitanNya Yesus membawa janji kemuliaan masa depan bagi semua. Bac.I hari ini mementaskan ketaatan Yesus sebagai Hamba Tuhan. Apa yang dibentangkan Yesaya terjadi dalam Injil hari ini. Semuanya mementaskan penghambaan dan penghampaan Yesus (kenosis) demi peninggianNya dan keselamatan kita. Injil hari ini mementaskan salah satu dimensi iman kita. Itulah misteri iman yang kita kenangkan dan rayakan hari ini. Semoga kita bisa memahami misteri itu. Tidak hanya memahami, melainkan juga menghayatinya dalam hidup, melaksanakannya dalam perbuatan yang nyata. Sebab iman tanpa perbuatan adalah hampa dan mati.
SABTU, 27 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yeh.37:21-28; MT.Yer.31:10,11-12ab,13; Yoh.11:45-56.
Injil hari ini melanjutkan kisah unik injil Yohanes, pembangkitan Lazarus. Tentu ini menggemparkan. Muncul dua reaksi. Ada yang percaya. Ada yang tidak percaya, dan melaporkan hal itu kepada orang Farisi. Terciptalah kubu pertikaian yang makin runcing: Ada Yesus yang banyak mengerjakan mukjizat. Ada orang Farisi yang berkoalisi dengan imam-imam kepala. Mereka memanggil rapat Mahkamah Agama. Inti pembicaraan mereka ialah bagaimana cara mencegah agar Yesus tidak semakin banyak mendapat pengikut karena perbuatan ajaib-Nya. Dalam konteks persekongkolan busuk inilah kita membaca ucapan terkenal Kayafas, Imam Besar: “….lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Ucapan ini seakan menjadi sebuah nubuat agung tentang makna liberatif dan makna redemptif wafat Yesus. Sedemikian agungnya peristiwa itu, sehingga bisa “….mengumpulkan dan mempersatukan anak Allah yang tercerai-berai.” Makin banyak tanda ajaib, makin tajam perlawanan dan makin kuat kebencian. Itu semua bermuara pada rencana busuk untuk menangkap serta membunuh Yesus. Tetapi karena saatnya belum tiba, Yesus menghindar ke tempat sunyi. Hal itu tidak mengurungkan niat jahat pembesar di Yerusalem. Mereka menunggu apakah Yesus akan datang pada hari Raya (Injil besok). Kalau Ia datang, itulah saat yang tepat untuk menangkap Dia. Memang itulah yang terjadi. Reaksi kebencian terhadap Yesus dan karya serta sabdaNya, tidak pernah berhenti. Mungkin juga bisa muncul dewasa ini. Bagaimana dengan sikap kita? Semoga kita tidak berada dalam kalangan orang yang merencanakan perbuatan jahat terhadap Yesus. Semoga dalam masa Prapaskah ini kita makin meningkatkan hubungan kita dengan Yesus Juru Selamat.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yeh.37:21-28; MT.Yer.31:10,11-12ab,13; Yoh.11:45-56.
Injil hari ini melanjutkan kisah unik injil Yohanes, pembangkitan Lazarus. Tentu ini menggemparkan. Muncul dua reaksi. Ada yang percaya. Ada yang tidak percaya, dan melaporkan hal itu kepada orang Farisi. Terciptalah kubu pertikaian yang makin runcing: Ada Yesus yang banyak mengerjakan mukjizat. Ada orang Farisi yang berkoalisi dengan imam-imam kepala. Mereka memanggil rapat Mahkamah Agama. Inti pembicaraan mereka ialah bagaimana cara mencegah agar Yesus tidak semakin banyak mendapat pengikut karena perbuatan ajaib-Nya. Dalam konteks persekongkolan busuk inilah kita membaca ucapan terkenal Kayafas, Imam Besar: “….lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Ucapan ini seakan menjadi sebuah nubuat agung tentang makna liberatif dan makna redemptif wafat Yesus. Sedemikian agungnya peristiwa itu, sehingga bisa “….mengumpulkan dan mempersatukan anak Allah yang tercerai-berai.” Makin banyak tanda ajaib, makin tajam perlawanan dan makin kuat kebencian. Itu semua bermuara pada rencana busuk untuk menangkap serta membunuh Yesus. Tetapi karena saatnya belum tiba, Yesus menghindar ke tempat sunyi. Hal itu tidak mengurungkan niat jahat pembesar di Yerusalem. Mereka menunggu apakah Yesus akan datang pada hari Raya (Injil besok). Kalau Ia datang, itulah saat yang tepat untuk menangkap Dia. Memang itulah yang terjadi. Reaksi kebencian terhadap Yesus dan karya serta sabdaNya, tidak pernah berhenti. Mungkin juga bisa muncul dewasa ini. Bagaimana dengan sikap kita? Semoga kita tidak berada dalam kalangan orang yang merencanakan perbuatan jahat terhadap Yesus. Semoga dalam masa Prapaskah ini kita makin meningkatkan hubungan kita dengan Yesus Juru Selamat.
JUM'AT 26 MARET 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh.10:31-42.
Injil hari ini masih melanjutkan drama perbenturan Yesus dan orang Yahudi. Karena Yesus menyatakan bahwa diriNya dan Bapa adalah Satu, orang Yahudi mau merajam-Nya. Ia menantang mereka dengan mengatakan bahwa ada banyak perbuatan baik yang berasal dari Bapa, yang diperbuat-Nya bagi mereka. Tetapi mengapa mereka mau merajam? Ternyata alasannya bukan perbuatan baik, melainkan karena Yesus dituduh menghojat. Lalu muncul diskusi yang rumit mengenai pendasaran teologis ucapan Yesus. Itu tidak penting diulas di sini. Yang penting ialah ayat 37-42. Yesus mengatakan bahwa orang tidak perlu percaya kepadaNya kalau ternyata Ia tidak melakukan kehendak Bapa. Kalau orang tidak mau percaya kepada Dia, paling tidak orang mau percaya kepada pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan. Kepercayaan itu, menurut Yesus, menjadi prasyarat agar mereka bisa mengerti dan tahu misteri persatuan Yesus dan Bapa, persatuan ajaib: Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa. Ternyata ini juga tidak dapat mereka terima. Mereka menjadi marah dan mencoba menangkap Yesus. Tetapi Yesus meluputkan diri dengan menyingkir ke tempat Yohanes pernah tinggal. Di tempat sunyi itu, banyak orang yang datang kepadaNya, mencari Dia. Bahkan di antara orang yang datang itu memberi kesaksian agung bahwa semua yang dikatakan Yohanes tentang Yesus, ternyata benar semuanya. Itulah yang menyebabkan mereka percaya kepada Yesus. Dari sini kita sadar bahwa menjadi pengikut Yesus adalah proses perjuangan yang tidak mudah. Orang harus selalu mengambil keputusan pribadi yang sadar. Tidak hanya ikut-ikutan arus umum, melainkan harus percaya dengan keputusan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh.10:31-42.
Injil hari ini masih melanjutkan drama perbenturan Yesus dan orang Yahudi. Karena Yesus menyatakan bahwa diriNya dan Bapa adalah Satu, orang Yahudi mau merajam-Nya. Ia menantang mereka dengan mengatakan bahwa ada banyak perbuatan baik yang berasal dari Bapa, yang diperbuat-Nya bagi mereka. Tetapi mengapa mereka mau merajam? Ternyata alasannya bukan perbuatan baik, melainkan karena Yesus dituduh menghojat. Lalu muncul diskusi yang rumit mengenai pendasaran teologis ucapan Yesus. Itu tidak penting diulas di sini. Yang penting ialah ayat 37-42. Yesus mengatakan bahwa orang tidak perlu percaya kepadaNya kalau ternyata Ia tidak melakukan kehendak Bapa. Kalau orang tidak mau percaya kepada Dia, paling tidak orang mau percaya kepada pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan. Kepercayaan itu, menurut Yesus, menjadi prasyarat agar mereka bisa mengerti dan tahu misteri persatuan Yesus dan Bapa, persatuan ajaib: Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa. Ternyata ini juga tidak dapat mereka terima. Mereka menjadi marah dan mencoba menangkap Yesus. Tetapi Yesus meluputkan diri dengan menyingkir ke tempat Yohanes pernah tinggal. Di tempat sunyi itu, banyak orang yang datang kepadaNya, mencari Dia. Bahkan di antara orang yang datang itu memberi kesaksian agung bahwa semua yang dikatakan Yohanes tentang Yesus, ternyata benar semuanya. Itulah yang menyebabkan mereka percaya kepada Yesus. Dari sini kita sadar bahwa menjadi pengikut Yesus adalah proses perjuangan yang tidak mudah. Orang harus selalu mengambil keputusan pribadi yang sadar. Tidak hanya ikut-ikutan arus umum, melainkan harus percaya dengan keputusan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam.
Langganan:
Postingan (Atom)
