OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS DAN GESER-INSTITUTE
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, GEISE SENTER INSTITUTE,
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Why.11:19a.12:1,3-6a,10ab; Mzm.45:10bc,11,12ab,16; 1Kor.15:20-26; Luk.1:39-56.
Hari ini Hari Raya SP.Maria diangkat ke surga. Banyak serikat hidup bakti yang merayakannya. Mari kita merayakannya juga. Dalam injil kita dengar beberapa hal penting. Pertama, Maria mengunjungi Elisabet. Ini salah satu peristiwa dalam peristiwa gembira. Ada beberapa hal penting yang patut digaris-bawahi. Ada peristiwa Maria memberi salam kepada Elisabet dan ketika salam itu terdengar Elisabet maka anak dalam rahimnya melonjak kegirangan. Sukacita familial yang tampak dalam peristiwa saling mengunjungi, juga terasa oleh anak dalam rahim. Hal itu diungkapkan dua kali (ay.41.44). Lalu keluarlah kata-kata Elisabet yang terkenal itu, yang menjadi bagian dari doa Salam Maria. Kidung Elisabet ini cukup panjang, tetapi tidak disebut demikian dalam tradisi gereja. Kedua, Kidung Elisabet yang indah ditanggapi dengan Kidung Maria, Magnificat terkenal itu. Tidak cukup ruang untuk mengulas kidung itu di sini. Ini kidung revolusioner perempuan yang bergema dalam teologi feminis. Hari ini tampak dirayakan dalam Bac.I. Di sana ada pelukisan mengenai Bait Suci Allah di sorga dan tampak tabut perjanjianNya. Tabut Perjanjian adalah salah satu gelar Maria (butir Litani SP.Maria). Keagungan peristiwa pengangkatan itu dirayakan dengan pelukisan sbb: Seorang perempuan beselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah makota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ini salah satu ide seniman membuat patung Maria. Dogma pengangkatan ini sejalan dengan ajaran Kitab Suci mengenai kebangkitan kita yang bermula dari kebangkitan Kristus, sebab “...demikinalah pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (Bac.I).
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS DAN GESER INSTITUTE FF-UNPAR BDG.
Rabu, 16 Juni 2010
MINGGU, 08 AGUSTUS 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.18:6-9; Mzm.33:1,12,18-19,20,22; Ibr.11:1-2,8-19; Luk.12:32-48.
Injil hari ini memberi beberapa nasihat hidup. Pertama, nasihat agar jangan takut mengarungi hidup ini (ay.32). Dengan kata lain, orang harus hidup oleh, karena, dan dalam iman. Kedua, nasihat untuk memberi sedekah dari harta milik. Harta milik harus berfungsi sosial-komunal-karitatif. Ketiga, nasihat untuk mencari harta surgawi, rohani, yang selalu dekat dan melekat pada kita: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Keempat, nasihat berjaga-jaga (ikat pinggang terikat, pelita bernyala). Orang yang didapati berjaga, dianggap berbahagia (ay.37.43). Hamba seperti ini akan diberi imbalan kepercayaan tinggi. Tetapi ada antagonis hamba ini, yaitu hamba jahat: berbuat jahat justru karena tuannya tidak ada di tempat. Hamba seperti ini akan dihukum. Dari sini keluar prinsip moral sebagai muara ajaran Yesus: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Hidup dari, oleh, dalam, dan berdasarkan iman, itulah yang dibentangkan dalam Bac.II dengan memberi beberapa model orang beriman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Sara). Hidup jadi bermakna karena iman. Teladan hidup beriman itu jugalah yang secara singkat disinggung dalam Bac.I.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.18:6-9; Mzm.33:1,12,18-19,20,22; Ibr.11:1-2,8-19; Luk.12:32-48.
Injil hari ini memberi beberapa nasihat hidup. Pertama, nasihat agar jangan takut mengarungi hidup ini (ay.32). Dengan kata lain, orang harus hidup oleh, karena, dan dalam iman. Kedua, nasihat untuk memberi sedekah dari harta milik. Harta milik harus berfungsi sosial-komunal-karitatif. Ketiga, nasihat untuk mencari harta surgawi, rohani, yang selalu dekat dan melekat pada kita: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Keempat, nasihat berjaga-jaga (ikat pinggang terikat, pelita bernyala). Orang yang didapati berjaga, dianggap berbahagia (ay.37.43). Hamba seperti ini akan diberi imbalan kepercayaan tinggi. Tetapi ada antagonis hamba ini, yaitu hamba jahat: berbuat jahat justru karena tuannya tidak ada di tempat. Hamba seperti ini akan dihukum. Dari sini keluar prinsip moral sebagai muara ajaran Yesus: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Hidup dari, oleh, dalam, dan berdasarkan iman, itulah yang dibentangkan dalam Bac.II dengan memberi beberapa model orang beriman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Sara). Hidup jadi bermakna karena iman. Teladan hidup beriman itu jugalah yang secara singkat disinggung dalam Bac.I.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 01 AGUSTUS 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Pkh.1:2,2:21-23; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol.3:1-5,9-11; Luk.12:13-21.
Injil hari ini berbicara mengenai orang kaya yang bodoh. Terhadap orang yang meminta agar menjadi penengah sengketa harta warisan, Yesus memberi nasihat mengenai kewaspadaan akan ketamakan. Ya ketamakan itu amat berbahaya. Ia tidak tahu batas. Karena itu, ia bisa melibas apa saja, bahkan manusia pun dilindas. Tentang itu Yesus berkata: ketamakan menumpuk harta tidak membuat hidup terjamin. Hidup tidak tergantung pada kekayaan. Hidup hanya tergantung pada Allah. Untuk menegaskan poin ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang merancang hidupnya. Setelah merasa yakin dan berhasil dengan rancangan itu, ia merasa hidup sudah aman. Ternyata malam itu nyawanya dicabut. Dalam kematian, harta benda tidak berarti apa-apa. Maka yang terpenting ialah menjadi kaya di hadapan Allah, yaitu mengumpulkan harta surgawi, harta rohani. Menarik bahwa Liturgi mengkaitkan Injil dengan Bac.I Pengkotbah yang terkenal dengan refreinnya: Kesia-siaan belaka,... segala sesuatu sia-sia. Jika pengumpul harta mati, ia harus tinggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Mungkin nasihat paling baik sehubungan dengan ini kita lihat dari Bac.II: “...matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Pkh.1:2,2:21-23; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol.3:1-5,9-11; Luk.12:13-21.
Injil hari ini berbicara mengenai orang kaya yang bodoh. Terhadap orang yang meminta agar menjadi penengah sengketa harta warisan, Yesus memberi nasihat mengenai kewaspadaan akan ketamakan. Ya ketamakan itu amat berbahaya. Ia tidak tahu batas. Karena itu, ia bisa melibas apa saja, bahkan manusia pun dilindas. Tentang itu Yesus berkata: ketamakan menumpuk harta tidak membuat hidup terjamin. Hidup tidak tergantung pada kekayaan. Hidup hanya tergantung pada Allah. Untuk menegaskan poin ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang merancang hidupnya. Setelah merasa yakin dan berhasil dengan rancangan itu, ia merasa hidup sudah aman. Ternyata malam itu nyawanya dicabut. Dalam kematian, harta benda tidak berarti apa-apa. Maka yang terpenting ialah menjadi kaya di hadapan Allah, yaitu mengumpulkan harta surgawi, harta rohani. Menarik bahwa Liturgi mengkaitkan Injil dengan Bac.I Pengkotbah yang terkenal dengan refreinnya: Kesia-siaan belaka,... segala sesuatu sia-sia. Jika pengumpul harta mati, ia harus tinggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Mungkin nasihat paling baik sehubungan dengan ini kita lihat dari Bac.II: “...matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
KAMIS, 17 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Sir.48:1-14; Mzm.97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15.
Hari ini hari Biasa. Mari kita berusaha hidup senantiasa di hadapan Allah dengan hati tulus dan murni. Injil membahas tentang unsur ketiga dalam praksis kesalehan kita: doa. Ada tiga nasihat yang diberikan Yesus dalam injil ini. Nasihat pertama, tidak termasuk injil hari ini tetapi baik juga disinggung karena dalam nasihat pertama inilah ada kemiripan dengan dua praksis lain yang dibahas kemarin. Doa jangan dipamerkan di ruang publik, di tempat umum, di pasar, di tikungan jalan, dengan suara keras, memakai pengeras suara. Kata Yesus, tidak usah seperti itu: itu hanya berlaku bagi orang munafik. Kedua, Yesus menasihatkan kita agar doa kita singkat, jangan bertele-tele. Mengapa, karena Bapa sudah mengetahui apa yang kita minta. Ketiga, Yesus memberi contoh atau model doa itu. Itulah doa Bapa Kami, oratione dominica, al sholat al robaniyah, Lord’s Prayer, yang terkenal itu. Doa ini menjadi model doa karena diajarkan Tuhan sendiri kepada kita. Sudah ada banyak buku yang mengulas doa ini. Tetapi saya ingatkan pembaca untuk membaca salah satu ulasan bagus dalam Katekismus Gereja Katolik. Pasti kita diperkaya oleh doa itu. Menjadi model karena, ini dan beginilah seharusnya cara kita berdoa. Dimulai dengan pujian akan Allah Bapa. Ini harus. Sesudah itu, ada permohonan. Biasanya dianggap ada tujuh permohonan. Pesannya jelas: Jangan memamerkan doa, jangan bertele-tele, dengan suara keras. Hafalkanlah doa Bapa Kami dan setiap kali kita mengucapkannya, hendaklah kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh. Niscaya kita dididik dalam rumah doa sejati yang amat kaya dan dalam ini.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Sir.48:1-14; Mzm.97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15.
Hari ini hari Biasa. Mari kita berusaha hidup senantiasa di hadapan Allah dengan hati tulus dan murni. Injil membahas tentang unsur ketiga dalam praksis kesalehan kita: doa. Ada tiga nasihat yang diberikan Yesus dalam injil ini. Nasihat pertama, tidak termasuk injil hari ini tetapi baik juga disinggung karena dalam nasihat pertama inilah ada kemiripan dengan dua praksis lain yang dibahas kemarin. Doa jangan dipamerkan di ruang publik, di tempat umum, di pasar, di tikungan jalan, dengan suara keras, memakai pengeras suara. Kata Yesus, tidak usah seperti itu: itu hanya berlaku bagi orang munafik. Kedua, Yesus menasihatkan kita agar doa kita singkat, jangan bertele-tele. Mengapa, karena Bapa sudah mengetahui apa yang kita minta. Ketiga, Yesus memberi contoh atau model doa itu. Itulah doa Bapa Kami, oratione dominica, al sholat al robaniyah, Lord’s Prayer, yang terkenal itu. Doa ini menjadi model doa karena diajarkan Tuhan sendiri kepada kita. Sudah ada banyak buku yang mengulas doa ini. Tetapi saya ingatkan pembaca untuk membaca salah satu ulasan bagus dalam Katekismus Gereja Katolik. Pasti kita diperkaya oleh doa itu. Menjadi model karena, ini dan beginilah seharusnya cara kita berdoa. Dimulai dengan pujian akan Allah Bapa. Ini harus. Sesudah itu, ada permohonan. Biasanya dianggap ada tujuh permohonan. Pesannya jelas: Jangan memamerkan doa, jangan bertele-tele, dengan suara keras. Hafalkanlah doa Bapa Kami dan setiap kali kita mengucapkannya, hendaklah kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh. Niscaya kita dididik dalam rumah doa sejati yang amat kaya dan dalam ini.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Selasa, 15 Juni 2010
MINGGU, 25 JULI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:20-32; Mzm.138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol.2:12-14; Luk.11:1-13.
Injil hari ini terkenal karena kita dengar Tuhan mengajar muridNya berdoa. Ada beberapa hal yang dibahas hari ini. Pertama, mengenai permohonan murid agar Tuhan mengajar mereka berdoa karena melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa. Kedua, Tuhan mengajarkan doa itu kepada mereka. Itulah doa Bapa Kami yang terkenal itu, Doa Tuhan, Oratione Dominica, al-Sholat al-Robaniyah, Lord’s Prayer. Dalam pemakaian liturgis Katolik, yang digunakan ialah versi Matius yang lebih panjang. Ketiga, Yesus berbicara mengenai hal ketekunan berdoa: berdoa harus tanpa henti, oratio continua, demikian tradisi Bapa Gereja menyebutnya, mengikuti Paulus dalam salah satu suratnya. Untuk menekankan arti penting oratio continua ini, Yesus memberi perumpamaan yang menarik dalam ayat 5-8. Keempat, setelah memberikan pengajaran (doctrina) dalam perumpamaan, Yesus sampai juga ke petuah moral, unsur parenetik-nya: ayat 9-13. Yesus menekankan arti pentingnya doa terus menerus karena hal itu pasti akan berbuah. Kata orang: PUSH, Pray Until Something Happens. Atau PULL: Pray Until the Lord Listens. Tetapi The Lord always Listen, karena Gusti ora sare. Yesus juga menarik petuah moral mengenai “tahu mana perbuatan yang baik dan yang buruk” (ay.11-13). Petuah itu akhirnya diterapkan secara teologis (ay.13): Ingat, ketekunan berdoa kepada Bapa, akan berbuah karunia Roh Kudus. Luar biasa. Kiranya ketekunan berdoa, bahkan seperti hampir tidak tahu malu lagi, itulah yang dipentaskan Bac.I, di mana Abraham seperti sedang berdagang, tawar-menawar dengan Allah. Allah mau melayani permintaan Abraham sampai akhir, walau akhirnya, Abraham menyerah. Tetapi selalu ada keterbukaan dari TUHAN. Sepertinya tidak ada kaitan apa pun dengan Bac.II. Tetapi kaitannya dapat dilihat dalam solidaritas negatif dan positif kita dengan Yesus, yang akhirnya berbuahkan shalom. Amin.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:20-32; Mzm.138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol.2:12-14; Luk.11:1-13.
Injil hari ini terkenal karena kita dengar Tuhan mengajar muridNya berdoa. Ada beberapa hal yang dibahas hari ini. Pertama, mengenai permohonan murid agar Tuhan mengajar mereka berdoa karena melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa. Kedua, Tuhan mengajarkan doa itu kepada mereka. Itulah doa Bapa Kami yang terkenal itu, Doa Tuhan, Oratione Dominica, al-Sholat al-Robaniyah, Lord’s Prayer. Dalam pemakaian liturgis Katolik, yang digunakan ialah versi Matius yang lebih panjang. Ketiga, Yesus berbicara mengenai hal ketekunan berdoa: berdoa harus tanpa henti, oratio continua, demikian tradisi Bapa Gereja menyebutnya, mengikuti Paulus dalam salah satu suratnya. Untuk menekankan arti penting oratio continua ini, Yesus memberi perumpamaan yang menarik dalam ayat 5-8. Keempat, setelah memberikan pengajaran (doctrina) dalam perumpamaan, Yesus sampai juga ke petuah moral, unsur parenetik-nya: ayat 9-13. Yesus menekankan arti pentingnya doa terus menerus karena hal itu pasti akan berbuah. Kata orang: PUSH, Pray Until Something Happens. Atau PULL: Pray Until the Lord Listens. Tetapi The Lord always Listen, karena Gusti ora sare. Yesus juga menarik petuah moral mengenai “tahu mana perbuatan yang baik dan yang buruk” (ay.11-13). Petuah itu akhirnya diterapkan secara teologis (ay.13): Ingat, ketekunan berdoa kepada Bapa, akan berbuah karunia Roh Kudus. Luar biasa. Kiranya ketekunan berdoa, bahkan seperti hampir tidak tahu malu lagi, itulah yang dipentaskan Bac.I, di mana Abraham seperti sedang berdagang, tawar-menawar dengan Allah. Allah mau melayani permintaan Abraham sampai akhir, walau akhirnya, Abraham menyerah. Tetapi selalu ada keterbukaan dari TUHAN. Sepertinya tidak ada kaitan apa pun dengan Bac.II. Tetapi kaitannya dapat dilihat dalam solidaritas negatif dan positif kita dengan Yesus, yang akhirnya berbuahkan shalom. Amin.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 18 JULI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:1-10a; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42.
Injil hari ini mengisahkan tentang dua perempuan di sekitar Yesus, yang menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah Maria dan Marta. Suatu ketika, Yesus mampir di rumah mereka. Dalam menghadapi Yesus mereka memperlihatkan dua sikap berbeda. Yang satu, Maria, duduk dekat Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Yang lain, Marta, sibuk melayani. Secara tradisional teks ini ditafsirkan sebagai menggambarkan dua cara hidup yang dapat ditempuh sebagai pengikut Yesus. Ada cara hidup kontemplatif, ada cara hidup aktif. Yang terdahulu ditekuni Maria. Yang lain dilakoni Marta. Ternyata Yesus memberi prioritas terhadap dan membela yang terdahulu. Tetapi saya mau membacanya demikian: Dalam perjalananNya berkeliling, Yesus (sebagai manusia) tentu mengalami keletihan. Ketika ia sudah sampai di tempat istirahat, maka yang Ia butuhkan ialah kedekatan dan pendampingan dari orang-orang baik di sekitarnya. Dalam artian itulah, Yesus menilai “tinggi” apa yang dilakukan Maria, dan memberi prioritas terhadap Maria. Itu tidak berarti bahwa Yesus “melecehkan” apa yang ditempuh Marta. Sama sekali tidak. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Maria, tahu melihat waktu (kairos) itu. Keramah-tamahan Maria itulah yang disinggung dalam injil hari ini. Ide kramah-tamahan (hospitalitas) itu yang diangkat dalam Bac.I hari ini: Abraham menjamu tiga tamu yang datang ke ranch-nya. Keramah-tamahan itu berbuah berkat: Isterinya akan mengandung dan melahirkan anak. Menarik bahwa Bac.II kedua justru menyinggung mengenai “kesibukan” Paulus dalam melayani umat demi mewartakan Kristus. Bahkan Paulus rela menderita dalam pelayanan itu. Anehnya lagi, Paulus merasa bersukacita karena ia boleh menerita demi pelayanan itu. Jadi, dalam bingkai liturgis, kesibukan Marta (melalui kacamata Paulus) tetap ada maknanya. Asal dijalankan dengan penuh sukacita.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:1-10a; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42.
Injil hari ini mengisahkan tentang dua perempuan di sekitar Yesus, yang menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah Maria dan Marta. Suatu ketika, Yesus mampir di rumah mereka. Dalam menghadapi Yesus mereka memperlihatkan dua sikap berbeda. Yang satu, Maria, duduk dekat Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Yang lain, Marta, sibuk melayani. Secara tradisional teks ini ditafsirkan sebagai menggambarkan dua cara hidup yang dapat ditempuh sebagai pengikut Yesus. Ada cara hidup kontemplatif, ada cara hidup aktif. Yang terdahulu ditekuni Maria. Yang lain dilakoni Marta. Ternyata Yesus memberi prioritas terhadap dan membela yang terdahulu. Tetapi saya mau membacanya demikian: Dalam perjalananNya berkeliling, Yesus (sebagai manusia) tentu mengalami keletihan. Ketika ia sudah sampai di tempat istirahat, maka yang Ia butuhkan ialah kedekatan dan pendampingan dari orang-orang baik di sekitarnya. Dalam artian itulah, Yesus menilai “tinggi” apa yang dilakukan Maria, dan memberi prioritas terhadap Maria. Itu tidak berarti bahwa Yesus “melecehkan” apa yang ditempuh Marta. Sama sekali tidak. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Maria, tahu melihat waktu (kairos) itu. Keramah-tamahan Maria itulah yang disinggung dalam injil hari ini. Ide kramah-tamahan (hospitalitas) itu yang diangkat dalam Bac.I hari ini: Abraham menjamu tiga tamu yang datang ke ranch-nya. Keramah-tamahan itu berbuah berkat: Isterinya akan mengandung dan melahirkan anak. Menarik bahwa Bac.II kedua justru menyinggung mengenai “kesibukan” Paulus dalam melayani umat demi mewartakan Kristus. Bahkan Paulus rela menderita dalam pelayanan itu. Anehnya lagi, Paulus merasa bersukacita karena ia boleh menerita demi pelayanan itu. Jadi, dalam bingkai liturgis, kesibukan Marta (melalui kacamata Paulus) tetap ada maknanya. Asal dijalankan dengan penuh sukacita.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
RABU, 16 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.2:1,6-14; Mzm.31:20,21,24; Mat.6:1-6,16-18.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan wajib St.Lurgardis, Beato Anicetus Koplin (Imam, dkk Martir Polandia), St.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita mengenang dan meneladani mereka dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan dua hal penting sebagai tonggak praksis kesalehan umat. Tonggak praksis kesalehan itu ada tiga: Sedekah, Doa, Puasa. Tetapi di sini hanya dibahas dua saja: sedekah dan puasa. Pertama, berbeda dengan praktek yang umum jaman itu, Yesus menganjurkan para pengikutNya agar memberi sedekah itu secara diam-diam, dilakukan di tempat tersembunyi. Tidak usah digembar-gemborkan ke sana kemari seperti sekarang dengan pengeras suara, televisi, koran, majalah, dll. Menggembar-gemborkan perbuatan baik adalah perbuatan orang fasik, orang munafik. Biasanya itu dilakukan untuk menarik perhatian publik. Tidak ada rasa risih sedikitpun bahwa kesalehan dipertontotan dan dipentaskan di ruang publik. Cukup Bapa di surga saja yang tahu, dan Ia akan membalas kita dengan berkat dan rahmatNya. Kedua, berbeda dengan praktek yang umum dilakukan saat itu, orang berpuasa dengan membuat muka muram. Yesus mengecam hal itu: itu adalah kemunafikan. Yesus menganjurkan agar kalau kita berpuasa, hendaklah kita merias diri sehingga hanya Allah Bapa saja yang tahu bahwa kita berpuasa. Tidak usah juga digembar-gemborkan ke sana ke mari pakai pengeras suara yang bikin telinga bising. Kedua tonggak kesalehan itu harus dilakukan secara diam-diam. Pesan injil hari ini sangat jelas: Janganlah kita melakukan perbuatan-perbuatan kesalehan di ruang publik, dengan maksud untk dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kita mendapat pujian orang banyak.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.2:1,6-14; Mzm.31:20,21,24; Mat.6:1-6,16-18.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan wajib St.Lurgardis, Beato Anicetus Koplin (Imam, dkk Martir Polandia), St.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita mengenang dan meneladani mereka dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan dua hal penting sebagai tonggak praksis kesalehan umat. Tonggak praksis kesalehan itu ada tiga: Sedekah, Doa, Puasa. Tetapi di sini hanya dibahas dua saja: sedekah dan puasa. Pertama, berbeda dengan praktek yang umum jaman itu, Yesus menganjurkan para pengikutNya agar memberi sedekah itu secara diam-diam, dilakukan di tempat tersembunyi. Tidak usah digembar-gemborkan ke sana kemari seperti sekarang dengan pengeras suara, televisi, koran, majalah, dll. Menggembar-gemborkan perbuatan baik adalah perbuatan orang fasik, orang munafik. Biasanya itu dilakukan untuk menarik perhatian publik. Tidak ada rasa risih sedikitpun bahwa kesalehan dipertontotan dan dipentaskan di ruang publik. Cukup Bapa di surga saja yang tahu, dan Ia akan membalas kita dengan berkat dan rahmatNya. Kedua, berbeda dengan praktek yang umum dilakukan saat itu, orang berpuasa dengan membuat muka muram. Yesus mengecam hal itu: itu adalah kemunafikan. Yesus menganjurkan agar kalau kita berpuasa, hendaklah kita merias diri sehingga hanya Allah Bapa saja yang tahu bahwa kita berpuasa. Tidak usah juga digembar-gemborkan ke sana ke mari pakai pengeras suara yang bikin telinga bising. Kedua tonggak kesalehan itu harus dilakukan secara diam-diam. Pesan injil hari ini sangat jelas: Janganlah kita melakukan perbuatan-perbuatan kesalehan di ruang publik, dengan maksud untk dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kita mendapat pujian orang banyak.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Langganan:
Postingan (Atom)
