OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.5:14-17; 2Tim.2:8-13; Luk.17:11-19.
Injil hari ini membentangkan di hadapan kita sebuah kisah yang amat padat dan menarik. Injil ini juga sangat terkenal dalam ingatan kita. Ada sepuluh orang kusta yang datang memohon kesembuhan kepada Tuhan. Tuhan tidak langsung menyembuhkan mereka saat itu juga, melainkan Ia menyuruh mereka menghadap imam di Bait Allah. Ini penting, sebab imamlah yang memutuskan apakah mereka sudah tahir dari kusta atau tidak. Kalau sudah tahir mereka boleh kembali ke masyarakat. Kalau tidak, mereka harus hidup di luar masyarakat. Lukas secara singkat melukiskan hidup terasing penderita kusta: mereka berdiri agak jauh. Ya, memang orang kusta harus berdiri di kejauhan agar tidak menulari orang sehat. Proses integrasi itulah yang diupayakan Yesus. Ketika mereka sedang dalam perjalanan ke para imam, tiba-tiba mereka sembuh. Perhatikan reaksi mereka. Yang kesembilan orang itu jalan terus walau tidak eksplisit. Hanya ada satu saja yang kembali untuk menghaturkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Yang jauh lebih menarik lagi ialah bahwa yang satu orang itu adalah orang Samaria, orang asing, orang najis dalam pandangan orang Yahudi. Tidak dikatakan siapa kesembilan orang itu. Pasti mereka adalah orang dalam (bac.Yahudi), sebab mereka itu dipertentangkan dengan satu orang yang adalah orang Samaria yang dianggap asing itu. Ya, datang kepada Yesus adalah sangat penting dalam hidup kita. Itulah yang sangat dianjurkan dalam Bac.II hari ini. Demi Dia-lah Paulus rela menderita dan menanggung segala sesuatu. Itulah contoh atau model pengikut Kristus sejati. Itulah yang harus kita teladani dalam hidup kita sendiri. Bac.I mengisahkan mengenai penyembuhan Naaman si orang Siria itu. Ya, sekali lagi, seperti dalam Injil, di sini pun yang disembuhkan justru orang asing, orang Siria. Padahal di Israel sendiri ada banyak orang kusta, tetapi tidak disembuhkan. (Fransiskus Borgias M.).
BANDUNG, 19 AGUSTUS 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE
FF UNPAR BANDUNG
Rabu, 18 Agustus 2010
MINGGU, 03 OKTOBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Hab.1:2-3; 2:2-4; 2Tim.1:6-8.13-14; Luk.17:5-10.
Injil yang kita dengar hari ini menebarkan beberapa nasihat atau ajaran moral yang penting dan menarik, walau tidak selalu mudah untuk kita wujudkan dan hayati. Nasihat pertama terkait dengan iman atau kepercayaan. Para murid meminta kepada Tuhan agar Ia sudi menambahkan iman mereka sehingga menjadi lebih kuat dan dalam. Tetapi kiranya iman itu tidak dapat ditakar menurut ukuran fisik atau jasmani tertentu, misalnya dengan takaran kilogram atau meter. Iman itu perkara percaya atau tidak. Itu saja. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kalau kita mempunyai sedikit iman, maka atas dasar iman yang kecil itu akan terjadi mukjizat agung dalam hidup kita. Nasihat kedua, erat terkait dengan mentalitas pegawai, mentalitas pekerja yang rendah hati dan tahu diri. Segala pekerjaan yang telah kita lakukan, dapat berhasil bukan terutama karena kekuatan kita sendiri belaka, melainkan ada kekuatan lain yang bekerja dalam diri kita, mungkin tidak selalu kita sadari. Karena itu, jangan sampai kita menjadi sombong karena apa yang tampaknya secara fisikal sebagai perbuatan atau tindakan kita. Tidak. Tidak seperti itu. Mentalitas pekerja yang tahu diri dan rendah hati ialah bahwa ia tetap merasa sebagai hamba yang kecil dan tidak berguna, yang hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka. Tentu mentalitas dan sikap seperti itu tidak selalu mudah dalam dunia dewasa ini. Tetapi hal itu pastilah sangat penting: bersikap rendah hati dan tahu diri itu penting dan berguna. Kedua pelajaran atau nasihat ini amat penting. Kita akan sangat beruntung jika kita mencoba berpegang teguh dan setia kepada ajaran-ajaran itu, sebagaimana ditegaskan dalam Bac.II. Mengapa demikian? Jawaban paling tepat dapat kita ambil dari Bac.I: Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (2:4). Paulus, di kemudian hari, mengutip kalimat ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma: orang benar akan hidup oleh iman. Semoga ini berlaku juga bagi kita, sekarang dan di sini. (Fransiskus Borgias M).
BANDUNG, 19 AGUSTUS 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Hab.1:2-3; 2:2-4; 2Tim.1:6-8.13-14; Luk.17:5-10.
Injil yang kita dengar hari ini menebarkan beberapa nasihat atau ajaran moral yang penting dan menarik, walau tidak selalu mudah untuk kita wujudkan dan hayati. Nasihat pertama terkait dengan iman atau kepercayaan. Para murid meminta kepada Tuhan agar Ia sudi menambahkan iman mereka sehingga menjadi lebih kuat dan dalam. Tetapi kiranya iman itu tidak dapat ditakar menurut ukuran fisik atau jasmani tertentu, misalnya dengan takaran kilogram atau meter. Iman itu perkara percaya atau tidak. Itu saja. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kalau kita mempunyai sedikit iman, maka atas dasar iman yang kecil itu akan terjadi mukjizat agung dalam hidup kita. Nasihat kedua, erat terkait dengan mentalitas pegawai, mentalitas pekerja yang rendah hati dan tahu diri. Segala pekerjaan yang telah kita lakukan, dapat berhasil bukan terutama karena kekuatan kita sendiri belaka, melainkan ada kekuatan lain yang bekerja dalam diri kita, mungkin tidak selalu kita sadari. Karena itu, jangan sampai kita menjadi sombong karena apa yang tampaknya secara fisikal sebagai perbuatan atau tindakan kita. Tidak. Tidak seperti itu. Mentalitas pekerja yang tahu diri dan rendah hati ialah bahwa ia tetap merasa sebagai hamba yang kecil dan tidak berguna, yang hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka. Tentu mentalitas dan sikap seperti itu tidak selalu mudah dalam dunia dewasa ini. Tetapi hal itu pastilah sangat penting: bersikap rendah hati dan tahu diri itu penting dan berguna. Kedua pelajaran atau nasihat ini amat penting. Kita akan sangat beruntung jika kita mencoba berpegang teguh dan setia kepada ajaran-ajaran itu, sebagaimana ditegaskan dalam Bac.II. Mengapa demikian? Jawaban paling tepat dapat kita ambil dari Bac.I: Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (2:4). Paulus, di kemudian hari, mengutip kalimat ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma: orang benar akan hidup oleh iman. Semoga ini berlaku juga bagi kita, sekarang dan di sini. (Fransiskus Borgias M).
BANDUNG, 19 AGUSTUS 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 26 SEPTEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
MINGGU, 26 SEPTEMBER 2010: BcE. Am.6:1a,4-7; 1Tim.6:11-16; Luk.16:19-31. Kisah yang kita dengar dalam injil hari ini sangat menarik dan terkenal. Kita pasti sangat hafal dan akrab dengannya. Ini adalah kisah mengenai Lazarus yang miskin dan orang kaya. Ada orang kaya yang hidup enak: makanan melimpah, hidup nyaman, punya rumah, banyak saudara. Ada orang miskin, Lazarus. Ia hidup miskin, penuh borok, berkumpul dengan anjing-anjing, mengharapkan remah-remah dari meja si kaya, tetapi harus berebut dengan anjing. Kedua orang ini kemudian mati. Si kaya, masuk neraka, Larazus diterima dalam pangkuan Abraham. Nasib yang terbalik dan kontras. Di dunia ini si kaya sangat bahagia karena dan dengan kekayaannya. Di surga ia menderita. Sebaliknya, Lazarus di dunia ini menderita, paling tidak begitulah yang kelihatan secara jasmani. Tetapi di surga ia mendapat kebahagiaan sejati. Melihat situasi kontras itu, si kaya memohon belas kasihan. Tetapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan yang datang kemudian tidak bisa mengubah apa-apa yang sudah terlanjur menjadi busuk. Karena itu, orang harus hidup berhati-hati di dunia ini, jangan sampai terjadi sesal yang datang terlambat. Kiranya itulah relevansi Bac.II yang kita dengar hari ini. Bac.II ini menganjurkan kepada kita agar mengupayakan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Itulah semua yang kiranya diupayakan dan dihayati Lazarus dalam hidupnya di dunia ini. Lazarus telah bertanding dalam pertandingan iman yang benar dan karena itu ia berhasil merebut hidup yang kekal dalam pangkuan bapa Abraham. Bac.I hari ini juga menawarkan kepada kita beberapa pelajaran moral hidup. Yang paling menarik ialah ajakan untuk belajar kerajinan dan ketekunan hidup dari semut. Memang salah satu hantu yang menggerogoti hidup manusia di dunia ini ialah kemalasan. Amsal menegaskan bahwa betapa penting bagi kita untuk belajar ketekunan semut. Mereka tekun bekerja, dan sangat sadar akan tugas, kewajiban dan tanggung-jawab masing-masing. Mereka terus tekun bekerja walau tidak tampak diawasi pemimpin mereka. Itulah beberapa pelajaran penting dari bacaan ekaristi minggu ini. Semoga berguna. (Fransiskus Borgias M).
SIS BM
GESER INSTITUE FF-UNPAR BANDUNG.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
MINGGU, 26 SEPTEMBER 2010: BcE. Am.6:1a,4-7; 1Tim.6:11-16; Luk.16:19-31. Kisah yang kita dengar dalam injil hari ini sangat menarik dan terkenal. Kita pasti sangat hafal dan akrab dengannya. Ini adalah kisah mengenai Lazarus yang miskin dan orang kaya. Ada orang kaya yang hidup enak: makanan melimpah, hidup nyaman, punya rumah, banyak saudara. Ada orang miskin, Lazarus. Ia hidup miskin, penuh borok, berkumpul dengan anjing-anjing, mengharapkan remah-remah dari meja si kaya, tetapi harus berebut dengan anjing. Kedua orang ini kemudian mati. Si kaya, masuk neraka, Larazus diterima dalam pangkuan Abraham. Nasib yang terbalik dan kontras. Di dunia ini si kaya sangat bahagia karena dan dengan kekayaannya. Di surga ia menderita. Sebaliknya, Lazarus di dunia ini menderita, paling tidak begitulah yang kelihatan secara jasmani. Tetapi di surga ia mendapat kebahagiaan sejati. Melihat situasi kontras itu, si kaya memohon belas kasihan. Tetapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan yang datang kemudian tidak bisa mengubah apa-apa yang sudah terlanjur menjadi busuk. Karena itu, orang harus hidup berhati-hati di dunia ini, jangan sampai terjadi sesal yang datang terlambat. Kiranya itulah relevansi Bac.II yang kita dengar hari ini. Bac.II ini menganjurkan kepada kita agar mengupayakan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Itulah semua yang kiranya diupayakan dan dihayati Lazarus dalam hidupnya di dunia ini. Lazarus telah bertanding dalam pertandingan iman yang benar dan karena itu ia berhasil merebut hidup yang kekal dalam pangkuan bapa Abraham. Bac.I hari ini juga menawarkan kepada kita beberapa pelajaran moral hidup. Yang paling menarik ialah ajakan untuk belajar kerajinan dan ketekunan hidup dari semut. Memang salah satu hantu yang menggerogoti hidup manusia di dunia ini ialah kemalasan. Amsal menegaskan bahwa betapa penting bagi kita untuk belajar ketekunan semut. Mereka tekun bekerja, dan sangat sadar akan tugas, kewajiban dan tanggung-jawab masing-masing. Mereka terus tekun bekerja walau tidak tampak diawasi pemimpin mereka. Itulah beberapa pelajaran penting dari bacaan ekaristi minggu ini. Semoga berguna. (Fransiskus Borgias M).
SIS BM
GESER INSTITUE FF-UNPAR BANDUNG.
MINGGU, 19 SEPTEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Am.8:4-7; 1Tim.2:1-8; Luk.16:1-13.
Injil yang kita dengar hari ini menawarkan kepada kita beberapa pelajaran yang penting dan menarik. Pertama, mengenai kreatifitas seorang bendahara yang tidak jujur. Dalam situasi terjepit, ia mencoba mencari dan mengupayakan jalan keluar yang “terbaik” bagi posisi hidupnya sendiri. Kreatifitas itu dipuji oleh sang tuan. Mungkin poin yang pertama ini terasa agak problematik bagi kita. Kiranya Lukas menyadari problematika ini sehingga ia mengutip perkataan Yesus dalam ay 9: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Kedua, pelajaran mengenai kesetiaan. Kesetiaan itu “gampang dikata, sukar dibuat.” Karena itu, batu uji kesetiaan bukanlah dalam perkara-perkara besar, melainkan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil. Sebab setia dalam perkara besar umumnya dipandang relatif mudah. Sedangkan setia dalam perkara-perkara kecil, yang serba rutin, itulah yang paling sulit. Rutinitas bisa menjadi sebentuk tirani tersendiri dalam hidup manusia. Ketiga, pelajaran mengenai pengabdian sepenuh hati, yang tidak terbagi-bagi. Dikatakan bahwa orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kalau orang mengabdi kepada tuan, maka yang terjadi pastilah bahwa ia akan membenci yang satu dan mencintai atau memprioritaskan yang lain. Ketiga hal ini boleh dipandang sebagai butir-butir hikmat yang harus dipelajari dalam hidup kita. Hikmat itu, dalam Bac.I dipersonifikasi, dan ia sedang memanggil manusia untuk datang kepada sang Hikmat itu sendiri. Bac.II hari ini mengingatkan kita agar bersiap-siap selalu dalam menyongsong hari kedatangan Tuhan. Persiapan ini sangat penting sebab sebelum hari itu tiba, akan ada banyak kedurhakaan. Para pengikut Kristus harus dengan tenang menghadapi semuanya. Semoga demikian adanya. (Fransiskus Borgias M).
SIS BM
PENELITI GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG.
LAY THEOLOGIAN, PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Am.8:4-7; 1Tim.2:1-8; Luk.16:1-13.
Injil yang kita dengar hari ini menawarkan kepada kita beberapa pelajaran yang penting dan menarik. Pertama, mengenai kreatifitas seorang bendahara yang tidak jujur. Dalam situasi terjepit, ia mencoba mencari dan mengupayakan jalan keluar yang “terbaik” bagi posisi hidupnya sendiri. Kreatifitas itu dipuji oleh sang tuan. Mungkin poin yang pertama ini terasa agak problematik bagi kita. Kiranya Lukas menyadari problematika ini sehingga ia mengutip perkataan Yesus dalam ay 9: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Kedua, pelajaran mengenai kesetiaan. Kesetiaan itu “gampang dikata, sukar dibuat.” Karena itu, batu uji kesetiaan bukanlah dalam perkara-perkara besar, melainkan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil. Sebab setia dalam perkara besar umumnya dipandang relatif mudah. Sedangkan setia dalam perkara-perkara kecil, yang serba rutin, itulah yang paling sulit. Rutinitas bisa menjadi sebentuk tirani tersendiri dalam hidup manusia. Ketiga, pelajaran mengenai pengabdian sepenuh hati, yang tidak terbagi-bagi. Dikatakan bahwa orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kalau orang mengabdi kepada tuan, maka yang terjadi pastilah bahwa ia akan membenci yang satu dan mencintai atau memprioritaskan yang lain. Ketiga hal ini boleh dipandang sebagai butir-butir hikmat yang harus dipelajari dalam hidup kita. Hikmat itu, dalam Bac.I dipersonifikasi, dan ia sedang memanggil manusia untuk datang kepada sang Hikmat itu sendiri. Bac.II hari ini mengingatkan kita agar bersiap-siap selalu dalam menyongsong hari kedatangan Tuhan. Persiapan ini sangat penting sebab sebelum hari itu tiba, akan ada banyak kedurhakaan. Para pengikut Kristus harus dengan tenang menghadapi semuanya. Semoga demikian adanya. (Fransiskus Borgias M).
SIS BM
PENELITI GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG.
Minggu, 18 Juli 2010
SENIN, 19 JULI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Mi.6:1-4,6-8; Mzm.50:5-6,8-9,16bc-17,21,23; Mat.12:38-42.
Dalam injil kita dengar bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda dari Yesus (ay.38). Padahal Tuhan sudah mengerjakan banyak tanda dan mukjizat sebelumnya. Tetapi semuanya itu tidak berhasil menuntun mereka kepada tobat dan iman. Mungkin karena angkatan ini tegar tengkuk (diangkat dari dunia pelatihan hewan bagal dan tunggangan), yang telah memilih yang jahat dan hatinya degil. Tanda apa pun tidak akan mengubah hati orang seperti ini, termasuk tanda Yunus (ay.39). Tanda Yunus disinggung di sini sebagai ibarat untuk melukiskan nasib dan tanda yang terkandung dalam diri Anak Manusia (ay.40). Jadi, tinggal satu saja tanda terakhir, yaitu peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus dari alam maut. Tetapi bahkan peristiwa ajaib ini pun tidak bisa meyakinkan orang, tidak menuntun orang kepada tobat dan iman (bdk.27:62-63; 28:17). Oleh karena “orang dalam” (insiders) tidak mau percaya, maka injil mulai menyinggung “orang luar” (outsiders). Ternyata orang luar ini mampu memberi tanggapan yang sepatutnya terhadap tanda-tanda itu daripada Israel (orang dalam). Ada dua orang luar yang ditampilkan di sini: pertama, dalam ay.41, orang Niniwe, yang percaya kepada pemberitaan Yunus. Kedua, dalam ay.42, Ratu dari Selatan, yang kagum akan keagungan Salomo. Nah, kedua “orang luar” inilah yang akan ikut menentukan nasib orang yang sulit percaya. Sebab “orang luar” itu percaya kepada tanda Yunus, dan kagum akan Salomo, padahal Anak Manusia lebih daripada Yunus dan Salomo. Semoga kita tidak termasuk orang yang tegar tengkuk di hadapan tawaran kasih Allah dalam diri Tuhan Yesus.
BANDUNG, 19 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Mi.6:1-4,6-8; Mzm.50:5-6,8-9,16bc-17,21,23; Mat.12:38-42.
Dalam injil kita dengar bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda dari Yesus (ay.38). Padahal Tuhan sudah mengerjakan banyak tanda dan mukjizat sebelumnya. Tetapi semuanya itu tidak berhasil menuntun mereka kepada tobat dan iman. Mungkin karena angkatan ini tegar tengkuk (diangkat dari dunia pelatihan hewan bagal dan tunggangan), yang telah memilih yang jahat dan hatinya degil. Tanda apa pun tidak akan mengubah hati orang seperti ini, termasuk tanda Yunus (ay.39). Tanda Yunus disinggung di sini sebagai ibarat untuk melukiskan nasib dan tanda yang terkandung dalam diri Anak Manusia (ay.40). Jadi, tinggal satu saja tanda terakhir, yaitu peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus dari alam maut. Tetapi bahkan peristiwa ajaib ini pun tidak bisa meyakinkan orang, tidak menuntun orang kepada tobat dan iman (bdk.27:62-63; 28:17). Oleh karena “orang dalam” (insiders) tidak mau percaya, maka injil mulai menyinggung “orang luar” (outsiders). Ternyata orang luar ini mampu memberi tanggapan yang sepatutnya terhadap tanda-tanda itu daripada Israel (orang dalam). Ada dua orang luar yang ditampilkan di sini: pertama, dalam ay.41, orang Niniwe, yang percaya kepada pemberitaan Yunus. Kedua, dalam ay.42, Ratu dari Selatan, yang kagum akan keagungan Salomo. Nah, kedua “orang luar” inilah yang akan ikut menentukan nasib orang yang sulit percaya. Sebab “orang luar” itu percaya kepada tanda Yunus, dan kagum akan Salomo, padahal Anak Manusia lebih daripada Yunus dan Salomo. Semoga kita tidak termasuk orang yang tegar tengkuk di hadapan tawaran kasih Allah dalam diri Tuhan Yesus.
BANDUNG, 19 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR
MINGGU, 12 SEPTEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS FF-UNPAR BANDUNG
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
BcE. Kel.32:7-11,13-14; Mzm.51:3-4,12-13,17,19; 1Tim.1:12-17; Luk.15:1-32 (1-10).
Kita dapat membaca versi panjang injil hari ini (32 ayat). Tetapi bisa juga hanya membaca versi pendeknya (10 ayat). Untuk kepentingan ulasan ini saya ikuti versi pendeknya. Dalam versi pendek ini Yesus membentangkan dua perumpamaan yang menarik. Yesus terdorong mengisahkan dua perumpamaan ini karena sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak suka Yesus bergaul dengan orang berdosa (menerima mereka sebagai teman, dan makan bersama. Makan bersama dalam pelbagai kebudayaan di dunia ini adalah simbol dan perayaan persahabatan). Perumpamaan pertama mengenai domba yang hilang. Perumpamaan kedua mengenai dirham yang hilang. Ada kesamaan mencolok antara kedua perumpamaan ini. Dua hal yang hilang ini tidak bisa kembali sendiri, melainkan harus dicari. Gembala ditantang mutu kegembalaannya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Pemilik perhiasan juga ditantang mutu sense of belonging-nya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Ternyata si gembala dan si pemilik itu berani. Itulah yang menentukan mutu kepemimpinan mereka. Kita lihat, ini persamaan ketiga, setelah si gembala dan pemilik berani menempuh risiko besar, dan ia berhasil menantang risiko itu, hasilnya mendatangkan sukacita besar. Sukacita yang dialami orang ini oleh Yesus dijadikan sebagai ibarat untuk melukiskan sukacita yang terjadi di surga, yang dikatakan jauh lebih besar dan lebih meriah jika ada orang berdosa bertobat. Walau tadi saya putuskan untuk membaca versi pendek, tetapi ada baiknya saya tambahkan: perbedaan paling mencolok kedua perumpamaan ini dengan perumpamaan ketiga ialah bahwa si anak hilang, berbeda dari domba dan dirham, berinisiatif kembali. Ini yang luar biasa. Yesus mengajarkan kita untuk bertobat. Jangan tunggu dicari. Sebab yang dicari hanya domba (binatang) dan dirham (benda mati). Kiranya, kita tidak mau disamakan dengan binatang dan benda mati.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS FF-UNPAR BANDUNG
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
BcE. Kel.32:7-11,13-14; Mzm.51:3-4,12-13,17,19; 1Tim.1:12-17; Luk.15:1-32 (1-10).
Kita dapat membaca versi panjang injil hari ini (32 ayat). Tetapi bisa juga hanya membaca versi pendeknya (10 ayat). Untuk kepentingan ulasan ini saya ikuti versi pendeknya. Dalam versi pendek ini Yesus membentangkan dua perumpamaan yang menarik. Yesus terdorong mengisahkan dua perumpamaan ini karena sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak suka Yesus bergaul dengan orang berdosa (menerima mereka sebagai teman, dan makan bersama. Makan bersama dalam pelbagai kebudayaan di dunia ini adalah simbol dan perayaan persahabatan). Perumpamaan pertama mengenai domba yang hilang. Perumpamaan kedua mengenai dirham yang hilang. Ada kesamaan mencolok antara kedua perumpamaan ini. Dua hal yang hilang ini tidak bisa kembali sendiri, melainkan harus dicari. Gembala ditantang mutu kegembalaannya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Pemilik perhiasan juga ditantang mutu sense of belonging-nya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Ternyata si gembala dan si pemilik itu berani. Itulah yang menentukan mutu kepemimpinan mereka. Kita lihat, ini persamaan ketiga, setelah si gembala dan pemilik berani menempuh risiko besar, dan ia berhasil menantang risiko itu, hasilnya mendatangkan sukacita besar. Sukacita yang dialami orang ini oleh Yesus dijadikan sebagai ibarat untuk melukiskan sukacita yang terjadi di surga, yang dikatakan jauh lebih besar dan lebih meriah jika ada orang berdosa bertobat. Walau tadi saya putuskan untuk membaca versi pendek, tetapi ada baiknya saya tambahkan: perbedaan paling mencolok kedua perumpamaan ini dengan perumpamaan ketiga ialah bahwa si anak hilang, berbeda dari domba dan dirham, berinisiatif kembali. Ini yang luar biasa. Yesus mengajarkan kita untuk bertobat. Jangan tunggu dicari. Sebab yang dicari hanya domba (binatang) dan dirham (benda mati). Kiranya, kita tidak mau disamakan dengan binatang dan benda mati.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR
MINGGU, 05 SEPTEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.9:13-18; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm.9b-10,12-17; Luk.14:25-33.
Hari ini Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari ini secara khusus diadakan agar umat Katolik di Indonesia ini semakin secara intensif mencintai dan mengakrabi kitab suci dan akhirnya bisa hidup dari dan berdasarkan Kitab Suci itu. Injil hari ini membentangkan kepada kita mengenai syarat mengikuti Yesus. Syaratnya ialah “harus mau dan mampu melepaskan segala sesuatu.” Jelas ini syarat yang tidak ringan. Lalu bagaimana? Ya, mengikuti Yesus adalah sebuah keputusan yang amat besar. Bukan keputusan asal-asalan. Karena itu harus dipikirkan matang-matang. Mungkin kita dewasa ini tidak bisa lagi merasakan hal itu: karena kita menjadi murid atau pengikut Yesus secara massal, bukan keputusan personal. Apalagi dengan proses yang relatif mudah dan tidak berbelit-belit. Dulu pada masa gereja purba, ketika menjadi Kristen itu sulit dan bahkan ada risiko kemartiran dan kematian, keputusan menjadi pengikut Yesus adalah perkara hidup dan mati. Hal inilah yang coba dijelaskan Yesus dengan memakai dua ibarat (pertama, ay.28-30; kedua, ay.31-32). Dalam kedua ibarat ini, tampak bahwa pekerjaan yang akan dikerjakan itu berat dan tidak bisa dilakukan setengah-setengah, melainkan harus dipikirkan matang-matang. Dalam konteks inilah kita harus membaca ayat 27 dan 33. Ayat 27 adalah idealisme kemuridan ala Lukas: seorang murid tidak bisa mengharapkan nasib lain selain mengikuti Tuhan seraya memikul salib. Ayat 33 juga dapat dimengerti sebagai tuntutan yang tidak dapat main-main dalam hal mengikuti Yesus. Bagaimana kongkretnya sekarang dan di sini? Tentu tidak berarti kita harus membenci orang tua, sanak saudara kita. Melainkan menempatkan Yesus di atas segala-galanya. Jika terjadi konflik nilai, kita harus berani memilih Yesus dan bukan yang lain. Semoga kita mampu menjadi murid Yesus yang sejati dan rela mengorbankan apa saja demi iman akan Tuhan Yesus.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM,GESER INSTITUTE FF-UNPAR
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.9:13-18; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm.9b-10,12-17; Luk.14:25-33.
Hari ini Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari ini secara khusus diadakan agar umat Katolik di Indonesia ini semakin secara intensif mencintai dan mengakrabi kitab suci dan akhirnya bisa hidup dari dan berdasarkan Kitab Suci itu. Injil hari ini membentangkan kepada kita mengenai syarat mengikuti Yesus. Syaratnya ialah “harus mau dan mampu melepaskan segala sesuatu.” Jelas ini syarat yang tidak ringan. Lalu bagaimana? Ya, mengikuti Yesus adalah sebuah keputusan yang amat besar. Bukan keputusan asal-asalan. Karena itu harus dipikirkan matang-matang. Mungkin kita dewasa ini tidak bisa lagi merasakan hal itu: karena kita menjadi murid atau pengikut Yesus secara massal, bukan keputusan personal. Apalagi dengan proses yang relatif mudah dan tidak berbelit-belit. Dulu pada masa gereja purba, ketika menjadi Kristen itu sulit dan bahkan ada risiko kemartiran dan kematian, keputusan menjadi pengikut Yesus adalah perkara hidup dan mati. Hal inilah yang coba dijelaskan Yesus dengan memakai dua ibarat (pertama, ay.28-30; kedua, ay.31-32). Dalam kedua ibarat ini, tampak bahwa pekerjaan yang akan dikerjakan itu berat dan tidak bisa dilakukan setengah-setengah, melainkan harus dipikirkan matang-matang. Dalam konteks inilah kita harus membaca ayat 27 dan 33. Ayat 27 adalah idealisme kemuridan ala Lukas: seorang murid tidak bisa mengharapkan nasib lain selain mengikuti Tuhan seraya memikul salib. Ayat 33 juga dapat dimengerti sebagai tuntutan yang tidak dapat main-main dalam hal mengikuti Yesus. Bagaimana kongkretnya sekarang dan di sini? Tentu tidak berarti kita harus membenci orang tua, sanak saudara kita. Melainkan menempatkan Yesus di atas segala-galanya. Jika terjadi konflik nilai, kita harus berani memilih Yesus dan bukan yang lain. Semoga kita mampu menjadi murid Yesus yang sejati dan rela mengorbankan apa saja demi iman akan Tuhan Yesus.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM,GESER INSTITUTE FF-UNPAR
Langganan:
Postingan (Atom)
