Kamis, 11 Desember 2008

MINGGU, 25 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

Bac.Yun.3:1-5.10; 1Kor.7:29-31; Mrk.1:14-20. Ada dua adegan yang dilukiskan dalam Injil. Yang pertama ialah penegasan mukadimah warta Yesus tentang Kerajaan Allah. Kedua, pemilihan murid-murid dan penugasan mereka. Mereka yang tadinya adalah penjala ikan, sekarang dipanggil dan ditugaskan menjadi penjala manusia. Jadi, panggilan dan penugasan baru itu mengubah eksistensi mereka walau tetap memakai metafor yang sama (menjala ikan). Bac.I terkait dengan injil dalam tema dan seruan (tuntutan) tobat yang diwartakan Yunus kepada orang-orang di Niniwe. Yesus dan Yunus sama-sama mewartakan tentang datangnya kerajaan dan pemerintahan Allah yang mengandung pengadilan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Datangnya pengadilan itu menuntut pertobatan. Tidak bisa tidak. Maka di hadapan itu, orang harus segera mengambil sikap: entah bertobat atau malah menolak. Sebagaimana kita baca dalam Bac.I bahwa sikap yang ditampakkan sebagai reaksi mereka (orang Niniwe) ialah tobat dan menjadi rendah hati; dan ternyata hal itu berkenan kepada Allah. Maka Allah mengurungkan niatNya menghukum kota itu. Bac.II sesungguhnya membentangkan cara hidup dalam penantian akan datangnya kerajaan itu. Dengan bahasa yang sulit, Paulus melukiskan kenyataan bahwa semua nilai harus dibalikkan, sebab itulah tantangan dari kehadiran kerajaan Allah. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. Itulah alasan yang diberikan Paulus. Akhirnya, hari Minggu ini menjadi hari istimewa karena ada dua hal ini: hari ini adalah hari raya pertobatan Paulus, yang dirayakan oleh banyak orang. Hari ini juga penting karena hari ini adalah hari penutupan pekan Doa Sedunia untuk Ekumenisme: Ut omnes unum sint, sicut Tu Pater in me, et ego in Te.


Tidak ada komentar: