Rabu, 14 Januari 2009

KAMIS, 15 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.3:7-14; Mrk.1:40-45.

Seperti kemarin, injil hari ini juga mengisahkan rangkaian mukjizat penyembuhan yang dikerjakan Yesus dalam karyaNya. Tetapi hari ini yang disembuhkan ialah orang kusta. Orang ini sangat mengharapkan kesembuhan. Maka ia memohon hal itu dengan sangat kepada Yesus. Saya membayangkan bahwa betapa situasi orang itu menyedihkan. Itulah sebabnya hati Yesus menjadi perih, perih-hatin, misericordia, hati yang ikut merasakan kepedihan dan kemalangan. Ini salah satu poin yang bisa dipelajari dari Yesus hari ini: kita harus memiliki hati yang peka, yang bisa merasakan sakit sesama. Tetapi, lagi-lagi seperti kemarin, kita baca hari ini, ternyata perbuatan yang kita lakukan mempunyai efek proklamatoris. Perbuatan-perbuatan kita mewartakan atau menyampaikan sesuatu tentang diri kita. Sama seperti kemarin, Yesus tidak mau dininabobokan oleh popularitas itu. Ia tetap rendah hati, pergi mencari sunyi untuk menyepi dan masuk dalam relasi dengan yang ilahi. Kiranya itulah dasar dan kekuatan karya layananNya. Maka mengikuti nasihat dalam Bac.I saya mau mengatakan sesuatu tentang hati kita: “Jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” Ya, kita perlu saling memberi nasihat agar “jangan ada di antara kamu yang menjadi tegas hatinya karena tipu daya dosa.” Mari kita belajar agar hati kita tidak membatu, membeku, tidak dijangkiti “chirrosis” moral.

Tidak ada komentar: