Kamis, 12 Februari 2009

JUM'AT, 13 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kej.3:1-8; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.7:31-37.

Injil hari ini berbicara tentang penyembuhan seorang tuli dan gagap oleh Yesus. Biasanya kedua masalah itu terkait satu sama lain. Kalau orang tuli sejak kecil maka ia juga sulit bicara. Sebab ia tidak dapat belajar kata-kata lewat proses mendengarkan. Kalau orang tidak bisa berbicara maka ia juga sulit berkomunikasi. Betapa orang itu amat terisolir dari dunia di sekitar dan sesama. Pintu relasi dan komunikasi serba tertutup. Ia menjadi serba terkurung. Maka Yesus datang menyembuhkan dia dengan satu ucapan singkat: Efata. Artinya: Terbukalah. Apa yang tadinya serba tertutup, kini terbuka. Pendengaran dan kemampuan tutur adalah syarat komunikasi dan proklamasi. Itulah sebabnya ketika orang itu sudah sembuh, ia mulai berkata-kata. Kata-kata itulah yang mengandung pewartaan tentang karya-karya mukjizat Yesus. Itulah efek proklamatoris dari mukjizat Tuhan Yesus. Bac.I menampilkan sisi lain dari kemampuan mendengarkan dan bicara. Ular tampil dengan berbicara dan memanipulasi wacana itu dan dengan itu jatuhlah manusia ke dalam dosa. Peristiwa jatuh ke dalam dosa itu menjadi titik awal putusnya komunikasi firdausi antara Allah dan manusia. Tetapi Yesus datang untuk memulihkan itu semua. Dosa Adam pertama telah memutus rantai komunikasi-relasi, Adam baru yaitu Yesus, datang untuk memulihkannya. Yesus adalah penyelamat kita.


Tidak ada komentar: