Rabu, 11 Februari 2009

KAMIS, 12 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kej.2:18-25; Mzm.128:1-2.3,4-5; Mrk.7:24-30.

Injil ini berkisah tentang penyembuhan anak seorang perempuan Siro-Fenisia. Teks ini amat terkenal dalam pembacaan feminis. Mereka berkata bahwa ini adalah salah satu teks di mana pandangan Yesus berubah oleh karena dialog antara Dia dan perempuan Siro-Fenisia itu. Dia yang tadinya seakan mau membatasi (mengurung) rahmat dan mukjizat penyembuhan hanya kepada orang Israel saja, sekarang setelah berdialog dengan perempuan ini, mau menerima kenyataan bahwa rahmat dan mukjizat penyembuhan itu dapat diberikan kepada bangsa lain. Itulah yang terjadi pada hari ini: Tahun Rahmat Tuhan terjadi di rumah perempuan ini. Perempuan ini menempatkan diri dalam posisi rendah. Keberanian merendah itulah yang menyebabkan keselamatan terjadi atas anaknya. Bac.I mengisahkan penciptaan perempuan. Agak sulit melihat kaitannya. Maka saya renungkan secara terpisah. Allah menciptakan perempuan sebagai penolong sepadan bagi manusia. Ya perempuan adalah penolong sepadan. Bukan budak, bukan tuan bagi pria, melainkan penolong sepadan. Dalam martabat itulah pria menjumpai perempuan. Ia mengalaminya sebagai sama dengan dirinya: tulang dari tulangku, daging dari dagingku. Ia melihat kesamaan. Atas dasar itulah ia tertarik kepadanya. Itulah dasar perkawinan, persatuan perkawinan. Perkawinan itu dilandasi kesepadanan. Dalam relasi seperti itu tidak ada peluang pelecehan, penindasan, poligami, supremasi pria atas wanita ataupun sebaliknya. Dengan latar belakang seperti itu, Yesus sudi menyembuhkan anak perempuan dari si perempuan itu. Kebanyakan rabbi jaman Yesus tidak mau berdialog dengan perempuan, tidak mau mengambil perempuan sebagai murid (pengikut). Yesus menobrak adat itu: Yesus berdialog dengan perempuan, menjadikan mereka sebagai anggota lingkaran murid karena mereka juga adalah citra Allah yang diciptakan sepadan dengan pria.


Tidak ada komentar: