Senin, 16 Maret 2009

MINGGU, 17 MEI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE. Kis.10:25-26.34-35.44-48; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; 1Yoh.4:7-10; Yoh.15:9-17.


Injil hari ini berkisah tentang perintah saling mengasihi. Teks ini amat terkenal dan berat untuk dipahami. Kita akan diam dalam kasih Yesus kalau kita menurut perintahNya. Ini dimaksudkan agar sukacita Yesus tinggal bersama kita dan dengan itu sukacita kita pun menjadi penuh. Yesus memberi perintah baru, novum mandatum, saling mengasihi. Modelnya, kasih Yesus kepada kita. Kasih tanpa syarat. Satu arah. Kita tidak berhak menuntut imbalan bagi kasih. Pokoknya, mengasihi begitu saja. Lalu ada kalimat terkenal dalam ay.13: Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Mengharukan. Semoga kita siap dan layak menerima dan menanggapi kasih itu. Dengan dasar kasih itu, Petrus, dalam Bac.I bisa merangkul orang dari kalangan para bangsa. Ia sadar bahwa kasih Allah tidak membeda-bedakan orang. Tidak ada yang dianggap najis. Kasih itulah yang diwartakan dalam Bac.II. Bahkan Bac.II meloncat kepada pemahaman dan definisi akan Allah: bahwa Allah adalah kasih, Deus caritas est. Kalau kita mengasihi, berarti kita berasal dari Allah. Kalau tidak mengasihi, orang itu tidak mengenal Allah. Kasih itu universal, serba merangkul, dan me-rachim-i, dengan kehangatan yang menghidupkan.


Tidak ada komentar: