Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE: Kis.3:13-15.17-19; Mzm.4:2.4.7.9; 1Yoh.2:1-5a; Luk.24:35-48.
Injil ini terdiri atas dua penggal. Pertama, kisah penampakan. Kedua, kisah penugasan. Yesus menampakkan diri kepada murid secara tidak terduga dan menyampaikan Damai sejahtera kepada mereka. Mereka takut dan terkejut karena mengira melihat hantu. Untuk membuktikan bahwa Ia bukan hantu, melainkan Tuhan (Tuhan, mudah berubah/diubah jadi hantu), Yesus menunjukkan bekas lukaNya. Ternyata itu belum meyakinkan. Maka Yesus meminta makan. Karena dalam kepercayaan orang Yahudi saat itu, hantu tidak bisa makan. Dan Yesus makan sepotong ikan goreng. Sesungguhnya injil belum jelas mengatakan bahwa mereka percaya. Namun kita langsung masuk ke bagian kedua. Dimulai dengan tujuan kehadiran Yesus setelah kebangkitanNya yaitu membuat para murid semakin mengerti. Maka Yesus membuka mata dan pikiran mereka agar bisa memahami Kitab Suci menyangkut nubuat Mesias. Bahwa Mesias harus menderita tetapi bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga. Tidak hanya sampai di situ. Dalam nama Mesias itu, warta tentang tobat dan ampun diwartakan ke seluruh dunia, mulai dari Yerusalem. Di sini dan dengan ini, para murid mendapat martabat baru: menjadi saksi kebangkitan. Ini adalah jabatan yang tidak main-main: Menjadi saksi. Jabatan itu sekaligus menjadi tugas atau kewajiban. Di situlah tantangannya. Itulah yang ditegaskan dalam Bac.I. Petrus menegaskan “...tentang hal itu kami adalah saksi.” Tetapi itu terjadi sebagai jalan Allah agar nubuat Mesias terpenuhi. Maka tetap terbuka jalan shalom bagi orang yang membunuh Yesus: itulah tobat. Itulah inti Bac.I. Dalam Bac.I kita diajak hidup suci. Tetapi kalau jatuh dalam dosa, jangan sampai dosa itu mematikan, sebab kita mempunyai harapan dalam Yesus. Hanya dengan satu syarat: kita menuruti sabda-Nya. Itulah tanda nyata kita murid Yesus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar