Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE: Yer.18:18-20; Mzm.31:5-6.14.15-16; Mat.20:17-28.
Injil hari ini mengisahkan beberapa adegan penting. Pertama, mulai dengan nubuat ketiga mengenai penderitaan Yesus. Sesudah itu ada adegan permohonan seorang ibu. Yesus adalah Mesias, yaitu dia yang dimuliakan, dia yang diurapi Tuhan sendiri. Betapa agung dan mulianya martabat itu. Mungkin hal itu menarik perhatian banyak orang. Maka ibu dua murid Yesus mencoba mendekati Yesus dengan secara nepotis. Ia memohon agar kedua anaknya nanti di dalam kerajaan sang Mesias boleh duduk di sebelah kanan dan kiri. Untuk menanggapi permohonan itu, Yesus mengajukan sebuah tuntutan dan persyaratan yang amat berat: yaitu melewati lorong derita. Ternyata kedua murid itu menyatakan kesanggupan dan kerela-sediaan mereka. Yesus memuji hal itu, tetapi hak untuk menetapkan hal tersebut ada pada Bapa dan bukan pada Yesus. Sesudah sebuah pertengkaran di antara para murid, Yesus melanjutkan dengan beberapa nasihat penting. Pertama, mereka harus mengatur dan memerintah hidup bersama dengan lemah lembut dan dengan prinsip cinta kasih; jangan dengan memakai kekerasan dan sikap sewenang-wenang. Kedua, sebuah kewajiban untuk melayani sebagai jalan untuk menjadi yang terbesar. Ketiga, sebuah kewajiban untuk menjadi hamba kalau orang ingin menjadi yang pertama. Ini semua paradoksal, tetapi memang demikian adanya. Dasar dari semua ini adalah dasar Kristologis: Kristus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Itulah prinsip hidup komunitas Kristiani: berani menempuh dan menekuni lorong paradoksal dalam hidup ini. Berkurban adalah jalan dan prasyarat hidup bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar