Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE: Yeh.47:1-9.12; Mzm.46:2-3.5-6.8-9; Yoh.5:1-16.
Injil berkisah tentang mukjizat penyembuhan yang dikerjakan Yesus. Inilah mukjizat ketiga. Mukjizat ini khas Yohanes karena tidak ada dalam injil sinoptik. Konon ada kepercayaan bahwa air kolam itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit kalau kolam itu berguncang, tatkala ada kunjungan malaekat. Di tengah kisah kepercayaan akan air itu, muncul Yesus. Ternyata Yesus bisa menyembuhkan penyakit, tetapi kali ini, Ia menyembuhkan dengan firman. Ketika Tuhan berfirman maka terjadilah apa yang difirmankan. Kita teringat akan kisah penciptaan pada awal mula. Tidak mengherankan karena intervensi Yesus menyebabkan terjadinya ciptaan baru, eksistensi baru: orang sembuh. Orang yang tadinya sakit lama, kini sembuh. Itu adalah pembebasan, penyelamatan. Kita yakin bahwa Yesus bisa menyembuhkan kita dari pelbagai sakit dan derita. Tindakan ini punya efek: ternyata mukjizat itu dilakukan pada Sabat. Maka terjadi perbenturan dengan pemuka agama Yahudi. Memang di sini tidak ada kontroversi, tetapi kita dapat bertanya kritis: apa yang dilarang dilakukan pada Sabat? Berbuat baik atau berbuat jahat? Kiranya yang dilarang ialah berbuat jahat. Perintah atau larangan itu berlaku untuk semua hari dan seumur hidup. Hal itu juga berlaku sama untuk perintah berbuat baik. Jadi ada prioritas etis di atas kewajiban kultis Sabat. Kalau terjadi kebakaran pada hari Sabat, adalah dosa kalau demi istirahat suci pada hari Sabat kita tidak berusaha menolong dan memadamkan hal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar