Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Kej.32:22-32; Mzm.17:1.2-3.6-7.8b.15; Mat.9:32-38.
Injil hari ini, mengisahkan dua hal penting. Pertama, kisah penyembuhan seorang bisu. Ada anggapan bahwa orang menjadi bisu karena lidahnya diikat setan. Maka ketika setan itu diusir, sembuhlah orang tersebut. Ada dua reaksi yang muncul. Ada yang kagum dan mengatakan bahwa ini sebuah keajaiban yang tidak pernah ada sebelumnya. Tetapi ada juga yang memberi reaksi negatif (orang Farisi). Yesus mengusir setan dengan kuasa kepala setan. Satu peristiwa atau tindakan, ada beragam reaksi terhadapnya. Satu peristiwa memang dapat ditafsir dengan beragam cara. Peristiwa memang selalu bersifat multi-interpretable. Tetapi yang terpenting bagi kita ialah bahwa sudah terjadi mukjizat. Kedua, kisah Yesus menampakkan sikap belas kasih, misericordia, terhadap orang banyak yang mengikutiNya. Itu terjadi, karena Yesus melihat bahwa orang-orang itu tampak kelelahan dan seperti domba tidak bergembala. Biasanya mereka (domba) ditandai kebingungan bahkan kemurungan. Di tengah situasi seperti itu, Yesus tampil sebagai orang yang menaruh belas-kasih terhadap mereka, memberi per-hati-an kepada mereka, memberi hati kepada mereka. Ini tidak selalu mudah. Tidak mudah memberi hati kepada orang lain. Tetapi Yesus memperlihatkan contoh teladan agung dalam hal memberi hati, membuka hati, karena hatiNya ikut merasa perih, prihatin dengan keadaan mereka. Kiranya inilah salah satu dasar biblis dari praksis devosi kita akan Hati Yesus Yang Mahakudus, Sanctissima Cordis Iesu Christi. Memang dalam hati Yesus ada keluasan yang penuh kerahiman.
Rabu, 15 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar