Rabu, 12 Agustus 2009

MINGGU, 20 SEPTEMBER 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M.
BcE. Keb.2:12.17-20; Mzm.54:3-4.5.6.8; Yak.3:16-4:3; Mrk.9:30-37.



Injil hari ini membicarakan dua pokok. Pertama, pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus. Kedua, diskusi tentang siapa yang terbesar di antara murid. Menarik bahwa urutan kisah injil adalah seperti itu: mulai dengan nubuat derita, disusul pertengkaran para murid mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Menarik karena Yesus terarah kepada penderitaanNya, sedangkan murid sibuk membahas tentang siapa yang terbesar. Obsesi “kebesaran” (megalomania) memang selalu mengganggu banyak orang di dunia ini. Ingin selalu menjadi terdepan, menjadi teratas, menjadi unggulan, menjadi orang nomor satu. Simak saja iklan di televisi kita: kami teratas karena kwalitas. Di hadapan obsesi kebesaran itu Yesus memberi dua kriteria sederhana. Pertama, jika ada orang ingin menjadi yang terbesar, ia harus menjadi yang terkecil. Siapa yang ingin menjadi yang pertama, ia harus menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan. Kedua, Ia mengambil seorang anak. Anak itu dijadikan model unggul dalam kerajaan surga. Polos, spontan, serba natural, be natural as a child. Dengan kata lain menjadi rendah hati. Hanya itu syaratnya. Bc.II berbicara tentang hawa nafsu yang menjadi awal pertengkaran dan sengketa. Obsesi kebesaran juga berawal dari nafsu itu. Nafsu itu mendatangkan iri hati dan di mana ada iri hati dan sikap mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Hari ini kita diajak untuk menghindarkan diri dari itu semua. Jika kita tidak bisa menghindarkan diri dari itu semua, berarti kita menjadi orang fasik yang merancangkan dan mendatangkan kejahatan dan bencana bagi orang baik (Bac.I).

Tidak ada komentar: