Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. Bil.11:25-29; Mzm.19:8.10.12-13.14; Yak.5:1-6; Mrk.9:38-43.47-48.
Injil hari ini mengisahkan beberapa hal menarik. Pertama, tentang orang yang mengusir Setan walau ia bukan pengikut Yesus. Para murid mencegahnya. Menarik apa yang menjadi sikap Yesus: Siapa yang tidak melawan kita, ia di pihak kita. Mungkin perlu mengembangkan sikap ini dalam hidup masyarakat, terutama yang ditandai ragu dan curiga dalam bersosialisasi dan berinteraksi di masyarakat. Sebab di sana, memang ada yang tidak suka pada kita, tetapi ada banyak yang menyukai dan mendukung kita. Kedua, mengenai penyebab dosa. Anak adalah manusia polos dan spontan. Tetapi ada orang yang memanfaatkan dan memanipulasi kepolosan itu. Kita harus sadar akan hal itu, karena kita meratifikasi undang-undang perlindungan anak. Tentang orang seperti itu, Yesus berkata: lebih baik ia ditenggelamkan agar mati. Masih ada dosa lain, yaitu terhadap diri sendiri. Kalau dosa muncul karena salah satu inderamu, sebaiknya indera itu dipotong, sebab lebih baik masuk surga dengan cacat dari pada masuk neraka dengan badan lengkap. Ini moralitas berat. Tentu tidak usah dipahami secara radikal dan harfiah. Yang dimaksud ialah, kita harus melatih organ tubuh agar tidak menjadi sumber dan gerbang dosa. Melatih itu dalam bahasa Yunani ialah askewo, asal-usul kata askese, asketik. Kita harus berlatih terus. Bac.II melukiskan jenis dosa lain, yaitu dosa sosial, dosa dalam relasi dengan sesama seperti penindasan dan ketidak-adilan. Ada yang menjadi kaya karena perilaku seperti ini. Ada yang menderita karenanya. Yakobus mengecam hal itu. Bac.I menyambung dengan Injil: sebagaimana dalam injil murid membatasi orang berbuat baik dalam nama Yesus, demikian juga dalam Bac.I, ada yang mengusulkan untuk membatasi karya Roh. Ini tidak sepatutnya. Kita harus bersukacita karena hal itu.
Rabu, 12 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar