Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Zef.3:14-18a; Flp.4:4-7; Luk.3:10-18.
Hari ini Pekan Adven III. Kita semakin mendekati Natal. Minggu lalu kita menyampaikan bahwa Yohanes menuntut tobat dan baptis. Minggu ini kita mendengar bagaimaPertna reaksi pendengar terhadap kotbah itu. Ada tiga kelompok pendengar. Pertama, orang banyak. Terhadap mereka Yohanes menuntut perbuatan moral-sosial umum seperti memberi makan kepada orang lapar. Kedua, pemungut cukai. Terhadap mereka Yohanes memberi nasihat agar tidak menagih lebih banyak dari yang ditentukan. Ini penting di tengah praksis “mark up” yang menindas orang banyak. Ketiga, militer (tentara). Terhadap mereka Yohanes menjawab: jangan merampas, jangan memeras. Rupanya ini adalah kebiasaan yang melekat dalam diri tentara dari dulu sampai sekarang. Maka perlu diberi peringatan moral. Yang terpenting ialah nasihat ini: cukupkanlah dirimu dengan gajimu. Orang yang tidak puas dengan gajinya, tergoda untuk korupsi, pungli (pungutan liar), atau mengerahkan “susu tante,” alias sumbangan sukarela tanpa tekanan. Ini pasti berbahaya, baik dalam artian harfiah maupun alegoris. Bac.I menyerukan agar Israel bersukacita dalam Tuhan karena tindakan Tuhan, yang dua di antaranya disebut khusus di sini. Pertama, Tuhan menyingkirkan hukuman atas Israel. Kedua, Tuhan bersedia berdiam di antara umatNya. Itulah Imanuel yang sebentar lagi kita rayakan. Di antara kita Tuhan menjadi pahlawan. Di tengah kita Tuhan membaharui kita dalam kasihNya. Luar biasa. Ajakan bersukacita ini diulang kembali oleh Paulus dalam Bac.II: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Kalau kita bersukacita dalam Tuhan maka tidak ada alasan lagi untuk takut dan kuatir. Semoga itu sungguh menjadi kenyataan dalam hidup kita setiap hari.
Minggu, 18 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar