Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Rom.4:20-25; MT.Luk.1:69-70.71-72.73-75; Luk.12:13-21.
Hari ini ada Peringatan fakultas Paulus dari Salib. Ada juga Santo Petrus dari Alcantara, Yohanes de Brebeuf dan Issac Jogues. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita masing-masing. Injil hari ini berbicara tentang orang kaya yang bodoh. Kita tahu bahwa harta tidak selalu membawa kebaikan bagi hidup kita. Ternyata harta kekayaan bisa menimbulkan pertikaian dan perbantahan. Karena itu Yesus memberi nasihat agar waspada terhadap ketamakan yang mau menumpuk harta kekayaan. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya hidup tidak tergantung pada harta itu. Itulah yang menjadi inti ajaran Yesus. Ia memberi sebuah ilustrasi yang sederhana dan mengena. Ada orang yang berusaha menjadi kaya, dan setelah menjadi kaya, ia malah mati. Ia tidak dapat menikmati lagi kekayaannya. Ia tidak dapat membawa harta kekayaannya juga ke alam kuburan. Begitulah nasib manusia. Lalu apa yang terpenting dalam hidup ini? Yaitu menjadi kaya di hadapan Allah. Kongkretnya? Yakni sikap adil dan penuh cinta kasih, jujur dan mau memberi amal dan sedekah. Tidak jarang orang bisa mengumpulkan harta karena mengabaikan keadilan dan cinta kasih, mengabaikan kejujuran dan tindakan amal dan sedekah. Memang tanpa ini semua, kita amat miskin di hadapan allah. Hidup yang paling baik ialah hidup dari hari ke hari, mengharapkan roti setiap hari (daily bread) dari Bapa di Surga. Kalau orang hidup dari hari ke hari, maka ia akan mengandalkan Allah, mengandalkan penyelenggaraan ilahi dan bukan kemampuannya sendiri saja. Semoga kita dapat sampai ke kesadaran hidup seperti itu dalam menghadapi harta dan kekayaan.
Senin, 19 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar