Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)FF-UNPAR Bandung.
(Pagi)
BcE.2Sam.7:1-5.8b-12.16; Mzm.89:2-3.4-5.27.29; Luk.1:67-79.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita Kidung Zakharia yang terkenal dan sangat indah itu. Menurut kisah dalam Injil ini, konon Zakharia mengucapkan kidung ini setelah peristiwa kelahiran Yohanes, anaknya. Kidung ini dipakai dalam tradisi doa Gereja Katolik, untuk ibadat Pagi (Laudes). Secara teknis dikenal dengan istilah Benedictus, karena dalam teks Latin, itulah kata pertama yang dipakai di awal lagu tersebut. Setelah sekian lama membisu, akhirnya Zakharia bisa berbicara lagi sesaat setelah anaknya lahir, setelah janji Allah melalui malaekatnya terbukti atau terlaksana. Zakharia terkagum-kagum di hadapan karya ajaib Allah. Dan sekarang kekaguman itu terluapkan dalam kata-kata atau lagu pujian. Ya, lagu itu adalah sebuah lagu pujian: itu tampak dari baris paling pertama, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel.” Sesudah itu diberikan rangkaian alasan bagi pujian itu. Alasan itu ditemukan terutama dalam tindakan atau perbuatan Allah dalam sejarah bagi umatNya. Lagu ini juga menjelaskan mengenai peranan Yohanes Pembaptis dalam bentangan dan rentangan sejarah keselamatan. Ia harus berjalan mendahului Tuhan. Dan hal itu terjadi untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan shalom Allah. Ia sendiri akan menjadi tanda paling gemilang shalom Allah, yang akan bersinar laksana Surya pagi dari tempat yang tinggi. Datangnya sinar pagi itu akan menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Itu semua akan terarah kepada lorong jalan damai sejahtera. Malam ini, damai sejahtera Allah itu akan kita terima, kita alami dalam peristiwa kelahiran agung Tuhan Kita Yesus Kristus. Semoga kita sudah siap menyongsongnya.
Senin, 04 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar