OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG
(CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
BcE. Sir.3:17-18,20,28-29; Mzm.68:4-5ac,6-7ab,10-11; Ibr.12: 18-19,22-24a; Luk.14:1,7-14.
Injil menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, mengenai etiket ketika memenuhi undangan. Kebanyakan orang berjuang mencari tempat terdepan. Tetapi Yesus mengatakan, carilah tempat biasa. Siapa tahu tuan rumah datang mengundangmu ke tempat terhormat. Daripada sebaliknya: kita sendiri yang menempatkan diri di tempat terhormat, padahal tuan rumah menyiapkan tempat itu untuk orang lain. Betapa hal itu memalukan. Bagian ini diakhiri dengan petuah etis yang menarik: siapa yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Kedua, mengenai siapa yang harus diundang ke perjamuan. Secara alamiah kita mengundang orang yang mungkin suatu saat bisa mengundang kita sebagai balasan. Terhadap hal itu Yesus mengatakan bahwa seharusnya kita mengundang orang yang tidak punya kemungkinan membalas kebaikan kita. Itulah substansi perbuatan baik: tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan atau imbalan. Perbuatan seperti itu akan diberi pahala pada hari kebangkitan kelak. Nasihat ini diteguhkan dalam Bac.I, mengenai kerendahan hati. Kerendahan hati itu didapat dengan merenungkan amsal. Itu bisa terjadi jika kita datang ke kota Allah yang hidup, ke Bukit Sion (Bac.II). Di sana Tuhan sendiri mengajar kita tentang makna kehidupan.
SIS BM
GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
Jumat, 16 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar