Sabtu, 18 September 2010

MINGGU, 07 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. 2Mak.7:1-2,9-14; Mzm.17:1,5-6,8b,15; 2Tes.2:16 3:5; Luk.20:27-38
.


Injil hari ini terkenal, setidaknya di kalangan teolog yang bicara mengenai kebangkitan. Di sini Yesus dilukiskan diuji orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, kebangkitan itu nonsens. Untuk itu mereka mengangkat kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuah pria kakak beradik (sistem perkawinan levirat). Pertanyaannya ialah: siapa suami perempuan itu dalam hari kebangkitan? Yesus menjawab hal itu dengan dua jawaban teologis: pertama, dalam kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaekat. Kedua, argumentasi atas dasar wahyu Perjanjian Lama bahwa Allah adalah Allah yang hidup bagi orang yang hidup. Sebab dalam Perjanjian Lama ada ucapan: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah adalah Allah bagi orang hidup. Jadi jika ketiga orang itu mempunyai Allah juga sesudah mereka mati, itu berarti Allah adalah Allah bagi orang hidup. Bac.I mengisahkan tentang tujuh martir Yahudi, yang mengorbankan nyawa demi iman dan kepercayaan akan hidup yang akan datang, dalam bentangan lautan kasih kerahiman Allah. Ya, ada kebangkitan dan hidup kekal itu, seperti yang kita ucapkan dengan lantang setiap Minggu dalam Credo. Semoga kita sadar akan hal itu. Dari Bac.II saya hanya mau mengangkat satu kalimat terkenal: Tuhan adalah setia. Kiranya kepercayaan kita akan kebangkitan dan hidup kekal, dilandaskan pada kepercayaan bahwa Tuhan setia. Sekali Ia menjalin relasi dengan kita, relasi itu tidak akan terputus, juga oleh maut sekalipun. Semoga kita percaya akan hal itu, bukan sebagai filsafat teoretis belaka, melainkan sebuah kebenaran hidup iman yang nyata.


BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA

Tidak ada komentar: