Sabtu, 18 September 2010

MINGGU, 14 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Mal.4:1-2a; Mzm.98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes.3:7-12; Luk.21:5-19.



Injil hari ini membentangkan ke hadapan kita dua hal. Pertama, mengenai nubuat kehancuran Bait Allah. Bait Allah itu megah, banyak dipuji dan dikunjungi orang. Akan tiba saatnya ia hancur. Itu perkataan Yesus mengenai Bait. Kedua, mengenai awal derita. Ketika para murid bertanya mengenai kapan drama tragis itu terjadi, Yesus memberi beberapa tanda, dan mengingatkan murid agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Yang lebih penting ialah ketika semuanya itu terjadi ada suatu kekacauan besar, dan para murid akan diseret ke derita. Ada yang diseret ke pengadilan. Dalam konteks ini muncul kata-kata penghiburan yang terkenal: kita tidak usah menyiapkan diri mengenai bagaimana kata-kata pembelaan kita. Mengapa? Karena semuanya akan diilhamkan Roh Kudus kepada kita secara langsung tepat pada waktunya. Ajaib. Bac.I mengisahkan kepada kita mengenai kedatangan hari Tuhan, dies domini. Hari itu akan ada penghakiman dahsyat dan ngeri: Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Sebuah kata-kata penghiburan indah. Hidup dalam penantian akan hari Tuhan, mengandung bahaya tertentu secara sosial. Ada orang yang berkesimpulan bahwa jika kita sudah menyongsong hari Tuhan, maka kita tidak usah kerja lagi. Terhadap hal itu Paulus berkata tegas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kepercayaan dan harapan akan hari Tuhan dan hidup abadi, tidak membebaskan orang dari kewajiban sosial-fundamental hidup ini: yaitu bekerja. Sebab perintah Kerja juga adalah dari Allah sendiri. Semoga kita mengerti akan hal ini.

BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

Tidak ada komentar: