Sabtu, 18 September 2010

MINGGU, 17 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN DAN PENELITI FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D., STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Kel.17:8-13; Mzm.121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim.3:14 4:2; Luk.18:1-8.


Inti injil hari ini ialah nasihat untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu, nasihat untuk berdoa terus menerus, berdoa tanpa henti, oratio continua, continual prayer. Sebab hidup adalah berdoa. Doa merupakan struktur dasar eksistensi kita. Berdoa dengan tidak bosan-bosan, walau kita seperti sedang berhadapan dengan tembok dingin dan beku. Allah tampak membisu, diam seribu bahasa. Untuk menjelaskan hal itu Yesus mengemukakan perumpamaan ini. Ada seorang janda yang selalu datang ke hakim meminta agar hakim mengurus perkaranya. Hakim itu orang apatis, tidak peduli siapa dan apa pun. Tetapi karena janda itu terus menerus datang, akhirnya ia mengabulkan permohonan janda itu. Jika hakim itu tahu membenarkan orang yang memohon kepadanya, betapa Allah pasti jauh lebih tahu membenarkan orang pilihannya yang berdoa terus menerus kepadanya. Doa terus menerus yang tampak dalam sikap badan itulah yang ditegaskan dalam Bac.I. Dikisahkan bahwa ketika tangan Musa terangkat, orang Israel bisa mengalahkan orang Amalek. Demikian sebaliknya. Bac.II mengisahkan tentang arti penting mengenalkan kitab suci sejak dini kepada anak (tema BKSN 2010). Jika kita sudah mengenal Kitab Suci sejak dini, kiranya kita sudah tahu kewajiban yang dilukiskan tadi. Tinggal kita melihat diri sendiri: apakah kita sudah menjadi orang yang tekun berdoa atau tidak? Ataukah kita hanya pendoa musiman belaka? Hanya anda sendiri yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan ini.

Bandung, 18 September 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

Tidak ada komentar: