OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
ENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG.
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Sir.35:12-14,16-18; Mzm.34:2-3,17-18,19,23; 2Tim.4:6-8,16-18; Luk.18:9-14.
Hari ini Minggu Evangelisasi. Hari Penginjilan. Mari kita terima ajakan gereja untuk menghayati hidup injili dengan baik, dan dengan itu kita menginjili dunia lewat evangelisasi pribadi. Sebab evangelisasi keluar, ke dunia, hanya mungkin melalui evangelisasi ke dalam diri, evangelisasi pribadi. Injil berkisah tentang dua model orang berdoa. Cara pertama, orang Farisi: ia meninggikan diri, menyombongkan diri, dengan merendahkan orang lain. Ia menyombongkan mutu hidup rohaninya. Cara kedua, pemungut cukai: ia tahu menempatkan diri di hadapan Allah. Ia menyadari diri sebagai pendosa, maka dengan rendah hati ia mohon ampun. Ternyata doa orang kedua inilah yang berkenan di hadapan Allah. Ya, salah satu syarat berdoa ialah kemampuan bersikap rendah hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat berdoa, atau kita tidak dapat berdoa dengan cara yang baik dan benar. Kebenaran itulah yang diungkapkan dengan tepat dalam Bac.I: Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan. Contoh evangelisasi dua arah yang disinggung dalam bagian awal tadi, tampak dalam penghayatan hidup Paulus (Bac.II). Tinggal, bagaimana kita mau melihat diri sendiri: Sudahkah kita melakukan tugas evangelisasi itu? Bagaimana sikap doa kita? Seperti orang Farisikah? Atau seperti si pemungut cukai? Hanya anda yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan reflektif ini.
Bandung, 18 Septmber 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
Sabtu, 18 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar