Selasa, 16 Agustus 2011

Prefasi Tanah Airku I dan II
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian, Dosen Teologi pada FF-UNPAR Bdg. PhD Student at ICRS-Yogya

Salah satu ciri khas Tata Perayaan Ekaristi berbahasa Indonesia ialah, bahwa di sana tersedia dua Prefasi untuk Tanah Air (Buku TPE, hal.104-106). Ciri khas itu tampak jika kita melihat sejenak TPE berbahasa Inggris, maupun buku ulasan teologis prefasi yang standar dan terkenal dari Cutberth Johnson itu. Karena “Prefasi Tanah Airku” ini khas Indonesia, maka perlu dicermati baik-baik, entah itu menyangkut strukturnya maupun juga menyangkut isinya. Saya mulai dengan mencermati struktur dan isi Prefasi yang pertama.

Sebagaimana biasa dalam setiap Prefasi, pasti ada dialog pembuka yang sangat lazim dan kita hafal dengan sangat baik itu. Lalu disusul dengan protokol yang lazim, yaitu ungkapan keyakinan dasar kita bahwa kita ini senantiasa memuji dan mengucap syukur kepada Allah Bapa melalui pengantaraan Tuhan kita Yesus Kristus.

Lalu dalam bagian doktrina teologis diberikan paling tidak tiga alasan mengapa kita memuji dan memuliakan Allah Bapa. Pertama, kita mengungkapkan keyakinan dasar iman kita bahwa Allah Bapa-lah yang memungkinkan kita dapat hidup dan berdiam di negeri indah permai yang bernama Indonesia ini, berdiam di bumi nusantara yang teramat kaya ini. Yang teramat menarik bagi saya ialah pelukisan tentang negeri ini yang amat indah, yang kalau dibaca dengan baik akan terasa seperti pelukisan mengenai sebuah tanah terjanji saja (sebuah konsep alkitabiah), walau mungkin dengan metafor-metafor dan kosa-kata yang berlainan (sebab di sini tidak ada ungkapan “berlimpah susu dan madu” seperti yang ada dalam kitab Yosua itu ketika pengarang mencoba melukiskan Tanah Terjanji, Kanaan): “...di tengah pulau-pulau dan lautan biru, di antara gunung-gunung dan dataran subur, di negeri yang kaya akan sumber-sumber alam.” (p.104). Sekali lagi, kita yakin bahwa berkat penyelenggaraan ilahilah, kita dapat dan boleh tinggal di negeri “melati pujaan bangsa” ini, mengutip ungkapan metaforis dari Ismail Marzuki dalam lagunya yang terkenal itu: Rayuan pulau kelapa.

Kedua, kita juga mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologis kita bahwa proses terbentuknya negara ini pun adalah sebentuk campur-tangan dan penyelenggaraan kasih setia ilahi bahkan hampir-hampir merupakan sebuah mukjizat juga. Kita yakin bahwa Allah Bapa-lah yang membimbing bangsa ini menjadi satu bangsa yang merdeka dan bertanggung-jawab (p.104). Pembentukan satu realitas politik negara itu tentu saja mempunyai tujuan tertentu yang teramat luhur; dengan terbentuknya kita sebagai satu bangsa atau lebih tepat satu negara, maka kita dapat mengolah bumi ini dengan baik dan secara bertanggung-jawab, seperti yang dikehendaki oleh sang Pencipta itu sendiri (bdk.Kej.1:26-28). Bahkan ada dimensi dan kesadaran ekologis juga di dalam Prefasi ini, ketika dikatakan bahwa kita dipanggil menjadi satu bangsa untuk “...mengelola alam tanpa merusak lingkungan, memanfaatkan laut yang kaya.” Kita juga dipanggil untuk membangun negeri ini demi menuju masa depan yang lebih baik, “...menyiapkan hari depan yang lebih adil dan makmur, aman dan sentosa.”

Ketiga, dan ini yang khas umat Kristiani di Indonesia, yang menurut idealisme sosio-politis Soegiyopranoto, 100% Katolik dan 100% Indonesia, kita juga mengucap syukur kepada Allah Bapa yang telah menyelenggarakan hidup iman bagi kita di negeri ini. Ini juga amat penting kita sadari dan kita tekankan. Kita yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah menanamkan iman dan cinta Kristiani ke dalam hati kita di bumi Indonesia ini. Kiranya di sini sejenak kita terpikir akan semua para misionaris yang telah bekerja keras dan sungguh-sungguh atas dasar landasan kasih menebarkan benih sabda kehidupan di negeri ini, sehingga di negeri ini iman Kristiani ada dan muncul dan terutama juga hidup, walaupun dalam kondisi sebagai minoritas.

Atas dasar kesadaran itu semua, kita pun terdorong untuk memuji dan memuliakan Allah bersama seluruh isi surga, dalam lagu pujian merdu para malaekat di surga: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaanmu, terpujilah Engkau di surga, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, terpujilah Engkau di surga. Dengan ini berakhirlah sudah ulasan atas Prefasi Tanah Air yang pertama.

Prefasi yang kedua menjadi sangat menarik karena dalam alasan doktrinalnya dibuat satu paralelisme antara tindakan Allah yang dahulu telah membebaskan umat pilihan (yaitu bangsa Israel) dari penindasan dan penjajahan di Mesir, untuk dapat mulai hidup sebagai orang-orang yang bebas dan merdeka di Tanah Terjanji (hal.106). Kita juga yakin dan berpandangan bahwa Allah yang memberikan cinta dan perhatian yang sama kepada bangsa kita; Allah mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa ini.

Selanjutnya dengan singkat dan padat sekali disinggung mengenai proses terjadinya bangsa ini. Kiranya yang terpikirkan di sana ialah tentang para founding fathers kita dulu yang diyakini sebagai para bonae voluntatis, yaitu orang-orang yang berkehendak baik, yang karena berkehendak baik itulah, mereka mampu membangun negeri ini sebagai satu bangsa, juga atas perkenanan dan penyelenggaraan Allah juga.
Selanjutnya secara singkat juga disinggung mengenai upaya penegakan kemerdekaan. Tentu setelah merdeka, ada upaya untuk membela terus persatuan dan kebebasan. Itu semua amat penting untuk penegakan keadilan (promotio iustitiae) dan perwujudan perdamaian (pax). Kita yakin bahwa Allah membimbing kita untuk “membangun masyarakat yang sejahtera berdasarkan iman dan pengabdian kepada-Mu.”

Akhirnya, hal itu semua menjadi alasan bagi kita untuk bersukacita dan dalam sukacita itu kita turut serta dalam paduan suara merdu dan meriah para malaekat di surga yang senantiasa memuji dan memuliakan Allah dari kekal hingga kekal: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu, Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.

Bandung, 07 Agustus 2010 (diketik kembali sambil diperluas, 21 Agustus 2010 di Pelemburan, Yogyakarta) Oleh: Fransiskus Borgias M.

Minggu, 14 Agustus 2011

PREFASI SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian

Tanggal 15 Agustus juga merupakan salah satu tanggal yang sangat istimewa dalam lingkaran tahun liturgis gereja Katolik, karena pada tanggal itu ada Hari Raya SP Maria Diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Pesta ini didasarkan pada sebuah ketetapan dogmatis gereja pada abad keduapuluh, sesudah perang dunia II terjadi dan mencabik-cabik Eropa khususnya dan dunia pada umumnya. Dogma itu sendiri dilandaskan pada satu keyakinan tradisional gereja yang sudah sangat tua usianya. Bahkan dalam konteks Gereja Yunani Ortodoks, keyakinan ini sudah lama menjadi keyakinan iman dogmatis yang sangat lama dihayati dengan penuh iman, kasih, dan pengharapan. Kita tidak akan bisa menemukan dasar keyakinan ini secara biblis sebab keyakinan itu muncul dalam sejarah dan tradisi gereja yang juga kita yakini diilhami dan dituntun (dibimbing) oleh Roh Kudus sendiri.

Prefasi yang kita dengar pada perayaan ekaristi hari ini juga sangat indah dan mendalam. Seperti biasa ia dimulai dengan menyapa Bapa, Allah yang mahakuasa dan kekal. Jelas itu adalah sebuah ungkapan keyakinan iman yang seperti terkandung dalam Credo kita yang kita ucapkan setiap hari Minggu dan hari raya lainnya: Credo in unum Deum, Pater omnipotentem...ect. Atas dasar keyakinan itu kita pun menyatakan atau mengungkapkan pengakuan kita akan kesadaran bahwa kita selalu dan di mana-mana memuji dan memuliakan Allah Bapa. Hal itu kita lakukan dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kita. Memang doa pujian dan permohonan kita kepada Bapa selalu bercorak Kristologis (Kristosentris).

Selanjutnya kepada kita diberikan dan diuraikan alasan bagi pujian itu. Tentu di samping pujian itu adalah kewajiban fundamental dan eksistensial dari kita sebagai manusia beriman (makhluk ciptaan), pada hari ini ada sebuah alasan khusus, yaitu karena SP Maria Bunda Allah diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Begitulah ketetapan dalam rumusan dogmanya. Peristiwa pengangkatan itu mempunyai dua tujuan penting. Pertama, pengangkatan itu dimaksudkan untuk menjadi awal atau permulaan dan pola dari Gereja dalam kesempurnaannya. Memang Maria adalah typos gereja (sebuah istilah klasik dari teologi Mariologi para Bapa Gereja) dalam hal iman dan kesempurnaan hidup yang sepenuhnya terarah kepada Allah semata-mata dengan mengikuti model iman Maria sendiri: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Ecce serva Dei, fiat mihi secundum verbum tuum.

Kedua, pengangkatan itu juga menjadi satu tanda pengharapan dan penghiburan bagi umat Allah dalam perjalanan ziarah mereka menuju ke surga. Gereja, dalam dan melalui Prefasi ini, memperlihatkan dan menegaskan keyakinan imannya bahwa Allah tidak sudi kehancuran karena maut menyentuh tubuhnya (Maria), karena tubuh itu adalah tubuh yang sangat mulia, karena tubuh itu sudah mengandung dan melahirkan sang Penebus, PuteraMu, Tuhan dan Penguasa segala sesuatu yang hidup. Dan hal itu terjadi di dalam kemuliaan peristiwa inkarnasi, sabda menjelma menjadi daging, sabda menjelma menjadi manusia, verbum caro factum est, dan membangun kemahnya di antara kita. Tradisi gereja yang kudus meyakini bahwa Maria tidak mati. Itu sebabnya dalam Kitab Suci tidak ada kisah tentang peristiwa wafat Santa Perawan Maria. Juga dalam tradisi suci selanjutnya, tidak ada kisah seperti itu. Jadi, keyakinan devosional marial itu sudah sangat tua usianya; boleh jadi sudah setua teks-teks Kitab Suci Perjanjian Baru itu sendiri. Jejak keyakinan itu antara lain dapat kita lihat jejaknya secara samar-samar dalam injil-injil, terutama dalam injil Lukas.

Keyakinan itu akhirnya mampu mendatangkan sukacita hidup yang besar bagi kita yang menghayatinya sekarang dan di sini; kita pun dalam sukacita kita, memadahkan kidung pujian kita untuk memuji dan memuliakan Allah, bersama dengan paduan suara para malaekat di surga. Dan kita pun bernyanyi dengan mengikuti seruan para malaekat di surga dalam liturgi abadi mereka: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, Surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Terpujilah Engkau di surga.” Sesudah itu, dalam lanjutan perayaan ekaristi, kita hanyut dalam sujud yang khusyuk ketika peristiwa konsekrasi. Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.


Bandung, 06 Agustus 2010 (pagi hari).
Diketik sambil dikembangkan dan diperluas, 06 Agustus 2010 (malam hari)

Rabu, 03 Agustus 2011

LUKISAN TANPA WAJAH

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Kemarin, tanggal 06 Juli 2011, saya secara kebetulan mengunjungi Wall Face Book dari seorang teman saya ketika sedang studi teologi di negeri Belanda beberapa tahun silam; ia adalah seorang pastor dari Filipina, teman mahasiswa dulu waktu studi teologi di Fakultas Teologi Universitas Katolik Nijmegen Belanda. Nama pastor itu Dave Capucao. Beberapa tahun silam ia sudah mampu menyelesaikan Ph.D-nya di tempat yang sama. Di dalam koleksi album foto beliaulah saya temukan sebuah gambar atau lukisan yang sangat indah dan menarik. Tetapi ini bukan untuk pertama kalinya saya melihat gambar itu. Saya sudah pernah melihatnya sebelumnya, entah sudah beberapa kali. Tetapi terus terang saja, sampai saat ini saya belum pernah melihat aslinya lukisan itu; saya hanya melihat reproduksinya saja. Kalau tidak salah lukisan itu adalah hasil buah karya dari tangan seorang pelukis Belanda yang terkenal, Rembrandt. Nah, pertanyaannya, apa daya tarik dan keunikan lukisan dari Rembrandt ini, yang mendorong saya menulis artikel ringan ini?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebelumnya saya mencoba menggambarkan apa yang dilukiskan dalam lukisan itu. Kiranya adegan yang digambarkan dalam lukisan itu adalah mengenai peristiwa unik dalam malam perjamuan akhir menurut injil Yohanes (Yoh.13:1-20). Di sana dilukiskan bahwa Tuhan Yesus memberi sebuah perintah baru (novum mandatum) kepada para murid-Nya dan hal itu mau diteladankan dengan tindakan nyata dari sang Guru sendiri, yaitu upacara pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri; ini adalah sebuah upacara standar dalam perayaan hari Kamis Putih setiap tahun dalam Gereja Katolik; juga dilakukan dalam Perayaan Ekaristi Paus (sebagaimana dapat kita lihat dalam tayangan Televisi sejak paus Yohanes Paulus II dan Paus yang sekarang ini).

Tetapi kiranya lukisan itu mau difokuskan pada adegan pembasuhan kaki Petrus saja. Sebab di sana tidak tampak para murid yang lain. Di sana hanya tampak seorang murid (kiranya itu adalah Petrus) yang tampak seperti rada enggan bahwa kakinya dibasuh oleh sang guru. Bahkan dalam injil Yohanes kita tahu bahwa ia sempat menolaknya, tetapi kemudian ia mengalah setelah sang Guru memberi sebuah argumen yang membuat dia mati langkah dan tidak dapat menolak lagi. Dalam gambar itu Tuhan Yesus berpakaian putih sedangkan Petrus berpakaian coklat rada tua. Jadi busana mereka tampak kontras satu sama lain. Ruang di sekitar mereka juga tampak gelap, tidak tampak apa-apa dan siapa-siapa selain roti dan sebuah piala di atas meja (tentu juga dua sosok yang sudah disebutkan di atas tadi). Ruang yang gelap itu semakin membantu memfokuskan perhatian dan pandangan mata kita pada gambar dua sosok yang saling berinteraksi dalam lukisan itu.

Seperti sudah dikatakan sebelumnya, Petrus tampak seperti rada enggan dengan perbuatan dari sang Guru itu, bahkan ia mau menolaknya dengan tegas: “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” (Yoh.13:.7). Tetapi akhirnya ia mau dan menerima juga tindakan simbolis itu, setelah Yesus memberi sebuah argumen teologi kemuridan yang efektif: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh.13:8).

Ya, sebagaimana dapat kita lihat dengan mudah dalam lukisan itu, kaki Petrus sudah masuk dalam baskom pembasuhan. Kaki itu tenggelam dalam air dalam baskom pembasuhan. Itu wajar saja. Adapun hal yang jauh lebih menarik lagi dari lukisan itu ialah bahwa kepala Tuhan Yesus tertutup kain putih, sesuatu yang sangat biasa bagi gaya berpakaian kaum pria Timur Tengah pada masa itu dan juga masa sekarang. Selain itu wajah Tuhan Yesus pun juga tidak dapat terlibat, karena memang Ia membelakangi kita sebagai para penikmat lukisan. Wajah Tuhan juga tidak dapat terlihat karena Tuhan sedang membungkuk dalam rangka akan membasuh kaki, atau karena sedang menatap ke bawah, yaitu ke dalam ember pembasuhan. Dan ajaib sekali. Wajah Tuhan Yesus tampak terpantul di bawah, di dalam sana, yaitu dalam air di ember itu bersama dengan kaki Petrus yang akan dibasuh-Nya. Perhatikan baik-baik, dan ini inti pesan teologisnya, dalam pengamatan dan tafsir saya: Tangan Tuhan sama sekali belum mulai membasuh, karena tangan itu masih berada di luar baskom pembasuhan. Tetapi wajah-Nya justru sudah mulai menyatu, melebur duluan dengan kaki salah satu dari para murid-Nya, di dalam ember pembasuhan, di dalam air pembasuhan.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, si Pelukis ini (Rembrandt) sesungguhnya sedang berteologi, yaitu berteologi tentang rahasia kenosis, atau tentang penghampaan diri dari sang Firman yang menjadi manusia dan membangun kemahnya di antara kita (Yoh.1:14). Tentang kenosis itu surat Paulus kepada jemaat di Filipi 2 mengatakannya dengan sangat jelas dan kuat: “...walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya senddiri, dan mengambilrupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil.2:6-9). Menurut hemat saya, teologi kenosis itu dipentaskan dengan sangat baik dan dengan sangat radikal dalam lukisan Rembrandt ini: wajah Tuhan menyatu dan melebur dengan kaki sang murid di dalam ember pembasuhan.

Luar biasa. Sebuah teologi dalam gambar tentang kenosis, sebuah teologi tentang fakta historis inkarnasi, sebuah teologi tentang fakta bahwa verbum caro factum est, sabda telah menjadi manusia. Sebuah theology in colors, jika saya boleh meminjam istilah dari Rublev, seorang teolog dan pelukis ikon yang terkenal dari tradisi Ortodoks Russia. Di tempat lain kita menemukan pernyataan dari para teolog lain yang kurang lebih mengatakan bahwa perayaan liturgi kita adalah sebentuk theology in actions, teologi dalam tindakan, teologi dalam tindakan, dalam perbuatan nyata. Salah satu bentuk dari theology in actions dalam liturgi itu ialah apa yang disebut Hans Urs von Balthasar dengan sebutan kneeling theology, teologi berlutut, sebuah teologi tentang doa.

Saya berharap agar dengan ini semoga kita semakin sadar bahwa sesungguhnya ada banyak cara orang berteologi, mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologisnya. Ada teolog yang melakukan hal itu dengan cara memakai dan mengolah kata, ada juga teologi yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah nada, dan ada juga teolog yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah gerak. Nah di sini kita menemukan sebuah model yang lain, yaitu suatu cara berteologi dengan memakai dan mengolah warna, berteologi dengan warna, berteologi dengan gambar. Dan menurut saya, teologi dengan warna, dengan gambar ini pun sangat efektif. Bahkan jauh lebih efektif dalam berbicara dan berkomunikasi dengan kaum beriman, jika dibandingkan dengan teknik-teknik berteologi dengan cara memakai dan mengolah kata. Tradisi gereja katolik sangat kental dan kuat menghargai hal itu; hal itu terbukti dari dinding-dinding gereja yang banyak dihiasi dengan banyak lukisan yang indah-indah yang ilham dasarnya diangkat dan digali dari berbagai sumber (kitab suci dan tradisi sakramental dan devosional) yang pada gilirannnya dapat berfungsi sebagai biblia pauperum dan biblia fidelium. (Di tempat dan kesempatan lain saya sudah menulis sedikit tentang kedua istilah yang terakhir ini).

Yogyakarta, 07 Juli 2011.
Ditulis dan diolah kembali 04 Agustus 2011.
Fransiskus Borgias M.

Minggu, 24 Juli 2011

SANTO YOAKIM DAN SANTA ANNA

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Besok, tanggal 26 Juli (selalu berulang setiap tahun), penanggalan liturgi kita mempunyai satu peringatan wajib (memoria obligatoria) untuk dua orang kudus yaitu Santo Yoakim dan Santa Anna. Siapa mereka itu? Penanggalan liturgi secara singkat memberi jawaban sbb: mereka adalah orangtua SP Maria. Pertanyaan berikut yang perlu dijawab ialah: apa arti penting peringatan wajib ini bagi kita, khususnya bagi teologi biblis kita? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu saya mau mengajukan satu pertanyaan lain yang kiranya masih jauh lebih mendasar lagi: dari mana kita mengenal dan mengetahui nama kedua orangtua SP Maria ini? Bahwa SP Maria mempunyai orangtua, itu kiranya jelas dengan sendirinya. Kita tidak usah mempersoalkannya. SP Maria tidak menyembul tiba-tiba begitu saja di muka bumi ini di atas panggung sejarah; pasti melewati proses alami manusia biasa yaitu melalui kedua orangtuanya. Tetapi siapa nama mereka itu soal lain. Kita tidak secara otomatis bisa mengenal dan mengetahui nama orangtuanya.

Yang jelas kita tidak mengenal nama kedua orangtua itu dari keempat injil kanonk. Sia-sia jika kita mencari informasi historis mengenai mereka di sana. Bahkan di sana pun tidak disebut sedikitpun tentang orangtua SP.Maria. Apalagi sampai menyebut nama. Kalau begitu, dari mana kita mengenal nama kedua orangtua itu? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini akan mengejutkan beberapa pihak, tetapi saya akan mengemukakan jawaban itu di sini. Inilah jawabannya. Tradisi gereja (khususnya tradisi Liturgi) mengangkat kedua nama itu justru dari injil extra kanonik, bukan dari injil kanonik. Tepatnya tradisi gereja mengangkat kedua nama itu dari Injil Yakobus, the Gospel of James. Dari sanalah kita mengenal kedua nama ini yang diperingati setiap tahun pada 26 Juli.

Di mana kita dapat menemukan Injil ini? Kita tidak dapat menemukannya dalam injil kanonik yang diterbitkan berkat kerjasama LAI-LBI. Dalam koleksi perpustakaan pribadi saya di Bandung saya mempunyai buku tebal yang berjudul sangat menarik: The Other Bible. Di sanalah, dalam kumpulan itu kita dapat menemukan kitab tadi. Jika Bible yang kita pakai setiap hari adalah The Bible, maka kumpulan teks yang tidak lolos masuk ke dalam Bible itu disebut The Other Bible. Itu adalah kumpulan teks-teks injil (cukup banyak jumlahnya) yang tidak lolos masuk seleksi kanon.

Mungkin kita bertanya lagi lebih lanjut: teks-teks itu tidak lolos masuk seleksi kanon, tetapi malah diangkat ke dalam perayaan liturgi? Ini pertanyaan historis-teologis yang tidak mudah dijawab. Menurut saya, itulah keunikan liturgi. Itulah yang saya sebut dimensi keluasan dan keluwesan liturgi, yang mampu dan sudi menampung apa saja yang baik di luar kanon, walau secara keseluruhan teks itu tidak lolos masuk kanon. Bagi saya ini adalah pertanda mengenai betapa elastisnya ruang liturigs itu untuk dapat menampung apa saja yang tidak lolos kriteria dogmatik untuk masuk kanon. Contoh kasus keluwesan dan elastisitas liturgis ini ada banyak, selain contoh yang sudah disebutkan di atas.

Salah satu contoh lain yang secara spontan saya ingat ialah devosi 14 stasi jalan salib dalam liturgi masa Prapaskah. Dari keempat belas stasi itu ada beberapa stasi yang jelas tidak ada dalam kisah injil kanonik, tetapi justru berkembang dalam tradisi lalu diadopsi oleh liturgi. Misalnya: Stasi keenam di mana dilukiskan bahwa Veronika mengusap wajah Yesus. Atau stasi ketiga, ketujuh, dan kesembilan (masing-masing adalah Yesus jatuh pertama kali, kedua kali, dan ketiga kali) juga tidak ada dalam Kitab kanonik. Tetapi sangat wajar bahwa hal-hal ini muncul secara otomatis dan alami dalam imajinasi religius umat beriman yang kemudian dalam perkembangan sejarahnya mendapat tempat dalam ruang perayaan liturgis. Ajaibnya juga, hal itu pada gilirannya bisa menghidupkan liturgi itu dengan cara memperkayanya dari dalam.

Bagi saya ini adalah sebuah penegasan historis-teologis bahwa betapa tradisi itu amat penting dalam teologi katolik, selain dari kedua tonggak lain yaitu kitab suci dan magisterium. Itu adalah suatu hal penting dalam teologi dasar (fundamental theology). Hal itu sangat berbeda dengan prinsip tiga Sola dalam Protestantisme, yang sebenarnya tidak ada dalam Kitab Suci, melainkan lahir dari tradisi, tetapi tradisi itu justru malah dinisbikan dalam dan oleh Protestantisme.

Sebagai akhir kata saya mau mengucapkan selamat memperingati kedua orangtua SP Maria, Santo Yoakim dan Santa Anna. Terima kasih kepada tradisi yang luas dan luwes yang dalam keluasannya menjadi kolam abadi bagi kita yang dapat menghidupkan imajinasi religius kita yang pada gilirannya memperkaya dan memperdalam penghayatan hidup iman kita.

Yogyakarta, Lempong Lor, 25 Juli 2011.

Senin, 18 Juli 2011

PETRUS MENANGIS

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Dalam Perayaan Ekaristi Minggu Palma pagi kemarin, 17 April 2011, saya entah untuk ke berapa kalinya mendengar kisah sengsara menurut Mateus (tahun A). Tahun ini saya merayakan Ekaristi MingguPalma jauh dari keluargaku (isteri dan kedua anakku) di Bandung. Ini untuk ketiga kalinya saya merayakan Minggu Palma jauh dari keluargaku. Pertama dan kedua tahun 2001 dan 2002 ketika saya belajar teologi di Nijmegen negeri Belanda. Tahun ini saya mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki Banteng, di Jalan Kaliurang (tetapi saya lupa kilo meternya),Yogyakarta. Ini adalah sebuah paroki yang dikelola oleh para pastor dari kongregasi MSF (Keluarga Kudus).

Ketika mendengarkan Passio Mateus kali ini saya sangat tertarik pada adegan Petrus menangis setelah ia menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Hal itu terjadi setelah ia ditanyai oleh beberapa pihak yang menduga mengenalnya dekat dengan Yesus dari Nazaret. Seperti sudah diramalkan sebelumnya, setelah ia menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali, lalu ayam pun berkokok. Ketika ia mendengar kokok ayam tersebut rontoklah sudah pertahanan diri (self-defence mechanism) Petrus. Dikatakan dalam injil itu bahwa Petrus menangis tersedu-sedu. Kiranya kita dapat membayangkan hal tersebut.

Adegan itu dapat kita baca juga dalam injil Markus dan Lukas (masing-masing Tahun B dan C dalam bentangan tahun liturgi kita). Itulah ketiga injil sinoptik. Nanti pada Hari Jum’at Agung kita akan membaca (dan itu selalu berulang setiap tahun) kisah sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus menurut Yohanes.

Jika kita membandingkan ketiga injil sinoptik ini dengan injil Yohanes, maka kita akan segera menemukan sesuatu hal yang sangat menarik perhatian kita. Yang menarik ialah bahwa dalam Yohanes ada juga kisah penyangkalan oleh Petrus itu, yang mengaku sama sekali tidak mengenal Yesus. Sama-sama juga ketika selesai peristiwa penyangkalan itu terjadi juga ayam berkokok. Tetapi dalam injil Yohanes, dan inilah yang menjadi sesuatu yang sangat khas dalam injil Yohanes, Petrus tidak menangis. Muncul kesan dalam diri kita sebagai pembaca bahwa bagi Yohanes, perkara penyangkalan itu adalah sebuah perkara yang enteng saja, sebuah perkara yang sepele,yang tidak perlu disesali apalagi sampai ditangisi dengan tersedu-sedu.

Tetapi tunggu dulu. Ternyata dalam injil Yohanes ada juga adegan Petrus menangis. Tetapi alasan dan momennya yang sangat berbeda. Dalam alur kisah sengsara injil Yohanes, nanti Petrus menangis justru setelah peristiwa kebangkitan. Ini juga paradoksal yang sangat menarik dalam injil Yohanes. Petrus menangis setelah peristiwa kebangkitan yaitu dalam dialog penugasan Petrus sebagai seorang gembala yang rupanya secara mutlak menuntut mutu hidup dalam kasih yang jelas dan kuat.

Ada macam-macam alasan bagi manusia untuk menangis dalam hidup ini. Tetapi dalam injil kita menemukan paling tidak dua alasan. Dalam injil-injil sinoptik alasan Petrus menangis ialah karena ia telah berdosa yaitu berani menyangkal Yesus di depan publik. Dalam Yohanes asalan Petrus menangis ialah karena ia ditanyai Yesus sampai tiga kali tentang mutu cintanya terhadap Yesus sendiri. Menurut hemat saya, mutu tangis Petrus dalam injil Yohanes terasa jauh lebih tinggi, dan mendalam. Bagi Yohanes gaya dan alur penuturan kisah ini adalah mutlak perlu. Karena dengan ini ia memulihkan peristiwa kejatuhan Petrus yang terjadi di depan, sesuatu yang tidak ada dalam injil-injil Sinoptik. Bagi Yohanes pemulihan ini perlu sebab Petrus nanti bakal dijadikan seorang gembala bagi kawanan Tuhan Yesus sendiri.

Tetapi tradisi tahun liturgi gereja Katolik mengajak kita untuk melihat kisah ini secara komplementer, sebagai sesuatu yang saling mengisi dan melengkapi. Tradisi tahun liturgi Katolik mengajak kita untuk membaca teks itu sebagai satu keseluruhan. Dan jika dibaca secara keseluruhan, maka Lukas dapat berperan besar juga di sini. Sebab sebelum peristiwa sengsara, Yesus sudah berdoa secara khusus bagi Petrus (Luk.22:32). Intensinya jelas juga dilukiskan di sana: agar imanmu tidak gugur. Agar nanti setelah kau insaf engkau menjadi daya kekuatan bagi yang lain-lain. Peran itulah yang sekarang ini, dalam adegan pemulihan Petrus di tepi danau, yang kini dipentaskan dengan exsplisit dalam injil Yohanes.

(Disarikan dari naskah buku saya yang akan terbit).

Sabtu, 18 September 2010

MINGGU, 14 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Mal.4:1-2a; Mzm.98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes.3:7-12; Luk.21:5-19.



Injil hari ini membentangkan ke hadapan kita dua hal. Pertama, mengenai nubuat kehancuran Bait Allah. Bait Allah itu megah, banyak dipuji dan dikunjungi orang. Akan tiba saatnya ia hancur. Itu perkataan Yesus mengenai Bait. Kedua, mengenai awal derita. Ketika para murid bertanya mengenai kapan drama tragis itu terjadi, Yesus memberi beberapa tanda, dan mengingatkan murid agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Yang lebih penting ialah ketika semuanya itu terjadi ada suatu kekacauan besar, dan para murid akan diseret ke derita. Ada yang diseret ke pengadilan. Dalam konteks ini muncul kata-kata penghiburan yang terkenal: kita tidak usah menyiapkan diri mengenai bagaimana kata-kata pembelaan kita. Mengapa? Karena semuanya akan diilhamkan Roh Kudus kepada kita secara langsung tepat pada waktunya. Ajaib. Bac.I mengisahkan kepada kita mengenai kedatangan hari Tuhan, dies domini. Hari itu akan ada penghakiman dahsyat dan ngeri: Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Sebuah kata-kata penghiburan indah. Hidup dalam penantian akan hari Tuhan, mengandung bahaya tertentu secara sosial. Ada orang yang berkesimpulan bahwa jika kita sudah menyongsong hari Tuhan, maka kita tidak usah kerja lagi. Terhadap hal itu Paulus berkata tegas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kepercayaan dan harapan akan hari Tuhan dan hidup abadi, tidak membebaskan orang dari kewajiban sosial-fundamental hidup ini: yaitu bekerja. Sebab perintah Kerja juga adalah dari Allah sendiri. Semoga kita mengerti akan hal ini.

BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

MINGGU, 07 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. 2Mak.7:1-2,9-14; Mzm.17:1,5-6,8b,15; 2Tes.2:16 3:5; Luk.20:27-38
.


Injil hari ini terkenal, setidaknya di kalangan teolog yang bicara mengenai kebangkitan. Di sini Yesus dilukiskan diuji orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, kebangkitan itu nonsens. Untuk itu mereka mengangkat kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuah pria kakak beradik (sistem perkawinan levirat). Pertanyaannya ialah: siapa suami perempuan itu dalam hari kebangkitan? Yesus menjawab hal itu dengan dua jawaban teologis: pertama, dalam kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaekat. Kedua, argumentasi atas dasar wahyu Perjanjian Lama bahwa Allah adalah Allah yang hidup bagi orang yang hidup. Sebab dalam Perjanjian Lama ada ucapan: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah adalah Allah bagi orang hidup. Jadi jika ketiga orang itu mempunyai Allah juga sesudah mereka mati, itu berarti Allah adalah Allah bagi orang hidup. Bac.I mengisahkan tentang tujuh martir Yahudi, yang mengorbankan nyawa demi iman dan kepercayaan akan hidup yang akan datang, dalam bentangan lautan kasih kerahiman Allah. Ya, ada kebangkitan dan hidup kekal itu, seperti yang kita ucapkan dengan lantang setiap Minggu dalam Credo. Semoga kita sadar akan hal itu. Dari Bac.II saya hanya mau mengangkat satu kalimat terkenal: Tuhan adalah setia. Kiranya kepercayaan kita akan kebangkitan dan hidup kekal, dilandaskan pada kepercayaan bahwa Tuhan setia. Sekali Ia menjalin relasi dengan kita, relasi itu tidak akan terputus, juga oleh maut sekalipun. Semoga kita percaya akan hal itu, bukan sebagai filsafat teoretis belaka, melainkan sebuah kebenaran hidup iman yang nyata.


BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA