Senin, 16 Februari 2009

JUM'AT AGUNG, 10 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@ fransisbm)

Bc.E: Yes.52:13-53:12; Mzm.31:2.6.12-13.15-16.17.25; Ibr.4:14-16; 5:7-9; Yoh.18:1-19:42.


Hari ini juga amat istimewa dalam liturgi kita. Kita lakukan banyak hal dalam hening dan sunyi. Itulah sikap yang tepat dalam mengiringi sengsara Tuhan. Di pagi hari ada jalan salib terakhir. Sesudah tengah hari (pukul 3 sore) ada upacara mengenang sengsara Tuhan yang terdiri atas liturgi sabda, Penghormatan Salib, dan komuni yang sudah dikonsakrir dalam Ekaristi Kamis Putih (sebab sore ini tidak ada Konsekrasi karena Tuhan sedang dalam sengsara dan sakratmaut). Upacara penghormatan Salib itu didahului dengan peninnggian salib untuk disembah. Imam menyanyikan lagu sambil perlahan-lahan membuka selubung ungu penutup corpus salib: Ecce Lignum Crucis....etc... Dengan meriah umat menjawab: Venite, adoremus. Semua berlangsung hening. Itulah sikap yang sepantasnya mengenang dan mengiringi sengsara dan wafat Tuhan. Hati kita jangan “diangkat” ke atas oleh bunyi musik. Melainkan hati kita harus “tunduk” sedih, diseret hening. Kita coba diam, hening dalam sengsara Tuhan. Itulah kekhasan perayaan Jum’at Agung, supaya ia kontras dengan Sukacita Paskah yang sebentar lagi terjadi, dalam Eksultet malam paskah, dan dalam Gloria yang diiringi lonceng dan musik meriah untuk pertama kalinya sejak Gloria malam Kamis Putih.


Tidak ada komentar: