Minggu, 20 Desember 2009

MINGGU, 14 FEBRUARI 2010

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG

BcE. Yer.17:5-8; Mzm.1:1-2,3,4,6; 1Kor.15:12,16-20; Luk.6:17,20-26.




Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang kotbah Yesus di tempat datar (beda dengan Matius, kotbah di bukit yang terkenal itu). Setelah pengantar singkat dalam ayat 17, injil dilanjutkan dengan Ucapan bahagia dan celaka. Di sana muncul empat kali kata “berbahagialah” dan satu kali kata “bersukacitalah” dan “bergembiralah.” Menarik bahwa alasan “berbahagia” itu diletakkan di masa depan, sesuatu yang mungkin kontras dengan pengalaman kini. Di sini Yesus mengajar kita untuk hidup dalam perspektif masa depan dan tidak hanya terkelabu oleh perangkap bentuk dan pengalaman hidup masa kini. Kita tidak boleh hanya hidup dari dan berdasarkan perspektif masa kini, walau kita hidup sekarang dan di sini. Ini pelajaran penting pertama. Kita perhatikan bahwa Yesus memakai kata “celakalah” sebanyak empat kali. Sabda celaka itu dikaitkan dengan pengalaman dan realitas hidup masa kini. Sebagaimana halnya dalam kata-kata pertama yang serba positif dan optimistik, demikian juga dalam pilihan kata-kata bagian ini menjadi cukup jelas, yaitu menetapkan arah orientasi hidup. Hidup harus dihayati dan diarungi dalam konteks bentangan masa depan. Orang jangan sampai hanya terjebak oleh terpaan arus peradaban modern belaka yang menawarkan banyak kemudahan dan kemewahan yang membuat mata kepala dan mata hati orang tertutup. Sabda celaka injil ini sudah terdengar gema awalnya dalam Bac.I. Di sana dikontraskan dua cara hidup: cara hidup yang mengandalkan Allah dan hidup yang mengandalkan manusia. Yang terdahulu dikatakan “Diberkatilah”. Yang kemudian dikatakan “Terkutuklah.” Masing-masing cara hidup itu ditampilkan dengan ibarat yang menarik. Yang satu diibaratkan pohon yang hidup di gurun kering. Yang lain diibaratkan pohon yang hidup di tepi sungai. Yang satu kerdil, yang lain subur. Tinggal kita memilih mau menjadi seperti yang mana? Injil membentangkan hidup dalam perspektif masa depan. Konkretnya perspektif masa depan itu ialah kepercayaan akan kebangkitan. Itulah yang dibicarakan dalam Bac.II. Kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.

Tidak ada komentar: