Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransibm)
BcE. Yer.1:4-5,17-19; Mzm.71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; 1Kor.12:31;13:13; Luk.4:21-30.
Injil hari ini merupakan kelanjutan injil Minggu lalu. Minggu lalu kita mendengar Yesus mengajar di rumah ibadat di Nazaret. Ia membaca teks dari Yesaya. Ketika selesai membaca, orang menantikan bagaimana Ia menafsirkan teks itu. Keluarlah perkataan ini: bahwa apa yang dikatakan dalam teks itu, hari ini tergenapi. Sebagian pendengar merasa bahwa tafsir itu benar. Sebagian lagi ragu-ragu karena sulit percaya karena mereka mengenal siapa Dia? Siapa saudara-Nya. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa tidak ada nabi yang dihormati di tempat asalnya. Dan itu tidak mengherankan karena selama ini dalam sejarah Israel hal seperti itu pernah terjadi pada Elia dan Elisa. Mereka tidak mengerjakan mukjizat di tempat asal mereka yaitu di Israel, melainkan untuk orang di luar Israel. Sedangkan di Israel sendiri ada penolakan. Mendengar itu orang di rumah ibadat itu marah dan mau membunuh Yesus. Yesus tidak gentar. Mungkin karena Yesus merasa bahwa tugas perutusanNya berasal dari Allah dan Allah menjadi benteng pertahanan bagiNya, sebagaimana dikatakan dalam Bac.I: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau…” Yesus berani melakukan semuanya ini karena didorong cinta kasih, yang dimadahkan dengan sangat indah dalam Bac.II. Ya, Kasih itu tidak berkesudahan.
Minggu, 20 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar