Minggu, 16 Mei 2010

MINGGU, 11 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Ul.30:10-14; Mzm.69:14,17,30-31,33-34,36ab,37 (Mzm.19:8,9, 10,11; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37
.



Injil hari ini terkenal: orang Samaria yang baik hati. Injil dimulai dengan dialog Yesus dengan ahli Taurat tentang syarat memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan pertanyaan balik tentang perintah Taurat. Syarat itu adalah perintah kasih kepada Tuhan dan sesama. Yesus tahu hal itu. Orang Farisi itu juga tahu. Tetapi itu barulah pengetahuan (rasional, teoretis). Yesus menantang orang itu untuk mewujudkan apa yang rasional-teoretis menjadi praksis, menjadi perbuatan. Di situ muncul soal baru, menyangkut definisi sesama: Siasa sesama? Menarik bahwa Yesus tidak memberi jawaban teoretis, melainkan memberi perumpamaan. Ada orang menjadi korban perampokan dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko. Mula-mula lewat imam. Ia tidak mau menolong, bahkan terkesan menghindar karena ia “melewatinya dari seberang jalan.” Lalu lewat seorang Lewi. Juga berbuat sama: lewat dari seberang jalan. Tidak sudi mendekati, melihat yang terjadi. Menjauhi korban. Lalu lewat seorang Samaria. Berbeda dengan kedua orang terdahulu, orang Samaria ini punya hati, karena ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, misericordia, hati yang merasa perih, berperih-hati, prihatin. Orang inilah sesama dari korban perampokan itu. Orang Farisi menebak dengan tepat. Sekali lagi Yesus menantang mereka untuk berbuat seperti itu dan tidak hanya membiarkan hukum ada dalam alam teoretis di awang-awang. Agak sulit melihat kaitan Injil dan Bc.II. Sebaiknya kita melihat dulu Bc.I. Perintah Allah untuk berbuat baik dan kasih, sesungguhnya ada dalam hati kita. Tidak terlalu jauh di seberang lautan, juga tidak tergantung tinggi di awan (sebagai pengetahuan teoretis spekulatif) melainkan ada dalam hati. Itulah yang diingatkan Yesus kepada kita dalam injil hari ini. Kristus sumber utama hukum kita. Siapa Yesus itu? Dia adalah gambar Allah yang kelihatan, sebagaimana dibentangkan dalam Bc.II, dalam madah keutamaan Kristologis yang terkenal itu.


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 04 JULI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.66:10-14c; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal.6:14-18; Luk.10:1-12,17-20 (Luk.10:1-9).




Injil hari ini berkisah tentang pengutusan tujuh puluh murid berdua-dua. Mereka harus mewartakan Kerajaan Allah. Pengutusan ini perlu karena ada banyak tuaian di ladang Tuhan. Tugas ini tidak mudah karena ada tantangan bahkan ancaman yang tersirat dalam ibarat: Mereka bagai domba diutus ke tengah serigala. Ada beberapa syarat yang harus mereka ikuti dalam tugas itu. Pertama, mereka harus pergi tanpa “modal”. Mereka harus sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan kasih Allah. Kedua, jangan memberi salam. Ini sulit dipahami. Biasanya para penafsir mengatakan bahwa karena tugas ini penting, maka basa-basi yang tidak perlu dianggap menghambat. Ketiga, ketika memasuki rumah orang mereka harus mengucapkan salam damai. Keempat, tinggal tetap di tempat yang pertama kali menerima mereka. Jangan berpindah-pindah seperti pertapa berkeliling yang hanya mencari hidup enak dan senang (gyrovagi). Itu tidak baik karena menimbulkan pergunjingan sosial. Kelima, mereka harus makan dan minum apa yang dihidangkan. Keenam, mereka harus menyembuhkan orang sakit. Akhirnya, mereka harus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kalau tidak diterima di suatu tempat, jangan bikin soal, melainkan pindah ke tempat lain dengan mengebaskan debu kaki. Akhirnya setelah kembali, mereka melaporkan apa yang mereka alami. Di situ kita melihat pelukisan mengenai pengalaman rohani Yesus: Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Para murid bersukacita. Tetapi Yesus menekankan agar mereka bersukacita bukan karena perbuatan ajaib yang mereka kerjakan, melainkan karena mereka diterima dalam kerajaan surga. Kemampuan membuat mukjizat jangan sampai membuat mata tersilap. Paulus mengingatkan kita bahwa alasan kita berbangga, kiranya bukan mukjizat melainkan berbangga karena salib Tuhan kita (Bc.II). Ya, hanya satu alasan bagi kita untuk bersukacita, yaitu bersukacita karena dan di dalam dan bersama dengan Tuhan (Bc.I).


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

Sabtu, 15 Mei 2010

SELASA, 29 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kis.12:1-11; Mzm.34:2-3,4-5,6-7,8-9; Mzm.34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim.4:6-8,17-18; Mat.16:13-19.




Hari ini hari raya St.Petrus dan St.Paulus. Sudah menjadi kebiasaan dalam tradisi liturgis gereja bahwa kedua rasul agung ini dirayakan bersama. Injil hari ini membentangkan beberapa hal penting. Pertama, pengakuan Petrus. Bagian ini sangat terkenal. Petrus mengucapkan pengakuan imannya yang terkenal: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pengakuan itu muncul di tengah keragaman pemahaman orang akan Yesus (pemahaman Kristologis yang jamak). Tetapi para murid harus mampu memilih salah satu. Petrus sudah melakukan itu bagi kita semua. Itu sebabnya dalam bagian kedua, Yesus memuji Petrus. Dalam hal ini Matius berbeda dari kedua injil Sinoptik. Mereka hanya sampai pada pengakuan Petrus. Matius melangkah lebih lanjut: pujian Yesus kepada Petrus. Menurut Yesus, Petrus dapat sampai kepada pengakuan iman karena digerakkan Bapa. Jadi, karunia beriman pun adalah rahmat Allah. Bukan karena daya kekuatan sendiri. Pengakuan iman itu dikaitkan Yesus dengan Petrus sebagai pribadi, bukan karena jabatannya. Sebab Yesus menyapa Petrus tidak dengan gelar atau jabatannya, melainkan dengan nama pribadinya: Simon anak Yunus. Petrus diberi kuasa dan otoritas. Bagi kita orang Katolik inilah awal tradisi kuasa Paus Roma, authoritas petrini. Lalu Paulus? Tidak disebut di sini. Tetapi ini berawal dari tradisi Roma yang memandang bahwa kedua tokoh gereja purba ini, yang sangat berjasa bagi gereja, sama-sama menjadi martir di Roma. Maka keduanya diberi tempat yang satu dan sama dalam pengenangan dan perayaan liturgis gereja.


SIS B
CCRS UNPAR BANDUNG

MINGGU, 27 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.19:16b,19-21; Mzm.16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal.5:1,13-18; Luk.9:51-62.




Ada beberapa hal yang disampaikan injil kepada kita hari ini. Pertama, mengenai sikap Yesus terhadap Samaria. Dilukiskan bahwa dalam perjalananNya ke Yerusalem, Ia menugaskan para muridNya agar mampir di desa Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu. Tetapi orang Samaria menolak mereka karena tahu bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Para murid marah lalu mohon ijin kepada Yesus agar diperkenankan mengutuk kota itu. Tetapi Yesus tidak memperkenankan hal itu: Jika ada penolakan, janganlah menimbulkan masalah. Lebih baik pergi ke tempat lain dan mencari kemungkinan lain di sana. Itulah pelajaran yang penting dan berharga bagi kita. Kedua, mengenai beberapa segi dalam hal mengikuti Yesus. Salah satunya: Jika mau mengikuti Yesus, jangan berharap untuk menjadi kaya dan hidup mewah, sebab Yesus tidak mempunyai apa-apa. Yang lain: mengikuti Yesus harus total, sehingga tidak ada alasan untuk kembali. Segi yang lain lagi: mengikuti Yesus harus konsisten dan tegas. Kalau kita mengikuti Yesus, kita dipanggil menjadi orang merdeka. Tetapi jangan sampai kita menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Melainkan kita harus hidup dalam saling melayani (Bc.II). Dalam Bc.I kita membaca mengenai kisah panggilan Elisa. Begitu ia dipanggil Elisa mengikuti Elia dan menjadi abdi bagi sang Abdi Allah itu. Ia menjadi abdi bagi sang Abdulah. Itulah martabat Elisa yang kiranya dapat menjadi ilham bagi kita semua.


SIS B
CCRS FF-UNPAR BANDUNG

Jumat, 14 Mei 2010

KAMIS, 24 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.49:1-6; Mzm.139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis.13:22-26; Luk.1:57-66,80.



Hari ini hari raya kelahiran S.Yohanes Pembaptis. Hari ini menjadi sangat istimewa bagi saya karena hari ini hari lahir puteri saya dan karena itu diberi nama sama. Injil hari ini amat terkenal dan kita akrab dengan teks itu. Dalam hidup ini selalu ada kemungkinan Tuhan mengerjakan mukjizat yang melampaui pikiran kita. Selalu ada orang yang tidak dapat dan tidak mau menerima adanya kemungkinan itu. Salah satu orang seperti itu ialah Zakaria. Karena itu ia mengalami peristiwa tragis-dramatis: menjadi bisu sejak kabar perkandungan Elisabet di masa tuanya. Masuk akal, karena dirinya yang sudah “mati pucuk” dan isterinya yang “kering sumber” tidak mungkin lagi mendapat anak di masa tua. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Elisabet mengandung. Tidak main-main: Zakaria kelu selama Sembilan bulan. Ketika anak itu lahir, barulah ia bisa bicara kembali. Perhatikan bahwa kata-kata pertama yang terucap dari bibirnya ialah untaian kidung: Kidung Zakaria yang terkenal itu (walau tidak menjadi bagian dari injil hari ini). Bc.II menyinggung hal ini secara singkat terutama mengenai karyanya yang mewartakan tobat. Campur tangan istimewa Allah dalam hidup Yohanes, sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Allah memanggil dia sebelum ia lahir. Seperti dikatakan dalam Bc.I: TUHAN memanggil aku sejak dari kandungan, dan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Jelas ini penyelenggaraan ilahi yang luar biasa bagi Yohanes dan bagi kita semua juga.


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 20 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Za.12:10-11; 13:1; Mzm.63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal.3:26-29; Luk.9:18-24.



Injil hari ini sangat terkenal. Ia membentangkan di hadapan kita tiga pokok penting. Pertama, mengenai pengakuan Petrus. Pengakuan ini diawali dengan dialog antara Yesus dan para muridNya. Ia menanyai mereka tentang pendapat orang mengenai Dia. Ternyata ada beragam jawaban dan pandangan mengenai Kristus. Itu yang disebut keragaman kristologis dalam Perjanjian Baru. Tetapi di tengah keragaman itu para murid dituntut untuk memegang satu pengakuan pokok bagi mereka. Petrus melakukan hal itu dengan pengakuan: Engkaulah, “Mesias dari Allah.” Kedua, mengenai pemberitahuan pertama tentang sengsara Yesus: Ia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, tetapi kemudian dibangkitkan. Ketiga, mengenai syarat mengikuti Yesus. Menarik bahwa poin ketiga ini dikaitkan penginjil dengan poin kedua. Nubuat mengenai sengsara dikaitkan langsung dengan tuntutan menjadi murid. Syarat satu-satunya ialah kerelasediaan dan kemampuan untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Tuhan. Ini sangat penting karena ini yang menjadi penjamin shalom bagi kita. Dengan caranya sendiri Paulus melukiskan kenyataan ini dalam Bc.II: kita semua yang sudah dibaptis, pasti telah mengenakan Kristus. Maka melalui iman di dalam Yesus Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah. Melalui Yesus kita mendapat rahmat penebusan. Hal itu sudah dinubuatkan juga dalam Perjanjian Lama: Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran (Bc.I).


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

Rabu, 12 Mei 2010

MINGGU, 25 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.13:14,43-52; Mzm.100:2,3,5; Why.7:9,14b-17; Yoh.10:27-30.




Hari ini hari Minggu Panggilan. Gereja mengajak kita agar turut menyuburkan panggilan hidup kaum beriman; itu berarti juga menyuburkan panggilan hidup kita masing-masing. Tentu gereja berharap agar di tengah kesadaran akan panggilan umum umat beriman itu, juga ditumbuh-kembangkan kesadaran dan penghargaan akan panggilan khusus, menjadi imam, biarawan-wati. Sebab itu adalah kesaksian hidup gereja yang dilandaskan pada nasihat Injil. Saya rasa, mungkin itu sebabnya Injil hari ini mengajak kita mendengar tentang relasi intim dan unik antara gembala dan kawanan. Dikatakan bahwa ada relasi saling mengenal antara gembala dan kawanan. Walau dulu gembala itu satu-satunya Yesus Kristus (sekarang masih demikian), toh imam berdasarkan martabat imamatnya berpartisipasi dalam tugas kegembalaan Kristus. Relasi saling mengenal itu tidak hanya berlaku antara kita dan Kristus gembala utama, melainkan antara umat dan pimpinan gereja setempat (uskup dan imam). Harus ada relasi saling mengenal. Kata mengenal ini dalam Kitab Suci mempunyai arti yang sangat mendalam: ia mencakup hal mencintai, mencakup kerela-sediaan berkorban, kerelasediaan mengikuti Yesus dengan setia, dst. Memang seharusnya demikianlah relasi gembala dan domba. Bc.I mengisahkan penolakan terhadap ajaran Paulus dan Barnabas, yang mengajarkan tentang Yesus. Hal seperti ini juga bisa terjadi dewasa ini: orang tidak mau menerima kita karena nama Yesus. Itu adalah risiko yang tidak terhindarkan. Tetapi itu bukan alasan untuk takut atau mundur. Itulah peluang bersaksi. Jika kita bertahan dalam cobaan ini, kita akan menjadi jemaat baru yang mengalami shalom baru karena dituntun Anak Domba (Bc.II, ay.16-17). Semoga kita pantas menjadi jemaat baru itu.

SABTU, 24 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:31-42; Mzm.116:12-13,14-15,16-17; Yoh.6:60-69.




Injil hari ini melanjutkan injil kemarin. Perkataan Yesus yang kemarin kita dengar memang cukup keras dan susah dipahami. Muncul reaksi baru di kalangan pendengar. Itu yang kita baca hari ini. Ada dua reaksi yang muncul. Pertama, ada yang mulai ragu. Mula-mula mereka merasa bahwa perkataan itu keras dan tidak masuk akal. Yesus masih sempat menantang mereka dan mencoba mengatasi situasi dengan mengulas wacana itu lebih jauh. Tetapi Yesus sadar bahwa memang tidak mudah untuk percaya. Di antara mereka memang ada yang tidak percaya. Hal itu wajar, sebab hal datang dan percaya kepada Yesus bukan sekadar peristiwa manusiawi. Hal datang dan percaya kepada Yesus adalah anugerah Allah: “Tidak seorang pun yang dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Jadi, itu adalah rahmat dari Bapa di surga. Rupanya tidak semua orang siap dan dapat menerima rahmat itu. Maka mereka mundur dan pergi. Kedua, Yesus menantang kelompok yang lebih kecil, kelompok Duabelas. Setelah melihat orang banyak pergi, Yesus tidak main-main dengan ajaranNya. Sekarang Ia menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini sebuah pertanyaan yang tidak main-main, pertanyaan yang mengandung tantangan, yang akan mempengaruhi totalitas hidup di masa yang akan datang. Itu sebabnya para murid diam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya tampillah Petrus menjadi juru bicara. Itulah yang ingin saya angkat sebagai pesan istimewa hari ini: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.”

JUM'AT, 23 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:1-20; Mzm.117:1,2; Yoh.6:52-59.




Injil kita hari ini merupakan kelanjutan dari injil kemarin. Kemarin Yesus berkata bahwa Ia memberi dagingNya untuk hidup dunia. Perkataan itu menimbulkan perbantahan di antara orang-orang Yahudi. Muncul salah paham. Dikira ini sebuah ritual kanibalisme. Untuk mencegah salah paham itu terus berkembang tidak karu-karuan, Yesus melanjutkan wacanaNya. Wacana ini dapat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, mula-mula Yesus mengatakan bahwa syarat agar kita dapat memiliki hidup dalam diri kita sendiri ialah jika kita makan daging Anak Manusia dan minum darahNya. Hal makan daging Yesus dan minum darahNya, itulah yang menjadi prasyarat bagi hidup kekal dan bagi kebangkitan pada akhir jaman. Kedua, lalu Yesus memberikan alasan mengapa hal itu sangat penting. Itu tidak lain karena dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Ketiga, hal makan daging dan minum darah Tuhan, itulah yang menjadi prasyarat mutlak berdiamnya kita di dalam dan bersama dengan Tuhan. Bahkan itulah juga yang menjadi prasyarat hidup: “...demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Makanan istimewa inilah yang disebut roti yang turun dari surga, roti para malaekat, panis angelicus (panis angelorum). Roti ini istimewa karena tidak sama dengan roti di padang gurun dulu. Roti ini memberi kehidupan kekal bagi yang memakannya. Jelas sudah bahwa ini adalah tantangan rohani yang sangat besar yang dibentangkan di hadapan kita. Tinggal kita mau percaya atau tidak. Mari kita santap roti surgawi ini setiap hari agar kita hidup di dalam dan bersama Yesus, dan di dalam Yesus kita mencapai hidup yang kekal dan kelak pada akhir zaman dibangkitkan olehNya.

KAMIS, 22 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9,16-17,20; Yoh.6:44-51.




Injil hari ini masih melanjutkan tentang wahyu diri Yesus sebagai roti kehidupan. Tetapi sebelum sampai ke sana ada beberapa misteri iman yang dikemukakan. Pertama, rasa tertarik orang untuk datang kepada Yesus, ternyata bukan sekadar rasa tertarik yang alami, melainkan digerakkan oleh Bapa. Hanya Bapa yang memungkinkan orang tertarik dan datang kepada Yesus. Kedua, Yesus menegaskan bahwa siapa saja yang percaya akan hal ini, orang itu akan memperoleh hidup yang kekal. Itu terjadi setelah ia dibangkitkan pada akhir zaman. Ketiga, sekali lagi Yesus mewahyukan diri sebagai Roti Kehidupan: Akulah Roti kehidupan. Ego sum panis vitae. Atau ego eimi ho artos tes zoees. Lalu muncul perbandingan antara manna dan roti baru ini. Roti padang gurun itu memang telah mengenyangkan tetapi tetap berujung pada maut. Sedangkan roti baru ini, ialah roti yang turun dari surga. Siapa yang makan roti ini, tidak akan mati. Yesus sekali lagi menyatakan diri sebagai Roti kehidupan yang telah turun dari surga itu. Inilah misteri hubungan abadi antara Yesus dan orang yang percaya kepadaNya. Roti yang diberikan Yesus itu ialah tubuhNya sendiri. Yesus memberikan dagingNya untuk hidup dunia. Harus diakui bahwa sungguh tidak mudah mencari pesan praktis dari untaian wacana mistik dan spiritual ini. Namun demikian, saya dapat mengatakan sebagai berikut: Hanya Bapa yang bisa menggerakkan kita untuk datang dan percaya kepada Yesus. Begitu kita sudah percaya kepada Yesus, maka kita sudah masuk ke dalam hidup yang kekal karena namaNya. Tetapi ini bukan otomatisme shalom. Tetap dituntut agar kita benar-benar mau membangun mutu dan kematangan serta kedalaman relasi itu.

RABU, 21 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:1b-8; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh.6:35-40.




Injil hari ini dimulai dengan bagian akhir dari injil kemarin, yaitu wahyu Yesus sebagai roti kehidupan. Yesus sudah bisa melihat dan menilai motif kedatangan orang banyak itu kepadaNya. Rupanya mereka datang bukan untuk menjadi percaya, melainkan hanya datang untuk sekadar menjadi penonton yang pasif saja. Itu sebabnya Yesus berkata: “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” Tidak ada metanoia di sana. Tidak ada perubahan hidup. Tidak ada pembalikan nilai-nilai. Boleh jadi memang ada juga model orang seperti ini, yang datang hanya sebagai penggembira saja dalam hidup beriman, dan menjemaat. Tidak lebih dari itu. Tetapi sekaligus juga Tuhan menyiratkan bahwa ada yang memang sungguh datang untuk percaya kepadaNya. Tentang mereka ini Yesus menegaskan mengenai nasib mereka: mereka tidak akan disia-siakan. Injil sendiri mengatakan demikian: “Semua yang diberikan Bapa kepadaku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Di sini kita temukan satu kebenaran iman dan teologis: bahwa keinginan untuk datang kepada Yesus itu adalah sebuah anugerah. Itu sebabnya Yesus tidak akan menyia-nyiakan mereka karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Kehendak Bapa yang mengutus itu sangat jelas ditegaskan di sini: yaitu siapa saja yang diberikan Bapa kepada Dia, tidak akan ada yang hilang. Sebaliknya mereka akan dibangkitkan Tuhan pada akhir jaman. Mereka akan mendapat hidup yang kekal. Dan hidup yang kekal itu dimulai dengan peristiwa pembangkitan itu pada akhir jaman. Ya, hari ini mari kita sekali lagi membawa seluruh diri dan hidup kita kepada Yesus, mempersembahkan dan mempercayakannya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Dia saja.

SELASA, 20 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.7: 51-8:1a; Mzm.31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh.6:30-35.




Injil hari ini melanjutkan injil yang kita dengar dan kita baca kemarin. Dilukiskan di sini bahwa orang-orang itu, agar bisa percaya, membutuhkan dan menuntut tanda. Itu sebabnya hari ini mereka meminta tanda ajaib. Rupanya mukjizat yang dikerjakan Yesus belum cukup bagi mereka sebagai tanda. Mereka meminta lebih. Dikasih betis, minta paha. Itu sebabnya mereka “memancing” Yesus dengan mengisahkan Manna yang diperoleh leluhur mereka di padang gurun sebagai karya mukjizat tanda penyertaan Yahweh. Terhadap hal itulah Yesus memberi jawaban. Di dalam jawaban itu Yesus mempertentangkan antara “roti dari surga” dan “roti yang benar dari surga.” Dikatakan bahwa bukan Musa yang memberi roti itu, melainkan Bapa yang memberikan roti yang benar dari surga. Roti yang benar dari surga ini mempunyai tiga sifat: pertama, karena diberikan Bapa, maka roti ini berasal dari Allah. Kedua, roti itu turun dari surga (tempat kediaman Allah Bapa). Ketiga, roti itu memberi hidup kepada dunia. Kemarin saya sudah menyinggung bahwa orang banyak datang mencari Yesus karena dihantui oleh hantu ketagihan dan penasaran. Sekarang kedua hantu itu datang lagi setelah mereka mendengar perkataan Yesus. Mendengar betapa istimewanya roti yang diberikan Bapa itu, maka mereka pun tidak segan-segan memintanya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Di hadapan permintaan ini Yesus akhirnya menyampaikan salah satu perwahyuan diriNya yang unik: “Akulah roti kehidupan...” Di hadapan Yesus sebagai roti hidup ada dua pilihan: Pertama, datang kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan lapar lagi. Kedua, percaya kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan haus lagi.

SENIN, 19 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.6:8-15; Mzm.119:23-24.26-27,29-30. Yoh.6:22-29.




Injil mengisahkan dua hal besar. Pertama, mengenai orang banyak yang mencari Yesus. Kedua, mengenai sabda Yesus tentang Roti Kehidupan. Rupanya demam ketagihan bukan hanya gejala manusia modern. Demam itu menjangkiti pendengar Yesus. Mereka menyaksikan mukjizat roti. Ketika menyadari bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat itu mereka buru-buru mencarinya. Ketika mereka menemukan Dia, semula mereka menanyai Dia tentang kapan Ia tiba di situ. Jawaban Yesus mengejutkan, karena Ia sesungguhnya tidak menjawab pertanyaan. Ia berbicara tentang sesuatu yang lain. Ia membuat pembedaan antara “hal melihat tanda-tanda” dan “hal makan sampai kenyang.” Menurut Yesus, motivasi yang menggerakkan orang-orang itu mencari dia, bukan yang pertama, melainkan kedua: “...karena makan sampai kenyang.” Itu tadi: hantu ketagihan dan penasaran. Suatu yang dangkal. Hanya di permukaan. Di hadapan hantu ketagihan dan penasaran itu Yesus memberi nasihat ini: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapta binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;...” Kalau hanya karena motif ketagihan dan penasaran mereka hanya sampai pada “makan kenyang saja.” Dan tidak melangkah lebih jauh. Ucapan Yesus itu menimbulkan rasa penasaran di antara mereka sehingga mereka bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerajaan yang dikehendaki Allah?” Jawaban Yesus sederhana: Percayalah kepada Dia yang telah diutus Allah. Dia itu ialah Yesus. Jadi, percaya kepada Yesus adalah jalannya. Demam ketagihan dan penasaran tidak cukup sebagai alasan untuk mencari Yesus. Mesti ada alasan lain yang lebih mendalam, yaitu percaya kepadaNya sebagai sumber hidup dan kebahagiaan.

Senin, 10 Mei 2010

RABU, 31 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat.26:14-25.




Injil hari ini mengisahkan rencana persiapan makan Paskah Yesus bersama murid-Nya. Setelah persiapan dilakukan, dan ketika malam tiba mereka mengadakan perjamuan paskah. Dalam konteks perjamuan kasih dan persaudaraan dan pengenangan itulah muncul drama tragis: salah seorang murid-Nya menjadi pengkhianat. Ini tragis: seorang murid, yang seharusnya menjadi pengikut setia dan taat, ternyata menjadi pengkhianat. Selama ini Yesus mengajari mereka banyak hal. Mereka sudah hidup dan berjalan bersama mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Ini laksana musuh dalam selimut: ada tetapi tidak ketahuan. Teman berubah menjadi pengkhianat. Betapa itu menyakitkan. Seperti kata pemazmur: orang yang makan sehidangan dengan aku, berbalik melawan aku. Menarik bahwa yang mereka makan dalam perjamuan itu ialah roti. Roti dalam bahasa Latin ialah Panis. Menarik juga bahwa sahabat dalam bahasa Inggris ialah companion. Itu berasal dari kata cum-panis, yaitu orang yang makan satu jamuan, satu roti. Ya, Yudas menjadi sosok pengkhianat Yesus. Dalam injil ini juga diberitahukan nasib orang yang mengkhianat Yesus. Nasib orang itu dinyatakan dengan jelas: ia akan celaka. Lebih baik bagi orang seperti itu seandainya ia tidak pernah lahir, sebab ia dilahirkan hanya untuk celaka. Semoga kita sebagai pengikut Yesus, tidak berkembang menjadi pengkhianat Yesus baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan apalagi dengan kelalaian kita.

SELASA, 30 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.49:1-6; Mzm.71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh.13:21-33,36-38.




Injil hari ini mengisahkan tiga adegan yang amat menarik. Pertama, perkataan Yesus bahwa salah seorang dari murid-Nya menjadi pengkhianat. Karena itu, Yesus sangat terharu dan sedih. Atas desakan para murid, akhirnya murid yang dikasihi itu bertanya tentang siapa yang dimaksud. Yesus memberi kunci jawaban: yaitu orang yang akan Ia beri Roti yang sudah dicelupkan. Ternyata itu diberikan kepada Yudas. Setelah memakan Roti itu Yudas kerasukan Iblis. Menarik bahwa Yohanes memberi keterangan waktu untuk adegan pertama ini: Pada waktu itu hari sudah malam. Malam berarti gelap. Yudas memang anak kegelapan dan melakukan perbuatannya dalam kegelapan. Kedua, sebelum memberi perintah baru (novum mandatum) Yesus berbicara tentang kepergian-Nya yang tidak dapat diikuti para murid: ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang. Tentu ini membingungkan. Setelah bersama-sama, tiba-tiba Yesus mengucapkan kalimat yang membingungkan itu. Itu sebabnya, ini adegan ketiga, Petrus meng-interupsi: Tuhan, kemanakah Engkau pergi? Lagi-lagi Yesus menyatakan bahwa kepergian-Nya kali ini adalah kepergian sendiri. Spontan Petrus menjawab bahwa dirinya rela mengorbankan nyawa agar dapat mengikuti Dia. Itulah spontanitas Petrus yang meletup-letup sikapnya. Saat itu Yesus menubuatkan drama tragis hidup Petrus, yaitu ia menyangkal Yesus malam itu. Benar-benar drama tragis: murid yang satu mengkhianati Yesus. Itu Yudas. Murid yang lain menyangkal Yesus. Itu Petrus. Bagaimana dengan kita? Semoga kita bukan pengkhianat Tuhan. Injil ini dibacakan agar kita tidak menjadi murid yang berkhianat. Semoga kita diberi kekuatan menjadi murid yang baik.

SENIN, 29 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.42:1-7; Mzm.27:1,2,3,13-14; Yoh.12:1-11.




Injil mengisahkan tentang pengurapan Yesus oleh Maria di Betania dengan minyak wangi mahal. Maria melakukan hal itu dengan sadar dan sukarela. Tetapi ada reaksi lain dari Yudas Iskariot. Ia keberatan dengan pengurapan mewah dan mahal itu. Ia menganggapnya pemborosan berlebihan. Menurut dia, jauh lebih baik jika minyak itu dipersembahkan bagi orang miskin. Sebuah motivasi religius mulia. Lalu ada penilaian penginjil terhadap sikap Yudas. Perkataan Yudas itu bukan ungkapan kesalehan dari nurani terdalam, yang hendak melakukan salah satu tiang kesalehan agama yaitu sedekah (selain doa dan puasa). Perkataan Yudas hanya mau menyembunyikan agendanya yang terselubung. Jika duit penjualan minyak wangi itu masuk kas bersama yang ia pegang, ia berkesempatan mencurinya, sebagaimana dilakukannya selama ini. Jangan menyembunyikan niat jahat dengan berpura-pura berniat baik padahal itu adalah niat buruk yang terselubung seperti dilakukan Yudas. Yesus angkat bicara: ini bukan pengurapan biasa, dalam rangka pemborosan, pamer dan berfoya-foya. Ini pengurapan antisipasi penguburan-Nya yang menurut Yohanes baru dilakukan sesudah Sabat. Tetapi ketika Maria datang ke makam, Yesus tidak ada di sana, makam kosong. Untunglah pengurapan itu sudah “dilakukan” sebelumnya. Begitulah jalan pikiran Yohanes. Lalu ada rencana membunuh Lazarus. Karena tidak bisa menangkap Yesus, setidaknya petinggi Yahudi bisa menebas korban paling mudah dan dekat yaitu Lazarus. Itu perilaku sosial yang terjadi di mana-mana. Kalau sasaran kelas kakap tidak bisa disentuh, cukup sasaran kelas teri yang disentuh. Ini viktimisasi brutal. Pengikut Yesus tidak boleh berperilaku seperti itu.

MINGGU, 28 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.50:4-7; Mzm.22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp.2:6-11; Luk.22:14-23:56.




Hari ini Minggu Palma. Kita mengenang peristiwa masuknya Tuhan dengan mulia ke Yerusalem. Dalam injil kita dengar (baca/diyanyikan) Kisah Sengsara (Passio) versi Lukas. Hal itu dimaksudkan untuk mengajak kita mengenangkan sengsara Tuhan Yesus. Mari kita dengar Passio ini dinyanyikan/dibacakan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena Kisah Sengsara adalah inti pewartaan (kerygma) gereja purba. Kisah sengsara merupakan bentuk paling tua tradisi Injil. Keempat Injil mewartakan kisah sengsara ini. Dalam hal itu mereka mirip satu sama lain karena mewartakan satu warta yang sama. Tetapi dalam detail kisah, penginjil punya agenda masing-masing. Mereka menyusun bahan kisah sengsara agar cocok dengan bangunan arsitektur teologis masing-masing. Dalam injil Lukas kita lihat alur arsitektur teologis sbb: semuanya bermuara pada klimax di Yerusalem. Mula-mula ada niat persekongkolan jahat melawan Yesus yang disponsori salah seorang muridNya. Tidak lama setelah perjamuan paskah, terjadi drama sakratmaut di Getsemani tempat Yesus ditangkap. Akhirnya semuanya bermuara pada kemenangan atas kuasa setan. Dengan itu Yesus memenangi kosmos dari kuasa setan. Dengan kebangkitanNya Yesus membawa janji kemuliaan masa depan bagi semua. Bac.I hari ini mementaskan ketaatan Yesus sebagai Hamba Tuhan. Apa yang dibentangkan Yesaya terjadi dalam Injil hari ini. Semuanya mementaskan penghambaan dan penghampaan Yesus (kenosis) demi peninggianNya dan keselamatan kita. Injil hari ini mementaskan salah satu dimensi iman kita. Itulah misteri iman yang kita kenangkan dan rayakan hari ini. Semoga kita bisa memahami misteri itu. Tidak hanya memahami, melainkan juga menghayatinya dalam hidup, melaksanakannya dalam perbuatan yang nyata. Sebab iman tanpa perbuatan adalah hampa dan mati.

SABTU, 27 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yeh.37:21-28; MT.Yer.31:10,11-12ab,13; Yoh.11:45-56.




Injil hari ini melanjutkan kisah unik injil Yohanes, pembangkitan Lazarus. Tentu ini menggemparkan. Muncul dua reaksi. Ada yang percaya. Ada yang tidak percaya, dan melaporkan hal itu kepada orang Farisi. Terciptalah kubu pertikaian yang makin runcing: Ada Yesus yang banyak mengerjakan mukjizat. Ada orang Farisi yang berkoalisi dengan imam-imam kepala. Mereka memanggil rapat Mahkamah Agama. Inti pembicaraan mereka ialah bagaimana cara mencegah agar Yesus tidak semakin banyak mendapat pengikut karena perbuatan ajaib-Nya. Dalam konteks persekongkolan busuk inilah kita membaca ucapan terkenal Kayafas, Imam Besar: “….lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Ucapan ini seakan menjadi sebuah nubuat agung tentang makna liberatif dan makna redemptif wafat Yesus. Sedemikian agungnya peristiwa itu, sehingga bisa “….mengumpulkan dan mempersatukan anak Allah yang tercerai-berai.” Makin banyak tanda ajaib, makin tajam perlawanan dan makin kuat kebencian. Itu semua bermuara pada rencana busuk untuk menangkap serta membunuh Yesus. Tetapi karena saatnya belum tiba, Yesus menghindar ke tempat sunyi. Hal itu tidak mengurungkan niat jahat pembesar di Yerusalem. Mereka menunggu apakah Yesus akan datang pada hari Raya (Injil besok). Kalau Ia datang, itulah saat yang tepat untuk menangkap Dia. Memang itulah yang terjadi. Reaksi kebencian terhadap Yesus dan karya serta sabdaNya, tidak pernah berhenti. Mungkin juga bisa muncul dewasa ini. Bagaimana dengan sikap kita? Semoga kita tidak berada dalam kalangan orang yang merencanakan perbuatan jahat terhadap Yesus. Semoga dalam masa Prapaskah ini kita makin meningkatkan hubungan kita dengan Yesus Juru Selamat.

JUM'AT 26 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh.10:31-42.




Injil hari ini masih melanjutkan drama perbenturan Yesus dan orang Yahudi. Karena Yesus menyatakan bahwa diriNya dan Bapa adalah Satu, orang Yahudi mau merajam-Nya. Ia menantang mereka dengan mengatakan bahwa ada banyak perbuatan baik yang berasal dari Bapa, yang diperbuat-Nya bagi mereka. Tetapi mengapa mereka mau merajam? Ternyata alasannya bukan perbuatan baik, melainkan karena Yesus dituduh menghojat. Lalu muncul diskusi yang rumit mengenai pendasaran teologis ucapan Yesus. Itu tidak penting diulas di sini. Yang penting ialah ayat 37-42. Yesus mengatakan bahwa orang tidak perlu percaya kepadaNya kalau ternyata Ia tidak melakukan kehendak Bapa. Kalau orang tidak mau percaya kepada Dia, paling tidak orang mau percaya kepada pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan. Kepercayaan itu, menurut Yesus, menjadi prasyarat agar mereka bisa mengerti dan tahu misteri persatuan Yesus dan Bapa, persatuan ajaib: Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa. Ternyata ini juga tidak dapat mereka terima. Mereka menjadi marah dan mencoba menangkap Yesus. Tetapi Yesus meluputkan diri dengan menyingkir ke tempat Yohanes pernah tinggal. Di tempat sunyi itu, banyak orang yang datang kepadaNya, mencari Dia. Bahkan di antara orang yang datang itu memberi kesaksian agung bahwa semua yang dikatakan Yohanes tentang Yesus, ternyata benar semuanya. Itulah yang menyebabkan mereka percaya kepada Yesus. Dari sini kita sadar bahwa menjadi pengikut Yesus adalah proses perjuangan yang tidak mudah. Orang harus selalu mengambil keputusan pribadi yang sadar. Tidak hanya ikut-ikutan arus umum, melainkan harus percaya dengan keputusan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam.

KAMIS, 25 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.7:10-14; 8:10; Mzm.40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr.10:4-10; Luk.1:26-38.




Hari ini hari Raya Kabar Sukacita. Kita merayakan peristiwa agung Maria menerima kabar dari Malaekat Tuhan (Gabriel) yaitu bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Setiap kali (semoga kita mendoakan doa ini tiap hari) kita mendoakan Angelus Domini (Malaekat Tuhan) itu, kita pasti mengulangi kalimat ini. Kalimat ini sangat penting bagi iman Kristiani. Karena inilah awal inkarnasi, Sabda menjelma menjadi daging, Firman menjadi manusia, lalu tinggal, membangun kemahnya, di antara kita. Tentu kabar ini adalah kabar yang sangat mengagetkan Maria. Ia bagai disambar petir di siang bolong. Hal itu sangat wajar. Itu sebabnya reaksi spontan dia ialah: bagaimana caranya, padahal aku berlum bersuami? Sekali lagi, itu adalah reaksi yang sangat wajar dan manusiawi, dalam situasi terkejut, kaget mendapat kunjungan tamu surgawi. Terhadap hal itu malaekat memberi jaminan dan kepastian: bahwa walau ia belum bersuami, tetapi Roh Kudus akan menaungi dia. Lalu kita sampai kepada reaksi Maria yang sangat terkenal dalam sejarah iman kita, reaksi yang hingga saat ini menjadi model agung kesetiaan iman: Ecce ancilla Domini, fiat mihi secundum verbum Tuum. Ya, Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Kalimat ini pun sangat kita hafal karena kita ulang terus menerus (semoga tiap hari) setiap kali kita mengucapkan doa Malaekat Tuhan tadi. Tetapi yang terpenting ialah kita bukan hanya mengucapkannya, melainkan sungguh menghayati perkataan Bunda Maria itu dengan menjadikan dia dan perkataannya sebagai teladan hidup beriman kita: Terbuka terhadap kedatangan Firman, menerima Firman yang menjadi daging ke dalam diri kita sendiri.

RABU, 24 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Dan.3:14-20,24-25,28; MT Dan.3:52,53,54,55,56; Yoh.8:31-42.




Pengajaran Yesus ternyata membawa hasil juga. Ada yang percaya. Berarti, mereka mau menjadi pengikut. Itu sebabnya dalam bagian ini Yesus secara khusus menyampaikan ajaran kepada orang yang percaya. “Menjadi percaya” berarti “menjadi murid.” Tanda kemuridan itu ialah tetap “berada dalam firmanKu.” Lalu ada diskusi yang rumit antara Yesus dan orang Yahudi yang percaya. Sebuah polemik teologis yang rumit. Semula Yesus mengatakan bahwa kebenaran akan memerdekakan kamu. Mereka menjawab bahwa kami sudah merdeka. Hal itu dijawab Yesus dengan mengatakan bahwa setiap orang yang berdosa (pasti mereka berdosa) adalah hamba dosa. Selama mereka berdosa (walau anak Abraham) mereka budak dosa; jadi, bukan orang merdeka. Dengan terus-terang Yesus mengatakan bahwa firman-Nya tidak mendapat tempat dalam hati mereka sehingga mereka mau membunuh-Nya. Padahal semua firman dan perbuatan Yesus keluar dari apa yang Ia lihat pada Bapa. Mereka membela diri dengan mengatakan bahwa mereka adalah anak Abraham. Yesus mengecam mereka karena mereka menolak diriNya. Alur debat ini akhirnya bermuara pada pengakuan orang Yahudi bahwa mereka Anak Allah. Terhadap hal itu Yesus mengatakan: Jika Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku datang dari Allah dan sekarang Aku ada di sini. Lagi pula Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Bagaimana dengan kita? Semoga kita juga percaya kepada Yesus sebagai utusan yang datang dari Bapa, dan yang akan menghantar kita ke dalam misteri persatuan dengan Bapa, dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Bukankah itu yang menjadi tujuan akhir hidup kita sebagai para murid Kristus?

SELASA, 23 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Bil.21:4-9; Mzm.102:2-3,16-18,19-21; Yoh.8:21-30.




Injil hari ini mengisahkan perjumpaan lanjutan antara Yesus dan orang Yahudi dan Farisi. Dalam bagian terdahulu sudah ada proklamasi Yesus sebagai cahaya dunia: Ego sum lux mundi. Rupanya hal itu tidak ditangkap/diterima oleh orang Yahudi. Ketidak-mengertian itu disebabkan oleh masalah yang amat fundamental. Yakni, tempat asal mereka berbeda: orang Yahudi berasal dari dunia, sedangkan Yesus tidak berasal dari dunia. Inilah pangkal persoalan. Bahkan muncul salah paham di sini. Sikap tidak percaya orang Yahudi dan Farisi itu menjadi penghakiman bagi diri mereka sendiri: sebab jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu. Selanjutnya kita melihat bahwa Yesus perlahan-lahan menyingkapkan misteri hubungan-Nya dengan Bapa: Ia berasal dari Bapa, Ia diutus Bapa, Ia hanya menyampaikan apa yang Ia dengar dari Bapa. Tetapi orang Yahudi dan orang Farisi tidak menangkap apa yang Ia maksudkan. Tentu di hadapan orang banyak itu Yesus berada dalam situasi terancam (sebagaimana nanti akan kita baca dalam ayat 59, di mana Yesus terancam dirajam). Tetapi Yesus sama sekali tidak gentar dengan situasi genting itu karena Ia sangat yakin bahwa Bapa melindungi dan menyertai Dia. Relasi ketaatan Yesus dengan Bapa, menjadi dasar keyakinan Yesus bahwa Bapa menyertai Dia dalam segala hal. Bagaimana dengan kita sendiri? Semoga kita, dengan dibaptis, kita mendapat karunia Roh Kudus, dan dengan bimbingan Roh Kudus kita makin sanggup memahami dan akhirnya menerima Kristus Yesus dalam hidup dan seluruh diri kita, agar kita tidak dihakimi oleh sikap kita sendiri yang tidak mau percaya.

SENIN, 22 MARET 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Dan.13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mzm.23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh.8:12-20.




Injil hari ini ada dalam konteks luas ayat 12-59. Ayat-ayat ini melukiskan perjumpaan Yesus dan “orang Yahudi” yang ditandai nada polemik. Ada beberapa di antara orang Yahudi itu yang mulai terbuka terhadap Yesus. Ada yang tidak. Dalam rentang ayat-ayat ini, Yesus menggemakan kembali “Ego eimi” dari Keluaran 3:14 sebanyak empat kali. Tiga yang pertama, menimbulkan kontroversi. Sedangkan yang keempat menyebabkan orang mau merajam Yesus karena dituduh menghujat. Ayat 12 dimulai dengan pernyataan Yesus mengenai diriNya: “Akulah cahaya dunia.” Pernyataan ini dinyatakan Yesus dalam konteks pesta Api di Yerusalem (Sukkoth). Dalam Perjanjian Lama, cahaya biasanya dikaitkan dengan Allah (Mzm.27:1). Dalam Pesta Api itu lilin dinyalakan di balairung Perempuan Bait Allah sehingga terang benderang bahkan bisa menerangi seluruh Yerusalem. Taurat oleh bangsa Yahudi dipandang sebagai cahaya dunia, lumen gentium (Keb.18:4; Amsal 6:23; Mzm.119:105; Bar.4:1). Yesus dilukiskan Yohanes sebagai orang yang menggenapi semua teks Perjanjian Lama tadi. Yesus memang adalah cahaya yang datang ke dunia. Tetapi orang-orang Yahudi tidak mau menerima dan mengakui Yesus sebagai cahaya dunia. Sikap itu menjadi penghakiman atas diri mereka sendiri. Mereka bersikap demikian karena mereka tidak mengenal Bapa dan Putera. Bagaimana dengan kita? Semoga kita mau menerima Kristus sebagai Cahaya Dunia, Lux Mundi, Cahaya para Bangsa, Lumen Gentium, yang oleh Vatikan II dikaitkan dengan Gereja. Kita adalah Gereja itu, dan Gereja adalah orang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Yesus. Mari kita membawa cahaya Yesus ke dalam dunia di sekitar kita, dengan menjadi “media” pancaran cahaya sejati Yesus Kristus.

MINGGU, 28 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.15:5-12,17-18; Mzm.27:1,7-8,9abc,13-14; Flp.3:17-4:1; Luk.9:28b-36.



Di sini kita lihat lagi Yesus berkumpul dengan kelompok kecil muridNya. Di sini Yesus berdoa. Ada permainan antara misi, mukjizat pemberian makan, nubuat derita, syarat menjadi murid, dan transfigurasi. Semuanya membentuk sintesis hidup Kristiani. Kisah ini mengantisipasi (memberi bayang-bayang terlebih dahulu) kemuliaan kebangkitan kelak. Ada dua tokoh yang tampil di sini: Musa dan Elia. Keduanya mewakili dua tradisi (Hukum dan Nabi). Lalu ada suara ajaib yang mengingatkan kita akan suara ajaib pembaptisan. Tetapi ada beda. Dalam pembaptisan, suara itu datang dari surga. Di sini datang dari dalam awan. Dalam pembaptisan, suara itu hanya didengar Yesus, karena disampaikan dalam diri orang kedua. Di sini suara itu dalam diri orang ketiga, sehingga bisa didengar orang lain. Awan itu mengingatkan kita akan awan di Sinai dalam peristiwa Keluaran. Di sana kemuliaan Allah (shekinah) hadir. Demikian juga di sini, dalam transfigurasi, Allah hadir. Kisah transfigurasi ini ada dalam konteks misi, eskatologi, kesengsaraan, dan kemuridan. Ini berarti transfigurasi itu adalah bagian utuh dari janji kepada pengikut Yesus. Sebagaimana halnya Yesus mengalami transfigurasi dalam kemuliaan karena taat kepada kehendak Allah, demikian juga setiap orang Kristiani (murid) akan mengalami kemuliaan asal mereka setia dan taat. Salah satu janji yang dinikmati Abram dalam hidupnya ialah hidup mulia karena karunia besar Allah. Itulah yang kita baca dari Bac.I. Janji pemuliaan itulah yang juga diungkapkan dalam Bac.II: “…yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia…” Semoga kita layak untuk itu.

SABTU, 27 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Ul.26:16-19; Mzm.119:1-2,4-5,7-8; Mat.5:43-48.



Hari ini Sabtu biasa Pekan I Prapaskah. Peringatan St.Gabriel, Pelindung Novisiat. Kita kenang dia dalam doa kita. Injil berkisah mengenai perintah mengasihi musuh. Jika dalam perintah lama dianjurkan agar orang mengasihi sesama dan membenci musuh, maka Yesus memberi perintah baru: mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita. Tentu ini tidak mudah. Sebab secara kodrati kita cenderung mengutuk dan membenci orang seperti itu. Mengapa perintah ini penting? Yesus memberikan beberapa alasan. Pertama, alasan teologis. Jika kita melakukan perintah baru ini, yakni perintah etis radikal, kita memperlihatkan diri sebagai orang yang berupaya menjadi anak Bapa di sorga. Bapa itu penuh kasih dan tidak pandang bulu dalam pancaran kasihNya. Kedua, alasan sosial kemanusiaan-horizontal. Jika kita hanya melakukan perintah umum dan biasa, kita sama dengan orang pada umumnya. Karena itu Yesus menganjurkan agar kita melakukan tindakan etis yang melampaui tuntutan minimal-sosial. Perbuatan baik dan kasih harus inklusif, merangkul semua. Tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu. Kalau kasih itu hanya dibatasi pada kalangan tertentu, kita tidak dapat menjadi anak Bapa di sorga. Injil diakhiri dengan perintah terkenal dan berat: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Teolog moral sepanjang sejarah gereja sibuk merenungkan perintah ini. Yang paling akhir ialah Yohanes Paulus II. Dia mengakui bahwa ini berat. Tetapi dengan rahmat yang kita minta dalam doa, ia berharap kita dapat sedikit demi sedikit memenuhi idealism moral dan iman ini. Mengapa? Karena ala biasa karena biasa. Karena berdikit-dikit, lama-lama menjadi bukit.

JUM'AT, 26 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yeh.18:21-28; Mzm.130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Mat.5:20-26.




Hari ini Jum’at biasa Pekan I Prapaskah. Injil menawarkan beberapa hal penting. Pertama, model hidup keagamaan yang harus melampaui mentalitas legalistik ala ahli Taurat. Kedua, radikalisasi larangan membunuh dalam Perjanjian Lama. Jika di sana, tindakan membunuh diganjar dengan ganjaran setimpal, menurut Yesus, sekadar marah dan berkata kasar sudah cukup sebagai alasan untuk menghukum berat pelakunya. Ketiga, mengenai persembahan yang benar. Di sini ada bahasan mengenai persembahan dan relasi yang baik dan benar dengan sesama. Persembahan adalah perkara membangun dan menjaga relasi dengan Allah, relasi vertikal, teologis. Itu tidak salah. Tetapi jika orang hanya memperhatikan relasi itu saja, hal itu tidak cukup sebagai dasar dan sikap hidup. Mengapa? Karena relasi vertikal itu harus tampak secara nyata dalam relasi horizontal, relasi humanistik, relasi antar manusia, relasi sosial. Yesus mengajarkan bahwa orang tidak dapat merasa aman dan nyaman dalam relasi vertikal dengan Allah, jika ia tidak mempunyai relasi yang baik dan benar dengan orang lain. Karena itu, Yesus mengatakan bahwa sebelum mempersembahkan korban, orang harus membereskan relasinya dengan sesama sebelum terlambat. Relasi yang baik dan benar dengan sesama itulah syarat persembahan, upaya membangun relasi vertikal dan teologis dengan Allah. Yesus menegaskan bahwa upaya membangun relasi sosio-etis amat penting dan harus dilakukan sebelum terlambat. Relasi yang baik dan benar yang dibangun dengan Allah, akan menjadi tidak berarti lagi, kalau kita tidak punya relasi yang baik dan benar dengan sesama. Seperti kata Yakobus, iman harus tampak dalam perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah hampa dan mati.

KAMIS, 25 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Est.4:10a.10c-12,17-19; Mzm.138:1-2a,2bc-3,7c-8; Mat.7:7-12.




Hari ini hari Kamis biasa Pekan I Prapaskah. Injil berbicara tentang hal pengabulan doa dan “kaidah emas” yang terkenal itu. Teks ini menganjurkan agar kita berdoa dengan tekun dan terus menerus. Jika itu dilakukan, pasti akan membuahkan hasil. Doa tidak akan sia-sia. Mengapa? Karena sebagaimana halnya seorang ayah manusiawi tahu dan bisa memberikan hal-hal yang baik bagi anak-anaknya, betapa Allah Bapa di surga: Ia pasti mengetahui apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Teks ini amat menekankan tindakan penyertaan dan penyelenggaraan Allah yang penuh kasih atas hidup manusia di dunia ini. Karena itu, jangan sampai memanipulasi Allah atau memaksa Allah agar mengabulkan apa yang kita kehendaki. Allah juga tidak perlu diiingatkan mengenai apa yang kita perlukan dalam hidup ini. Yang pasti, Allah tahu memberi apa yang baik tepat pada waktunya. Ia tidak akan memberikan batu ganti roti (bdk.Mat.4:3; 6:11; 14:13-21; 26:26-30). Itu sebabnya teks ini diawali dengan ucapan yang amat menarik: orang yang meminta akan mendapat. Orang yang mencari akan menemukan. Pintu akan dibukakan bagi yang mengetuk. Teks ini berada dalam untaian apa yang disebut ucapan-ucapan etis yang semuanya bermuara pada “kaidah emas” dalam ayat 12. Kaidah emas ini ditawarkan sebagai prinsip penuntun hidup yang menjadi pemadatan seluruh hukum. Para murid harus melandaskan seluruh hidupnya di atas kaidah ini. Dengan itu mereka hidup menurut Kitab Suci. Baiklah kaidah emas itu dikutip di sini sebagai pesan pokok hari ini: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

RABU, 24 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yun.3:1-10; Mzm.51:3-4,12-13,18-19; Luk.11:29-32
.


Hari ini hari Rabu biasa Pekan I Prapaskah. Injil berbicara tentang tanda Yunus. Kisah Yunus ini menjadi bingkai penting untuk memahami teks ini. Yunus menjadi tanda yang mendatangkan tobat. Yunus diutus untuk melakukan tugas perutusan ke wilayah asing dan penuh permusuhan (karena Niniwe ibu kota Asyur itu, pernah menghancurkan Israel). Jadi, orang Israel pasti takut akan negeri itu, dan tidak suka akan orang di sana. Yunus mencoba menghindar dari tugas itu. Setelah melewati jalan berliku-liku (sampai harus masuk ke perut ikan), akhirnya ia mencapai tujuannya dan mewartakan tobat. Hasilnya luar biasa: seluruh warga kota bertobat (mulai dari raja sampai ke lapisan terbawah). Peristiwa tobat inilah yang menjadi “tanda Yunus” yang diangkat Lukas di sini. Selain mengangkat kisah Yunus, Lukas juga mengangkat kisah Ratu dari Selatan. Di sini ada perbedaan. Kalau Yunus harus pergi ke negeri orang kafir, sekarang justru orang kafir yang datang ke Yerusalem. Seperti dalam kisah Yunus, dalam kisah ini pun terjadi pertobatan. Melalui pengajaran ini, Yesus membuat perbandingan dan kontras antara orang yang berada di dalam dan di luar terang perwahyuan. Dengan itu, Yesus mewartakan undangan kasih dan keselamatan Allah yang ditawarkan secara luas kepada segala bangsa. Ternyata manusia, siapa pun dan dari mana pun asalnya, dapat memberi tanggapan yang sepatutnya terhadap tawaran itu. Yunus, dengan contoh pertobatan Niniwe, dan Ratu dari Selatan, dengan ziarah ke Yerusalem, menjadi tanda penghakiman sekaligus penghukuman bagi orang yang tidak mau menerima Yesus. Mari kita belajar hidup pertobatan dari mereka.

SELASA, 23 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.55:10-11; Mzm.34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat.6:7-15.


Hari ini peringatan fakultatif St.Polikarpus. Injil terdiri atas tiga bagian. Pertama, konteks Doa Bapa Kami. Yesus mengkontraskan ajaranNya mengenai doa dengan praktek doa bangsa kafir. Menurut Yesus doa jangan bertele-tele, memakai banyak kata. Doa bukan tindakan satu arah. Efektifitas doa tidak ditentukan oleh banyaknya kata. Matius memberi gambaran seakan bangsa kafir bisa memanipulasi Allah dengan doa. Sebaliknya, Yesus menekankan kenyataan bahwa Allah sudah mengetahui kebutuhan kita. Berarti Allah sudah siap mengabulkan kebutuhan kita. Doa permohonan itu hanyalah salah satu jenis doa. Bukan satu-satunya. Menurut Yesus, doa dan kemampuan berdoa adalah rahmat. Dalam bagian berikut Yesus mengajarkan doa yang mengalir dari prakarsa rahmat Allah. Tugas manusia hanya menanggapi pancaran rahmat itu dengan perbuatan yang sepadan dengan martabat relasi yang benar dengan Allah. Bagian kedua, doa Bapa Kami itu sendiri. Sudah ada banyak ulasan menarik mengenai doa ini. Saya sebut dua. Pertama, Katekismus Gereja Katolik (Ende, 1995). Kedua, ulasan yang menarik dalam buku Joseph Kardinal Ratzinger (Yesus dari Nazaret). Saya hanya mau menyebut satu hal: dengan menyebut Allah sebagai “Bapa”, Yesus dan orang Kristen mau menantang klaim Kaisar waktu itu yang ingin menjadi “Bapa Bangsa”. Tantangan itu dinyatakan dengan menegaskan: hanya Allah yang bisa mengemban jabatan dan martabat itu. Bukan manusia. Bagian ketiga, penerapan praktis-etis-teologis bagian kedua. Di sini saya mau fokus pada ajaran mengenai pengampunan. Setelah menerima pengampunan cuma-cuma dari Allah, para murid punya kewajinan etis mutlak untuk mengampuni orang lain. Jika para murid mengampuni sesama, mereka akan diampuni Allah.

SENIN, 22 FEBRUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Ptr.5:1-4; Mzm.23:1-3a.3b-4,5.6; Mat.16:13-19.



Hari ini Pesta Tahta St.Petrus. Injil terdiri atas dua bagian. Bagian pertama, dialog Yesus dengan para murid-Nya di mana Yesus menanyakan identitas diri-Nya menurut kata orang (ada empat jawaban; ini gambaran betapa visi Kristologi itu serba plural dalam Perjanjian Baru) dan akhirnya menurut kata para murid itu sendiri (diwakili Petrus). Ini sebuah pengakuan iman yang mencerminkan visi kristologi tertentu. Bagian kedua, kita sebut “berkat” bagi Petrus. Di sini, menurut Yesus, Bapa-lah yang berperan besar mengantar Petrus untuk sampai kepada pengakuan iman akan Yesus Kristus. Menarik juga bahwa Yesus menyapa Petrus dengan nama pribadinya yaitu Simon anak Yunus. Jadi, pengakuan iman itu adalah sebuah pengakuan iman personal (memantulkan iman komunal juga), bukan sebuah pengakuan karena mengemban jabatan tertentu. Adegan ini terjadi di Kaisarea Filipi. Di sana ada pusat peribadatan kafir dengan simbol patung terukir di batu karang. Simon diberi gelar Petros, Kefas, batu karang. Gelar itu dimaksudkan untuk menantang sentrum ibadat kafir itu. Berkat yang diucapkan Yesus dalam bagian kedua, memuji batu karang iman yang sedang muncul yang terwakili dalam diri Petrus dan murid lainnya. Batu karang ini adalah batu karang kokoh, menjadi landasan kokoh (lih.7:24-27) bagi orang yang teguh berpegang pada “batu yang dibuang oleh tukang bangunan” (21:24; Mzm.119:22). Dengan ini Yesus mau menjamin dan memastikan bagi komunitas jemaat beriman bahwa Allah akan menopang dan mendukung keputusan-keputusan iman mereka dalam hidup ini, yakni keputusan menjadi anggota jemaat, keputusan menyangkut peraturan hidup bersama dalam komunitas, dan keputusan menyangkut perihal pengampunan.

MINGGU, 17 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.62:1-5; Mzm.96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ab; 1Kor.12:4-11; Yoh.2:1-11.



Injil berkisah mengenai mukjizat pertama Yesus dalam perkawinan di Kana. Itulah yang pertama dari tujuh tanda yang memperlihatkan keilahian Yesus. Ini khas Yohanes. Sebagai orang Katolik kita menekankan peranan Maria (nama itu tidak disebut, seperti nama murid yang dikasihi. Mungkin untuk menekankan bahwa yang terpenting ialah status dan martabat kemuridan, bukan nama pribadi). Maria menjadi “pengantara” untuk melihat kekurangan yang dialami tuan pesta dan menyampaikan hal itu kepada Yesus. Per Mariam ad Yesum. Tetapi yang penting ialah transformasi kultural yang dilakukan Yesus. Air tempayan yang biasanya dipakai sebagai pembasuhan, sekarang diubah dan mendapat martabat dan fungsi baru, menjadi minuman. Transformasi itu membuat orang heran. Ada berbagai perbuatan ajaib Allah. Salah satunya ialah Yesus mengubah air menjadi anggur. Pasti Allah bekerja. Kalau injil berkisah mengenai perkawinan di Kana, hal itu dipakai sebagai ibarat perjumpaan Allah dan umat yang mendatangkan sukacita besar. Sukacita dan optimisme itulah yang dibangun Yesus dalam perkawinan di Kana. Anggur mendatangkan sukacita, mengubah pesta yang muram durja menjadi ceria, bukan karena anggur, melainkan karena kehadiran Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, jaman mesianis ditandai kemakmuran dan anggur manis (Am.9:11; Yl.3:18; Yes.25:6). Air jadi anggur melambangkan perubahan karena datangnya dunia baru, kedatangan Mesias. Melalui tanda ini Yesus memperlihatkan kemuliaan atau daya ilahi-Nya. Para murid percaya kepadaNya. Mukjizat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang agar percaya. Semoga kita tidak hanya mencari mukjizat Yesus demi mukjizat itu saja, melainkan harus sampai berlabuh dalam iman akan dia.

SABTU, 16 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mrk.2:13-17.




Hari ini ada Peringatan St.Berardus, dkk. Mari kita kenang mereka dalam doa. Injil mengisahkan panggilan Lewi. Dalam Markus ada tiga kisah panggilan. Pertama, 1:16-20. Ini yang kedua. Ketiga, 3:13-19. Ini triade panggilan dalam Markus. Dalam yang pertama, Markus menekankan reaksi murid yang spontan menanggapi panggilan Yesus. Dalam yang ketiga, Yesus menugaskan murid melakukan pewartaan dan pengusiran setan. Dalam yang kedua, Markus menekankan bahwa Yesus tidak memanggil orang saleh, melainkan pendosa. Itulah Lewi dalam kedudukan dan pekerjaan sebagai pemungut cukai. Apa salahnya? Cukai dipungut untuk diberikan kepada Roma. Jabatan itu simbol kekuasaan dan penindasan Roma atas Israel. Pemungut cukai dibenci bukan hanya karena mereka mengumpulkan uang (paksa dan mark-up), melainkan karena mereka mengambil uang rakyat demi Roma. Lewi, berarti keturunan imam. Seharusnya ia melakukan tugas dan jabatan sebagai imam. Tetapi sekarang ia duduk di kantor pajak penjajah. Ini pelecehan yang mencemari martabat imamat Yahudi. Alih-alih menjadi pemimpin agama sebagaimana seharusnya (tugas kaum Lewi), ternyata Lewi yang ini menjual martabatnya kepada musuh dan mengumpul pajak bagi mereka. Yesus memanggil orang itu, yang dianggap pendosa dan dibenci. Yesus makan bersama dia. Tindakan ini untuk memperlihatkan Yesus sebagai guru Hikmat, yang datang bukan untuk orang saleh, melainkan pendosa. Menurut Markus, Yesus adalah Hikmat Allah yang mencari pendosa untuk diampuni. Di hadapan pendosa, kita cepat marah dan mengadili, padahal kita pendosa. Mari kita belajar dari Yesus, Hikmat Allah, yang datang memanggil pendosa dan mengampuninya, dan dengan itu memberinya tugas dan martabat baru. Ini pemberdayaan versi biblis.

JUM'AT, 15 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17,18-19; Mrk.2:1-12.



Hari ini ada Pesta St.Arnoldus Jansen, St.Maurus dan Plasidus. Kita kenang mereka. Injil berkisah tentang beberapa hal. 1). Upaya pengusung si lumpuh agar sampai ke Yesus. Di akhir Bab 1 Yesus menyembuhkan di tempat sunyi. Di sini Yesus melakukannya di rumah. Rumah itu penuh. Orang harus buka atap. Kehadiran Yesus mendorong orang melakukan terobosan kreatif. Yesus melakukan terobosan dalam pemahaman dosa dan pengampunan. 2). Yesus mengampuni. Kata yang dipakai bukan pengampunan tetapi pelepasan: dosamu dilepaskan. Menurut Markus dosa dan setan membelenggu manusia. Allah dalam Yesus membebaskan. Kata yang sama dipakai dalam 1:4, 1:18, 1:31: semuanya melukiskan pelepasan dari belenggu dosa dan setan karena Allah. 3). Orang persoalkan kuasa Yesus mengampuni dosa. Hal ini bisa ditafsirkan dengan beberapa cara. Pertama, bisa dilihat sebagai salah paham ahli Taurat mengenai daya ilahi Yesus. Kedua, itu adalah jebakan. Ketiga, itu mau menandaskan ajaran Yesus perihal pengampunan. Beberapa kali, Yesus mengajak manusia mengampuni sesama meniru Allah. Kalau hanya Allah yang bisa mengampuni, maka tidak ada lagi kewajiban dasar bagi manusia untuk saling mengampuni. Betapa itu ngeri. Yesus memadukan pengampunan dengan penyembuhan untuk memperlihatkan bahwa Allah suka mengampuni dari pada menghukum, menyembuhkan dari pada melukai. Keempat, Si lumpuh disembuhkan. Dengan daya ilahi Yesus sembuhkan si lumpuh. Ia berdiri tegak, siap menyongsong kedatangan Tuhan. Kelima, orang heran, kagum, takwa, ekstase. Ini model reaksi seperti dalam Mrk.5:42 ketika Yesus membangkitkan gadis kecil, dan Markus 16:8, ketika para wanita menyaksikan makam kosong. Kita harus saling mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita. Tuhan memberi teladan. Tinggal kita melakukannya. Pengampunan menghidupkan dan menumbuhkan kasih.

KAMIS, 14 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.4:1-11; Mzm.44:10-11,14-15,24-25; Mrk.1:40-45.



Injil hari ini bercerita tentang penyembuhan orang kusta. Ini penyembuhan kedua. Dalam yang pertama, Yesus menyembuhkan orang dalam rumah ibadat Kapernaum. Di sini Yesus menyembuhkan orang yang disingkirkan dari Sinagoga karena sakitnya. Kusta dianggap kutuk, sehingga dikucilkan, dianggap sampah. Mereka harus hidup di luar masyarakat, di gua, di semak. Di sini Markus bermain dengan ide ketahiran dan rumah ibadat. Markus melukiskan hubungan Yesus dengan sinagoga yang cukup rumit. Di satu pihak, dengan menyentuh orang kusta Ia melanggar larangan agama agar tidak menyentuh orang najis. Di pihak lain, Ia mengutus kembali orang yang tahir itu kepada para imam (di rumah ibadat) untuk menjalani ritual pemulihan. Saat itu, imam yang berkuasa memutuskan apakah seseorang bebas kusta atau tidak. Tugas itu melekat dalam jabatan mereka sebagai imam, entah berkompeten atau tidak. Yesus melarang orang itu agar tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Tetapi teks menyarankan bahwa tubuh yang tahir itu menjadi bukti dan saksi, baik secara sosial-komunal maupun teologis-ritual. Orang itu menjadi saksi yang menyampaikan kabar tentang perbuatan ajaib Yesus. Yesus tidak hanya memulihkan orang itu secara jasmani. Yesus juga memulihkan orang itu ke dalam komunitasnya dan ia menjadi saksi dan pewarta. Ini yang penting. Markus memperlihatkan bahwa orang ini berubah: dari orang yang sendirian dan terasing, menjadi orang yang diterima dalam komunitas. Di sana ia menjadi pewarta daya penyembuhan Allah. Kita mudah mengucilkan orang dari komunitas. Yesus mengajar kita keberanian moral untuk memulihkan martabat orang. Yesus memberi teladan. Tinggal kita mau melaksanakannya atau tidak.

RABU, 13 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Sam.3:1-10,19-20; Mzm.40:2,5,7-8a, 8b-9,10; Mrk.1:29-39.



Hari ini Peringatan St.Hilarius (Uskup). Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini menyampaikan kepada kita dua peristiwa. Pertama, penyembuhan ibu mertua Petrus dan orang lainnya. Inilah mukjizat kedua dari tiga rangkaian mukjizat penyembuhan dalam bab 1. Jadi, inilah yang di tengah; ia menempati posisi kunci. Teks Yunani sebenarnya melukiskan keadaan perempuan itu seperti sudah mati, sehingga tindakan Yesus pun seperti melakukan mukjizat pembangkitan. Jadi ada transformasi radikal, dari keadaan seperti mati, lalu menjadi hidup. Yang lebih penting lagi, ialah ia melayani mereka. Jadi, tindakan Yesus menyembuhkan (membangkitkan) perempuan itu dengan menyentuhnya, tidak hanya memulihkan kesehatan jasmani perempuan itu, melainkan juga membawa perempuan itu ke status atau martabat rohani baru. Itu amat penting. Berulang-kali dalam injil Markus, Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Nah perempuan yang sudah disembuhkan ini adalah orang pertama dalam injil Markus yang menjalankan moto idealisme pelayanan Yesus itu. Luar biasa! Kedua, Yesus pergi mengajar dan menyembuhkan di tempat lain. Setelah menjadi terkenal dan beken, Yesus dicari, dikejar, dan bahkan diincar banyak orang. Ada bahaya terikat, diikat di suatu tempat. Bahaya kemapanan. Mabuk ketenaran, mabuk oleh nama harum. Maka Yesus dengan sengaja menghindari dan mencegah hal itu. Ia segera pergi, agar tidak mapan di suatu tempat. Yesus mampu melakukan hal itu karena Ia rajin dan tekun berdoa. Memang layanan kasih harus dilandasi doa dan disebarkan di mana-mana. Tidak hanya di satu tempat saja. Tidak hanya pada kalangan tertentu, melainkan di mana-mana dan ke pelbagai kelompok manusia.

SELASA, 12 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:9-20; MT 1Sam.2:1,4-5,6-7, 8abcd; Mrk.1:21b-28.



Hari ini ada peringatan St.Aelredus dan St.Bernardinus dr Corleone. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan penampilan perdana Yesus, mengajar di rumah ibadat di Kapernaum. Ia mengajar dengan penuh kewibawaan. Orang takjub mendengarnya. Pengajaran itu dilanjutkan/dikukuhkan dengan mukjizat. Ini adalah mukjizat pertama dari tiga rangkaian mukjizat dalam Bab 1. Di rumah ibadat itu ada orang kerasukan roh jahat. Yesus yang dipenuhi Roh Kudus dalam pembaptisan, kini berkonfrontasi dengan roh jahat. Dengan penuh kewibawaan, Ia menyuruh roh jahat itu pergi. Beberapa kali dalam injil Markus nanti Yesus mengkonfrontasikan dua keadaan itu: dipenuhi Roh Allah dan dipenuhi roh jahat. Sebagaimana reaksi terhadap pengajaran, reaksi terhadap mukjizat pun sama: orang takjub. Yesus memang luar biasa, karena penuh dengan Roh Allah. Tetapi ada bentuk reaksi lain selain reaksi takjub tadi. Reaksi itu ialah secara diam-diam menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran baru. Ia memberi perintah kepada roh jahat, dan roh jahat itu taat kepada-Nya. Saya rasa ada sindiran di sini seperti sindiran di tempat lain yang mengatakan Yesus mengusir setan dengan kuasa Beezebul, kepala Setan-setan. Namun, perbuatan baik tetap perbuatan baik. Perkataan yang penuh daya kuasa, tetap perkataan yang penuh daya kuasa. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita mendengar bahwa kabar tentang Yesus tersiar dengan sendirinya ke daerah sekitar. Perkataan dan perbuatan yang baik yang dikerjakan Yesus, mewartakan dan menyiarkan si pengucap kata itu dan pelaku perbuatan baik itu. Pelita yang bernyala mau tak mau pasti kelihatan.

SENIN, 11 JANUARI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN DAN PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:1-18; Mzm.116:12-13,14,17,18-19; Mrk.1:14-20.



Injil hari ini menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, warta Yesus tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat. Ada dua tuntutan untuk menyongsong datangnya kerajaan itu: kita harus bertobat dan juga percaya. Kedua, pemanggilan murid-murid yang pertama. Perhatikan baik-baik, Yesus memanggil para muridNya dari tengah kesibukan mereka. Mereka dipanggil dari dalam konteks kesibukan pekerjaan mereka. Jadi, panggilan itu bukan sekadar sebuah peristiwa rohani, semacam wahyu dalam mimpi, atau seperti pulung, melainkan terjadi dalam rutinitas keseharian. Ketiga, menarik juga kalau kita mengamati struktur kata-kata yang dipakai dalam pemanggilan itu. Mula-mula mereka dipanggil: “Mari!”. Tetapi mereka dipanggil untuk menjalankan tugas tertentu. Tugas paling pertama ialah tugas mengikuti Yesus (sebagai murid: Ikutlah Aku). Ini paling mendasar: kita dipanggil menjadi murid dan selamanya akan menjadi murid (tidak pernah tamat). Tugas kedua, dijadikan penjala manusia. Tugas ang kedua, kiranya mengalir dari atau berakar pada yang pertama. Keempat, menarik juga kalau kita mengamati reaksi atau tanggapan mereka yang dipanggil menjadi murid. Perhatikanlah: Tanpa bersoal-jawab, mereka spontan meninggalkan perlengkapan kerja mereka, lalu mengikuti Tuhan. Itu dalam konteks pemanggilan pertama. Dalam konteks pemanggilan kedua, lebih menarik lagi. Ketika mereka dipanggil Tuhan, secara spontan mereka meninggalkan keluarga mereka (terwakili ayah). Memang tanggapan terhadap panggilan Tuhan harus spontan. Refleksi dan permenungan memang perlu, tetapi bisa juga menjadi rintangan. Orang bisa lupa dan asyik dalam kesibukannya. Jadi, Tuhan datang mewartakan Kerajaan Allah; kita dituntut untuk bertobat dan percaya. Semoga kita siap menjadi pewarta Injil jika Tuhan memanggil kita melakukan tugas itu.