OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS DAN GESER-INSTITUTE
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, GEISE SENTER INSTITUTE,
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Why.11:19a.12:1,3-6a,10ab; Mzm.45:10bc,11,12ab,16; 1Kor.15:20-26; Luk.1:39-56.
Hari ini Hari Raya SP.Maria diangkat ke surga. Banyak serikat hidup bakti yang merayakannya. Mari kita merayakannya juga. Dalam injil kita dengar beberapa hal penting. Pertama, Maria mengunjungi Elisabet. Ini salah satu peristiwa dalam peristiwa gembira. Ada beberapa hal penting yang patut digaris-bawahi. Ada peristiwa Maria memberi salam kepada Elisabet dan ketika salam itu terdengar Elisabet maka anak dalam rahimnya melonjak kegirangan. Sukacita familial yang tampak dalam peristiwa saling mengunjungi, juga terasa oleh anak dalam rahim. Hal itu diungkapkan dua kali (ay.41.44). Lalu keluarlah kata-kata Elisabet yang terkenal itu, yang menjadi bagian dari doa Salam Maria. Kidung Elisabet ini cukup panjang, tetapi tidak disebut demikian dalam tradisi gereja. Kedua, Kidung Elisabet yang indah ditanggapi dengan Kidung Maria, Magnificat terkenal itu. Tidak cukup ruang untuk mengulas kidung itu di sini. Ini kidung revolusioner perempuan yang bergema dalam teologi feminis. Hari ini tampak dirayakan dalam Bac.I. Di sana ada pelukisan mengenai Bait Suci Allah di sorga dan tampak tabut perjanjianNya. Tabut Perjanjian adalah salah satu gelar Maria (butir Litani SP.Maria). Keagungan peristiwa pengangkatan itu dirayakan dengan pelukisan sbb: Seorang perempuan beselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah makota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ini salah satu ide seniman membuat patung Maria. Dogma pengangkatan ini sejalan dengan ajaran Kitab Suci mengenai kebangkitan kita yang bermula dari kebangkitan Kristus, sebab “...demikinalah pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (Bac.I).
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS DAN GESER INSTITUTE FF-UNPAR BDG.
Rabu, 16 Juni 2010
MINGGU, 08 AGUSTUS 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.18:6-9; Mzm.33:1,12,18-19,20,22; Ibr.11:1-2,8-19; Luk.12:32-48.
Injil hari ini memberi beberapa nasihat hidup. Pertama, nasihat agar jangan takut mengarungi hidup ini (ay.32). Dengan kata lain, orang harus hidup oleh, karena, dan dalam iman. Kedua, nasihat untuk memberi sedekah dari harta milik. Harta milik harus berfungsi sosial-komunal-karitatif. Ketiga, nasihat untuk mencari harta surgawi, rohani, yang selalu dekat dan melekat pada kita: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Keempat, nasihat berjaga-jaga (ikat pinggang terikat, pelita bernyala). Orang yang didapati berjaga, dianggap berbahagia (ay.37.43). Hamba seperti ini akan diberi imbalan kepercayaan tinggi. Tetapi ada antagonis hamba ini, yaitu hamba jahat: berbuat jahat justru karena tuannya tidak ada di tempat. Hamba seperti ini akan dihukum. Dari sini keluar prinsip moral sebagai muara ajaran Yesus: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Hidup dari, oleh, dalam, dan berdasarkan iman, itulah yang dibentangkan dalam Bac.II dengan memberi beberapa model orang beriman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Sara). Hidup jadi bermakna karena iman. Teladan hidup beriman itu jugalah yang secara singkat disinggung dalam Bac.I.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.18:6-9; Mzm.33:1,12,18-19,20,22; Ibr.11:1-2,8-19; Luk.12:32-48.
Injil hari ini memberi beberapa nasihat hidup. Pertama, nasihat agar jangan takut mengarungi hidup ini (ay.32). Dengan kata lain, orang harus hidup oleh, karena, dan dalam iman. Kedua, nasihat untuk memberi sedekah dari harta milik. Harta milik harus berfungsi sosial-komunal-karitatif. Ketiga, nasihat untuk mencari harta surgawi, rohani, yang selalu dekat dan melekat pada kita: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Keempat, nasihat berjaga-jaga (ikat pinggang terikat, pelita bernyala). Orang yang didapati berjaga, dianggap berbahagia (ay.37.43). Hamba seperti ini akan diberi imbalan kepercayaan tinggi. Tetapi ada antagonis hamba ini, yaitu hamba jahat: berbuat jahat justru karena tuannya tidak ada di tempat. Hamba seperti ini akan dihukum. Dari sini keluar prinsip moral sebagai muara ajaran Yesus: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Hidup dari, oleh, dalam, dan berdasarkan iman, itulah yang dibentangkan dalam Bac.II dengan memberi beberapa model orang beriman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Sara). Hidup jadi bermakna karena iman. Teladan hidup beriman itu jugalah yang secara singkat disinggung dalam Bac.I.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 01 AGUSTUS 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Pkh.1:2,2:21-23; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol.3:1-5,9-11; Luk.12:13-21.
Injil hari ini berbicara mengenai orang kaya yang bodoh. Terhadap orang yang meminta agar menjadi penengah sengketa harta warisan, Yesus memberi nasihat mengenai kewaspadaan akan ketamakan. Ya ketamakan itu amat berbahaya. Ia tidak tahu batas. Karena itu, ia bisa melibas apa saja, bahkan manusia pun dilindas. Tentang itu Yesus berkata: ketamakan menumpuk harta tidak membuat hidup terjamin. Hidup tidak tergantung pada kekayaan. Hidup hanya tergantung pada Allah. Untuk menegaskan poin ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang merancang hidupnya. Setelah merasa yakin dan berhasil dengan rancangan itu, ia merasa hidup sudah aman. Ternyata malam itu nyawanya dicabut. Dalam kematian, harta benda tidak berarti apa-apa. Maka yang terpenting ialah menjadi kaya di hadapan Allah, yaitu mengumpulkan harta surgawi, harta rohani. Menarik bahwa Liturgi mengkaitkan Injil dengan Bac.I Pengkotbah yang terkenal dengan refreinnya: Kesia-siaan belaka,... segala sesuatu sia-sia. Jika pengumpul harta mati, ia harus tinggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Mungkin nasihat paling baik sehubungan dengan ini kita lihat dari Bac.II: “...matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Pkh.1:2,2:21-23; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol.3:1-5,9-11; Luk.12:13-21.
Injil hari ini berbicara mengenai orang kaya yang bodoh. Terhadap orang yang meminta agar menjadi penengah sengketa harta warisan, Yesus memberi nasihat mengenai kewaspadaan akan ketamakan. Ya ketamakan itu amat berbahaya. Ia tidak tahu batas. Karena itu, ia bisa melibas apa saja, bahkan manusia pun dilindas. Tentang itu Yesus berkata: ketamakan menumpuk harta tidak membuat hidup terjamin. Hidup tidak tergantung pada kekayaan. Hidup hanya tergantung pada Allah. Untuk menegaskan poin ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang merancang hidupnya. Setelah merasa yakin dan berhasil dengan rancangan itu, ia merasa hidup sudah aman. Ternyata malam itu nyawanya dicabut. Dalam kematian, harta benda tidak berarti apa-apa. Maka yang terpenting ialah menjadi kaya di hadapan Allah, yaitu mengumpulkan harta surgawi, harta rohani. Menarik bahwa Liturgi mengkaitkan Injil dengan Bac.I Pengkotbah yang terkenal dengan refreinnya: Kesia-siaan belaka,... segala sesuatu sia-sia. Jika pengumpul harta mati, ia harus tinggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Mungkin nasihat paling baik sehubungan dengan ini kita lihat dari Bac.II: “...matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
KAMIS, 17 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Sir.48:1-14; Mzm.97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15.
Hari ini hari Biasa. Mari kita berusaha hidup senantiasa di hadapan Allah dengan hati tulus dan murni. Injil membahas tentang unsur ketiga dalam praksis kesalehan kita: doa. Ada tiga nasihat yang diberikan Yesus dalam injil ini. Nasihat pertama, tidak termasuk injil hari ini tetapi baik juga disinggung karena dalam nasihat pertama inilah ada kemiripan dengan dua praksis lain yang dibahas kemarin. Doa jangan dipamerkan di ruang publik, di tempat umum, di pasar, di tikungan jalan, dengan suara keras, memakai pengeras suara. Kata Yesus, tidak usah seperti itu: itu hanya berlaku bagi orang munafik. Kedua, Yesus menasihatkan kita agar doa kita singkat, jangan bertele-tele. Mengapa, karena Bapa sudah mengetahui apa yang kita minta. Ketiga, Yesus memberi contoh atau model doa itu. Itulah doa Bapa Kami, oratione dominica, al sholat al robaniyah, Lord’s Prayer, yang terkenal itu. Doa ini menjadi model doa karena diajarkan Tuhan sendiri kepada kita. Sudah ada banyak buku yang mengulas doa ini. Tetapi saya ingatkan pembaca untuk membaca salah satu ulasan bagus dalam Katekismus Gereja Katolik. Pasti kita diperkaya oleh doa itu. Menjadi model karena, ini dan beginilah seharusnya cara kita berdoa. Dimulai dengan pujian akan Allah Bapa. Ini harus. Sesudah itu, ada permohonan. Biasanya dianggap ada tujuh permohonan. Pesannya jelas: Jangan memamerkan doa, jangan bertele-tele, dengan suara keras. Hafalkanlah doa Bapa Kami dan setiap kali kita mengucapkannya, hendaklah kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh. Niscaya kita dididik dalam rumah doa sejati yang amat kaya dan dalam ini.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Sir.48:1-14; Mzm.97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15.
Hari ini hari Biasa. Mari kita berusaha hidup senantiasa di hadapan Allah dengan hati tulus dan murni. Injil membahas tentang unsur ketiga dalam praksis kesalehan kita: doa. Ada tiga nasihat yang diberikan Yesus dalam injil ini. Nasihat pertama, tidak termasuk injil hari ini tetapi baik juga disinggung karena dalam nasihat pertama inilah ada kemiripan dengan dua praksis lain yang dibahas kemarin. Doa jangan dipamerkan di ruang publik, di tempat umum, di pasar, di tikungan jalan, dengan suara keras, memakai pengeras suara. Kata Yesus, tidak usah seperti itu: itu hanya berlaku bagi orang munafik. Kedua, Yesus menasihatkan kita agar doa kita singkat, jangan bertele-tele. Mengapa, karena Bapa sudah mengetahui apa yang kita minta. Ketiga, Yesus memberi contoh atau model doa itu. Itulah doa Bapa Kami, oratione dominica, al sholat al robaniyah, Lord’s Prayer, yang terkenal itu. Doa ini menjadi model doa karena diajarkan Tuhan sendiri kepada kita. Sudah ada banyak buku yang mengulas doa ini. Tetapi saya ingatkan pembaca untuk membaca salah satu ulasan bagus dalam Katekismus Gereja Katolik. Pasti kita diperkaya oleh doa itu. Menjadi model karena, ini dan beginilah seharusnya cara kita berdoa. Dimulai dengan pujian akan Allah Bapa. Ini harus. Sesudah itu, ada permohonan. Biasanya dianggap ada tujuh permohonan. Pesannya jelas: Jangan memamerkan doa, jangan bertele-tele, dengan suara keras. Hafalkanlah doa Bapa Kami dan setiap kali kita mengucapkannya, hendaklah kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh. Niscaya kita dididik dalam rumah doa sejati yang amat kaya dan dalam ini.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Selasa, 15 Juni 2010
MINGGU, 25 JULI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:20-32; Mzm.138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol.2:12-14; Luk.11:1-13.
Injil hari ini terkenal karena kita dengar Tuhan mengajar muridNya berdoa. Ada beberapa hal yang dibahas hari ini. Pertama, mengenai permohonan murid agar Tuhan mengajar mereka berdoa karena melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa. Kedua, Tuhan mengajarkan doa itu kepada mereka. Itulah doa Bapa Kami yang terkenal itu, Doa Tuhan, Oratione Dominica, al-Sholat al-Robaniyah, Lord’s Prayer. Dalam pemakaian liturgis Katolik, yang digunakan ialah versi Matius yang lebih panjang. Ketiga, Yesus berbicara mengenai hal ketekunan berdoa: berdoa harus tanpa henti, oratio continua, demikian tradisi Bapa Gereja menyebutnya, mengikuti Paulus dalam salah satu suratnya. Untuk menekankan arti penting oratio continua ini, Yesus memberi perumpamaan yang menarik dalam ayat 5-8. Keempat, setelah memberikan pengajaran (doctrina) dalam perumpamaan, Yesus sampai juga ke petuah moral, unsur parenetik-nya: ayat 9-13. Yesus menekankan arti pentingnya doa terus menerus karena hal itu pasti akan berbuah. Kata orang: PUSH, Pray Until Something Happens. Atau PULL: Pray Until the Lord Listens. Tetapi The Lord always Listen, karena Gusti ora sare. Yesus juga menarik petuah moral mengenai “tahu mana perbuatan yang baik dan yang buruk” (ay.11-13). Petuah itu akhirnya diterapkan secara teologis (ay.13): Ingat, ketekunan berdoa kepada Bapa, akan berbuah karunia Roh Kudus. Luar biasa. Kiranya ketekunan berdoa, bahkan seperti hampir tidak tahu malu lagi, itulah yang dipentaskan Bac.I, di mana Abraham seperti sedang berdagang, tawar-menawar dengan Allah. Allah mau melayani permintaan Abraham sampai akhir, walau akhirnya, Abraham menyerah. Tetapi selalu ada keterbukaan dari TUHAN. Sepertinya tidak ada kaitan apa pun dengan Bac.II. Tetapi kaitannya dapat dilihat dalam solidaritas negatif dan positif kita dengan Yesus, yang akhirnya berbuahkan shalom. Amin.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:20-32; Mzm.138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol.2:12-14; Luk.11:1-13.
Injil hari ini terkenal karena kita dengar Tuhan mengajar muridNya berdoa. Ada beberapa hal yang dibahas hari ini. Pertama, mengenai permohonan murid agar Tuhan mengajar mereka berdoa karena melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa. Kedua, Tuhan mengajarkan doa itu kepada mereka. Itulah doa Bapa Kami yang terkenal itu, Doa Tuhan, Oratione Dominica, al-Sholat al-Robaniyah, Lord’s Prayer. Dalam pemakaian liturgis Katolik, yang digunakan ialah versi Matius yang lebih panjang. Ketiga, Yesus berbicara mengenai hal ketekunan berdoa: berdoa harus tanpa henti, oratio continua, demikian tradisi Bapa Gereja menyebutnya, mengikuti Paulus dalam salah satu suratnya. Untuk menekankan arti penting oratio continua ini, Yesus memberi perumpamaan yang menarik dalam ayat 5-8. Keempat, setelah memberikan pengajaran (doctrina) dalam perumpamaan, Yesus sampai juga ke petuah moral, unsur parenetik-nya: ayat 9-13. Yesus menekankan arti pentingnya doa terus menerus karena hal itu pasti akan berbuah. Kata orang: PUSH, Pray Until Something Happens. Atau PULL: Pray Until the Lord Listens. Tetapi The Lord always Listen, karena Gusti ora sare. Yesus juga menarik petuah moral mengenai “tahu mana perbuatan yang baik dan yang buruk” (ay.11-13). Petuah itu akhirnya diterapkan secara teologis (ay.13): Ingat, ketekunan berdoa kepada Bapa, akan berbuah karunia Roh Kudus. Luar biasa. Kiranya ketekunan berdoa, bahkan seperti hampir tidak tahu malu lagi, itulah yang dipentaskan Bac.I, di mana Abraham seperti sedang berdagang, tawar-menawar dengan Allah. Allah mau melayani permintaan Abraham sampai akhir, walau akhirnya, Abraham menyerah. Tetapi selalu ada keterbukaan dari TUHAN. Sepertinya tidak ada kaitan apa pun dengan Bac.II. Tetapi kaitannya dapat dilihat dalam solidaritas negatif dan positif kita dengan Yesus, yang akhirnya berbuahkan shalom. Amin.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 18 JULI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:1-10a; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42.
Injil hari ini mengisahkan tentang dua perempuan di sekitar Yesus, yang menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah Maria dan Marta. Suatu ketika, Yesus mampir di rumah mereka. Dalam menghadapi Yesus mereka memperlihatkan dua sikap berbeda. Yang satu, Maria, duduk dekat Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Yang lain, Marta, sibuk melayani. Secara tradisional teks ini ditafsirkan sebagai menggambarkan dua cara hidup yang dapat ditempuh sebagai pengikut Yesus. Ada cara hidup kontemplatif, ada cara hidup aktif. Yang terdahulu ditekuni Maria. Yang lain dilakoni Marta. Ternyata Yesus memberi prioritas terhadap dan membela yang terdahulu. Tetapi saya mau membacanya demikian: Dalam perjalananNya berkeliling, Yesus (sebagai manusia) tentu mengalami keletihan. Ketika ia sudah sampai di tempat istirahat, maka yang Ia butuhkan ialah kedekatan dan pendampingan dari orang-orang baik di sekitarnya. Dalam artian itulah, Yesus menilai “tinggi” apa yang dilakukan Maria, dan memberi prioritas terhadap Maria. Itu tidak berarti bahwa Yesus “melecehkan” apa yang ditempuh Marta. Sama sekali tidak. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Maria, tahu melihat waktu (kairos) itu. Keramah-tamahan Maria itulah yang disinggung dalam injil hari ini. Ide kramah-tamahan (hospitalitas) itu yang diangkat dalam Bac.I hari ini: Abraham menjamu tiga tamu yang datang ke ranch-nya. Keramah-tamahan itu berbuah berkat: Isterinya akan mengandung dan melahirkan anak. Menarik bahwa Bac.II kedua justru menyinggung mengenai “kesibukan” Paulus dalam melayani umat demi mewartakan Kristus. Bahkan Paulus rela menderita dalam pelayanan itu. Anehnya lagi, Paulus merasa bersukacita karena ia boleh menerita demi pelayanan itu. Jadi, dalam bingkai liturgis, kesibukan Marta (melalui kacamata Paulus) tetap ada maknanya. Asal dijalankan dengan penuh sukacita.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:1-10a; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42.
Injil hari ini mengisahkan tentang dua perempuan di sekitar Yesus, yang menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah Maria dan Marta. Suatu ketika, Yesus mampir di rumah mereka. Dalam menghadapi Yesus mereka memperlihatkan dua sikap berbeda. Yang satu, Maria, duduk dekat Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Yang lain, Marta, sibuk melayani. Secara tradisional teks ini ditafsirkan sebagai menggambarkan dua cara hidup yang dapat ditempuh sebagai pengikut Yesus. Ada cara hidup kontemplatif, ada cara hidup aktif. Yang terdahulu ditekuni Maria. Yang lain dilakoni Marta. Ternyata Yesus memberi prioritas terhadap dan membela yang terdahulu. Tetapi saya mau membacanya demikian: Dalam perjalananNya berkeliling, Yesus (sebagai manusia) tentu mengalami keletihan. Ketika ia sudah sampai di tempat istirahat, maka yang Ia butuhkan ialah kedekatan dan pendampingan dari orang-orang baik di sekitarnya. Dalam artian itulah, Yesus menilai “tinggi” apa yang dilakukan Maria, dan memberi prioritas terhadap Maria. Itu tidak berarti bahwa Yesus “melecehkan” apa yang ditempuh Marta. Sama sekali tidak. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Maria, tahu melihat waktu (kairos) itu. Keramah-tamahan Maria itulah yang disinggung dalam injil hari ini. Ide kramah-tamahan (hospitalitas) itu yang diangkat dalam Bac.I hari ini: Abraham menjamu tiga tamu yang datang ke ranch-nya. Keramah-tamahan itu berbuah berkat: Isterinya akan mengandung dan melahirkan anak. Menarik bahwa Bac.II kedua justru menyinggung mengenai “kesibukan” Paulus dalam melayani umat demi mewartakan Kristus. Bahkan Paulus rela menderita dalam pelayanan itu. Anehnya lagi, Paulus merasa bersukacita karena ia boleh menerita demi pelayanan itu. Jadi, dalam bingkai liturgis, kesibukan Marta (melalui kacamata Paulus) tetap ada maknanya. Asal dijalankan dengan penuh sukacita.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
RABU, 16 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.2:1,6-14; Mzm.31:20,21,24; Mat.6:1-6,16-18.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan wajib St.Lurgardis, Beato Anicetus Koplin (Imam, dkk Martir Polandia), St.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita mengenang dan meneladani mereka dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan dua hal penting sebagai tonggak praksis kesalehan umat. Tonggak praksis kesalehan itu ada tiga: Sedekah, Doa, Puasa. Tetapi di sini hanya dibahas dua saja: sedekah dan puasa. Pertama, berbeda dengan praktek yang umum jaman itu, Yesus menganjurkan para pengikutNya agar memberi sedekah itu secara diam-diam, dilakukan di tempat tersembunyi. Tidak usah digembar-gemborkan ke sana kemari seperti sekarang dengan pengeras suara, televisi, koran, majalah, dll. Menggembar-gemborkan perbuatan baik adalah perbuatan orang fasik, orang munafik. Biasanya itu dilakukan untuk menarik perhatian publik. Tidak ada rasa risih sedikitpun bahwa kesalehan dipertontotan dan dipentaskan di ruang publik. Cukup Bapa di surga saja yang tahu, dan Ia akan membalas kita dengan berkat dan rahmatNya. Kedua, berbeda dengan praktek yang umum dilakukan saat itu, orang berpuasa dengan membuat muka muram. Yesus mengecam hal itu: itu adalah kemunafikan. Yesus menganjurkan agar kalau kita berpuasa, hendaklah kita merias diri sehingga hanya Allah Bapa saja yang tahu bahwa kita berpuasa. Tidak usah juga digembar-gemborkan ke sana ke mari pakai pengeras suara yang bikin telinga bising. Kedua tonggak kesalehan itu harus dilakukan secara diam-diam. Pesan injil hari ini sangat jelas: Janganlah kita melakukan perbuatan-perbuatan kesalehan di ruang publik, dengan maksud untk dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kita mendapat pujian orang banyak.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.2:1,6-14; Mzm.31:20,21,24; Mat.6:1-6,16-18.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan wajib St.Lurgardis, Beato Anicetus Koplin (Imam, dkk Martir Polandia), St.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita mengenang dan meneladani mereka dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan dua hal penting sebagai tonggak praksis kesalehan umat. Tonggak praksis kesalehan itu ada tiga: Sedekah, Doa, Puasa. Tetapi di sini hanya dibahas dua saja: sedekah dan puasa. Pertama, berbeda dengan praktek yang umum jaman itu, Yesus menganjurkan para pengikutNya agar memberi sedekah itu secara diam-diam, dilakukan di tempat tersembunyi. Tidak usah digembar-gemborkan ke sana kemari seperti sekarang dengan pengeras suara, televisi, koran, majalah, dll. Menggembar-gemborkan perbuatan baik adalah perbuatan orang fasik, orang munafik. Biasanya itu dilakukan untuk menarik perhatian publik. Tidak ada rasa risih sedikitpun bahwa kesalehan dipertontotan dan dipentaskan di ruang publik. Cukup Bapa di surga saja yang tahu, dan Ia akan membalas kita dengan berkat dan rahmatNya. Kedua, berbeda dengan praktek yang umum dilakukan saat itu, orang berpuasa dengan membuat muka muram. Yesus mengecam hal itu: itu adalah kemunafikan. Yesus menganjurkan agar kalau kita berpuasa, hendaklah kita merias diri sehingga hanya Allah Bapa saja yang tahu bahwa kita berpuasa. Tidak usah juga digembar-gemborkan ke sana ke mari pakai pengeras suara yang bikin telinga bising. Kedua tonggak kesalehan itu harus dilakukan secara diam-diam. Pesan injil hari ini sangat jelas: Janganlah kita melakukan perbuatan-perbuatan kesalehan di ruang publik, dengan maksud untk dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kita mendapat pujian orang banyak.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
SELASA, 15 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:17-29; Mzm.51:3-4,5-6a,11,16; Mat.5:43-48.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Injil mengisahkan beberapa hal penting. Kali ini Yesus tidak hanya mengoreksi Taurat, melainkan juga memaksimalisasi tuntutannya. Maka Ia mulai dengan kutipan Taurat: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Ini sangat wajar dan manusiawi terjadi di antara manusia. Gampang mencintai sesama, gampang membenci musuh. Yesus menuntut kita untuk melampaui apa yang mudah itu. Dengan itu Yesus mengoreksi tuntutan lama. Berbeda dengan hukum lama, Yesus mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Itulah intinya. Perintah inti itu dijabarkan secara konkret dalam beberapa langkah ucapan berikut. Pertama, dengan mengasihi musuh kita meniru kasih dan kerahiman Bapa di surga yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan tanpa membeda-bedakan orang. Kedua, prinsip pertama tadi diperjelas dengan sebuah ajaran kontras: kalau kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka kita tidak lebih daripada manusia umumnya, termasuk pemungut cukai. Ketiga, prinsip yang sama dipertegas lagi dengan ajaran kontras lain: memberi salam tidak hanya dibatasi di kalangan saudara saja, melainkan kepada semua manusia. Pemberian salam yang terbatas itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah. Setelah melewati ketiga tahap itu, akhirnya Yesus memuarakan seluruh petuah dan ajaranNya kepada muara besar yaitu tuntutan atau bahkan perintah untuk menjadi sempurna. Kita semua, sebagai para murid Kristus, harus berusaha menggapai kesempurnaan dalam hidup ini. Dan tidak main-main, model yang harus ditiru ialah Bapa di surga yang sempurna adanya.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:17-29; Mzm.51:3-4,5-6a,11,16; Mat.5:43-48.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Injil mengisahkan beberapa hal penting. Kali ini Yesus tidak hanya mengoreksi Taurat, melainkan juga memaksimalisasi tuntutannya. Maka Ia mulai dengan kutipan Taurat: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Ini sangat wajar dan manusiawi terjadi di antara manusia. Gampang mencintai sesama, gampang membenci musuh. Yesus menuntut kita untuk melampaui apa yang mudah itu. Dengan itu Yesus mengoreksi tuntutan lama. Berbeda dengan hukum lama, Yesus mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Itulah intinya. Perintah inti itu dijabarkan secara konkret dalam beberapa langkah ucapan berikut. Pertama, dengan mengasihi musuh kita meniru kasih dan kerahiman Bapa di surga yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan tanpa membeda-bedakan orang. Kedua, prinsip pertama tadi diperjelas dengan sebuah ajaran kontras: kalau kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka kita tidak lebih daripada manusia umumnya, termasuk pemungut cukai. Ketiga, prinsip yang sama dipertegas lagi dengan ajaran kontras lain: memberi salam tidak hanya dibatasi di kalangan saudara saja, melainkan kepada semua manusia. Pemberian salam yang terbatas itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah. Setelah melewati ketiga tahap itu, akhirnya Yesus memuarakan seluruh petuah dan ajaranNya kepada muara besar yaitu tuntutan atau bahkan perintah untuk menjadi sempurna. Kita semua, sebagai para murid Kristus, harus berusaha menggapai kesempurnaan dalam hidup ini. Dan tidak main-main, model yang harus ditiru ialah Bapa di surga yang sempurna adanya.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
SENIN, 14 JUNI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:1-16; Mzm.5:2-3,5-6,7; Mat.5:38-42.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan fakultatif Beato Gerardus, seorang pertapa. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Pengajaran Yesus yang kita dengar hari ini sangat menarik. Ia “mengoreksi” beberapa ajaran dalam Taurat. Itu sebabnya dimulai dengan kutipan Taurat: “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Yesus memperbaiki hal itu lewat tiga langkah ucapan. Pertama, Ia mengatakan bahwa kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan, sikap lemah lembut, sikap mengalah, seperti kata Paulus. Kedua, jika ada yang memperkarakan kita karena suatu milik (baju), daripada repot, Ia ajarkan agar kita serahkan juga jubah. Ketiga, jika diminta menemani berjalan sekian kilometer, hendaknya permintaan itu dipenuhi melebihi apa yang diminta. Menarik bahwa urutan ketiga hal itu ialah mulai dari perlakuan terhadap badan sendiri, lalu terhadap barang yang dikenakan badan (pakaian), akhirnya suatu aktifitas badan (kaki). Dalam ketiga hal itu, Yesus meminta kita untuk tidak menimbulkan masalah dan kesulitan. Akhirnya, injil ditutup dengan sebuah nasihat yang mulia walau tidak selalu mudah dilaksanakan dalam hidup nyata sehari-hari: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. Inti pokok ajarannya ialah agar kita tidak menjadi orang yang pelit, kikir, karena kita telah menerima semuanya dari Allah Bapa secara gratis juga. Tentu ketika akan melaksanakan perintah dan nasihat injil ini, kita harus tetap memperhitungkan peraturan hukum serta ketentuan moral yang berlaku berkaitan dengan hal pinjam meminjam. Jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:1-16; Mzm.5:2-3,5-6,7; Mat.5:38-42.
Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan fakultatif Beato Gerardus, seorang pertapa. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Pengajaran Yesus yang kita dengar hari ini sangat menarik. Ia “mengoreksi” beberapa ajaran dalam Taurat. Itu sebabnya dimulai dengan kutipan Taurat: “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Yesus memperbaiki hal itu lewat tiga langkah ucapan. Pertama, Ia mengatakan bahwa kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan, sikap lemah lembut, sikap mengalah, seperti kata Paulus. Kedua, jika ada yang memperkarakan kita karena suatu milik (baju), daripada repot, Ia ajarkan agar kita serahkan juga jubah. Ketiga, jika diminta menemani berjalan sekian kilometer, hendaknya permintaan itu dipenuhi melebihi apa yang diminta. Menarik bahwa urutan ketiga hal itu ialah mulai dari perlakuan terhadap badan sendiri, lalu terhadap barang yang dikenakan badan (pakaian), akhirnya suatu aktifitas badan (kaki). Dalam ketiga hal itu, Yesus meminta kita untuk tidak menimbulkan masalah dan kesulitan. Akhirnya, injil ditutup dengan sebuah nasihat yang mulia walau tidak selalu mudah dilaksanakan dalam hidup nyata sehari-hari: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. Inti pokok ajarannya ialah agar kita tidak menjadi orang yang pelit, kikir, karena kita telah menerima semuanya dari Allah Bapa secara gratis juga. Tentu ketika akan melaksanakan perintah dan nasihat injil ini, kita harus tetap memperhitungkan peraturan hukum serta ketentuan moral yang berlaku berkaitan dengan hal pinjam meminjam. Jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari.
BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MINGGU, 23 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.2:1-11; Mzm.104:1ab,24ac,29bc-30,31,34; 1Kor.13:3b-7,12-13 (Rm.8:8-17); Yoh.14:15-16,23b-26.
Hari ini Hari Raya Pentakosta. Dengan ini, berakhirlah Masa Paskah. Karena itu, Lilin Paskah yang selama ini ditahtakan di tempat sentral, kini dipindahkan (kapel, sakristi). Injil hari ini menarik. Ada beberapa hal yang disampaikan. Pertama, mengenai hal mentaati perintah sebagai tanda adanya kasih. Kalau ada relasi kasih, mudah sekali mentaati perintah dari yang dikasihi. Itu mudah dipahami. Kedua, Tuhan Yesus meminta kepada Bapa agar mengutus Penolong; tugasNya jelas dikatakan di sana: Ia menyertai kamu selama-lamanya, dalam kehadiran Roh. Hari ini, dalam Pentakosta, Roh itu datang, seperti dilukiskan Bac.I. Itu sebabnya dalam ay.23b disebutkan KAMI. KAMI (Trinitas) datang kepadanya dan tinggal bersama dengan dia. Ketiga, adalah lawan dari poin pertama. Tanpa adanya relasi kasih, sulit mentaati perintah. Hanya kasih yang menggerakkan orang untuk taat. Keempat, sekali lagi, hari ini, Penolong telah datang. Apa tugas penolong itu? Di sini disebutkan beberapa tugas penting. 1). Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. 2). Ia akan mengingatkan kita akan semua yang Kukatakan kepadamu. Poin ini amat penting. Karena Roh itu tidak mendatangkan wahyu baru, melainkan hanya mengingatkan kita akan Yesus Kristus, puncak dan pusat wahyu. Ini penting karena ada pihak yang memakai teks ini sebagai pembenaran bagi wahyu yang masih akan datang. Tidak demikian bagi kita. Bagi kita, Roh Kudus yang datang dan sudah datang dan masih selalu datang (men-datang-i) hanya mengingatkan kita akan Yesus. Teologi pneumatologi, akhirnya kristosentris. Begitulah pandangan saya.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.2:1-11; Mzm.104:1ab,24ac,29bc-30,31,34; 1Kor.13:3b-7,12-13 (Rm.8:8-17); Yoh.14:15-16,23b-26.
Hari ini Hari Raya Pentakosta. Dengan ini, berakhirlah Masa Paskah. Karena itu, Lilin Paskah yang selama ini ditahtakan di tempat sentral, kini dipindahkan (kapel, sakristi). Injil hari ini menarik. Ada beberapa hal yang disampaikan. Pertama, mengenai hal mentaati perintah sebagai tanda adanya kasih. Kalau ada relasi kasih, mudah sekali mentaati perintah dari yang dikasihi. Itu mudah dipahami. Kedua, Tuhan Yesus meminta kepada Bapa agar mengutus Penolong; tugasNya jelas dikatakan di sana: Ia menyertai kamu selama-lamanya, dalam kehadiran Roh. Hari ini, dalam Pentakosta, Roh itu datang, seperti dilukiskan Bac.I. Itu sebabnya dalam ay.23b disebutkan KAMI. KAMI (Trinitas) datang kepadanya dan tinggal bersama dengan dia. Ketiga, adalah lawan dari poin pertama. Tanpa adanya relasi kasih, sulit mentaati perintah. Hanya kasih yang menggerakkan orang untuk taat. Keempat, sekali lagi, hari ini, Penolong telah datang. Apa tugas penolong itu? Di sini disebutkan beberapa tugas penting. 1). Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. 2). Ia akan mengingatkan kita akan semua yang Kukatakan kepadamu. Poin ini amat penting. Karena Roh itu tidak mendatangkan wahyu baru, melainkan hanya mengingatkan kita akan Yesus Kristus, puncak dan pusat wahyu. Ini penting karena ada pihak yang memakai teks ini sebagai pembenaran bagi wahyu yang masih akan datang. Tidak demikian bagi kita. Bagi kita, Roh Kudus yang datang dan sudah datang dan masih selalu datang (men-datang-i) hanya mengingatkan kita akan Yesus. Teologi pneumatologi, akhirnya kristosentris. Begitulah pandangan saya.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
SABTU, 22 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.28:16-20,30-31; Mzm.11:4,5,7; Yoh.21:20-25.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Rita dari Gascia, Yoachina de Vedruna de Mas. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Di akhir injil kemarin ada perintah kepada Petrus: Ikutlah Aku. Bagi saya ini amat menarik. Mengapa? Setelah Petrus ditugaskan menjadi gembala atas domba-domba Tuhan Yesus, ternyata Petrus tetap dituntut untuk mengikuti Yesus. Apa artinya? Artinya jelas: Gembala utama, pemilik sejati Domba-domba tentu Yesus. Kalau Petrus dilibatkan dalam tugas penggembalaan, maka ia harus menggembalakan mereka dalam Kristus, membawa mereka kepada Yesus. Ia tidak boleh membawa mereka kepada dirinya sendiri. Jadi, sambil menggembalakan domba, Petrus harus mengikut Yesus. Bagi saya ini menarik sebagai pelajaran moral pastoral bagi pemimpin kita di tengah jemaat. Jangan sampai mereka tergoda untuk membawa domba kepada diri mereka sendiri, lalu lupa mengajak mereka bersama-sama mengikuti Yesus. Hari ini, perintah itu diulang lagi oleh Yesus. Bahwa Tuhan Yesus mengulang hal ini sekali lagi, bagi saya artinya sangat jelas: bahwa perintah itu amat penting dan mendasar. Tentu teks ini masih bisa diberi komentar dan catatan lain. Petrus setelah diberi tugas sebagai gembala, tetap terganjal karena kehadiran murid Yang dikasihi itu. Ya, dalam gereja selalu ada dua model kepemimpinan: Model kemimpinan institusional, Model kepemimpinan kharismatis. Yang terdahulu tidak boleh terganggu atau tersaingi oleh yang kemudian. Keduanya harus saling mengisi dan melengkapi. Itu yang dikehendaki Tuhan Yesus, Gembala Utama.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.28:16-20,30-31; Mzm.11:4,5,7; Yoh.21:20-25.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Rita dari Gascia, Yoachina de Vedruna de Mas. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Di akhir injil kemarin ada perintah kepada Petrus: Ikutlah Aku. Bagi saya ini amat menarik. Mengapa? Setelah Petrus ditugaskan menjadi gembala atas domba-domba Tuhan Yesus, ternyata Petrus tetap dituntut untuk mengikuti Yesus. Apa artinya? Artinya jelas: Gembala utama, pemilik sejati Domba-domba tentu Yesus. Kalau Petrus dilibatkan dalam tugas penggembalaan, maka ia harus menggembalakan mereka dalam Kristus, membawa mereka kepada Yesus. Ia tidak boleh membawa mereka kepada dirinya sendiri. Jadi, sambil menggembalakan domba, Petrus harus mengikut Yesus. Bagi saya ini menarik sebagai pelajaran moral pastoral bagi pemimpin kita di tengah jemaat. Jangan sampai mereka tergoda untuk membawa domba kepada diri mereka sendiri, lalu lupa mengajak mereka bersama-sama mengikuti Yesus. Hari ini, perintah itu diulang lagi oleh Yesus. Bahwa Tuhan Yesus mengulang hal ini sekali lagi, bagi saya artinya sangat jelas: bahwa perintah itu amat penting dan mendasar. Tentu teks ini masih bisa diberi komentar dan catatan lain. Petrus setelah diberi tugas sebagai gembala, tetap terganjal karena kehadiran murid Yang dikasihi itu. Ya, dalam gereja selalu ada dua model kepemimpinan: Model kemimpinan institusional, Model kepemimpinan kharismatis. Yang terdahulu tidak boleh terganggu atau tersaingi oleh yang kemudian. Keduanya harus saling mengisi dan melengkapi. Itu yang dikehendaki Tuhan Yesus, Gembala Utama.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
JUM'AT, 21 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.25:13-21; Mzm.103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh.21:15-19.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan S.Kristoforus dr Magallanes Jara, dkk (imam & martir). Mari kita mengenang mereka dalam doa kita. Injil hari ini terkenal: percakapan personal Yesus dan Petrus. Ada beberapa catatan menarik tentang teks ini. Pertama, dalam kisah sengsara versi Yohanes, tidak disebutkan bahwa Petrus sedih atau menangis ketika menyangkal Yesus. Yohanes, menunda “tangis” Petrus sampai saat ini. Kedua, dalam dialog ini, menarik bahwa Yesus tidak menyebut Petrus dengan gelarnya, Petrus, melainkan dengan nama pribadinya (Simon bin Yunus). Karena dialog ini dirancang sebagai pemulihan Petrus, maka sapaan nama pribadi itu penting. Yesus tidak mengkaitkan kelemahan masa silam Petrus dengan jabatannya sebagai batu karang, melainkan dengan pribadinya. Ketiga, mungkin perlu disadari urutan perintah Yesus kepada Petrus setelah ditanyai perihal kasihnya kepadaNya. Menurut teks asli, perintah itu punya urutan sbb: dimulai dengan perintah “Berilah makan domba-dombaKu.” (Booske probata sou). Disusul perintah kedua, “Jagalah domba-dombaKu.” (Poimaine arnia sou). Perintah ketiga, “Berilah makan domba-dombaku.” Urutan ini menarik: Tugas penggembalaan dibingkai tugas memberi makan. Tugas penggembalaan itu kongkretnya ialah memberi makan. Tidak ada gunanya penggembalaan jika domba tidak makan, ditimpa kelaparan. Wujud kongkret tugas penggembalaan ialah memberi kemakmuran dan kesejahteraan domba. Gembala tidak dapat melepaskan diri dari tanggung-jawab etis atas kesejahteraan dan kemakmuran domba. Itu perintah Tuhan sendiri. Kita tidak dapat tawar menawar dengan hal itu. Siapa pun yang mendapat tugas memimpin gereja, hendaknya tidak boleh mengabaikan fakta ini.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.25:13-21; Mzm.103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh.21:15-19.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan S.Kristoforus dr Magallanes Jara, dkk (imam & martir). Mari kita mengenang mereka dalam doa kita. Injil hari ini terkenal: percakapan personal Yesus dan Petrus. Ada beberapa catatan menarik tentang teks ini. Pertama, dalam kisah sengsara versi Yohanes, tidak disebutkan bahwa Petrus sedih atau menangis ketika menyangkal Yesus. Yohanes, menunda “tangis” Petrus sampai saat ini. Kedua, dalam dialog ini, menarik bahwa Yesus tidak menyebut Petrus dengan gelarnya, Petrus, melainkan dengan nama pribadinya (Simon bin Yunus). Karena dialog ini dirancang sebagai pemulihan Petrus, maka sapaan nama pribadi itu penting. Yesus tidak mengkaitkan kelemahan masa silam Petrus dengan jabatannya sebagai batu karang, melainkan dengan pribadinya. Ketiga, mungkin perlu disadari urutan perintah Yesus kepada Petrus setelah ditanyai perihal kasihnya kepadaNya. Menurut teks asli, perintah itu punya urutan sbb: dimulai dengan perintah “Berilah makan domba-dombaKu.” (Booske probata sou). Disusul perintah kedua, “Jagalah domba-dombaKu.” (Poimaine arnia sou). Perintah ketiga, “Berilah makan domba-dombaku.” Urutan ini menarik: Tugas penggembalaan dibingkai tugas memberi makan. Tugas penggembalaan itu kongkretnya ialah memberi makan. Tidak ada gunanya penggembalaan jika domba tidak makan, ditimpa kelaparan. Wujud kongkret tugas penggembalaan ialah memberi kemakmuran dan kesejahteraan domba. Gembala tidak dapat melepaskan diri dari tanggung-jawab etis atas kesejahteraan dan kemakmuran domba. Itu perintah Tuhan sendiri. Kita tidak dapat tawar menawar dengan hal itu. Siapa pun yang mendapat tugas memimpin gereja, hendaknya tidak boleh mengabaikan fakta ini.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
KAMIS, 20 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.22:30;23:6-11; Mzm.16:1-2a,5,7-8,9-10.11; Yoh.17:20-26.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan St.Bernardinus dr Siena, Eugenius dari Mazenod. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Imam Agung yang kita dengar kemarin dan hari sebelumnya, dilanjutkan hari ini. Ada satu hal yang menarik di sini. Dalam injil kemarin kita dengar bahwa Yesus mengutus murid ke dunia untuk mewartakan firman yaitu kebenaran dari Allah. Pasti ada yang percaya karena pemberitaan itu. Menarik bahwa Yesus juga berdoa bagi mereka. Ia tidak hanya berdoa bagi muridNya, melainkan juga bagi mereka yang percaya karena warta para murid itu. Kita termasuk di dalamnya. Tujuan doa itu ialah agar tercipta persatuan Bapa-Anak-kaum percaya. Diharapkan persatuan itu bisa menjadi kesaksian bagi dunia sehingga mereka juga percaya. Misteri persatuan itu ditekankan lagi di sini. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku. Aku, Yesus menjadi titik sentral, Pengantara. Misteri persatuan dinamis itu diharapkan menjadi saksi bagi dunia agar mereka percaya. Masih ada beberapa lagi permohonan Yesus: Ia ingin agar para murid diperkenankan berada di tempat di mana Ia berada. Semoga dengan itu, mereka menyaksikan kemuliaan Kristus yang diperolehNya dari Bapa. Akhirnya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia telah memberitahukan nama Bapa kepada mereka. Dengan itu, diharapkan mereka mendapat kasih yang diberikan Bapa kepada Anak. Yang hidup di dalam kasih, Yesus hidup di dalam diri mereka. Tidak ada lagi yang jauh lebih besar daripada karunia itu: Tuhan Yesus hidup dan tinggal dalam diri kita dan menjadi sumber kekuatan hidup kita.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.22:30;23:6-11; Mzm.16:1-2a,5,7-8,9-10.11; Yoh.17:20-26.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan St.Bernardinus dr Siena, Eugenius dari Mazenod. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Imam Agung yang kita dengar kemarin dan hari sebelumnya, dilanjutkan hari ini. Ada satu hal yang menarik di sini. Dalam injil kemarin kita dengar bahwa Yesus mengutus murid ke dunia untuk mewartakan firman yaitu kebenaran dari Allah. Pasti ada yang percaya karena pemberitaan itu. Menarik bahwa Yesus juga berdoa bagi mereka. Ia tidak hanya berdoa bagi muridNya, melainkan juga bagi mereka yang percaya karena warta para murid itu. Kita termasuk di dalamnya. Tujuan doa itu ialah agar tercipta persatuan Bapa-Anak-kaum percaya. Diharapkan persatuan itu bisa menjadi kesaksian bagi dunia sehingga mereka juga percaya. Misteri persatuan itu ditekankan lagi di sini. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku. Aku, Yesus menjadi titik sentral, Pengantara. Misteri persatuan dinamis itu diharapkan menjadi saksi bagi dunia agar mereka percaya. Masih ada beberapa lagi permohonan Yesus: Ia ingin agar para murid diperkenankan berada di tempat di mana Ia berada. Semoga dengan itu, mereka menyaksikan kemuliaan Kristus yang diperolehNya dari Bapa. Akhirnya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia telah memberitahukan nama Bapa kepada mereka. Dengan itu, diharapkan mereka mendapat kasih yang diberikan Bapa kepada Anak. Yang hidup di dalam kasih, Yesus hidup di dalam diri mereka. Tidak ada lagi yang jauh lebih besar daripada karunia itu: Tuhan Yesus hidup dan tinggal dalam diri kita dan menjadi sumber kekuatan hidup kita.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
RABU, 19 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:28-38; Mzm.68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh.17:11b-19.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Beato Clemens dari Osimo dan Augustinus Tarano, Krispinus dari Viterbo. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Yesus, Imam Agung yang kita dengar dalam injil kemarin, dilanjutkan Injil hari ini. Tuhan meminta kepada Bapa supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita: Ut omnes unum sint, sicut Tu Pater in Me, et Ego in Te. Tuhan Yesus menyatakan di hadapan Bapa dalam doaNya bahwa Ia telah melaksanakan tugasNya sebagai Gembala Yang Baik di dunia ini. Itu semua terjadi agar tidak ada yang binasa. Yesus menyampaikan semuanya ini kepada para murid, agar sukacitaNya menjadi penuh di dalam mereka. Tuhan Yesus juga meminta kepada Bapa agar sudi melindungi mereka dari yang jahat. Ia juga meminta agar Bapa sudi menguduskan mereka dalam kebenaran. Kebenaran itu ialah firman Allah sendiri. Selanjutnya, Tuhan Yesus berbicara tentang tugas perutusan yang semula dimulai dari Bapa, dan sekarang melalui Yesus Sang Putera, dilanjutkan kepada para murid. Para murid mempunyai tugas perutusan ke dalam dunia. Akhirnya, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Ia menguduskan diriNya bagi mereka. Tujuannya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Ya, Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik, dan Imam Agung, berdoa bagi kita. Bagi saya tidak ada lagi pesan yang lebih mendalam dan meyakinkan dari hal ini: Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita. Ya, Yesus sang Imam Agung, sudah berdoa bagi kita.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:28-38; Mzm.68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh.17:11b-19.
Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Beato Clemens dari Osimo dan Augustinus Tarano, Krispinus dari Viterbo. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Yesus, Imam Agung yang kita dengar dalam injil kemarin, dilanjutkan Injil hari ini. Tuhan meminta kepada Bapa supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita: Ut omnes unum sint, sicut Tu Pater in Me, et Ego in Te. Tuhan Yesus menyatakan di hadapan Bapa dalam doaNya bahwa Ia telah melaksanakan tugasNya sebagai Gembala Yang Baik di dunia ini. Itu semua terjadi agar tidak ada yang binasa. Yesus menyampaikan semuanya ini kepada para murid, agar sukacitaNya menjadi penuh di dalam mereka. Tuhan Yesus juga meminta kepada Bapa agar sudi melindungi mereka dari yang jahat. Ia juga meminta agar Bapa sudi menguduskan mereka dalam kebenaran. Kebenaran itu ialah firman Allah sendiri. Selanjutnya, Tuhan Yesus berbicara tentang tugas perutusan yang semula dimulai dari Bapa, dan sekarang melalui Yesus Sang Putera, dilanjutkan kepada para murid. Para murid mempunyai tugas perutusan ke dalam dunia. Akhirnya, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Ia menguduskan diriNya bagi mereka. Tujuannya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Ya, Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik, dan Imam Agung, berdoa bagi kita. Bagi saya tidak ada lagi pesan yang lebih mendalam dan meyakinkan dari hal ini: Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita. Ya, Yesus sang Imam Agung, sudah berdoa bagi kita.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
SELASA, 18 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:17-27; Mzm.68:10-11,20-21; Yoh.17:1-11a.
Hari ini hari biasa Pekan VII masa Paskah. Ada peringatan S.Yohanes I (Paus/Martir). Ada Beato Willem Toulouse, Feliks dari Cantalice. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini terkenal. Biasanya disebut Doa Imam Agung, karena di sini Yesus berdoa bagi muridNya. Ada beberapa kebenaran iman dalam teks ini. Pertama, mengenai misteri relasi Bapa dan Anak. Inti relasi itu ialah Bapa mengutus Anak. Anak mendapat kuasa Bapa. Anak meminta agar kuasa itu diberikan juga kepada orang yang dituntun Bapa kepadaNya. Anak meminta agar Bapa memberi hidup kekal kepada semua orang yang menjadi pengikut. Inti hidup kekal itu ialah relasi saling mengenal antara Bapa-Anak-kaum beriman: Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Anak mempermuliakan Bapa dengan hidupNya di dunia ini. Kini Anak meminta agar Bapa mempermuliakan Dia di hadirat Allah. Kedua, Yesus menjelaskan relasi yang terbangun antara diriNya dengan murid. Inti relasi itu ialah murid mengenal Bapa, mengenal segala firman yang disampaikan Yesus yang berasal dari Bapa. Ketiga, untuk mereka inilah Yesus berdoa: peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu namaMu yang Engkau berikan kepadaKu. Doa ini sangat penting, karena mereka masih ada dalam dunia, sedangkan Tuhan Yesus datang kepada Bapa. Kembalinya Yesus kepada Bapa tidak berarti Ia melupakan kita. Ia ingat akan kita. Ya, Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita, memohon kepada Allah Bapa agar sudi memelihara kita dalam namaNya. Dan itu adalah jaminan keselamatan. Semoga kita mampu menerima dan mempercayainya.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:17-27; Mzm.68:10-11,20-21; Yoh.17:1-11a.
Hari ini hari biasa Pekan VII masa Paskah. Ada peringatan S.Yohanes I (Paus/Martir). Ada Beato Willem Toulouse, Feliks dari Cantalice. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini terkenal. Biasanya disebut Doa Imam Agung, karena di sini Yesus berdoa bagi muridNya. Ada beberapa kebenaran iman dalam teks ini. Pertama, mengenai misteri relasi Bapa dan Anak. Inti relasi itu ialah Bapa mengutus Anak. Anak mendapat kuasa Bapa. Anak meminta agar kuasa itu diberikan juga kepada orang yang dituntun Bapa kepadaNya. Anak meminta agar Bapa memberi hidup kekal kepada semua orang yang menjadi pengikut. Inti hidup kekal itu ialah relasi saling mengenal antara Bapa-Anak-kaum beriman: Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Anak mempermuliakan Bapa dengan hidupNya di dunia ini. Kini Anak meminta agar Bapa mempermuliakan Dia di hadirat Allah. Kedua, Yesus menjelaskan relasi yang terbangun antara diriNya dengan murid. Inti relasi itu ialah murid mengenal Bapa, mengenal segala firman yang disampaikan Yesus yang berasal dari Bapa. Ketiga, untuk mereka inilah Yesus berdoa: peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu namaMu yang Engkau berikan kepadaKu. Doa ini sangat penting, karena mereka masih ada dalam dunia, sedangkan Tuhan Yesus datang kepada Bapa. Kembalinya Yesus kepada Bapa tidak berarti Ia melupakan kita. Ia ingat akan kita. Ya, Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita, memohon kepada Allah Bapa agar sudi memelihara kita dalam namaNya. Dan itu adalah jaminan keselamatan. Semoga kita mampu menerima dan mempercayainya.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
SENIN, 17 MEI 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.19:1-8; Mzm.8:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh.16:29-33.
Hari ini hari biasa masa Paskah. Ada peringatan St.Gemma Galgani dan Paskalis Boylon. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan injil hari ini. Pertama, setelah lewat suatu proses panjang, akhirnya para murid sampai kepada pemahaman akan Yesus. Tidak hanya sampai di situ: mereka juga bermuara kepada pengakuan iman akan Yesus. Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Allah. Kedua, perkataan Yesus yang menubuatkan mengenai datangnya kekacauan yang akan mencerai-beraikan murid dan mereka akan meninggalkan Tuhan Yesus sendirian. Tetapi Tuhan Yesus memastikan bahwa sesungguhnya Ia tidak pernah sendirian, karena Bapa selalu menyertaiNya. Ketiga, Tuhan Yesus mengungkapkan semuanya ini dengan jelas agar para murid mendapat damai sejahtera dalam Yesus. Ini penting, karena dalam dunia para murid mengalami aniaya. Tetapi aniaya itu jangan sampai menciutkan hati para murid. Tuhan Yesus meneguhkan hati mereka dengan meminta agar mereka berusaha menguatkan hati. Alasannya, karena dunia itu bukan segala-galanya. Ia bukan apa-apa sama sekali. Tuhan Yesus mengatakan dengan pasti bahwa Ia telah mengalahkan dunia. Ada banyak cemas dan gelisah menimpa manusia di tengah hidup dunia ini. Tetapi sebagai orang yang percaya dan hidup dalam Yesus, kita harus percaya dan optimis bahwa ada jalan keluar dari pelbagai masalah hidup di dunia ini. Kita percaya akan hal itu dengan pasti karena Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa Ia mengalahkan dunia. Semoga kita mau dan mampu menerima dan percaya akan hal itu.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.19:1-8; Mzm.8:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh.16:29-33.
Hari ini hari biasa masa Paskah. Ada peringatan St.Gemma Galgani dan Paskalis Boylon. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan injil hari ini. Pertama, setelah lewat suatu proses panjang, akhirnya para murid sampai kepada pemahaman akan Yesus. Tidak hanya sampai di situ: mereka juga bermuara kepada pengakuan iman akan Yesus. Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Allah. Kedua, perkataan Yesus yang menubuatkan mengenai datangnya kekacauan yang akan mencerai-beraikan murid dan mereka akan meninggalkan Tuhan Yesus sendirian. Tetapi Tuhan Yesus memastikan bahwa sesungguhnya Ia tidak pernah sendirian, karena Bapa selalu menyertaiNya. Ketiga, Tuhan Yesus mengungkapkan semuanya ini dengan jelas agar para murid mendapat damai sejahtera dalam Yesus. Ini penting, karena dalam dunia para murid mengalami aniaya. Tetapi aniaya itu jangan sampai menciutkan hati para murid. Tuhan Yesus meneguhkan hati mereka dengan meminta agar mereka berusaha menguatkan hati. Alasannya, karena dunia itu bukan segala-galanya. Ia bukan apa-apa sama sekali. Tuhan Yesus mengatakan dengan pasti bahwa Ia telah mengalahkan dunia. Ada banyak cemas dan gelisah menimpa manusia di tengah hidup dunia ini. Tetapi sebagai orang yang percaya dan hidup dalam Yesus, kita harus percaya dan optimis bahwa ada jalan keluar dari pelbagai masalah hidup di dunia ini. Kita percaya akan hal itu dengan pasti karena Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa Ia mengalahkan dunia. Semoga kita mau dan mampu menerima dan percaya akan hal itu.
BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
Langganan:
Komentar (Atom)
